
***
Alina masih terdiam, termenung di atas kasur dengan selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.
Dalam renungan nya, Alina memikirkan banyak hal. Termasuk sikap Pras selama beberapa hari ini.
Terlihat diam, cuek dan tidak peduli. Tapi selalu marah jika dirinya berdekatan dengan pria lain.
Bahkan pada Denis, pria yang selama ini sudah Alina anggap sebagai seorang kakak. Dan pria jangkung berkulit putih itu pun tidak luput dari kecemburuan seorang Prasetyo Wiratama.
Berulang kali Alina menghela nafas panjang demi mengurai perasaan yang berkecamuk didalam dada nya saat ini.
Bingung sekali menyikapi sikap suaminya saat ini. Entah apa yang di ingin kan oleh pria itu, bersikap cuek seolah tidak peduli akan kehadiran nya, tapi selalu marah setiap kali melihat Alina berinteraksi dengan pria lain.
Bahkan tadi, Wahyu pun tidak luput jadi sasaran dari sikap posesif pria itu hingga berujung dengan pergulatan panas di atas ranjang antara pasutri itu.
Menyebalkan, itulah umpatan yang hanya mampu Alina ungkapkan di dalam hatinya. Setelah berpikir cukup lama dan merasa jika tubuhnya sudah kembali fit.
Alina pun segera bangkit dari tidurnya dan berniat untuk pindah kamar. Meski keduanya kini kerap berhubungan badan, namun Alina masih akan pindah kamar setelah kegiatan panas itu berakhir dan Pras tertidur.
Hal itu Ana lakukan demi menghindari perdebatan yang akan terjadi setelahnya, karena Pras yang masih belum bisa menerima nya dan belum mengijinkan Alina untuk menempati kamar itu.
Dengan malas, Alina pun mulai menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari ranjang. Namun, baru saja kakinya turun sebelah, tubuh Alina sudah tertarik kebelakang hingga membuat tubuh gadis itu kembali berbaring di ranjang.
"Awww, Mas?" pekik ALina saat Pras menarik tangan nya, hingga membuat tubuh Alina kembali berbaring.
"Mau kemana? Ini masih terlalu malam untuk bangun," bisik Pras dengan suara beratnya khas orang bangun tidur.
"A_aku mau pindah kamar," jawab Alina terbata karena gugup dan juga takut.
"Pindah kemana? Ini kamar kita," jawab Pras tanpa membuka matanya.
__ADS_1
"I_ini aku, Alina Mas," lirih Alina yang merasa takut jika suaminya itu tengah mengigau dan menganggap nya Alisa.
Hingga saat dia terbangun Pras akan kembali tersulut emosi lagi karena wanita yang dia peluk dan tidur di ranjang nya bukan lah Alisa, mendiang istrinya.
Mendengar ucapan Alina, Pras pun langsung membuka matanya. Pras langsung membalik tubuh Alina yang awalnya membelakangi nya kini menjadi menghadap ke arah nya.
Pras menatap lembut ke arah wajah Alina yang tampak begitu tegang. Bayangan akan teriakan dan bentakan yang selalu di lakukan Pras padanya kian membayangi. Saking takutnya, membuat tubuh Alina meremang.
"Aku tahu kamu Alina, memang nya, kamu pikir aku memanggil siapa? Hhmm?" ucap Pras mengulurkan tangan nya, membelai lembut wajah cantik Alina.
Tubuh Alina tersentak kaget saat telapak tangan Pras mendarat di wajah nya dan membelai lembut wajah cantik itu.
"Ma_Mas Pras?" lirih Alina dengan mata yang berkaca kaca.
"Hhmm, kenapa?" tanya Pras menatap lembut ke arah Alina.
Namun Alina tidak bisa melanjutkan ucapan nya, tatapan dan sentuhan lembut yang Pras lakukan mempu membungkam nya.
"Tidur lah lagi, ini masih terlalu malam untuk bangun," ucap Pras lagi menarik tubuh Alina masuk kembali kedalam dekapan nya.
Untuk pertama kali nya, selama hampir satu tahun mereka menikah. Ini pertama kalinya Pras memeluk Alina dengan ke adaan sadar.
