Mengapa Harus Dia !?

Mengapa Harus Dia !?
Episode 52


__ADS_3

Sofia mengeram penuh emosi dan menghancurkan semua barang disekitarnya.


Amber tak berani mendekat karena Sofia yg dalam keadaan emosi bisa membunuh siapa saja tanpa sadar.


" ARGGH.BAJINGAN SIALAN."


" GUE BUNUH LO."


" BEDEBAH."


" GUE GAK TERIMA. AKAN GUE BUAT KEPALA LO BERPISAH DENGAN TUBUH LO."


Sofia berusaha mengatur emosinya agar keadaan tak semakin parah. Ia menarik napas panjang dan segera mengeluarkan ponsel pintarnya.


Namun ia lagi lagi emosinya terpancing kala melihat deretan pesan dan panggilan masuk dari anak buahnya yg bertugas menjaga Pulau X.


Tanpa menunggu lagi Sofia segera keluar dari ruangan kerjanya dan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Tujuannya hanya satu markas Cruel Darkness


BRAK


Pintu utama markas ditendang kasar hingga membuat seluruh penjaga mengangkat senjata mereka.


" Apa yg kau lakukan, Ha!!" Sentak salah satu diantara mereka.


" Penyusup. Bunuh dia." Tambah yg lain.


" Berani sekali kau datang kemari. Apa kau sedang menjemput ajal mu sendiri."


" Hanya seorang gadis kecil."


Sofia yg emosinya belum stabil menyerang anak buah Cruel Darkness membabi buta hingga mereka yg berjumlah 10 orang jatuh tak berdaya.


Sofia memandang datar tubuh pengawal yg tepar dihadapannya. Ia melanjutkan langkahnya untuk mencari ketua dari perkumpulan Mafia yg sudah berani mengusik miliknya.


Anggota lain yg baru datang terkejut ketika melihat rekan mereka tak sadarkan diri. Mereka dengan cepat berpencar mencari dalang dari itu semua dan menyalakan alarm bahaya. Pertanda jika ada penyusup yg masuk kedalam markas.


Aksa yg sedang duduk santai sembari menghirup aroma wine ditangannya terkejut dan menjatuhkan gelas wine ditangannya.


Aksa berdiri dan segera keluar dengan senjata ditangannya. Siapa yg dengan berani menyusup kedalam markasnya secara terang terangan. Jika tidak mendapatkan kepala orang itu jangan panggil ia Aksa Kevan Rayder.

__ADS_1


Sofia menatap tajam pada pria yg turun tergesa gesa dengan pistol ditangannya. Tangannya mengepal kuat ketika melihat wajah pria itu. Dengan langkah cepat ia memukul wajah Aksa hingga pria itu tersungkur.


Bugh


Argh


Aksa yg tidak siap dengan pukulan tiba tiba dari wanita didepannya. Tersungkur dengan sudut bibir yg berdarah.


Sofia menarik kerah baju Aksa dan kembali memukul wajahnya. Sofia tak memberi celah untuk Aksa menyerang hingga membuat Aksa kewalahan.


Sofia semakin emosi ketika mendengar suara dari belakang tubuhnya. Ia melepas Aksa dan berbalik menatap Varo yg berdiri tegap didepannya.


" SOFIA."


Dengan sisa tenaga yg ada Aksa bangkit dan memegang wajah serta dadanya yg terasa sakit karena pukulan Sofia.


Aksa hendak mengangkat senjatanya sebelum nama yg disebutkan sepupunya terngiang ngiang ditelinganya.


Tunggu Sofia? Mata Aksa membulat ketika sadar siapa wanita didepannya. Ia lantas segera menurunkan senjatanya sebelum Varo menghantamnya. Kenapa Adik iparnya itu malah menyerang dirinya. Apakah ia mempunyai salah sebelumnya.


" Sayang. Hey, Kenapa kamu nyerang Aksa hm?" Suara lembut Varo nyatanya tak membuat emosi reda. Sofia malah semakin emosi dan menyerang Varo.


Bugh


Bugh


Shhh


Varo menahan tangan istri kecilnya yg siap meninju wajahnya. Ia menarik tangan itu dan memeluknya erat.


" Lepas!!." Desis Sofia.


" Lepas brengsek." Sofia mendorong tubuh Varo hingga pelukan mereka terlepas.


" Hey. Kita bicariin baik baik, ok." Tenang Varo.


Dapat Varo lihat wajah penuh emosi istrinya. Ia harus meredakan emosi istrinya agar mereka bisa berbicara dengan kepala dingin.


" Gue udah kasih kesempatan buat kalian. Untuk tidak mengusik Pulau itu."

__ADS_1


" TAPI KENAPA KALIAN SEMAKIN GENJAR UNTUK MENDAPATKANNYA."


" Pulau?" Bingung Varo menatap Aksa dibelakang tubuh istrinya.


" GAK USAH PURA PURA BODOH. TARIK SEMUA PASUKAN KALIAN JIKA TIDAK MARKAS INI AKAN RATA DENGAN TANAH."


" Apa hak Lo merintah kita?" Dingin Aksa yg sedikit tak suka dengan perkataan Sofia.


" Hak? Pulau itu milik gue. Dan kalian dengan sembarangan memasuki dan mengambil sumber daya didalamnya."


Varo dan Aksa terkejut mendengar pernyataan Sofia. Jadi pulau yg mereka selidiki dan paksa untuk masuk adalah milik dari wanita didepan mereka. Mustahil. Menurut info yg mereka dapatnya pulau itu milik seorang pria berdarah korea yg saat ini sudah meninggal.


" Jangan berbohong. Kami sudah menyelidiki pulau itu. Dan bukan Lo pemiliknya." Ucap Aska.


Sofia tersenyum miring.


" Mana ada orang yg akan menyerahkan identitasnya secara sukarela. Pria berdarah Korea yg sudah meninggal, right? itu informasi yg kalian dapatkan?"


" Kenapa kamu gak bilang dari awal jika pulau itu milik kamu." Tanya Varo .


" Buat apa gue bilang . Toh gak penting juga."


" Itu penting sayang. Jika kamu memberitahu lebih awal Aku gak akan maksa buat ambil alih pulau itu." Aksa menatap tak percaya Sepupunya. Kemana Varo berdarah dingin dan kejam yg ia kenal. Varo yg tidak akan melepaskan apa yg sudah ia klaim sebagai miliknya. Lalu apa didepannya ini adalah sepupunya. Aksa menggeleng seakan tak mengenal orang didepannya.


" Seberpengaruh itu Sofia dikehidupan Varo." Batin Aksa.


Sofia menatap malas suaminya. Sedangkan Varo menatapnya dengan tatapan lembut selembut sutra. Eyyak.


Emosinya sudah sedikit reda sekarang. Tapi rasa kesal di hatinya masih ada.


" Jika aku yg ngasih tau duluan sama aja aku nyerahin diri ke kandang singa."


" Kamu tau kan siapa aku?"


Varo menarik napas panjang. Ia kalah jika harus berdebat dengan istri kecilnya ini.


" Baik. Aku akan tarik semua anak buah Aksa yg ada di pulau itu." Putus Varo pada akhirnya.


" Anak buah kamu juga kali." Sinis Sofia.

__ADS_1


" Anak buahnya Aksa. Kan Aksa ketuanya." Ucap Varo tak mau kalah.


Sedangkan Aksa sudah pergi untuk mengobati lukanya. Pukulan adik iparnya itu memang tak main main. Wajahnya saja hampir hancur jika Varo tak datang tepat waktu tadi. Entah terbuat dari apa tenaga adik iparnya itu .


__ADS_2