Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.18


__ADS_3

***


Sulis berusaha menampilkan senyum nya saat melihat Haris berdiri di ambang pintu antara balkon apartemen dan juga ruangan tengah.


Pria bertubuh jangkung dan memiliki penampilan yang rapih dan bersih itu berjalan mendekati Sulis lalu duduk tepat di samping gadis itu.


"Bagaimana pekerjaan mu? Lancar?" tanya Haris berusaha mencairkan suasana yang kaku dan juga canggung.


"Baik dan lancar," jawab Sulis seadanya.


Gadis itu mengalihkan pandangan nya ke arah depan, lebih tepatnya. Menatap langit malam yang gelap namun tampak indah dengan di hiasi bintang bintang yang berkelip di langit yang gelap.


"Sulis,"


"Hhmm,"


"Apa, kamu sudah menemukan pria yang kamu cintai?"


Deg


Seketika, jantung Sulis bak menghilang dari tubuhnya saat pria itu kembali menanyakan hal itu. Dengan begitu, Sulis pun kembali di paksa untuk terlihat baik baik saja di depan nya.


"Saat ini, aku terlalu sibuk untuk memikirkan hal seperti itu. Kamu sendiri, bagaimana dengan persiapan pernikahan kamu? Apa semua nya lancar?"


"Huuuhhh, entahlah. Rasanya masih terlalu ragu dan terlalu sulit untuk melanjutkan," jawab Haris menyandarkan kepalanya di bahu Sulis.


"Jangan begini, ga enak di lihat orang,"


Sulis berusaha menjauhkan kepala Haris dari bahu nya. Dia tidak mau orang lain yang melihat itu akan salah paham padanya dan juga Haris.


"Sebentar saja, aku lelah Tia, lelah sekali. Kamu tahu, ternyata. Bahu ini masih tempat paling nyaman untuk aku bersandar," ucapnya sendu yang membuat Sulis berhenti bergerak dan kembali terdiam.


Membiarkan pria itu menyandarkan kepalanya di bahu nya. Seperti yang sudah sudah, tatkala pria itu tengah merasa kesulitan atau memiliki beban pikiran. Hanya Sulis tempat yang membuatnya nyaman dan tenang.


"Apa ada masalah?" tanya Sulis pada akhirnya membuka suara nya.


"Apa aku boleh cerita? Apa kamu mau mendengarkan ceritaku?"


"Boleh, jika kamu tidak keberatan berbagi cerita dengan ku,"


"Kalau begitu, kita pindah tempat. Ayo ikut,"


Haris pun langsung bangkit dari duduknya dan menarik tangan Sulis untuk di bawa pergi dari sana. Haris berpamitan pada teman teman nya dengan tetap menggandeng tangan Sulis.


"Kami pamit dulu ya, dah!" ucap Haris terlihat buru buru.


Bahkan tanpa menunggu jawaban dari teman teman nya, Haris berlalu begitu saja meninggalkan kebingungan di antara Edo, Hani dan juga Radit.

__ADS_1


"Kenapa lagi mereka?" tanya Radit.


"Entahlah, susah memang jika perasaan belum kelar. Ya begitu itu," jawab Edo.


"Heran, padahal tinggal berkomitmen saja apa susahnya. Dari pada seperti itu, terikat hubungan dengan orang lain tapi hati masih milik masa lalu," lanjut Hani.


"Terlalu berat sayang. Mereka memiliki keyakinan yang berbeda, pasti akan sulit jika di paksakan."


"Entahlah, no komen deh. Ya sudah, lebih baik antar aku pulang sudah malam,"


"Boleh, ayo."


Edo pun pergi keluar untuk mengantarkan calon istrinya itu pulang. Meninggalkan Radit yang memang akan menginap di sana.


*


*


Sementara di unit apartemen lain...


Lebih tepatnya di unit apartemen milik Haris yang kebetulan satu gedung dan satu blok dengan unit apartemen milik Edo.


Tampak Haris dan juga Sulis tengah duduk lesehan di karpet bulu yang terdapat di ruang tengah unit milik Haris dengan bersandar pada sofa besar yang ada di sana.


"Katanya mau cerita? Kok malah diam aja. Kalau ga jadi, aku pulang aja ya? Sudah malam juga!"


"Jangan, iya. Aku cerita,"


Haris tampak menghela nafas panjang dan berat saat akan mencurahkan beban pikiran nya selama ini.


"Aku benar benar ragu dan berat untuk melanjutkan pernikahan ini Tia. Sepertinya, aku tidak bisa." ucap Haris pada akhirnya mengeluarkan semua risalah hatinya.


"Kenapa? Kok bisa? Bukan kah waktunya sudah sangat dekat?"


