
Dengan wajah khawatir yg sangat kentara, Varo memeluk erat tubuh Istrinya seakan tak ada lagi hari esok. Setelah mendapati Sofia yg tak kunjung mengangkat telepon dan membalas pesannya, Varo bergegas pulang dan untung saja saat ia sampai di mansion nya. Ia mendapati Istrinya yg sedang memasak.
" Lepas dulu! Aku lagi masak Varo. " Sofia berdecak kala tangan besar itu memeluk dirinya tiba tiba.
Sofia menghela napas ketika merasakan gelengan kepala di lehernya.
" Sayang! Mandi dulu sana habis itu kita makan bareng. " Ucapan bernada lembut yg keluar dari bibir Istrinya seakan menjadi mantra untuknya. Apalagi ditambah dengan panggilan sayang. Ah! Rasanya Varo ingin berteriak saat itu juga.
" Ok. "
Sofia hanya bisa geleng kepala melihat tingkah aneh suaminya. Harus di panggil sayang dulu baru nurut.
15 menit kemudian Varo kembali turun dan duduk di dekat Istrinya yg sudah menunggunya. Rasanya Varo tak ingin moment seperti ini hilang.
Entah akan bagaimana dirinya jika wanita di samping nya ini pergi. Varo bahkan tak sanggup membayangkan nya. Namun yg pasti hal itu tak akan pernah ia biarkan terjadi.
" Kakek nyuruh Aku pergi ke mansion nya. " Sofia mengangguk seakan ia sudah tahu akan hal itu.
" Kapan? " Tanya nya.
Varo mengecup kepala Istrinya dan mengeratkan pelukannya. Mereka saat ini sedang duduk di ruang tengah dengan mata yg kompak menatap layar lebar didepan mereka.
" Besok. " Sofia lagi lagi mengangguk.
" Abian katanya mau nginep malam ini dan kayaknya Asa juga akan ikut. " Varo mengangkat alisnya. Tumben sekali pikirnya.
" Kenapa? " Ucapnya seakan tak terima.
" Gak papa. Lagian aku juga kangen tidur bareng sama Abian, apalagi sama Asa. " Seru Sofia bersemangat.
Dengan mata mengerjap polos menatap wajah suaminya yg datar. Sofia tersenyum lebar hingga deretan gigi rapinya terlihat.
" Gak bisa. " Tolak Varo.
" Kok gitu sih! " Sofia melotot tak terima dengan jawaban Suaminya.
" Ya gak bisa. Nanti aku tidurnya sama siapa? Lagian Abian sama Asa udah gede bisa tidur sendiri. " Jelas Varo beralasan. Bisa hancur rencananya jika dua bocah itu menginap malam ini. Tidak bisa di biarkan.
" Kamu juga udah gede, kenapa gak tidur sendiri aja, ha? Kenapa terus minta ditemenin ha? " Sofia melepas pelukan suaminya dan bertekan pinggang dihadapan Varo.
" Aku kan gak bisa tidur kalo gak ada kamu. " Varo memeluk pinggang Istrinya dan sesekali mengecup pelan perut Istrinya yg tertutup kain.
__ADS_1
" Badan aja yg gede. Masa tidur sendiri aja takut. " Sindir Sofia halus.
Shhh
Sofia menarik rambut suaminya hingga wajah Pria itu tertarik keatas. Dari tempatnya Sofia dapat melihat dengan jelas pahatan wajah sempurna pria yg menjabat sebagai suaminya.
Wajah Sofia bersekutu merah ketika mendengar penuturan Varo yg teredam karena memeluk erat perutnya.
" Lihat Baby, Mommymu menarik rambut Daddy. " Tangan Sofia terangkat mengusap lembut rambut suaminya dan terkekeh pelan.
" Dia belum ada, Sayang. " Ucap Sofia lembut.
" Gak papa. Simulasi dulu biar nanti udah terlatih. " Varo mengecup kecil perutnya hingga menimbulkan sedikit rasa geli.
" Pengen banget ya punya baby? " Tangan Sofia masih sibuk mengusap rambut halus nan tebal milik suaminya. Dengan Varo yg memeluk perutnya.
" Pengen, biar nanti kamu ada yg nemenin kalo aku gak ada. " Balas Varo.
" Boy or Girl? " Tanya Sofia lagi. Ia penasaran dengan jawaban pria itu. Ia harus memastikan terlebih dahulu keinginan pria itu agar nanti ketika yg datang tidak sesuai harapan maka pria itu bisa menerimanya.
