
***
Kecanggungan kembali terjadi saat Dipta dan Raya sama sama telah siap untuk beristirahat. Kedua nya tampak sama sama terlihat bingung, menatap ranjang yang hanya ada satu satunya.
Bahkan di kamar itu juga tidak terdapat sofa untuk di tempati tidur, hingga mau tidak mau. Raya pun harus rela berbagi tempat tidur dengan Dipta.
“Mas mau menempati bagian yang mana?” tanya Raya memecah keheningan di dalam kamar nya setelah beberapa menit di habiskan dengan terdiam.
“Terserah kamu saja. Senyamannya kamu saja,” jawab Dipta terlihat begitu kaku.
“Baiklah, kalau begitu aku di sebelah kanan dan Mas di sebelah kiri,”
“Boleh, kalau begitu kita istirahat sekarang ya?”
“Iya, ayo. Eh tunggu, apa Mas sudah memberi kabar sama orang rumah kalau akan menginap di sini?” tanya Raya lagi.
“Oh ya ampun, aku hampir saja lupa. Ya sudah, Mas kabari Mama dulu,” jawab Dipta menepuk jidatnya saat melupakan untuk memberi kabar pada sang mama yang terdeteksi sangat posesif itu.
Dipta pun langsung mengambil kembali ponsel nya yang sudah di simpan di atas nakas kecil di samping ranjang milik Raya.
Dipta mengetik sebuah pesan yang akan dikirim ke ponsel sang Mama. Lalu setelah itu, Dipta pun mulai merangkak naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuh lelah nya di samping Raya yang sudah lebih dulu berbaring di tempat nya.
“Selamat beristirahat dan selamat tidur, mimpi indah ya,” ucap Dipta menatap sekilas ke arah Raya yang juga tengah melirik ke arah nya.
“Iya, Mas juga,”
Kedua pasutri itu pun sama sama memejam kan matanya dengan posisi tidur yang sama sama terlentang, menghadap ke langit langit kamar.
Berbeda dengan Raya dan juga Dipta yang tengah mencoba untuk tertidur dengan perasaan yang berkecamuk dalam hati.
Di dalam rumah mewah lainya, tampak seorang wanita yang tidak lagi mudah tengah bersorak senang setelah mendapatkan pesan dari putra keduanya, yang mengabarkan jika malam ini dia tidak akan pulang dan menginap di rumah mertuanya.
__ADS_1
"kamu kenapa sayang? Kok kayanya senang banget gitu?" Tanya Papa Pras saat melihat istrinya terlihat begitu senang.
"Dipta Pa, malam ini Dipta nggak pulang,"
"Loh, anak nggak pulang kok malah senang, bukan nya khawatir," Ucap Papa Pras merasa heran pada tingkah istrinya malam ini.
Biasanya dia akan terus mengomel dan marah jika Dipta tidak pulang. Jangan kan tidak pulang, pulang terlambat pun Mama Alina akan terus memberikan wejangan pada putranya itu.
Hingga Dipta pun akhirnya selalu pulang tepat waktu agar tidak terus mendapatkan omelan dari sang Mama. Namun, entah apa yang terjadi malam ini.
Kenapa istrinya itu malah terlihat senang saat Dipta mengabari kalau pemuda itu tidak akan pulang.
"Kenapa harus khawatir? Kita justru harus senang. Dengan begini, itu artinya kita akan segera mendapatkan cucu, Pa."
“Hus, ngawur. Dapat cucu gimana? orang pasangan aja belum ada,”
“Yang ngawur itu Papa. Lupa ya kalau kita sudah punya mantu? Dan Papa tahu kenapa Mama senang? Malam ini, Dipta nggak pulang ke rumah karena dia pulang dan menginap di rumah mertua nya dan tidur di kamar Raya,” jelas Mama Alina dengan binar bahagia di wajah nya.
