
Entah siapa yg membocorkan kepada awak media tentang kejadian di kediaman Dirgantara kemarin sore. Pagi ini berita itu meledak bahkan banyak para media sengaja menambahkan bumbu bumbu pedas seolah kejadian itu nyata adanya. Eh,bukannya memang nyata?.
Bunyi kamera saling bersahutan. Para wartawan nampak memadati halaman kediaman Dirgantara. Haris yg berdiri tak jauh dari sana hanya bisa menarik napas panjang.
Tanpa berani untuk keluar. Untung para wartawan tidak bisa masuk karena gerbang yg ditutup oleh satpam dan dijaga oleh beberapa pengawal.
Sedangkan di rumah sakit tempat Nilam di rawat tak kalah ramai. Para wartawan menyerbu rumah sakit tanpa memikirkan kondisi pasien yg lain.
Para keamanan tampak mulai lelah menghalangi para wartawan yg ingin menerobos masuk. Hingga aparat kepolisian harus turun tangan untuk membubarkan awak media agar tidak menganggu ketenangan pasien lain.
" Para awak media juga menyerbu ke rumah sakit , Kak " Abian berbicara kepada Sofia lewat telepon untuk memberi informasi tentang situasi saat ini.
" Ok. Kakak hati hati."
" Kenapa?" Tanya Abian risih kala Anggun terus menatapnya.
" Kau adik Sofia?" tanya Anggun to the poin.
Abian mengangguk. " Adik angkat." jelasnya.
" Pantes." ucap Anggun sambil menganggukkan kepalanya.
" Pantes?" Abian mengulangi perkataan Anggun.
" Nyebelin sama kayak si bocah Sofia."
Abian seketika menatap datar Anggun. Bisa bisanya wanita eh maksudnya gadis didepannya mengatai Kakaknya , bocah?. Yang benar saja.
Bunyi kamera flash kembali terdengar riuh kala mereka melihat siapa yg baru saja keluar dari mobil mewah berwarna hitam. Mobil Itu berhenti tepat didepan pintu loby rumah sakit.
Sebelum sang pemilik mobil keluar. Para pengawal langsung berbaris rapi di kiri dan kanan jalan menuju loby. Seorang laki laki tampan dan gagah tak lupa dengan wajah dingin turun dari mobil lalu memutari mobil untuk membuka pintu mobil disisi lainnya.
Sofia menerima uluran tangan Varo. Lalu mereka berjalan bersama memasuki gedung rumah sakit. Para wartawan yg melihat itu langsung mengabadikan momennya. Suara kamera tak henti henti terdengar sampai kedua pasangan itu tak lagi terlihat.
" Kakak." Panggil Abian tersenyum senang melihat kedatangan Kakaknya. Ia langsung memeluk erat Kakaknya.
Namun pelukannya terlepas kala kerah baju belakangnya ditarik oleh seseorang.
__ADS_1
" Hey,bocah. Jauhi istri Saya." sungut Varo datar dan memeluk pinggang istrinya posesif.
Abian menatap kesal Varo. Apa pria ini tidak tau jika dirinya saat ini sedang ingin memeluk Kakaknya.
" Sialan." umpatnya lirih.
" Shh." Wajah Abian semakin di tekuk kala Varo memukul kepalanya.
" Anak dibawah umur dilarang berbicara kasar." kata Varo datar tanpa merasa bersalah setelah memukul kepalanya.
" Sakit sayang." rengek Varo tanpa tau malu ketika Sofia mencubit perutnya.
" Lagian usil banget."
Abian menjulurkan lidahnya meledek Varo.
" Gue menang." ucapnya pelan dan tersenyum pongah.
" Sini." Sofia merentangkan tangannya agar Abian memeluknya. Dengan cepat Abian memeluk erat Kakaknya itu. Sedangkan Varo menatap datar pemandangan didepannya. Untung adik ipar batinnya menahan kesal.
" Lo pacaran sama adek gue, Kak?" tanya Sofia frontal tanpa melepas pelukan Abian.
" Ya kali gue pacaran sama bocah." sungut Anggun tak terima dituduh pacaran sama bocah seperti Abian.
" Kirain kan."
" Udah. Ayo masuk." Varo menarik lembut tangan Sofia. Dan mau tidak mau pelukan mereka akhirnya terlepas.
" Bocah manja." cibir Anggun.
" Biarin." jawab Abian agak sedikit ngegas.
Didalam ruangan rawat inap Nilam. Sofia dan Varo datang dan langsung disambut tatapan tajam dari Nilam.
" Puas Lo ha!! udah buat gue lumpuh ."
Sofia tak membalas ucapan Nilam ia hanya menatap datar tanpa minat sama sekali.
__ADS_1
" Harusnya lo bersyukur karena gak gue kirim ke nereka langsung."
" Gue gak akan bunuh kalian. Hanya saja kalian akan menjalani hukuman sesuai dengan peraturan keluarga Clayde." ucap Sofia tanpa mau dibantah.
Nilam dan Lea seketika melotot mendengar perkataan Sofia. Lebih baik mereka mati dari pada harus mengikuti aturan hukuman bangsawan Clayde yg terkenal akan kekejamannya.
" Kau gila." teriak Nilam tak terima.
" Sofia....apa tak ada hukuman lain? saya tau saya salah. Saya mohon jangan hukum kami dengan hukuman bangsawan Clayde." mohon Lea sambil berlutut.
" Saya tidak peduli. Dan anda seharusnya sudah tau dari awal ."
" Membosankan." sinis Varo dingin sembari berdiri dibelakang tubuh istrinya.
" Anda tidak pantas bernegosiasi dengan istri saya. *****."Perkataan pedan terlampau dingin itu membuat kedua wanita berbeda usia itu bergetar ketakutan.
" Kalian akan mendekam dipenjara sesuai aturan hukum yg berlaku. Setelah masa hukuman kalian selesai maka kalian akan menjalani hukuman Bangsawan Clayde." jelas Varo.
" Kalian jangan takut. Karena kalian tidak akan sendiri menjalani hukuman." ucap Sofia tersenyum miring.
" Mereka akan menemani kalian. Putra dan suami tercinta anda akan menemani kalian Nyonya Lea."
...*****...
Di sebuah negara yg terkenal dengan menara Eiffel nya. Seorang laki laki berperawakan tinggi duduk dikursi kebesarannya dengan segelas wine ditangannya.
" Kedua wanita itu sudah mendapatkan hukuman mereka Tuan." perkataan dari sang Asisten membuat laki laki itu tersenyum.
" Kenapa gadis ku sangat terburu buru. Kenapa dia tidak menunggu ku saja untuk menghukum mereka." ucapnya dingin.
" Siapkan keberangkatan kita, Leo." perintahnya dingin dan langsung diangguki oleh Leo.
" Sebentar lagi baby." Senyuman miring tercetak jelas di diwajah tampannya.
" Kenapa kau persis seperi ibu mu." desisnya geram.
" Tak akan ku biarkan kau menjadi milik siapa pun. Because you are mine."
__ADS_1