" Aku gak nuntut apa pun. Mau nanti Laki laki atau perempuan aku gak masalah. Yang penting kamu sehat dan anak kita juga sehat itu udah lebih dari cukup buat aku. "
" Terima kasih udah mau sabar menunggu kedatangannya. " Ia sadar di usia pernikahan mereka yg hampir 6 bulan membuat pria itu sangat mengunginkan kehadiran seorang anak. Apalgi ketika melihat orang lain yg baru menikah 3 bulan sudah dikaruniai buah hati.
" Gak papa. Lagian kita buatnya juga hampir tiap hari. Cepat atau lambat dia pasti akan ada disini. " Ucap Varo kembali dan mengecup lama perut istrinya seakan akan sang buah hati sudah bersemayam di perut istrinya.
.....
Seperti perkataan Sofia tadi sore. Abian dan juga Asa sudah ada di Mansion nya dengan membawa tas di punggung mereka. Sofia hanya geleng kepala mendengar jawaban kedua orang itu.
" Kata Bang Abi tasnya buat tempat balang balang belhalga di Mansion Kakak. " Jawab Asa dengan logat anak kecilnya.
" Eh! Abang gak ada bilang gitu ya! " Bantah Abian tak terima.
" Ada, tadi Bang Abi bilang gitu sama Asa. " Bela Asa.
Sedangkan Varo hanya menatap datar pembicaraan mereka. Gagal sudah rencananya ingin bersenang senang dengan Sofia malam ini.
" Udah, Udah. Letakkan tasnya di dalam kamar lalu turun buat makan malam. " Titah Sofia dan segera diangguki keduanya.
" Cil buruan. Punya kaki pendek banget sih. " Dengus Abian ketika melihat Asa yg tertinggal di belakang nya.
__ADS_1
" Kaki Asa gak pendek. Kaki Abang aja yg panjang. " Bocah 5 tahun itu mendelik kesal ketika kakinya dikatakai pendek.
" Abian jangan buat Asa nangis. Kakak goreng kamu kalo sampai Asa nangis. " Tegur Sofia ketika melihat Abian yg menjahili Asa.
Ia hafal dengan pemuda itu. Abian akan menjahili Asa sampai bocah itu menangis lalu ia akan melarikan diri dengan Asa yg menangis ulahnya.
" Makanya cepet besar kayak Abang. Biar gak ketinggalan terus kalo jalan. " Namun Abian tetap lah Abian. Pemuda itu tak akan berhenti sampai Asa menangis.
" Pelcuma besal kalo gak pintal. " Sungut bocah itu menatap tajam Abian. Sedangkan Abian bukannya tersinggung malah tertawa.
" Gak papa gak pintar yang penting bisa bilang R. " Abian semakin gencar menggoda Asa ketika melihat wajah bocah itu memerah.
" Masa bilang R kayak L. Mana asa Es Klim yg ada es krim. " Goda pemuda itu lagi.
" Nanti Asa juga bisa bilang L. " Ucap Bocah itu dan lagi lagi Abian tertawa ketika bocah itu kembali menyebut R dengan L.
Mata Bocah 5 tahun itu sudah berkaca kaca siap untuk mengeluarkan hujan derasnya. Sebelum Ia merasakan tubuhnya melayang dan suara ringisan Abangnya.
" Shh Aduh. " Abian mengusap belakang kepalanya ketika mendapat pukulan dari Suami Kakaknya.
" Jangan menjahili nya. " Ucap Varo datar dengan Asa di tangan kanannya.
Asa sontak tertawa ketika melihat wajah masam Abian.
" Haha Lasain. Makanya jangan ganggu Asa. " Ucap Asa tertawa senang. Sedangkan Varo tersenyum tipis ketika melihat Asa tertawa.
" Sakit tau Bang. Asanya aja yg cengeng. Aduh. " Abian semakin kesal ketika kepalanya kembali dipukul oleh Varo.
" Bocah edan. Awas ya kamu Asa. " Kesal Abian kala mendapati bocah itu malah tertawa senang di gendongan Varo.
" ABIAN MULUTNYA MAU KAKAK GORENG BENERAN, HA!! " Abian seketika langsung terdiam mendengar teriakan Kakaknya.
"GAK SENGAJA KAK. " Jawab Abian membela diri dan mendelik kesal kearah Asa.
" KAK!! BANG VARO KEMAREN GANDENG CEWEK SEXY. "
****
Abian dengan cepat melarikan diri setelah mengadukan yg tidak tidak kepada Kakaknya. Lebih baik ia kabur dari pada mendapat pukulan lagi dari Abang iparnya.
Sedangkan Varo sudah mengumpat dalam hati akan kelakuan aneh Abian. Untung ada Asa jika tidak sumpah serapah sudah ia keluarkan.
__ADS_1