
Sofia menatap sinis suaminya yg malah tersenyum manis diatas tempat tidur. Sungguh, Sofia rasanya ingin meremas wajah menyebalkan itu.
" Gak mau lagi aku, kamu ajak begituan." Sofia berjalan ke kamar mandi dengan terseok seok sambil memegangi selimut yg menutupi tubuhnya.
" Enak loh Ai. Yakin gak mau?" Teriak Varo.
" ENGGAK!!" Balas Sofia tak kalah kerasnya dari kamar mandi.
" Tapi aku masih pengen, Loh!" Sofia menatap sinis Suaminya yg malah tersenyum mesum.
" Ajak kucing sana!!" Sungut Sofia kesal.
" Enaknya sama kamu."
Bugh
Sofia melempar keras bantal sofa dan untungnya Varo dengan cepat melarikan diri kedalam kamar mandi.
" KAIVARO BAJINGAN!! MATI AJA SANA!!"
" KALO AKU MATI. KAMU NANTI JADI JANDA."
" PENSIUN SANA JADI MAFIA. GAK COCOK!!"
Varo tertawa keras dalam kamar mandi mendengar umpatan manis istri kecilnya. Sungguh hal seperti adalah hal yg ia tunggu sejak dulu. Tertawa bahagia bersama istri dan anak mereka adalah impian terbesarnya saat ini.
" Hallo. Gue dapet kabar kalo Selly hilang dalam ruang rawatnya."
" Apa rencana, Lo?"
Sofia diam sesaat mendengar ucapan Amber, sahabat sekaligus saudara baginya.
" Gak ada. Biarin aja."
__ADS_1
" Lo yakin? Gak mau ikut eksekusi gitu?"
" Gak minat. Lo tau kan siapa dalangnya? Gue gak minat ikut andil dengan bajingan tua itu."
" Bener sih! Okelah. Oh ya bajingan Rio kira kira bawa si ular kemana, ya?"
" Ke neraka kali."
Sungguh pertanyaan Amber sangat tak bermutu baginya. Ia tak berminat dengan urusan si bajingan tua Rio Gerald. Ia yakin jika kali ini adalah kesempatan terakhir Selly untuk bernafas.
" Siapa?" Sofia sedikit tersentak kala sebuah tangan melingkar indah di pinggang rampingnya.
" Amber. Ihh jangan peluk peluk, Basah!!"
Sofia mencubit lengan suaminya kala merasakan bahunya basah akibat rambut suaminya yg basah.
" Ngapain?" Varo tak melepas pelukannya meski cubitan istrinya terasa sedikit sakit.
" Kamu kepo banget sih. Masih penasaran sama mantan kamu, ha?"
" Oh! Atau kamu masih suka sama, Selly. Udah sana bawa dia dari bajingan Rio biar gak mati!!"
Varo meringis pelan mendengar ucapan istrinya. Ayolah bukan itu maksudnya. Ia hanya bertanya tapi kenapa sekarang malah dirinya dituduh?
" Gak ada. Aku cuman cintanya sama kamu." Rayu Varo.
" Halah bilang nya aja gitu. Besoknya jalan sama cewek lain." Sungut Sofia.
" Kamu kenapa sih? Perasaan sensi banget belakangan ini?" Varo mengalihkan pembicaraan agar tak merambat kemana mana. Bisa panjang urusannya jika istrinya kembali mengungkit masalah wanita yg mendekatinya.
" Gak tau!!" Sungut Sofia ngegas.
" Awas iihh. Kamu itu mafia apa bukan sih? Perasaan kayak bocil."
__ADS_1
Varo yg tak terima dirinya di samakan dengan bocil pun melepaskan pelukannya dan berkacak pinggang.
Sofia sejenak terpana melihat tubuh suaminya. Bayangkan Varo saat ini berkacak pinggang dengan handuk sepinggang dan dada telanjang. Sungguh sangat mempesona dan menggoyahkan iman.
" Sama kamu aja kau kayak gini. Emang kamu rela aku manja sama perempuan lain?" Ucap Varo tak terima.
" Boleh boleh aja sih kalo kamu mau rudal kamu aku potong!!"
****
Ancaman yg sangat membuat ngilu. Varo seketika menutupi area bawahnya dan memeluk Sofia layaknya anak kecil.
Eh?
Sofia menarik kepala suaminya dan seketika tertawa melihat suaminya yg menangis. Masa iya ketua Mafia terkejam dan paling ditakuti nangis kayak anak kecil sih. Apa kata dunia nanti.
" Hiks. Jangan dipotong nanti gak bisa bertani lagi." Ucap Varo disela tangisnya.
" Makanya jangan aneh, aneh."
" Hiks. Kamu nya jahat mainnya potong rudal. Hiks."
Sofia tertawa kecil mendengar ucapan suaminya. Ia mengusap kepala suaminya guna menenangkan kala dirasa tangis suaminya makin keras.
" Udah ya. Masa nangis sih? Malu sama Asa yg masih kecil." Bujuk Sofia namun malah membuat Varo semakin menangis kencang.
" Eh! Cup cup udah ya! Aku bercanda, kok!"
" Aduh!!"
Sofia kelimpungan sendiri membujuk suaminya yg mendadak cosplay menjadi anak kecil. Oh tuhan!! Tolong jemput manusia satu ini. Ia ikhlas bahkan sangat ikhlas.
Lelah
__ADS_1
Hanya itu kata untuk dirinya saat ini.