
Sofia masih misuh misuh sendiri ditempatnya karena kejadian dimana Varo yg mengawasinya lewat Cctv. Sofia menatap tajam Suaminya dengan mulut komat kamit.
" Kurang ajar emang si kutub." umpatnya.
Varo yg mendengar Sofia mengumpati dirinya hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
" Lo intip gue lagi, gue tebas pala lo!" kesal Sofia.
Varo mendatarkan wajahnya mendengar ucapan istrinya. " Sepertinya kau melupakan sesuatu baby." ucap Varo.
Kini wajah mereka saling berdekatan dengan tangan Varo yg mengelus pelan pipi Sofia.
Sofia menelan kasar ludahnya melihat pahatan sempurna didepannya. Rahang tegas , hidung mancung, alis yg tebal dan jangan lupa bibir tebalnya yg membuat Sofia menelan susah air liurnya.
" Kira kira berapa banyak bibir ini mengucap lo-gue ." ucap Varo mengusap pelan bibir Sofia. " Apakah ini akan bengkak nantinya?".
Sofia merapatkan bibir tipisnya kala wajah Varo semakin dekat hingga benda kenyal dan tebal itu melekat sempurna dengan bibir tipisnya.
Sofia tidak memberontak, ia mengutuk dirinya karena tidak bisa menolak ciuman Varo. Ayolah kenapa pikiran dan tubuhnya tidak sinkron. Pikirannya mengatakan tidak namun tubuhnya malah mengatakan sebaliknya.
Varo yg tak mendapat respon dari bibir Sofia menekan tengkuk nya hingga membuat Sofia refleks membuka mulutnya. Hal itu tentu menjadi kesempatan emas bagi Varo. Ia mengeksplor seluruh isi mulut istrinya dengan tangan kanan yg menahan tengkuk Sofia dan tangan kiri yg menekan pinggang Sofia hingga tubuh keduanya rapat tanpa sela.
******* lembut pada bibirnya membuat Sofia kehilangan akal. Ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Varo dan mulai membalas ciumannya. Ciuman yg tadinya lembut kini berganti dengan ciuman panas .
Napas keduanya memburu meraup rakus oksigen disekitar mereka. Varo mengusap sudut bibir Sofia dan kembali menciuminya, namun kali ini ciuman itu seakan menuntut lebih.
Tangan Varo menekan kuat pinggang ramping istrinya hingga membuatnya meringis.
" S..stop." ucap Sofia disela sela ciuman mereka.
Ia harus menghentikan Varo yg sudah diselimuti oleh gairah. Ayolah ini masih siang!!.
Sofia nampak kewalahan mengimbangi ciuman panas yg diberikan oleh Varo.
__ADS_1
" Shh.. I can't stand it anymore!" Suara lirihan dari Varo yg sudah diselimuti oleh gairah membuat bulu kuduk Sofia merinding.
" Ini masih siang."tolak Sofia.
"I do not care. this is so torturous."
Sofia masih memutar otak agar hal itu tidak terjadi. Tapi Varo malah mendorongnya hingga terjatuh diatas sofa. Belum sempat ia mengatakan sesuatu bibirnya kembali dibungkam oleh Varo untuk kesekian kalinya.
Varo sudah berada tepat diatas tubuhnya dengan kancing kemeja bagian atas terbuka yg menampakkan dada bidangnya.
Varo menatap dalam gadis dibawah nya lalu berdiri dari posisinya dan tanpa aba aba langsung menggendong Sofia kedalam kamar.
" Maaf honey, but this is really torturous."
"Are you sure?"
Varo mengangguk lemah karena gairahnya yang sudah memuncak. Varo yg melihat istrinya diam, tersenyum miring.
" Diam mu ku anggap setuju."
Dan ya, setelahnya kalian tentu tau apa yg terjadi. So silahkan berimajinasi sendiri karena saya tidak begitu mahir dalam membuat adegan itu.
...****...
Sinar rembulan mencuri masuk kedalam sela sela kamar kedua insan yg sedang berpelukan dalam selimut.
Varo mengusap pelan pipi istrinya seraya tersenyum mengingat apa yg telah mereka lakukan. Sofia yg merasa pipinya diusap membuka pelan matanya, dan yg ia lihat pertama kali adalah wajah tampan suaminya.
" Jangan ganggu." ucapnya dengan suara berat khas orang bangun tidur. Bukannya bangun ia malah memunggungi Varo dan kembali melanjutkan tidurnya.
" Wake up baby, makan malam dulu." ucap Varo berbisik ditelinganya.
" Gak mau! ngantuk. Besok aja." jawab Sofia dengan mata yg masih terpejam.
__ADS_1
Varo tertawa seraya menggelengkan kepalanya, sungguh menggemaskan pikir Varo. Mengecup singkat pundak polos istrinya lalu beranjak kekamar mandi.
Sofia masih bisa mendengar suara gemericik air dari kamar mandi namun matanya enggan terbuka. Tubuhnya serasa remuk melayani hasrat besar suaminya. Tak tangung tanggung Varo menggempurnya dari sore hingga menjelang malam.
Dirinya yg baru merasakan hal itu dibuat lemas tak berdaya. Yg ia inginkan saat ini hanyalah rebahan dan rebahan hingga besok pagi.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya Varo kembali duduk diatas kasur disamping istrinya yg masih tidur. Varo mengambil laptop dan melanjutkan pekerjaannya yg sempat tertunda.
...****...
Keesokan paginya, Sofia bangun dengan rasa remuk diseluruh tubuhnya. Ia berjalan pelan kekamar mandi dengan selimut tebal yg menutupi tubuh polosnya.
Aaaa
Sofia berteriak kala merasa tubuhnya melayang di udara. Baru selangkah ia keluar dari kamar mandi dan tubuhnya sudah digendong oleh Varo.
" Ihh apa sih? Turunin!!." pinta Sofia seraya mengeratkan pegangan pada handuknya agar tidak melorot.
" Harum." ucap Varo menghirup aroma tubuh istrinya yg duduk disamping kasur.
" Awas dulu!! aku mau pake baju."
" Bagaimana jika kita mengulang yg kemarin hm ?" Sofia melotot mendengar ucapan Varo dan dibalas tawa kecil oleh Varo melihat ekspresi lucu istrinya.
" Badan ini juga masih remuk. Gak usah macem macem ." delik Sofia sinis.
" Awas ihh." kesalnya kala Varo malah menciumi leher jenjangnya.
Sofia menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. " Sayang , udah ya aku laper." Suara lembut Sofia mengalun indah ditelinga Varo.
Sofia tertawa kala melihat telinga Varo memerah. " Telinganya kenapa sayang? " Sofia semakin gencar menggoda sang suami.
" Udah nakal hm?". Sofia langsung kabur kala melihat Varo yg ingin mendekatinya, namun sebelum itu ia berkata. " TOLONG BUATIN SARAPAN YA SAYANGKU. SAYANG VARO BANYAK BANYAK."
__ADS_1
Varo tertawa mendengar teriakan istri kecilnya. Sungguh belum ada yg berani memerintah dirinya sebelum ini kecuali Mamanya. Itupun sangat jarang, Kali ini Sofia malah menyuruhnya untuk membuat sarapan? Oh no bahkan dirinya saja tidak pernah menyentuh alat alat itu.