
***
"Nah ini dia, tamu spesial kita akhirnya datang juga," seru Radit yang melihat Dipta masuk kedalam unit apartemen milik Edo.
Pria yang kini sudah beranjak dewasa itu bergeming. Menatap tak percaya pada sosok wanita dengan hijab yang kini membingkai wajah cantiknya yang tampak sudah semakin dewasa dan Masya Allah cantiknya.
Wanita itu bangkit dari duduknya, lalu berjalan perlahan dan berhenti tepat di depan Dipta yang masih diam terpaku di tempatnya berdiri dengan berjarak.
"Assalamu'alaikum Mas, apa kabar?" tanya dengan nada yang begitu lembut hingga mampu menghipnotis Dipta yang masih menatap lekat wajah cantik itu.
"Woy, jawab dong. Malah bengong dia," seru Edo saat melihat Dipta sama sekali tidak merespon sapaan dan salam dari Raya.
Dipta pun mulai tersadar dari lamunan nya. Dia pun akhirnya sadar dan menyadari jika wanita yang selama ini dia rindukan kini ada di depan matanya.
“Wa_waalaikumsalam. Ra_Raya? ka_kamu Raya?” jawab Dipta lalu bertanya dengan nada yang tergagap saking kagetnya melihat penampilan baru Raya.
“Tentu saja ini aku. Kenapa, aneh ya?” tanya Raya balik saat melihat tatapan aneh Dipta saat melihat dirinya dengan penampilan yang telah dia rubah sejak 2 tahun yang lalu itu.
“Ng_nggak kok, cantik,” jawab Dipta spontan.
“Hah, apa?”
“Hah, nggak. Bagus, bagus kok kamu cocok juga ternyata memakai hijab,” jawab Dipta lagi yang tiba tiba merasa canggung saat berhadapan dengan Raya setelah sekian tahun berpisah.
Bahkan tanpa sadar pria itu melayangkan pujian yang selama ini tidak pernah terucap dari bibir nya untuk seorang Rayana Wijaya.
“Berhubung lo udah datang, kita mulai aja yukk acara nya? kayanya makanan nya udah siap deh. Sayang, gimana makanan nya sudah siap belum?” tanya Edo setengah berteriak ke arah belakang, lebih tepat nya pada seseorang yang beberapa hari lagi akan dia nikahi.
“Sudah kok, ayo bantuin bawa ke ruang tengah. Kita makan di sana saja sambil lesehan biar lebih santai,” ujar seorang wanita yang tidak asing lagi bagi semua yang hadir di sana.
Wanita itu keluar dari arah dapur dengan membawa dua buah piring berukuran besar yang sudah di isi oleh lauk pauk yang akan menjadi menu makanan hari ini.
__ADS_1
“Biar aku bantu Han,” ucap Raya yang langsung menghampiri sahabat nya Hani yang tengah sibuk menyiapkan menu makanan di atas karpet untuk mereka santap bersama.
"Boleh, sayang bantuin dong. Kok malah diem aja sih," protes Hani pada sang kekasih yang masih duduk santai di sofa dan masih sibuk dengan ponsel di tangan nya.
"Siap sayang, apa nih yang perlu aku bawakan?" tanya Edo menghampiri Hani yang masih sibuk menyiapkan segala sesuatu nya di bantu oleh Raya dan juga Sulis.
"Tolong dong bawain air minum sama gelasnya sekalian," jawab Hani menunjuk sebuah nampan yang sudah di isi oleh gelas gelas yang akan mereka pakai.
Hani, Raya, Sulis dan Edo pun akhirnya sibuk menyiapkan menu makanan di ruang tengah. Sementara Dipta ikut membantu menyusun piring di ruang tengah sambil sesekali melirik Raya yang sibuk bolak balik antara ruang tengah dan dapur.
"Haris mana? Belum datang?" tanya Dipta pada Radit yang sibuk dengan ponsel di tangan nya.
"Baru nyampe dia, masih di bawah. Jemput dulu calon bini nya dulu baru kesini," jawab Radit sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celana nya.
