Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.3


__ADS_3

***


"Saya terima nikah dan kawin nya Rayana Wijaya dengan mas kawin uang tunai sebesar satu juta rupiah dibayar, tunai."


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah,"


"Sah,"


Seketika suara isak tangis pun terdengar kian riuh. Dimana kini bukan cuma Bunda Aulia yang menangis, namun Mama Alina juga.


Kedua ibu itu tidak menyangka jika mereka akan menikahkan anak anak nya dengan tidak wajar di usia mereka yang masih dini.


Namun, tidak ada pilihan lain. Hanya itu yang akan menyelamatkan nama baik muda mudi itu.


"Kalau begitu, kami permisi dulu. Dan tolong, untuk masalah ini saya mohon jangan sampai bocor keluar sampai mereka lulus nanti Pak," ucap Papa Pras saat berpamitan untuk membawa putranya itu pulang.


"Baik Pak. Akan saya pastikan jika rahasia ini terjaga dengan baik, tapi jika di kemudian hari hal ini sampai bocor. Maka, akan saya pastikan jika itu bukan dari kami yang membocorkan nya,"


"Baiklah, kalau begitu. Kami permisi,"


Papa Pras pun akhirnya membawa Mama Alina keluar dari gedung itu dalam pelukan nya karena masih saja menangis.


Begitu pun dengan Ayah Bara yang membawa Bunda Aulia yang terlihat begitu lemas setelah menikahkan putrinya dengan cara yang tidak wajar.


Kedua keluarga itu keluar gadung dengan saling beriringan. Kedua nya berhenti sejenak sebelum mereka benar benar masuk kedalam mobil masing masing.


"Bawa dulu putrimu pulang Bara, besok. Aku akan menjemputnya untuk mulai tinggal bersama dengan kami," ucap Pras sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Baiklah. Kami pulang dulu,"


"Ok, hati hati. Dan kamu Dipta mulai saat ini kamu pulang dan tinggal di rumah. Papa akan menyita apartemen kamu untuk sementara," lanjut Papa Pras menatap tajam ke arah putranya.


"Tapi Pa,"


"Menurut, atau Papa akan memasukan kamu ke pondok,"


"Ayo masuk,"


"Tapi motor Dipta bagaimana?"


"Biar Pak Wahyu yang akan mengurusnya."


Pemuda itu pun kini tidak bisa lagi memprotes apa yang di perintahkan oleh sang ayah. Dipta tampak pasrah, lalu masuk kedalam mobil sang ayah dibagian belakang.


Sesekali pemuda itu melirik ke arah sang Mama yang tampak masih sesenggukan akibat tangisnya yang pecah saat putranya di paksa nikah karena penggerebegan.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, baik dalam mobil Papa Pras atau pun dalam mobil Ayah Bara. Sama sama di isi oleh keheningan, semua nya tampak tidak memiliki tenaga meski hanya sekedar mengeluarkan suara.


"Maafkan Dipta Ma, sumpah demi apapun. Dipta tidak melakukan itu. Dipta janji, Dipta akan menemukan pelaku sebenarnya," gumam pemuda itu menatap sendu tubuh bagian belakang sang Mama.


*


*


"Masuk, dan renungkan kesalahanmu. Ingat, mulai besok kamu akan memiliki tanggung jawab dalam hidupmu. Kamu harus mulai bisa berubah dalam segala hal." ucap Papa Pras saat mereka tiba di rumah utama.


"Baik Pa, Dipta masuk dulu. Dan, maaf sudah buat Papa dan Mama malu," lirih pemuda itu.

__ADS_1


"Kami kecewa Dipta. Tapi, Papa harap kamu belajar dari kesalahan ini. Dan jangan buat kami kecewa untuk kedua kalinya,"


"Iya Pa, Dipta masuk dulu."


Dipta pun langsung naik ke lantai dua dimana kamar miliknya berada. Kamar yang hampir satu tahun dia tinggalkan karena lebih memilih tinggal di apartemen.


Namun kini, Dipta harus kembali menempati kamar itu setelah unit apartemen nya di sita oleh sang Papa.


Dipta melempar tubuh lelahnya ke atas ranjang empuk dan besar miliknya. Dipta menatap langit langit kamar dengan pikiran yang bercampur aduk.


Kini, dia sudah memiliki status lain. Di usianya yang baru saja 18 tahun, Dipta sudah menyandang status seorang suami.


