
***
Alina masih terdiam membisu, menatap tak percaya jika pria yang tengah duduk berjongkok didepan nya, yang meminta untuk diberikan kesempatan itu adalah seorang Prasetyo Wiratama.
Pria yang dulu begitu anti pada dirinya, begitu membenci nya. Namun kini, pria itu tengah duduk bersimpuh, meminta untuk diberikan kesempatan untuk memperbaiki hubungan antara keduanya.
"Ke_kenapa, kenapa tiba tiba Mas begini?" tanya Alina masih merasa terkejut dengan apa yang di lakukan Pras saat ini.
"Tidak tiba tiba sayang, semua sudah aku rasakan sejak lama. Hanya saja, ego ku masih terlalu tinggi untuk mengakui semua nya. Aku memang belum bisa melupakan Alisa sepenuh nya. Tapi, jujur aku juga tidak bisa jika kelak aku akan kehilangan kamu. Aku tahu, masih terlalu dini jika perasaan ini disebuah dengan kata cinta, tapi. Sungguh, aku tidak mau kehilangan kamu Alina. Karena itulah, tolong, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua nya." lanjut Pras yang membuat mata Alina berkaca kaca.
"Kamu mau kan memberikan kesempatan itu padaku?" tanya nya lagi.
Alina masih terdiam, rasanya masih sulit di percaya jika pria yang kerap membentak nya itu kini bersujud didepan nya dan meminta diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan keduanya.
Tapi, saat melihat keseriusan dari pria itu, akhirnya Alina pun hanya mampu menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Pras padanya.
Pras langsung menubrukan tubuh nya ke tubuh Alina saat melihat respon dari wanita itu, yang memberikan jawaban seperti yang dia harapkan. Pria itu mendekap erat tubuh mungil Alina yang sudah begitu sabar menghadapi sikap arogan nya selama ini.
Bahkan, wanita berhati lembut itu masih mau memberikan kesempatan setelah berulang kali Pras menorehkan luka di hatinya.
"Terima kasih sayang, terima kasih karena sudah memberikan kesempatan itu untukku," ucap nya tanpa melepaskan pelukan nya di tubuh ALina.
*
*
"Assalamu'alaikum," seruan salam mengalihkan perhatian semua orang yang tengah duduk bersantai di ruang keluarga.
"Wa'alaikumsalam, masya Allah Pras, kamu?" ucap Mama Widia tersentak kaget saat menjawab salam dari tamu nya dan melihat jika putra nya lah yang masuk dan berjalan menuju kearah dalam rumah dengan ditemani oleh sang istri.
"Iya Ma, ini Pras." jawab Pras yang kini sudah melepaskan kursi roda yang selalu dia pakai pasca kecelakaan malam itu.
Mama Widia pun langsung berlari menuju ke arah sang putra yang masih berdiri tidak jauh dari ruangan keluarga dimana kedua orang tua dan putrinya tengah bersantai di sana, lalu memeluk erat tubuh Pras yang kini sudah mulai bisa berjalan kembali.
"Terima kasih ya Allah, terima kasih karena sudah menyembuhkan putraku," lirih mama Widia saat memeluk tubuh putra tunggalnya Prasetyo.
__ADS_1
"Iya Ma, semua berkat doa Mama yang tidak henti henti nya mendoakan Pras, agar Pras segera pulih dari kelumpuhan itu," jawab Pras membalas pelukan sang ibu.
"Jangan lupa juga jasa istrimu yang senantiasa merawat mu di setiap saat dan setiap waktunya," jawab mama Widia sembari mengurai pelukan nya di tubuh Pras.
"Tentu saja, Pras tidak akan pernah lupa dengan apa yang istri Pras ini lakukan. Terima kasih ya sayang, terima kasih karena tidak pernah meninggalkan ku meski pun sikapku selalu menyakitimu, CUP,"
Alina membelalakkan matanya saat tanpa rasa malu dan ragu Pras mencium bibir nya didepan sang mama mertuanya.
Mama Widia dan papa Hadi terlihat shock melihat perlakuan manis Pras pada Alina. Kedua orang tua paruh baya itu saling melempar lirikan lalu keduanya sama sama menatap penuh tanya pada pasangan muda yang baru saja tiba di rumah nya itu.
"Natap nya kok gitu amat sih Ma, Pa? Aneh ya kalau Pras mesra dengan istri sendiri?" tanya Pras saat melihat tatapan aneh dari kedua orang tuanya.
