
Sofia mulai menatap jengah perdebatan dua orang didepannya saat ini. Ya Alanda dan Varo saat ini sedang berdebat perihal pindah rumah dimana Varo yg ingin tinggal dirumahnya sendiri dan Alanda yg tidak mengizinkan mereka.
" Mama gak izinin. Pokoknya kalian harus tinggal disini !!" Tegasnya tak terbantahkan.
" Aku punya rumah sendiri Ma . Lagian sudah sewajarnya aku pindah kerumah sendiri apalagi aku udah punya istri. "
" Tetep aja Mama gak izinin. " Varo menghela napas lelah karena Mamanya tidak mau mengalah.
Ia menatap Papanya meminta bantuan. Dave yg mengerti akan tatapan putranya pun angkat bicara.
"Biarkan Varo pindah kerumahnya. Jika dia membuat kesalahan, aku sendiri yg akan memberinya pelajaran." Suara tegas tak terbantahkan dari Dave membuat Alanda mau tak mau harus mengalah.
" Nanti aku bakalan sering kok main kesini buat nemenin Mama " ucap Sofia menenangkan Alanda yg kesal.
Alanda menatap sendu menantunya yg sudah ia anggap anak sendiri. " Bilang sama Mama ya kalo Varo buat kamu sakit " . Sofia mengangguk seraya tersenyum.
Alanda memeluk erat menantunya tanpa terasa satu buliran air matanya jatuh mengenai pipinya. " Akan aku jaga dia dengan nyawaku sendiri . Itu janji ku kepadamu Balqis " batin Alanda.
" Waaaa jangan melow dong " Semua orang tersentak terutama Alanda dan Sofia kala mendengar suara tiba tiba dari Vian.
" Hehe santai Ma " ucapnya kala Mamanya menatap dirinya tajam.
" Aduh .. sakit Ma " Vian mengerang kesakitan kala kupingnya ditarik oleh Mamanya.
" Ganggu suasana aja kamu bocah " Ujar Alanda sengit.
" Sakit Ma lepas dulu!! "
" Shhh merah kuping gue " lirihnya . Benar saja kupingnya memerah akibat kencangnya tarikan ditelinganya.
" Nenek lampir " Alanda melotot dan Vian langsung berlari berlindung dibalik punggung Papanya.
Mereka yg melihat tingkah Vian hanya tertawa.
__ADS_1
" Pa tolongin Vian !! mak lampir ngamuk "
" Alvian Rayder Mama coret kamu dari Kartu kelurga " sengit Alanda pada putra bungsunya itu.
" Coret aja!! yg ada Mama yg dicoret sama Papa " sewotnya.
" Kamu siapa?" tanya Dave memihak istrinya. Vian melirik kesal Papanya. Kenapa Papanya harus memihak Mamanya!! ini penistaan sungguh ini adalah penistaan.
...****...
Seperti perkataan Varo tadi mereka benar benar pindah kerumah pribadi Varo. Sofia menatap sedikit takjub pada bangunan dengan halaman luas didepannya . Ingat hanya sedikit.
Rumah dengan nuansa modern dan terlihat sangat mewah ditambah halamannya yg luas dengan air mancur ditengah tengahnya. Mobil yg ditumpangi mereka terpakir tepat didepan pintu utama.
Varo keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam rumah dengan diikuti oleh Rafa asisten pribadinya. Sofia nampak misuh misuh sendiri ketika melihat Varo masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan dirinya yg masih didalam mobil.
" Dasar kutub es "
" Kemaren aja lembut sekarang kayak orang gak kenal "
Dengan setengah hati Sofia mengangkat barang barangnya kedalam yg terdiri dari 2 buah koper dan satu tas ransel.
Varo hanya melihat sekilas kearah istrinya yg nampak kesusahan membawa barangnya.
Sofia berdecih sinis melihat Varo yg nampak tak perduli pada dirinya.
" Kek anjing emang ".
" Eh nyonya mari saya bantu " . tawar seorang wanita paruh baya yg menjabat sebagai kepala pelayan di mansion itu.
" Makasih Bik " ucapnya dan dibalas anggukan serta senyuman oleh Bik Lita.
Sofia menatap bingung kamar didepannya .
__ADS_1
" Ini kamar saya Bik?" tanya Sofia memastikan. Karena ia yakin jika kamar didepannya saat ini adalah kamar utama di mansion ini yg artinya ini adalah kamar Varo.
" Iya Nyonya "
" Panggil Sofia aja Bik !! emang gak ada kamar lain ?"
" Rasanya kurang sopan jika saya memanggil Nyonya " tolak Bik Lita.
" Kalo gitu panggil Nona aja " pasrah Sofia pada akhirnya.
" Bik saya tidur dikamar lain aja. " pinta Sofia.
" Kenapa Non ?" Tanya Bik Lita bingung.
" Sa...." ucapannya terpotong karena disela oleh Varo.
" Kamu tidur sama aku. Aku gak menerima alasan apapun. " Varo memberi isyarat agar Bik Lita meninggalkan mereka.
Setelah kepergian Bik Lita Sofia menatap kesal Varo . " Aku gak mau !!" Ia merasa sedikit geli dengan penyebutan Aku tapi ia harus membiasakannya mulai sekarang agar dirinya tak dirugikan oleh laki laki mesum ini.
" Aaa " Sofia refleks berteriak kala Varo dengan tiba tiba menggendongnya masuk kedalam kamar.
"Turunin gak !! " perintahnya.
" Barang barang aku masih diluar " protes Sofia .
" Nanti para pelayan yg akan mengurusnya " sanggah Varo.
" KAIVARO " teriakan Sofia menggema hingga keruang tamu.
" Suara yg sangat merdu " ucap Rafa seraya mengusap kupingnya yg terasa berdenging.
" Bik saya pamit dulu. Tolong sampaikan kepada Tuan jika berkasnya sudah saya letakkan diruang kerjanya." jelas Rafa.
__ADS_1
Rafa memilih untuk pulang sebab ia tau jika Tuannya itu tak akan kembali dalam waktu dekat. Dari pada mendengar suara suara yg membuat jiwa jomblo meronta lebih baik ia mencari jalan aman dengan pulang dan pergi mencari wanita untuk ia kencani.