
Plak
Wajah pria paruh baya itu tertoleh kesamping akibat kerasnya tamparan pada wajahnya.
" Kau tidak pantas disebut sebagai Ayah Haris Dirgantara " Tekan Sean,Kakek Sofia dari pihak Papanya.
" Apa penderitaan cucu dan menantu ku selama ini masih kurang untukmu?". Lelaki berumur itu menatap kecewa pada putranya.
" A..." ucapan Haris terpotong kala Sean mengangkat tangannya tanda tak ingin mendengar penjelasan apa pun.
" Saya tidak mempunyai putra seperti mu " Tekan Sean dingin. Ia sungguh malu mengakui pria yg berdiri didepannya adalah putranya sendiri.
" Sofia adalah anak yg istimewa. Bahkan Balqis sekalipun tak pernah menyentuhnya mau sefatal apapun kesalahannya."
" APA SEBEGITU BUSUKNYA HATIMU HARIS." Sean menarik kerah baju putranya dan menatapnya tajam. " SETELAH MENGKHIANATI IBUNYA SEKARANG KAU JUGA MENYAKITI ANAKNYA . BAHKAN BINATANG SEKALIPUN TAK SEKEJAM DIRIMU !!."
Nafas Sean bergemuruh. " Sampai kapanpun dia dan anaknya tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga Dirgantara. Pewaris Sah Dirgantara hanyalah Sofia Aileen Clayde keturunan terakhir dari keluarga berdarah biru ."
Bugh
Sean memberikan satu pukulan sebagai salam perpisahan untuk putranya. Setelah kepergian Ayahnya, tubuh Haris meluruh kelantai bersamaan dengan air matanya yg juga keluar membasahi wajahnya.
Sesak ! dadanya terasa sesak kala mengingat semua perbuatan yg telah ia perbuat kepada putrinya.
__ADS_1
"Maaf...maafin Papa Ai." Haris tersenyum kala menyebut nama putrinya. Nama yg sudah lama tak pernah ia sebutkan kini kembali ia sebutkan. Rasa rindu untuk merengkuh tubuh mungil putrinya menyeruak hingga membuat dadanya sesak.
" Maaf untuk semuanya Qis. Maaf..."
Ruangan yg sunyi membuat suara tangisannya terdengar dengan jelas. Tangisan penyesalan adalah tangisan yg paling menyakitkan.
...****...
Langit sudah merubah warnanya menjadi hitam pekat dengan ditemani bulan dan beberapa bintang membuat langit terasa sangat ramai.
Sebuah tangan melingkar di pinggang seorang gadis yg sedang berdiri di balkon kamar. Gadis itu tersentak kaget kala tangan seseorang merengkuh erat tubuhnya.
" Harum ." Suara berat dari laki laki yg memeluknya membuat tubuhnya menegang.
Tak ada penolakan dari Sofia kala Varo memeluk erat tubuhnya, ia memilih diam dan kembali menatap langit malam.
" Jangan memberi harapan untukku Varo." ucap Sofia pelan. Varo kembali merengkuh erat tubuh di dekapannya kala mendengar ucapan gadis itu.
" Pulangkan aku kepada keluargaku. Aku pernah bilang bukan, jangan pernah ada pihak ketiga dalam hubungan kita."
" Tolong !! tolong jangan membuat aku terbang tinggi jika kau tak ingin menjadi sayapnya ."
" Kamu tidak akan pernah kembali ke keluargamu karena kamu sudah menjadi milikku ." ujar Varo egois.
__ADS_1
" Egois." lirih Sofia.
" Ya aku memang egois. Aku akan menjadi egois jika itu menyangkutmu ."
" Lalu apa semua ini ? bertunangan dengan wanita lain disaat kamu sendiri sudah mempunyai seorang istri ?". Sofia menatap bola mata hitam suaminya untuk mencari jawaban akan segala pertanyaannya.
" Aku mempunyai rencana ku sendiri." balas Varo.
Sofia terkekeh pelan . " Rencanamu atau aku yg lebih penting ?".
" Aku tau kamu bertunangan dengannya hanya untuk menyakitinya bukan." Tepat, ucapan Sofia tepat pada sasarannya.
" Kamu adalah laki laki egois." Sofia mengangguk kemudian kembali menatap suaminya. " Mari kita sama sama menjadi egois . Kamu dengan segala rencana mu dan aku dengan segala rencana ku."
" Jika kamu bisa kenapa aku tidak?. Jangan terkejut akan kejutan yg aku berikan Kaivaro Rayder ."
Cup
Sofia mencium sekilas pipi suaminya seraya tersenyum miring lalu pergi meninggalkan Varo seorang diri.
****
Umpat Varo kaget akan kelakukan istri kecilnya. Kucing kecil sudah berubah menjadi kucing liar rupanya batin Varo tersenyum seraya menyentuh pipinya yg dicium oleh Sofia.
__ADS_1