Mengapa Harus Dia !?

Mengapa Harus Dia !?
Episode 40


__ADS_3

Malam harinya, disaat suasana sedang hening ditambah ruangan yg agak gelap terdengar teriakan kesakitan dari dalam ruangan itu.


" Argh". teriak orang itu kala tubuhnya dicambuk tanpa ampun.


" Be...berhenti." ucapnya memohon belas kasih pada seorang pria yg duduk tak jauh didepannya.


"Heh. Membuat istriku dalam bahaya bahkan berniat untuk membunuhnya. Anda pikir saya akan melepaskan anda dengan mudah.?" ucap pria itu dengan sorot mata dingin dan tajam.


Kemudian, pria itu memberi kode pada asistennya untuk membawakannya sebuah pistol. Rafa yg berdiri di belakang Varo mengangguk dan segera mengambil senjata kesayangan tuannya itu.


Yap, pria itu adalah Kaivaro Rayder. Saat ini dirinya sedang menyiksa pemimpin yg sudah berani membahayakan nyawa istri kecilnya.


" Kau beruntung karena tidak berada di sana pada saat ledakan." ucap Varo datar seraya mengangkat wajah pria didepannya dengan ujung pistol.


" Pemimpin yg payah." cibirnya pedas.


" Saya tidak ingin bermain lagi." ucapnya berdiri dan meletakkan pistol tepat di kening pemimpin Mafia Devil.


" Selamat bertemu dengan malaikat maut ." ucapnya.


Dor.


Satu tembakan yg ia layangkan berhasil membuat pemimpin organisasi dunia gelap itu pingsan. Pingsan untuk selama lamanya.


" Bereskan." ucapnya seraya membersihkan tangannya menggunakan sapu tangan.


" Baik Taun Muda."


Sedangkan disisi lain, Sofia sedang terlibat pembicaraan serius dengan Amber dan juga Deka.


" Jadi, apa kita akan tetap pada rencana awal Nona muda? " Tanya Deka.


" Sepertinya untuk saat ini, iya. Tapi jika kondisi berbalik arah kita akan rubah rencana awal." ucap Sofia serius.


Amber mengangguk. " Apa ada pergerakan dari orang itu? " tanya Amber kepada Deka.


" Untuk saat ini tidak."


" Jangan lengah dan tetap waspada. Karena keadaan tenang bukan berarti tidak ada bahaya." ucap Sofia dan diangguki keduanya.


" Gue harus balik sekarang." ucap Sofia melihat jam tangannya yg sudah menunjukkan pukul 22.00.


Awalnya aman saja saat ia keluar dari apartemen Amber. Namun suasana menjadi hening saat ia sudah keluar area gedung apartemen.

__ADS_1


Ia menatap bingung dengan segerombalan pengawal yg berbaris rapi seakan menyambut kedatangannya. Sampai salah satu diantara mereka bersuara membuat Sofia mengerti.


" Kami pengawal Capung merah ingin meminta maaf kepada, Nona muda."


" Kami memang tidak berguna hingga membuat Nona Muda kecewa."


" Maafkan kami Nona Muda." ucap pengawal yg menjadi ketua diantara mereka seraya berlutut dan diikuti pengawal lainnya seraya berkata. " Maafkan kami Nona Muda." ucap mereka serempak.


Sofia tersenyum melihat ketangguhan mereka dalam meminta maaf kepadanya. Mamanya memang tak salah pilih.


Sofia berjalan mendekat kearah seorang pria yg ia yakini sebagai ketua dari pengawal Capung Merah. Sofia menarik kedua bahu pria itu dan membawanya berdiri.


" Kalian semua berdiri." ucap Sofia pada semua pengawal yg berlutut.


" Kami tidak akan berdiri sebelum mendapat maaf dari Nona Muda." Teriak mereka.


" SAYA BILANG BERDIRI." Mereka yg mendengar teriakan Sofia lantas dengan cepat berdiri.


" Jangan pernah berlutut kepada siapa pun terutama saya." tekan Sofia.


" Saya bukan tuhan sehingga membuat kalian harus berlutut."


" Saya memaafkan kalian. Kalian adalah pengawal terbaik."