Bahkan yang lebih gila nya lagi. Dipta menikahi Raya, gadis yang sudah bertahun tahun lamanya menjadi sahabat untuknya.


Lelah dengan pikiran kalutnya, Dipta pun segera bangkit dari tidurnya lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Gue harus cari tahu siapa mereka. Kenapa mereka melakukan hal memalukan itu di sana? Tidak bermodal sekali. Bukan kah di sini banyak motel yang murah yang bisa mereka tempati. Cih, memalukan," gumam nya saat air hangat yang berasal dari shower mengucur membasahi seluruh tubuhnya.


*


*


Tidak jauh berbeda dengan Dipta, Raya pun di landa kekalutan yang sama. Dimana malam ini juga Raya di minta untuk mengemasi barang barang nya.


"Kenapa harus pindah Yah? Kami kan hanya nikah siri."


"Meski begitu, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri Raya. Dan kewajiban istri itu ikut bersama suaminya,"


"Apa tidak bisa kalau kami tinggal masing masing aja?"


"Tidak bisa,"


Akhirnya, setelah sekian jam terdiam. Bunda Aulia pun membuka suaranya saat Raya terus menolak untuk pindah ke rumah keluarga Wiratama.


"Kewajiban utama seorang istri itu ada di samping suaminya Raya. Apapun status pernikahan kalian, mau itu resmi atau pun siri. Kamu tetaplah seorang istri yang wajib tinggal bersama suami."


"Tapi Bunda,"


"Sebenarnya Bunda sangat kecewa dengan kejadian ini Raya. Tapi, Bunda harap baik kamu atau pun Dipta bisa sama sama mengambil hikmah dari kejadian ini dan tidak lagi mengulang kesalahan yang sama di kemudian hari,"


"Menurut lah, jangan membuat kami menjadi orang yang semakin berdosa karena membiarkan putrinya abai akan kewajiban nya sebagai seorang istri. Lagi pula, kamu masih tetap bisa kemari bersama dengan Dipta nanti,"


"Baiklah Bunda, maafkan Raya. Raya sudah membuat Ayah dan Bunda malu,"


"Semua sudah terjadi. Tapi kami harap, kamu bisa perbaiki semua nya. Pertanggung jawabkan perbuatanmu dengan menjadi istri yang baik untuk Dipta,"


"Iya Ayah. Akan Raya usahakan,"


"Masuk dan istirahatlah,"


"Iya Ayah,"


*


*


Malam kian larut. Namun, baik Dipta mau pun Raya sama sama tidak bisa memejamkan matanya.


Keduanya sama sama di landa kekalutan akan hubungan dan status baru yang mereka sandang saat ini.

__ADS_1


Merasa bingung dengan hari esok yang akan di songsong dengan status baru nya. Dipta pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi Raya..


Tut...tut...tut....


Klik


"Iya,"


"Tidur lo?"


"Nggak, belum ngantuk,"


"Sama dong,"


__________Hening_________


"Kok diem?"


"Bingung, gak tahu harus ngomong apa,"


"Terus buat apa telpon?"


"Nggak tahu, tiba tiba aja pengen telpon lo,"


"Aneh, ya udah. Tidur gih, udah malam."


"Ra,"


"Heemm?"


"Lo yakin besok pindah ke sini?"


"Nggak ada pilihan lain Kan Dip? Kita harus menurut biar tidak buat kecewa orang tua lagi. Gue nggak mau lihat Bunda nangis lagi,"


"Ok, jika itu keputusan lo. Gue lelah tapi nggak bisa merem,Ra."


"Paksain,"


"Ok, tidur lo. Besok gue datang bareng bokap buat jemput lo,"


"Iya,"


"Gue, tutup telpon nya ya?"


"Iya,"


"Malam, Raya."


"Malam juga Dipta."


Klik


Keduanya kembali sama sama termenung. Entah apakah keputusan yang mereka ambil itu jalan yang terbaik atau pun bukan.


Yang pasti, saat ini, baik Dipta maupun Raya hanya mencoba untuk tidak kembali membuat kedua orang tuanya kecewa dengan menuruti semua keinginan kedua orang tuanya.


Dan menjalani pernikahan rahasia mereka dengan sebaik mungkin.


*

__ADS_1


*****


__ADS_2