
Sofia sudah sadar dari 10 menit yg lalu. Ia hanya menatap langit langit kamar rawatnya dengan pikiran yg melayang.
" Apa aku memang sudah mencintainya " batinnya. Setelah satu minggu hidup dengan Suaminya yg mana ia harus membiasakan menyebut kata Aku-Kamu kini disaat sendiri pun bahasa itu sering kali terucap.
" Gak mungkin " Sofia menggelengkan kepalanya.
Ia berusaha untuk duduk dan turun dari ranjangnya. Dengan paksa ia menarik selang infus yg masih melekat ditangannya yg membuat darah mengalir dari bekas infus itu.
" Anda mau kemana Nyonya? "
" Anda tidak diizinkan keluar dari ruangan anda !!"
Sofia menatap tajam para bodyguard yg menjaga pintu ruangannya. Ia dengan jelas tau siapa yg menyuruh para bodyguard itu untuk berjaga didepan diruangannya .
" Sial " umpatnya.
" Menyingkir atau masa depan kalian hancur !!" sarkas Sofia tajam . Para bodyguard itu masih tak bergerak seolah ancamannya hanya angin lalu.
" Tuan Muda.." Sofia memotong ucapan salah satu Bodyguard didepannya dengan nada tak bersahabatnya. " Persetan dengan Tuan kalian . Menyingkir. "
Bugh
Dengan gerakan yg cepat Sofia berhasil menumbangkan dua bodyguard didepannya . Jangan salah meskipun kondisinya bisa dibilang kurang sehat tapi ia masih bisa berkelahi.
" Menyingkir jika kalian tak ingin bernasib sama dengan mereka " matanya menyorot tajam dan dingin .
Bodyguard lain yg melihat dua temannya tumbang yg bisa dipastikan jika tangan keduanya pasti patah. Namun mereka seolah tak gentar akan itu semua Tuan muda lebih berbahaya pikir mereka. Mereka tidak tau saja jika gadis didepan mereka lebih berbahaya.
Dengan senyum miringnya Sofia kembali menghajar bodyguard yg masih tersisa hingga tumbang. Beberapa kali ia berhasil menangkis serangan para Bodyguard itu sebelum berhasil menyentuhnya.
" Menyebalkan " ucapnya pelan seraya membersihkan tangannya dengan sapu tangan.
...****...
Tak tak tak
Suara langkah kaki menggema di lorong mansion yg sepi itu. Bukan sepi lebih tepatnya para pelayan dan penjaga menunduk hormat hingga tak ada yg berani bersuara.
Ketika pintu utama mansion itu dibuka semua pelayan bisa melihat siapa yg berdiri ditengah tengah pintu dengan jelas .
" Selamat datang kembali Nona Muda " Ucap para Pelayan dan Pengawal serempak seraya menunduk hormat.
Gadis yg dipanggil Nona Muda itu hanya memberikan senyuman tipis sebagai balasannya. Hingga suara seseorang membuat moodnya menjadi rusak.
" Selamat datang Nona yg tak dianggapq " ucap seorang wanita dengan senyum mengejeknya.
" Yo lihat siapa ini !! parasit dimansion ini " balas gadis itu tak mau kalah.
" Sofia !! " ucap Wanita itu dengan geram.
" Ya Nona Clara ? apa Anda butuh kipas agar lebih dingin?" tanya Sofia dengan wajah polosnya.
__ADS_1
Gadis dan wanita itu adalah Sofia dan Clara. Keduanya selalu berseteru panas setiap kali bertemu.
Clara menarik napasnya berusaha tenang agar tak terbawa emosi menghadapi gadis menyebalkan didepannya.
Sofia berjalan mendekati Clara dengan senyuman manis diwajahnya. " Sudah bersiap untuk angkat kaki dari Mansion mewah ini Nona?" Sofia tertawa setelahnya dan berlalu meninggalkan Clara dengan emosinya.
" Gadis sialan. Tunggu pembalasan gue " geramnya.
Sofia sedang duduk manis disofa ruang tamu mansion dengan wajah yg menjengkelkan bagi orang yg melihatnya.
" Kamu kenapa ?" tanya Kakeknya , Joan.
" Emang aku kenapa ?" tanyanya dengan wajah jengkel.
" Gak usah kayak gitu wajah kamu jelek " ucap Pamannya frontal.
Pufft
Joan menahan tawanya kala mendengar ucapan frontal putranya.
" Ayah yg jelek " balas Sofia.
" Hahaha iya Ayah yg jelek " ucap Arga mengalah dari pada putri kesayangannya itu merajuk.
Arga memang adalah Pamannya tapi Sofia memanggilnya Ayah karena sedari kecil Arga dan istrinya lah yg merawatnya.
