Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Part.34


__ADS_3

***


"Sudah berapa lama kalian saling mengenal?" tanya Pras tiba tiba pada Denis saat Alina sudah tidak ada bersama mereka.


"Sejak masih kecil tentu nya. Seandainya takdir berpihak padaku, mungkin saat ini kami sudah menikah," jawab Denis yang membuat Pras tersedak oleh minuman yang tengah dia minum.


Uhuukkk


Uhuukkk


"Tenang lah, ini minum," ucap Denis saat melihat Pras tersedak hingga terbatuk batuk.


Pras mengambil gelas yang di sodorkan oleh Denis padanya. Pria itu langsung meminum habis isi gelas itu.


"Apa kamu menyukai istriku?" tanya Pras lagi setelah merasa tenang setelah minum.


"Sangat, bahkan tujuan hidupku selama ini hanyalah dia. Tapi sayang, takdir tidak merestui kami untuk bersama. Maka dari itu, jaga dia baik baik, jika suatu saat nanti aku tahu dia tidak bahagia bersama denganmu, jangan salahkan aku jika aku akan merebutnya darimu. Ingat itu," ucap Denis sembari langsung bangkit dari duduknya dan bergegas pergi dari sana.


"Jangan pernah bermimpi. Sampai mati pun aku tidak akan membiarkan Alina pergi dariku," ucap Pras yang seketika menghentikan langkah Denis yang hampir saja mencapai pintu.


"Bagus kalau begitu. Setidak nya aku tidak akan nekad menjadi seorang pembinor, jika Alina memang benar benar bahagia dengan mu,"


Tanpa menghiraukan lagi apa yang akan diucap kan oleh Pras, Denis pun pergi meninggalkan tempat dimana dirinya begitu merasa sesak.


Melihat bagaimana mesra nya Alina bersama dengan Pras membuat hatinya memanas hingga menimbulkan rasa sesak yang begitu menghimpit.


Namun Denis tidak bisa melakukan apapun di saat Alina sendiri terlihat baik baik saja. Jujur, Denis masih belum bisa menerima jika wanita yang selama ini dia cintai telah menjadi milik pria lain.


Namun kenyataan pahit itu mau tidak mau harus terima oleh Denis. Toh pada kenyataan nya, Alina kini telah menjadi istri dari pria lain.


Demi mengurai sesak di dadanya, Denis pun akhirnya pergi meninggalkan butik yang dia datangi satu jam yang lalu.


Sementara Alina sendiri langsung menghampiri Pras yang masih duduk ditempatnya tadi. Namun di sana hanya ada Pras seorang dan sudah tidak ada Denis.


"Loh, Denis kemana Mas?" tanya Alina setelah berada di dekat meja yang tadi di gunakan untuk makan.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin dia sudah pulang. Kenapa kamu keberatan kalau dia pergi?" jawab Pras yang kembali tersulut emosi hanya karena Alina menanyakan keberadaan Denis.


"Jangan mulai deh, cuma nanya juga. Ayo ah, kita pulang. Kalau mau marah marah, di rumah saja," jawab ALina yang langsung berpindah tempat ke arah belakang kursi roda yang di duduki oleh Pras, lalu mendorong nya ke arah dalam butik.


"Loh, non Alin sudah mau pulang?" tanya salah satu karyawan yang tengah membereskan area butik.


"Iya Han, besok aku datang lagi untuk membantu ya?" jawab Alina pada pegawai yang bernama Hani itu.


"Siap non," jawab nya tersenyum manis namun senyum nya itu tiba tiba redup saat netra nya bertemu dengan tatapan tajam dari Pras.


"Saya ijin kedalam dulu ya nona, masih banyak yang harus saya kerjakan di dalam," ijin nya pamitan pada Alina dan mengabaikan Pras.


"Posesifnya tidak berubah ternyata. Jangan kan sama laki laki, istirnya ngobrol dan akrab sama perempuan aja menatap nya horor gitu. Kok bisa sih wanita secantik dan sebaik non Alina menikah dengan pria super posesif dan serem kaya tuan Pras?" gumam Hani saat sudah masuk kedalam ruangan di bagian dalam butik untuk melanjutkan pekerjaan nya.


Sementara Alina sendiri masih bersama dengan Pras di butik bagian depan.