“Sebenarnya sudah dua hari Raya pulang. Tapi Mama memang sengaja tidak memberitahukan Dipta akan kepulangan nya. Mama tidak mau terlalu banyak ikut campur pada pernikahan mereka. Mama rasa, saat ini mereka sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan dan membuat keputusan. Dan Mama sangat bahagia jika mereka memutuskan untuk tetap mempertahankan pernikahan mereka Pa,”
“Syukurlah kalau begitu. Papa juga ikut senang mendengar nya.” jawab Papa Pras yang memang berharap Dipta dan Raya mempertahankan pernikahan mereka sejak terjadinya pernikahan dadakan itu.
Meski pernikahan itu ada karena terpaksa, namun pernikahan bukan lah hal yang patut di permainkan.
Meski dulu dia dan juga Mama Alina mengawali pernikahan yang hampir sama dengan Dipta, yaitu menikah bukan atas dasar cinta.
Melainkan menikah karena suatu masalah atau insiden. Namun, tidak pernah terbersit sedikitpun di hati Papa Pras untuk mengakhiri pernikahan nya dengan mama Alina.
Meski dulu dia begitu membenci gadis yang dia nikahi hanya untuk mempertanggung jawabkan perbuatan nya. Namun, Pras sama sekali tidak berniat menceraikan Alina meski dia sangat membenci gadis yang dia nikahi itu.
*
__ADS_1
*
*
Malam kian merangkak menuju ke tengah malam, bahkan sudah masuk ke dini hari namun. Baik Raya mau pun Dipta begitu susah mendapat kan rasa kantuk mereka.
Kedua nya sama sama kembali membuka mata dengan posisi tidur sudah saling memunggungi. Kedua nya sama sama tidak ada yang berani membuka suara atau pun membalik posisi tidur mereka saat ini.
"Ay, kamu sudah tidur?" Tanya Dipta yang akhirnya membuka suara nya lebih dulu memecah keheningan di kamar yang baru pertama kali dia singgahi.
"Nggak bisa tidur," Jawab Raya benar adanya.
Keduanya pun kompak membalikkan badan mereka hingga kini mereka saling berhadapan. Baik Dipta mau pun Raya sama sama saling menatap dalam diam.
Tangan Dipta terulur membelai lembut pucak kepala Raya yang saat ini terbebas dari hijab nya. Raya membiarkan hal itu, jujur Raya menyukai belaian lembut tangan kekar Dipta di kepala nya.
"Mau aku peluk?" Tanya Dipta dengan suara yang lembut dan mendamaikan, yang mampu menghipnotis Raya hingga membuat gadis itu menganggukkan kepala nya.
Dipta pun mulai bergerak, mengikis jarak ke arah Raya. Dipta menyusupkan salah satu tangannya kebalik leher jenjang Raya untuk dijadikan bantalan oleh gadis itu.
Dipta juga sedikit menarik tubuh Raya hingga tubuh keduanya semakin merapat. Seketika, aroma tubuh maskulin yang khas yang berasal dari tubuh Dipta pun langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Raya.
Membuat debaran jantung Raya kian kencang saat wajah nya tepat berada di depan dada bidang milik Dipta.
"Tidurlah, ini sudah terlalu larut," bisik Dipta, berusaha bersikap tenang dan biasa saja.
Meski pada kenyataan nya, dada nya hampir saja meledak saat mulai bersentuhan dengan Raya. Meski dulu mereka sering saling gandeng dan pernah juga beberapa kali saling berpelukan.
Namun itu dulu, di saat keduanya sama sama menganggap hal itu biasa di lakukan pada sahabat. Namun berbeda dengan saat ini, dimana mereka tengah menjalin suatu hubungan dengan benih cinta yang mulai tumbuh dan bersemi di hati masing masing.
Raya yang mulai merasa nyaman berada di dalam pelukan sang suami pun akhirnya terlelap dalam damai. Di ikuti oleh Dipta yang juga akhirnya bisa terlelap setelah drama susah tidur selama berjam jam.
__ADS_1