" Kenapa ?" tanya Joan langsung. Ia sudah hapal akan gerak gerik cucunya itu ketika menginginkan sesuatu .
" Apa yg kamu inginkan ?" tambah Joan.
" Emang Sofia mau apa ?" tanya Sofia lagi yg membuat dua orang laki laki berbeda generasi didepannya menarik napas.
" Jangan berbelit Sofia !! Apa yg kamu inginkan ?" Sofia langsung merengut kesal Kearah Ayahnya " Gak bisa diajak bercanda . Dasar pak tua " ucapnya pelan namun masih bisa didengar oleh telinga tajam Arga.
" Khem " Sofia langsung tertawa bodoh kala melihat Arga menatapnya dingin.
" Oke . Kali ini serius "
" Apa yg terjadi saat aku berumur 8 tahun ? dan apa maksud semua bayangan bayangan itu " pertanyaan beruntun Sofia membuat Joan dan Arga menatapnya serius.
" Apa yg kamu ingat ? " tanya Joan serius.
" Suara tembakan " pernyataannya membuat tubuh Joan menegang.
" Lagi ?" tanya Joan ingin tau lebih.
" Penghianatan " kini nada bicara Sofia menjadi lebih dingin kala menyebut kata sialan itu.
"Sudah ku duga" batin Joan .
" Ja..." ucapan Sofia terpotong oleh suara teriakan seorang anak kecil.
__ADS_1
" KAKAK " Teriak seorang anak kecil yg berlari kearahnya.
" Eyyyy jagoan Kakak " nada bicaranya seketika berubah 180 derajat kala anak laki laki itu memeluknya.
" Asa kangen Kakak " ucap bocah 5 tahun itu.
" Kakak juga kangen Asa. Kangen banget malah " balas Sofia . Kini tak ada nada dingin dalam bicaranya yg ada hanya nada lembut yg seakan membunuh lalat saja tak akan mati.
" Bunda mana hm ?" tanya Sofia mengusap lembut rambut bocah laki laki itu.
" Itu " tunjuknya pada seorang wanita yg berjalan mendekat kearahnya.
" Bunda " Sofia memeluk wanita yg dipanggil bunda itu dengan erat.
" Sehat hm ? " Tanya Aulia yg mana adalah bundanya.
" Sehat dong Bun " balas Sofia.
Acara pertemuan yg hangat itu menjadi rusak kala seorang wanita paruh baya datang dengan senyumannya.
" Selamat datang Sofia. Bagaimana kabarmu ?" tanya Marsha istri kedua kakeknya.
" Tentunya lebih baik dari anda nyonya " balasnya tak kalah manis .
" Bagaimana dengan putri anda? apakah wajahnya sudah kembali normal. " Marsha diam diam mengepalkan tangannya kala Sofia menyindir putrinya dengan tampang polosnya .
" Tentu. Wajah bibimu sudah normal " jawab Marsha tersenyum kaku.
" Bibi? bukankah saya hanya punya 2 bibi " Sofia tersenyum miring melihat wajah Neneknya itu mulai memerah karena ucapannya.
" Kakak " Suara Asa menyadarkan Sofia jika ada anak kecil disekitar mereka.
" Asa main dulu ya ditaman sama bunda ! nanti Kakak nyusul " Bocah itu mengangguk tak membantah ucapannya sama sekali.
Setelah kepergian Asa dan bundanya kini yg tersisa hanya dirinya, Kakek, Nenek , Paman , dan bibinya.
" Mama " panggil Clara .
" Wah lihat sang bintang yg ditunggu tunggu akhirnya datang " ucap Sofia mengejek.
Clara menatap sinis Sofia seraya mencibir pelan agar tak terdengar oleh Ayahnya.
" Apa? mau gue colok mata lo ha " Sarkas Sofia.
Joan menggelengkan kepala melihat tingkah cucunya itu. Tadi saja formal sekarang bar bar . Cucunya itu memang sulit ditebak tunggu saja sebentar lagi gaya bicaranya pasti akan berubah lagi.
" Anda tentu tidak lupa bukan nyonya Marsha dengan ucapan saya tempo lalu? " tepat sasaran pikir Joan .
" Mari kita langsung keintinya . " Sofia mendekat kearah dua wanita berbeda usia yg berdiri tak jauh darinya. Yang lain? mereka hanya menonton layaknya menonton sebuah drama.
Sangat kreatif bahkan Arga sudah menyuruh seorang pelayan untuk membawa popcorn untuk mereka agar lebih menyenangkan menonton drama yg sebentar lagi akan dimulai.
__ADS_1