Mengapa Harus Dia !?

Mengapa Harus Dia !?
Episode 55


__ADS_3

Dua hari telah berlalu dari insiden penerobosan Sofia pada markas Cruel Darkness. Setelah Varo menyerah memiliki pulau X karena tau jika pulau itu milik istrinya, Sofia sedang menyusun rencana dan bukti untuk kembali membantai habis seorang Rio Gerald.


Kali ini akan ia pastikan jika tua bangka itu akan mati ditangannya.


" Awasi gerak geriknya!!" Perintah Sofia pada bawahannya.


" Beri perintah pada pasukan capung merah untuk menyerang markas mereka di kota A. "


" Baik Nona Muda."


" Jangan biarkan Abian terlibat dalam penyerangan itu. Biarkan Adi yg memimpin pasukan itu." Perintah Sofia dengan segera dilaksanakan oleh bawahannya.


Mata Sofia menatap layar monitor dihadapannya yg menampilkan rekaman Cctv markas Rio juga gerak gerik Rio beserta para bawahannya.


Brak


" GAWAT." Teriak Amber dengan napas memburu.


" Ada apa?" Tanya Sofia bingung.


" Kita di jebak!! " Ucapan Amber membuat Sofia kaget dan langsung mengeluarkan ponselnya.


" Tarik mundur pasukan capung merah!!" Titah Sofia.


" Maaf Nona Muda, mereka sudah pergi ke markas musuh di kota A. Dan semua akses sudah dimatikan."


" Lacak lokasi mereka sekarang dan kirim utusan untuk menghentikan mereka!!"


" Tapi Nona Muda..."


" Saya gak mau tau!! Laksanakan sekarang!!"


Kepala Sofia seketika berdenyut hingga membuatnya terhuyung dan untung ditahan oleh bawahannya.


" Nona Muda, anda baik baik saja?"


" Sofia." Amber mengambil alih tubuh Sofia yg mendadak lemah.


" Halo. Apartemen anggrek nomor 12, Sofia sakit." Ucap Amber pada orang diseberang telepon.


" Lo gak papa? Ada yg sakit?" Tanya Amber membaringkan tubuh Sofia di kursi ruang tengah apartemen.

__ADS_1


" Gak." Sofia memejamkan matanya kala kepalanya kembali berdenyut.


" Bentar gue ambilin minum, dulu."


Saat Amber pergi mengambilkan minum untuknya tiba tiba perutnya terasa mual seperti dikocok oleh sesuatu.


Dengan cepat Sofia berlari kearah kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya meskipun yg keluar hanyalah cairan bening.


" Shhh. Khuek." Sofia terus memuntahkan isi perutnya.


Amber yg baru saja datang dari dapur dengan segelas air putih ditangannya mengamati sekitar ruangan mencari keberadaan Sofia.


" Kemana tuh anak? Bukannya tadi di sini." Bingung Amber.


Brak


" Gue cantik kayak monyet. Eh?" Latah Amber dan seketika ngebug mengingat apa yg baru saja ia ucapkan.


" Mana Sofia?" Panik Varo.


" Eh?" Amber seketika tersadar mendengar suara Varo yg menanyai keberadaan istrinya.


Khuek khuek


" Sofia!" Kaget keduanya.


" Mu...mual." Adu Sofia ketika Varo memeluk dirinya.


" Kita kerumah sakit, ya?" Bujuk Varo yg khawatir melihat wajah istrinya yg nampak pucat.


" A..Khuek." Sofia kembali memuntahkan isi perutnya dan lagi lagi yg keluar hanya cairan bening.


Varo memijat tengkuk belakang istrinya guna meredakan mual sang istri.


" Masih mual?" Tanya Varo perhatian sembari membersihkan mulut istrinya tanpa jijik.


Sofia mengangguk lemah dan memeluk erat tubuh suaminya. Aroma tubuh Varo seketika membuat dirinya tenang dan mual nya berangsur reda.


Amber yg menjadi penonton kemesraan keduanya hanya menatap datar seraya meratapi nasibnya yg masih jomblo.


" Sabar orang sabar jodohnya Suho EXO." Batinnya mengusap dada.

__ADS_1


" Gini amat jomblo, cuman bisa gigit jari liat beginian. Mama pengen punya suami juga." Batin Amber menjerit.


Varo menggendong tubuh istrinya keluar dan memindahkan kekamar yg ada di apartemen.


" Kita ke Dokter aja, ya?" Sofia menggeleng dan semakin memeluk erat tubuh Suaminya.


" Harum." Lirih Sofia menghirup dalam aroma tubuh suaminya yg menenangkan baginya.


Varo menghela napas panjang dan mengalah dari pada istrinya mengamuk dan membuatnya jatahnya menjadi taruhan.


" Varo..." Panggil Sofia lirih.


" Sayang, baby. Don't call my name."


" Ribet! Panggil nama lebih simpel."


" Terserah."


" Sayang." Pipi Varo seketika memerah mendengar panggilan istrinya. Bukankah tadi ia memilih memanggil nama?. Tapi kenapa malah berubah.


" Kenapa, hm?" Jawab Varo lembut mengusap rambut istrinya.


" Kamu ganteng. Xixixi."


" Baru sadar, hm?"


" Suami aku memang tampan." Ucap Sofia mendusel wajahnya di dada bidang suaminya.


" Kamu kenapa, sih?" Bingung Varo yg mendapati sikap berbeda dari istri kecilnya.


" Gak papa. Pengen peluk kamu aja."


Varo tersenyum, jarang jarang bukan istrinya manja seperti ini pikirnya.


Sedangkan Amber yg melihat kondisi Sofia kurang sehat segera mengambil alih tugas Sofia.


" Bagaimana?" Tanya Amber kepada bawahannya di seberang telepon.


" Kami berhasil menarik mundur pasukan capung merah, Nona."


" Bagus. Segera kembali dan berkumpul di markas!"

__ADS_1


" Baik Nona."


__ADS_2