"Oh,"
Tidak lama kemudian, benar saja. Haris datang bersama dua orang wanita dengan penampilan cukup sopan. Ke tiga nya menyapa Radit dan juga Dipta yang kebetulan ada di sana.
"Wis, datang juga lo," ucap Haris saat melihat sahabat nya itu akhirnya keluar kandang juga.
"Oh iya, kenalin ini Winda tunangan gue dan ini Manda, adiknya Winda. Win, kenalin ini dia yang namanya Dipta, yang sering kita omongin itu," ucap Haris memperkenalkan ketiga nya karena kebetulan hanya Dipta yang belum Winda kenal.
"Hai, aku Winda," ucapnya mengatupkan tangan di dada, begitu pun dengan Dipta yang melakukan hal yang sama dengan di iringi oleh anggukan kepala.
"Dan aku Manda,"
Gadis yang sedari datang duduk di samping sang kakak itu tampak sumringah saat akan berkenalan pria tampan yang ada di depan nya.
Gadis itu langsung mengulurkan tangan ke depan Dipta. Tepat saat Raya keluar dari arah dapur. Melihat itu sejenak Raya pun menghentikan langkah kakinya.
Deg
__ADS_1
Bagai dejavu, dada Raya kembali berdenyut nyeri dan sesak kala melihat Dipta bersama wanita lain. Raya terlihat menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali melangkah mendekati ruang tengah dimana semua orang tengah berkumpul.
"Maaf, Dipta," jawab Dipta mengatupkan kedua tangan nya di depan dada, tanda menolak bersalaman dengan gadis yang bernama Manda.
Manda pun terpaksa menarik kembali tangan nya lalu mencoba memasang senyum terpaksa nya. Kecewa sekali rasanya saat niat baiknya tertolak begitu saja.
"Nah, berhubung semua sudah berkumpul. Ayo mari, kita mulai saja dengan di awali dengan doa bersama sesuai dengan kepercayaan masing masing saja ya," ucap Edo membuka acara makan makan mereka.
Semua tampak berdoa dengan khusyuk menurut kepercayaan masing masing. Berhubung di antara mereka ada yang merupakan non muslim.
Dia adalah Radit dan juga Sulis. Sulis? Atau Sulistia Christiani dan biasa di panggil Sulis atau Tia bagi keluarga dekat.
Usai berdoa, mereka pun mulai mencicipi hidangan yang sudah tersedia di sana. Semua tampak duduk berdampingan, begitu pun dengan Dipta dan Raya.
"Sini biar aku ambilkan Kak," ucap Manda hendak mengambil piring yang ada di depan Dipta untuk di isi nasi serta lauknya.
"Tidak, biar saya saja." cegah Raya mencekal tangan Manda lalu segera mengambil piring itu untuk di isi oleh menu makanan yang sudah tersaji di depan mereka.
Sontak hal itu membuat Manda kaget dan merasa heran dengan tingkah wanita berhijab yang duduk di samping Dipta, lebih tepatnya di samping kanan Dipta dan Manda berada di samping kiri pria itu.
Bukan hanya Manda yang kaget, namun Sulis dan Hani juga ikut kaget melihat tingkah Raya yang terlihat posesif pada Dipta. Sementara Edo, Haris dan juga Radit yang tahu betul status mereka berdua terlihat biasa saja.
Sementara Dipta, tentu saja teramat sangat senang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Raya. Bahkan senyum mengembang langsung terlihat di wajah datar nya saat merasa jika Raya kini terlihat jauh lebih posesif pada dirinya.
"Terima kasih sayang," bisik Dipta saat Raya menyerahkan piring yang telah di isi menu makanan sesuai dengan selera Dipta.
Dan hal itu tentu saja membuat wajah putih bersih itu kini tampak merona karena ucapan yang di lontarkan oleh Dipta padanya.
Raya pun langsung menunduk demi menyembunyikan rona merah di wajah nya agar tidak di lihat oleh teman teman nya.
Dan hal itu membuat Hani dan Sulis semakin curiga akan hubungan kedua orang sahabat itu.
__ADS_1
*
*****