"Alesya sudah dibawa pulang sama Mama, jadi kita langsung pulang saja ya?" ucap Alina sembari mendorong kursi roda yang di pakai oleh Pras.


"Hhmm,"


"Kenapa? Kamu malu punya suami cacat?" tanya Pras yang lagi lagi dengan suara yang meninggi.


"Kenapa harus malu? Aku hanya bertanya Mas, kenapa selalu harus meninggikan suara saat kita bicara, sih? Ayo Mas Wahyu, tolong bantu tuan masuk ya," ucap Alina mengalihkan perhatian pada sosok pria yang sedari tadi setia menunggu di depan mobil.


Sungguh lelah rasanya jika harus terus menerus berdebat dengan Pras. Entah harus sampai kapan pria itu akan terus membenci nya.


Padahal jika di ingat, semua kejadian yang mereka alami murni kecelakaan. Kondisi jalanan yang licik dan juga gelap karena tidak adanya lampu jalan, membuat Alina kewalahan saat membawa kendaraan yang membawa sang kakak yang saat itu akan melahirkan.


Belum lagi rintihan yang keluar dari mulut Alisa saat merasakan kontraksi membuat Alina dilanda kegugupan dan juga rasa takut yang teramat kuat hingga membuat mobil yang dikendarai oleh nya pun oleng dan tidak terkendali.


Kejadian malam naas itu sama sekali tidak bisa Alina lupakan. Melihat Pras dan Alisa yang berlumuran darah sebelum kesadaran nya menghilang, selalu hadir di dalam mimpi nya.


Namun hal itu tidak pernah Alina tunjukan pada siapapun hingga tidak ada yang pernah tahu, bagaimana menderita nya Alina selama ini menjalani hidupnya pasca kepergian sang kakak.


Hingga Alina kerap meminum obat penenang agar dia bisa tidur tanpa dihantui bayang bayang akan malam kecelakaan itu.

__ADS_1


*


*


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah utama, kedua pasutri itu sama sama memilih bungkam.


Alina kembali mengurungkan niat nya untuk membuka komunikasi dengan pria yang duduk di samping nya itu.


Mau selembut apapun nada bicara Alina saat bicara dengan Pras selalu saja di respon dengan sebuah emosi yang membuat Alina merasa lelah sendiri menghadapi sikap suaminya itu.


Setelah hampir satu jam di habiskan di jalan raya, akhirnya mobil yang dibawa oleh Wahyu pun tiba dihalaman rumah Pras.


Pemuda itu kembali membantu sang atasan turun dari mobil berpindah ke kursi roda yang selama berbulan bulan ini menjadi kaki untuk Pras.


"Mas Wahyu, biarkan saya saja yang bawa masuk tuan. Mas Wahyu pulang saja, ini sudah mau gelap. Akan lebih baik saat hari sudah gelap Mas sudah di rumah," ucap Alina yang kembali menyulut emosi Pras.


Bagaiman tidak dan bagaimana bisa wanita itu seolah tanpa beban memberikan perhatian pada pria lain didepan suaminya sendiri.


"Kenapa harus seperhatian itu? Lagi pula dia sudah terbiasa pulang larut, kenapa harus khawatir?" ucap Pras merasa keberatan saat istrinya memberi perhatian pada pria lain.


"Jangan mulai deh Mas, ayo Mas Wahyu pulang saja ya,," jawab Alina langsung mendorong kursi roda yang di pakai oleh Pras menuju ke dalam rumah.


Alina menghentikan langkah kakinya setelah tiba di ruang tamu lalu berjalan kembali ke arah pintu untuk menutup pintu rumah itu.


Ke adaan rumah tampak begitu sepi karena memang Mbok Ijah sudah pamit pulang sejak sore. Hingga Alina pun harus melakukan sisa pekerjaan yang biasa dilakukan Mbok IJah seorang diri.


Termasuk membuka dan menutup pintu rumah. Dan kini Alina pun tengah melakukan itu, setelah membawa Pras masuk Alina kembali lagi ke arah pintu untuk menutup pintu itu.


Namun saat akan berbalik untuk kembali melanjutkan langkah nya membawa Pras menuju ke kamar nya.


Tiba tiba Alina tersentak kaget saat tubuh nya merasa melayang. Mata Alina membulat sempurna tatkala melihat Pras sudah menggendong nya dan membawanya masuk kedalam kamarnya.


*


***

__ADS_1


__ADS_2