"Winda meminta aku tidak menuntutnya untuk memiliki anak. Childfree, dia memilih menikah tapi tidak mau memiliki anak. Sedangkan Mama dan Papa begitu menginginkan cucu dari aku. Aku harus bagaimana Tia? Aku lelah jika terus begini,"


"Apa hal ini sudah kamu bicarakan dengan tunanganmu? Siapa tahu dia berubah pikiran setelah tahu jika calon mertuanya menginginkan seorang cucu."


"Sudah, bahkan sudah di jelaskan jika aku menerima perjodohan itu karena ingin membuat Mama dan Papa bahagia dengan memberikan mereka cucu. Tapi, Winda tetap kekeh dengan pendirian nya. Jika seperti itu, untuk apa aku menikah dengan nya dan mengorbankan perasaanku yang mencintai wanita lain,"


Deg


Sulis pun langsung memalingkan wajah nya saat Haris mengatakan hal itu lagi. Sungguh, rasanya benteng pertahanan yang sudah susah payah Sulis bangun itu hampir saja hancur saat mendengar pengakuan dari Haris.


"Coba saja bujuk lagi. Siapa tahu dia mau,"


"Sulit, sudah aku coba. Apa sebaiknya kita saja yang menikah, bukankah kamu juga sudah di desak untuk menikah oleh kedua orang tua mu karena mereka juga ingin memiliki cucu,"

__ADS_1


Deg


"Da_dari mana kamu tahu?" jawab Sulis yang langsung menoleh saat Haris mengatakan hal itu.


Padahal tidak ada yang tahu jika dia sedang di desak kedua orang tua nya untuk menikah karena mereka ingin segera mendapatkan cucu.


"Tahu saja. Bagaimana, kita saja yang menikah ya?"


"Jangan ngawur kamu, aku pergi saja."


Sulis langsung bangkit dari duduknya dan mencoba untuk pergi. Namun langkah nya terhenti saat Haris memeluknya dari belakang.


Pria itu menenggelamkan wajah nya di ceruk leher Sulis yang diam membeku di tempatnya karena mendapatkan pelukan dari Haris.


"Aku serius Tia, aku lelah. Aku lelah jika harus terus berpura pura baik baik saja dan berpura pura menerima semua ini. Aku sakit dan aku tersiksa dengan perpisahan kita, Tia." gumam nya dengan tubuh yang bergetar tanda jika pria itu tengah menangis pilu.


Sulis bergeming, sungguh. Bukan hanya Haris yang tersiksa dan sakit, Sulis juga merasakan hal yang sama. Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa apa tatkala kedua orang tua Haris yang menginginkan menantu yang satu iman dengan mereka.


*


*


Sementara di tempat lain...


Mobil yang di bawa oleh Dipta baru saja tiba di halaman rumah keluarga Wijaya. Namun, ada pemandangan yang membuat Kening Dipta mengerut.


Dimana ada seorang pria seumuran dengan dirinya tengah mengobrol dengan Ayah Bara di teras rumah itu.


"Ayo Mas, mampir dulu. Sapa Ayah sama Bunda," ucap Raya yang di angguki oleh Dipta.


Raya dan juga Dipta pun turun secara bersamaan lalu berjalan berdampingan menuju ke arah rumah.


Kedatangan keduanya di sambut hangat oleh Ayah Bara dan juga pemuda itu. Pemuda itu tampak menyambut Raya dan juga Dipta dengan ramah dan sopan.


"Assalamu'alaikum, Ayah," sapa Dipta menyalami dengan takzim.


"Waalaikumsalam, wah Dipta. Apa kabar Nak? Lama kamu tidak datang kemari," ucap Ayah Bara menyambut menantunya itu.


"Maaf Ayah, akhir akhir ini Dipta sibuk di kantor," jawab Dipta yang sekilas melirik ke arah pemuda yang tengah menyimak obrolan di antara mereka.


"Iya, Ayah tahu itu. Ayo masuk, kita lanjutkan ngobrolnya di dalam. Oh iya Raya, ini Nak Indra sudah nunggu kamu dari tadi. Kalian bicaralah," lanjut Ayah Bara yang membawa masuk Dipta dan membiarkan Raya bertemu dangan tamu nya.


Dengan berat hati, Dipta pun akhirnya ikut masuk bersama dengan Ayah Bara setelah mendapatkan bisikan dari sang mertua.


Sementara Raya, masih diam berdiri bersama dengan tamu yang mencari dan menunggunya sedari tadi.


"Jadi dia, pria yang sudah menghalalkan kamu Raya?" tanya pria itu yang membuat Raya langsung menoleh ke arah nya.

__ADS_1


*


*****


__ADS_2