"Kalau pasangan lain sih nggak Pras. Tapi kalau kamu iya, aneh banget malah," jawab mama Widia jujur membuat putra nya itu berdecak kesal.
"Pras ingin mencoba memperbaiki semua nya Ma, Pa. Pras sadar, jika selama ini sikap Pras sudah keterlaluan. Makanya, Pras meminta Alina untuk memberikan Pras kesempatan untuk Pras agar Pras bisa memperbaiki semua nya dan memulai hubungan kami dari awal lagi,"
"Bagus itu Pras. Kita tidak boleh terbelenggu oleh masa lalu. Biarkan yang pergi, pergi dengan tenang. Setelah tuhan memberikan kesempatan untukmu dengan selamat dari kecelakaan itu maka, lanjutkan hidupmu dengan baik. Dengan begitu, kamu bisa membuat Alisa pergi dengan tenang." ucap papa Hadi yang kini mengeluarkan suaranya.
"Iya Pa, itu yang akan Pras lakukan sekarang. Doakan Pras ya, semoga pernikahan Pras kali ini bertahan sampai kami menua bersama,"
*
*
*
Sejak saat itu, hubungan Alina dan Pras pun benar benar semakin membaik. Bahkan pria itu kini mulai memperkenalkan sosok Alina ke seluruh karyawan kantor.
"Kenapa Mas ingin aku dan Alesya ikut ke kantor? Bukan kah itu akan mengganggu waktu kerja Mas," tanya Alina saat dalam perjalanan menuju ke kantor dimana Pras menjabat sebagai CEO disana.
"Tidak apa apa sayang, lagi pula hari ini Mas tidak memiliki jadwal penting dan lumayan ada waktu luang. Mas hanya ingin menunjukan jika dua wanita cantik ini adalah dua orang yang paling berharga untukku. Dan tentu saja karyawan kantor harus mengetahui hal itu dan ikut hormati kalian juga."
Bluussshhh
Mendengar penjelasan dari Pras, membuat wajah Alina merona. Sungguh, terharu rasanya saat di anggap begitu penting hingga semua orang harus tahu keberadaan nya.
__ADS_1
Alina pun langsung memalingkan wajahnya agar Pras tidak melihat wajah nya yang sudah memerah bak kepiting rebus.
Deg...
Jantung Alina bertambah berdebar saat Pras melingkarkan kedua tangan nya di perut Alina dan mengunci tubuh mungil itu dalam pelukan nya.
"Harus kah kita kembali ke rumah? Aku kangen kamu," bisik Pras tepat di telinga Alina yang berhasil membuat tubuh wanita itu meremang.
"Ja_jangan begini Mas. Malu sama Pak Tarno," jawab Alina berusaha melepas pelukan suaminya, namun begitu sulit saking erat nya Pras memeluk tubuh Alina.
"Kenapa? Biarkan saja. Pak Tarno sudah terbiasa kok melihat kemesraan ku dulu dengan Alisa. Gimana? Kita pulang saja ya?" jawab Pras tanpa mau peduli jika istri nya kurang nyaman karena malu.
"Telat Mas, kita sudah sampai," jawab Alina saat mobil yang membawa mereka sudah memasuki kawasan gedung kantor dimana Pras bekerja selama ini.
Pras pun hanya bisa menghela nafas pasrah saat Pak Tarno membuka kan pintu mobilnya. Pras pun segera turun dari mobil lalu membawa Alesya yang masih tertidur lelap dalam gendongan nya.
Alina sendiri turun setelah Pras turun dari mobil itu, keduanya berjalan beriringan memasuki gedung menjulang tinggi itu.
"Eh, tahu nggak? Ternyata Bu Monica itu tunangan nya Pak Pras loh. Tidak menyangka ya?"
"Iya, kirain bakalan susah move on dari almarhumah Bu Alisa. Eh ternyata sudah tunangan aja sama Bu Monica,"
"Iya juga sih, lagi pula cowok normal mana sih yang bisa menolak pesona Bu Monica. Bentuk tubuhnya itu loh, menggoda abis."
"Huuu dasar cowok. Nggak bisa aja lihat yang montok montok,"
"Kita normal gitu loh,"
Deg...
Seketika Alina menghentikan langkah kakinya saat mendengar perbincangan beberapa karyawan yang tengah berkumpul di meja resepsionis dan tengah menggosipkan suaminya dengan wanita lain.
*
***
__ADS_1