*
*
Keesokan pagi nya...
"Pagi Mbok, sudah datang ya?" tanya Pras saat mendatangi dapur dan sudah menemukan art nya itu tengah membuat sarapan.
"Iya tu___ masya Allah tuan. Tuan sudah bisa berjalan lagi?" seru Mbok Ijah saat berbalik untuk menyapa tuan nya dan melihat Pras tengah berdiri didepan kulkas.
__ADS_1
"Iya Mbok, alhamdulillah." jawab Pras lagi sambil mengambil satu botol air mineral yang tersimpan di lemari pendingin itu.
"Syukurlah kalau begitu tuan. Oh iya, non Alina kemana ya? Kok belum kelihatan? Apa sudah pergi ke butik? Tapi ini masih terlalu pagi ya, untuk pergi ke sana," tanya Mbok Ijah yang tidak biasanya, saat dia datang dan tidak melihat majikan wanita nya itu.
"Ada, masih tidur dikamar. Oh iya, selesai bikin sarapan tolong bantu beresin barang barang istri saya untuk di pindah ke kamar utama ya Mbok. Dan barang barang yang ada di kamar utama, Mbok keluarin saja lalu simpan di gudang atas. Tapi tolong, simpan barang barang mendiang istri saya nya yang rapih ya Mbok, jangan sampai ada yang rusak. Pastikan semua barang mendiang istri saya tidak ada yang tertinggal di kamar dan gantikan dengan milik Alina," titah Pras pada Mbok Ijah yang membuat Mbok Ijah diam terpaku, tak percaya jika majikan nya itu, pada akhirnya mau menerima keberadaan Alina untuk menggantikan Alisa yang hampir satu tahun meninggal dunia
"Mbok, Mbok dengar saya kan?" tanya Pras lagi saat tidak ada respon dari Mbok Ijah.
"Ah, iya. Maaf tuan, baik, akan saya lakukan secepat nya tuan," jawab Mbok Ijah yang ikut senang saat kedua majikan nya itu sudah mulai berdamai dengan ke adaan.
Usai memberikan perintah nya pada Mbok Ijah, Pras pun kembali lagi ke dalam kamar nya. Perlahan Pras berjalan ke arah ranjang, dimana Alina masih tertidur lelap di sana.
Pras duduk di bibir ranjang, menatap lembut ke arah Alina yang masih tertidur lelap dengan ke adaan polos, dan hanya tertutup dengan selimut tebal milik Pras.
"Sayang, bangun. Katanya mau ke butik? Kita juga perlu menjemput Alesya di rumah mama," bisik Pras membelai lembut pucuk kepala Alina.
Namun tidak ada respon sedikit pun dari Alina, gadis itu tampak begitu lelap dalam tidur nya hingga tidak menyadari jika ada seorang pria yang duduk di samping nya dan tengah mencoba membangunkan nya.
Tangan Pras pun akhirnya berpindah, dari yang awalnya membelai lembut rambut Alina kini Pras mencoba membangun kan sang istri dengan membelai wajah nya.
Dan setelah beberapa saat, mata ALina pun mulai tergerak lalu detik kemudian mulai terbuka. Alina menatap sayu ke arah Pras yang tengah tersenyum lembut ke arah nya.
Namun, setelah kesadaran nya terkumpul sempurna Alina pun langsung tersentak kaget. Saat melihat Pras ada di samping nya dan tengah tersenyum padanya.
"Oh ya ampun, i_ini jam be_berapa Mas?" tanya Alina tergagap karena kaget dan juga takut saat melihat Pras ada di samping nya.
Bahkan gadis itu langsung bangun begitu saja tanpa menghiraukan selimut yang menutupi tubuh polos nya itu melorot dan menampilkan tubuh mulus yang tidak tertutup apapun.
"Sayang, jangan bilang kalau kamu mau menggodaku?" tanya Pras saat melihat tubuh polos Alina.
Seketika Alina baru tersadar jika tubuh nya masih belum ditutupi oleh apapun dan hanya tertutup selimut, itu pun sudah jatuh melorot kebawah hingga menampilkan tubuh polosnya itu.
__ADS_1
*
***