
***
"Kenapa? Apa kamu keberatan jika kita kembali memiliki seorang anak?" tanya Pras memeluk erat tubuh Alina dari arah belakang.
Sungguh, pemandangan itu membuta sepasang mata lain memanas. Hingga tanpa dia sadari, tangan nya terkepal kuat sampai kuku jari jari nya memutih demi menekan rasa kesal yang kini sudah naik hingga ke ubun ubun.
"Tentu saja tidak. Tapi, apa tidak apa apa? Alesya baru mau satu tahun Mas, masa usia sekecil itu sudah mau punya adik,"
"Tidak apa apa sayang, selagi ada kesempatan lebih baik di lakukan saja. Jangan sampai menyesal seperti Mama yang hanya memiliki anak tunggal. Jika kamu merasa kerepotan, kamu bisa minta tolong Mama atau Mama Tari untuk membantu menjaga dan merawat cucu cucu Mama," sambung mama Widia yang akan senang sekali jika saat ini Alina bisa hamil dan memberikan kembali seorang cucu untuk keluarga Wiratama.
"Baiklah. Alina akan coba, tapi apa perlu kita promil?"
"Tidak usah, lakukan secara alami saja. Jika kita di beri sekarang ya syukur. Tapi tidak juga ya tidak apa apa, Tuhan pasti tahu di mana waktu yang tepat untuk kita memiliki momongan. Asal__,"
"Asal apa Mas?"
"Kita harus sering melakukan nya," lanjut Pras dengan berbisik yang sontak mampu membuat wajah Alina memerah karena malu.
"Its, mesum." jawab Alina dengan berbisik juga sambil mendaratkan satu cubitan di pinggang sang suami.
Pras pun tergelak, merasa sangat gemas jika sudah melihat wajah malu malu sang istri yang terlihat begitu cantik dan menggemaskan di mata nya.
Bahkan tanpa rasa canggung dan malu, pria itu semakin mempererat pelukan nya dan menciumi wajah Alina hingga membuat sang mama menggelengkan kepalanya.
"Lihat tuh Papa mu sayang. Dasar pria bucin, ga tahu tempat dan waktu. Mesra mulu," cibir mama Widia yang membuat Pras semakin gencar memperlihatkan kemesraan nya bersama dengan sang istri.
"Oh iya, Ma sampai lupa. Ini Mala, yang aku ceritakan kemarin," ucap Alina lagi setelah menyadari jika di sana bukan hanya ada merek namun ada Mala juga.
"Oh iya, mama ingat. Mama juga sempat beberapa kali ke villa nya Pras. Tapi tidak pernah melihat nya, selamat datang ya Nak. Semoga betah kerja di sini," jawab mama Widia menyambut hangat gadis yang di perkirakan seumuran dengan menantunya itu.
"Iya Bu, terima kasih sudah menerima saya bekerja di sini,"
"Baiklah, sekarang kamu ikut saya. Saya akan menunjukan tempat kamu bekerja. Mama keluara dulu ya," jawab mama Widia segera beranjak untuk menunjukan tempat dimana Mala akan bekerja saat ini.
__ADS_1
"Iya Ma,"
Sementara Alina sendiri masih berada di dalam ruangan kerja mama Widia bersama dengan Pras dan juga Alesya yang tampak anteng bersama dengan mainan mainan nya.
"Mas tidak ke kantor?" tanya Alina saat melihat Pras masih bersantai duduk di sofa sembari memeluk erat tubuh nya.
"Entahlah, setelah membahas dede bayi kok malah jadi malas ya. Apa lebih baik kita pulang saja?"
"Loh kok gitu? Harusnya kalau mau punya anak lagi itu kerja nya harus semakin giat. Kebutuhan anak banyak dan mahal, apa lagi mau nambah anak, harus semakin meningkatkan penghasilan. Lagi pula kenapa tiba tiba mau pulang? Aku kan kesini untuk kerja bantuan Mama bukan cuma buat main doang,"
"Wah, aku tidak tahu jika seorang Alina Putri Hartanto ternyata se matre ini?"
"Bukan matre sayang, tapi realistis. Tidak semua hal memang bisa di beli dengan uang, tapi tanpa uang kita tidak bisa membeli semua kebutuhan untuk kita bertahan hidup. Makanya, bekerja lah yang giat karena kebutuhan kita dan anak anak itu banyak dana mahal,"
Mendengar penjelasan dari sang istri, Pras hanya bisa tertawa terbahak. Sungguh, istirnya itu selalu memberi warna dalam hidupnya.
