
Setelah sampai rumah, Sofia langsung membersihkan diri dan membuat makan malam untuk dirinya dan Varo. Ya , walaupun hari sudah hampir larut, karena dirinya merasa lapar maka dirinya akan memasak sekalian untuk suaminya.
" Ngapain? " tanya seseorang dengan suara berat dari arah belakang.
Sofia yg terkejut karena suara tiba tiba dari Varo refleks menabok lengan suaminya dengan spatula ditangannya.
" Shh." ringis Varo kala spatula itu dengan keras mendarat dikulitnya.
" Ngagetin aja ." sungut Sofia kesal.
" Kamu ngapain masak?" tanya Varo tak mengindahkan kekesalan istrinya.
" Laper." ucap Sofia melanjutkan acara masaknya yg tertunda.
puk
Sofia menampar tangan suaminya yg hendak memeluk dirinya. "Gak usah peluk peluk. Sana mandi !! " titah Sofia tanpa melihat Varo.
" Nanti." tolaknya.
" Mandi sekarang atau tidur diluar." ancam Sofia dengan menatap tajam suaminya.
Akhirnya dengan terpaksa Varo menuruti keinginan istri kecilnya, dari pada dirinya harus tidur diluar.
10 menit kemudian. Varo turun dengan keadaan segar dan melihat istrinya yg sudah duduk manis dimeja makan.
" Ayo makan." ucap Sofia. Namun Varo menggelengkan kepalanya menolak.
Sofia yg seakan mengerti kenapa Varo menolak makan dengannya tersenyum sinis.
" Takut gendut?" tanya Sofia menahan tawa.
" Makan terlalu malam gak baik buat kesehatan." ujar Varo.
" Terserah." ucap Sofia malas dan mulai memakan makanannya.
" Jangan terlalu banyak." ucap Varo ketika melihat Sofia dengan lahap memakan makanannya.
" Persetan dengan gendut. Perut bisa memprosesnya yg penting rasa lapas terselesaikan." ucap Sofia acuh.
...
Keesokan paginya, ketika Sofia bangun ia sudah tak mendapati Varo disampingnya.
Mungkin suaminya itu ada urusan mendadak pikirnya.
__ADS_1
Dret dret dret
" Halo." ucap Sofia kala panggilannya tersambung.
" Lo dimana?" tanya Amber.
" Rumah. Kenapa?"
" Si ulat bulu buat masalah di perusahaan lo."
" Basmi."
" Dia dateng bareng abangsat lo."
Tut
Sofia memutuskan panggilannya dan segera menuju perusahaannya.
Sedangkan di perusahaan Clayde saat ini sedang terjadi keributan antara Nilam dan salah satu karyawan atau lebih tepatnya Sky yg sedang mengumpati karyawan itu karena mendorong Nilam hingga terjatuh.
" Lo gak punya mata, ha" kasarnya.
" Ma...maaf Tuan sa...saya tidak sengaja." ucap Karyawan itu takut.
" Hiks...abang sakit." Adunya seakan merasa yg paling tersakiti.
Para karyawan yg melihat kejadian itu mengernyit bingung. Bukankah dirinya jatuh sendiri dan tak ada luka sedikit pun di tubuhnya kecuali bekas merah dilutut.
Sky menjadi marah kala melihat lutut Nilam memerah. Sky menatap tajam karyawan didepannya dan memukulnya hingga membuat karyawan itu jatuh tersungkur kelantai.
" BERANINYA ANDA MEMUKUL KARYAWAN SAYA."
Semua orang menoleh keasal suara dan seketika mereka menunduk hormat kala melihat siapa pemilik suara tersebut.
Dengan langkah tegasnya dan wajah datarnya membuat aura kepemimpinan sangat terasa pada diri Sofia.
Ia membantu karyawan pria yg dipukul oleh Sky untuk berdiri dan menatap tajam Sky yg berdiri kaku didepannya.
" Apa hak anda membuat keributan di perusahaan saya?." ucap Sofia dingin.
Sofia lalu mengalihkan tatapannya melihat kearah Nilam yg terduduk dilantai sambil menangis.
" Apa kau yg melakukannya?" tanya Sofia pada karyawannya.
" Ti..tidak Nona Muda." jawab Karyawan pria itu.
__ADS_1
" Saya tadi hanya berjalan dan tiba tiba Nona ini jatuh dihadapan saya. Dan menuduh saya yg telah mendorongnya dengan sengaja." jelasnya.
" Sudah mendengar penjelasannya?" tanya Sofia menatap dingin Sky.
" Parasit hanya bisa jadi parasit yg hanya bisa merugikan orang lain." ucap Sofia menatap remeh Nilam.
" Jangan macam macam karena gue bisa membuat perusahaan Dirgantara bangkrut detik ini juga." ucap Sofia mencengkram kuat kedua pipi Nilam.
" Sofia." lirih Sky pelan. Ia ingin menghentikan aksi Sofia namun ia tak berani mengingat hubungannya dengan sang adik semakin memburuk.
" Jangan menjadi laki laki bodoh seperti 12 tahun lalu."
" Buka mata lo lebar lebar dan lihat siapa yg salah selama ini."
Sky terdiam mendengar ucapan Sofia. Sofia menarik kasar tangan Nilam hingga berdiri.
Plak
Sofia menampar keras wajah Nilam hingga membuat wanita itu menoleh kesamping.
Nilam menatap tajam Sofia. Ia diam diam mengepalkan kedua tangannya.
" Brengsek kau Sofia." ucapnya.
" Wah. Lihat sifat aslinya sudah keluar." ejek Sofia. Ketika Sofia akan kembali berucap tiba tiba ponselnya berdering.
" Halo?"
" Ibumu berulah. Dia menggelapkan dana perusahaan Dirgantara disaat Ayahmu keluar kota."
" Kumpulkan semua buktinya." Geram Sofia.
Sofia menatap tajam Nilam seakan siap untuk menelannya hidup hidup.
" Tunggu nanti siang. Akan gue buat lo dan ibu selir lo angkat kaki dari kediaman Dirgantara. "
" Tunggu kejutan besar dari gue." ucap Sofia.
" Kita akhiri semuanya hari ini."
Sofia menatap dingin Sky. Tak ada kehangatan dalam tatapannya yg ada hanya lah kebencian dan juga dendam.
"Usir mereka. " perintah Sofia.
Setelah kepergian Sky dan juga Nilam kondisi Perusahaan kembali normal. Sofia menghela napas panjang dan mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
" Semuanya akan berakhir hari ini, Ma." Batinnya. " Ai akan buka semuanya, terutama kejadian 12 tahun lalu."