Sofia tersenyum kecil dan memeluk pria didepannya. " Kerja yg bagus, Abian." bisik Sofia.


Pria yg dipanggil Abian itu sontak berdiri kaku karena dipeluk oleh Nonanya.


Sofia mengacak gemas rambut pria itu. Sudah lama ia tidak melakukan ini pada adik kecilnya. Abian yg mendapat perlakukan itu lantas tersenyum lebar dan memeluk erat Sofia.


" Hiks. Kakak " ucapnya pelan seraya menangis haru.


" Jagoan Kakak udah gede ya sekarang. Udah bisa jadi pemimpin hebat." puji Sofia membalas pelukan Abian.


" Maafin Abi karena telat nolongin Kakak." sesalnya.


" Gak papa." ucap Sofia melepas pelukan mereka.


Sofia meneliti penampilan Abian dari atas hingga bawah.


" Tinggi ya sekarang. Bahkan udah melebihi Kakak." ucap Sofia ketika melihat pertumbuhan adiknya. Yang mana dulu Abian hanya sebatas pundaknya sekarang malah dirinya yg hanya sebatas pundak Abian.


" Iya dong. Orang Paman Deka ngasih makan daging terus tiap hari. " sombongnya.

__ADS_1


Sofia mendelik mendengar ucapan adiknya.


" Pantes kamu gendutan isinya lemak semua." sindir Sofia.


" Mana ada gendut. Badan bagus gini dibilang gendut." Kesalnya.


" Mulai besok kamu harus vegetarian." tegas Sofia.


Abian yg mendengar itu lantas melotot dan menggelengkan kepalanya.


" Gak mau. Abi gak mau jadi vegetarian." tolaknya.


Sudah Sofia duga adiknya ini memang tidak suka apabila disuruh makan sayur. Katanya kayak makanan sapi hijau semua.


Abian adalah seorang anak yg ditemukan oleh Mamanya dulu. Pertemuan pertama mereka adalah saat umur Sofia 7 tahun. Dirinya dan Abian hanya berbeda 1 tahun. Sejak saat itu mereka menjadi dekat dan Sofia menganggap Abian sebagai adiknya sendiri mengingat jika dirinya adalah anak bungsu. Kebiasaan Sofia sedari dulu adalah mengucap gemas kepala Abian hingga membuat Abian kesal.


Lalu disaat umur 17 tahun Abian bergabung dan menjadi pengawal dibawah asuhan Deka. Awalnya Sofia tidak setuju namun karena Abian yg bersikeras akhirnya Sofia mengalah dan menuruti keinginan Adiknya.


" Kakak akan bilang sama Paman Deka untuk tidak memberimu makan daging hingga 2 hari."


" Enggak. Abi gak mau."


" Mau jadi apa Abi kalo gak makan daging sehari." rengeknya.


Para pengawal tertawa melihat tingkah lucu ketua mereka yg biasanya berekspresi datar.


Mereka sudah tau jika ketua mereka adalah adik angkat dari Nona Muda mereka.


" Jadi manusia lah." ucap Sofia. Sofia mencubit gemas pipi adiknya yg cemberut karena dipaksa memakan sayur.


" Ini demi kebaikan kamu. Harus nurut, ok" ucap Sofia dan dibalas anggukan pasrah oleh Abian.


" Kakak pulang dulu. Istirahat yg cukup jangan kelelahan kalo gak mau kakak suruh keluar jadi pengawal."


" Salam buat Kak Varo. Nanti Abi mampir." ucap Abi.


Sofia mengangguk dan kembali mengacak rambut Abian.


" Kalian semua jangan lupa istirahat." ucap Sofia pada para pengawal yg menatap mereka sedari tadi.


" Baik Nona Muda." jawab mereka serempak.


Sofia memasuki mobilnya dan melaju meninggalkan kawasan apartemen. Dirinya masih tersenyum jika mengingat kejadian tadi. Ia sangat merindukan adiknya itu, karena saat kepulangannya 2 tahun lalu ia belum pernah bertemu dengan adiknya karena adiknya yg sedang sibuk latihan untuk menjadi pengawal terbaik katanya.

__ADS_1


__ADS_2