Bahkan kini dia bisa tertawa lepas seolah tidak memiliki beban hidup sama sekali. Rasanya begitu menyenangkan. Pras tidak menyangka di usianya yang tidak lagi muda, dia masih bisa hidup santai dengan di penuhi obrolan yang tidak jelas sebenarnya, namun ternyata cukup menyenangkan dan membuat nya betah berada di rumah.
*
*
Sementara diluar ruangan...
Saat ini mama Widia tengah memperkenalkan Mala kepada pekerja yang lain nya. Mama Widia juga menempatkan Mala di depan. Sebagai karyawan toko yang biasa membantu para pembeli dan merekomendasikan pakaian pakaian yang para pelanggan butuh kan namun sulit menentukan pilihan.
Setelah memperkenalkan Mala dan mempersilahkan gadis itu memulai pekerjaan nya. Mama Widia pun kembali ke ruangan nya dan menemukan Pras dan Alina tengah bersiap untuk pulang.
"Loh, kalian mau kemana?" tanya mama Widia saat melihat Alina tengah bersiap dan Pras yang sudah kembali menggendong Alesya.
"Kami pulang dulu Ma, kami akan memulai proses pembuatan cucu baru untuk Mama," jawab Pras frontal hingga Alina kembali mendaratkan cubitan sayang di pinggang nya.
"Aww, sakit sayang. Kenapa hari ini kamu senang sekali mencubit ku," protes Pras yang sudah beberapa kali mendapat kan cubitan dari Alina.
__ADS_1
"Habis Mas nyebelin," jawab Alina merenggut karena jujur, dia malu sekali dengan kejujuran dari Pras yang begitu blak blakan.
"Oh begitu, baiklah. Alesya nya tinggal saja, Papa bilang hari ini mau pinjam Alesya lagi untuk menginap di rumah. Rumah sepi kalau tidak ada Ale di rumah. Boleh ya?" tanya mama Widia yang meminta ijin meminjam cucu nya untuk kembali menginap di rumah nya.
"Ya ampun, padahal baru juga beberapa hari. Boleh saya, asal Ale nya nggak rewel. Mama tahu sendiri anak itu jarang bisa jauh dari Mama nya,"
"Nggak kok. Mama jamin, kalau Ale tidak akan rewel,"
"Ya sudah kalau begitu. Boleh saja, terus Mama mau pulang kapan? Kalau mau pulang sekarang, biar sekalian Pras antara sebelum pras pulang,"
"Boleh deh, sekarang saja. Tapi, apa kamu tidak ke kantor?"
"Kan tadi sudah bilang kalau mau mulai proses membuat cucu baru buat Mama,"
"Ist, kamu itu. Ya sudah ayo, antar Mama pulang dulu kalau begitu. Oh iya, untuk malam ini sepertinya Mala masih harus menginap di rumah kalian deh. Kamar mes yang akan di tempati oleh nya masih di perbaiki dan kemungkinan baru selesai besok. Bagaimana? Kalian tidak keberatan kan kalau dia menginap satu malam lagi di rumah kalian?"
"Tapi___,"
"Nggak apa apa Ma, nanti sore biar Alina suruh orang rumah buat jemput dia pulang ke rumah." jawab Alina memotong ucapan Pras yang akan memprotes sang mama.
"Sayang,"
"Nggak apa apa Mas, kan cuma satu malam ini lagi,"
Pras pun hanya bisa pasrah saat sang istri berbaik hati mempersilahkan gadis itu kembali menginap di rumah nya meski jujur, bukan hanya Pras yang tidak nyaman akan kehadiran Mala di rumah.
Namun Alina juga, tapi Alina mengemban amanah dari orang tua Mala yang sudah menitipkan putrinya pada mereka dan tentu saja Alina harus menjaga amanah itu dengan baik hingga Mala ditempatkan tempat yang layak.
*
****
..."Maaf ya baru up di kamar ini. Kemarin Author ada kegiatan di luar dan tidak sempat lagi menulis kerena kelelahan. Semoga masih setia menanti kelanjutan kisah Alina ini ya. Terima kasih."...
__ADS_1