Mengapa Harus Dia !?

Mengapa Harus Dia !?
Episode 42


__ADS_3

Sofia duduk dengan angkuh ditengah tengah keluarga besar Dirgantara dan Aileen. Seperti perkataannya tadi pagi, siang ini akan terjadi pertemuan untuk membuka kedok kedua wanita parasit yg hidup di kediaman Dirgantara.


Sofia mengumpulkan semua keluarga di ruang keluarga yg sudah disulap menjadi seperti ruangan pertemuan dengan layar putih lebar didepannya.


" Kenapa kita dikumpulkan di sini?" tanya Zaki, paman Sofia dari pihak Ayahnya.


" Entah lh." balas Arga acuh dan dibalas tatapan datar oleh Zaki.


" Muka triplek." cibir Zaki namun diacuhkan oleh Arga meski ia mendengar cibiran nya.


" Kenapa mereka harus ikut sih." kesal Indah, Istri dari Zaki.


" Takut gak kebagian infromasi lah." balas Sarah.


" Iya juga ya. Jijik gue liat mukanya." Hina Indah agak keras.


" Jangan keras keras, goblok."


" Biarin dia denger. Pelakor aja bangga."


" Gitu gitu Kakak ipar lo." sinis Sarah.


" Gak nganggep gue." pedas Indah.


Lea yg mendengar percakapan mereka diam diam mengepal erat telapak tangannya.


Sedangkan para putra dan putri mereka hanya mendengar obrolan para orang tua. Mereka yg memang tidak akrab satu sama lain memilih untuk diam sampai Sofia memulai pertemuan ini.


" Kalian saya kumpulkan disini untuk membahas sesuatu sekaligus saya ingin menunjukkan sesuatu." ucap Sofia memulai pertemuan mereka.


Sofia menekan remot di tangannya dan seketika layar putih didepan mereka menampilkan sebuah vidio yg membuat mereka seketika menegang sekaligus geram.


Vidio demi vidio ditayangkan tak ada satu pun kejadian yg terlewatkan kecuali vidio tragedi 12 tahun lalu yg belum Sofia tayangkan. Dan vidio terakhir menampilkan Lea yg dengan berani menggelapkan dana perusahaan Dirgantara dan juga Lea yg membuat keributan di kantor Sofia pagi tadi.


" ****. "


" Bedebah."


" Sialan."


" Wanita memalukan."


Cibiran pedas terlontar untuk kedua wanita yg duduk bersebelahan tepat disamping Haris. Sky mengepal erat telak tangannya ketika melihat vidio dimana Nilam berpura pura lemah dan juga polos juga Vidio dimana Nilam dengan beraninya mencelakai Sofia.


Brak


" Kurang ajar." bentak Arga.


" Beraninya kau menyentuh putriku." ucap Arga tajam dan menahan amarahnya.


" Wanita tak tahu diri." Cibir Indah tak kalah pedas.


" Ibu dan anak sama saja."


Nilam dan Lea menunduk malu ketika vidio mereka terpampang jelas di layar putih itu. Sofia tersenyum miring melihat kedua wanita itu menunduk malu ditempat mereka.


" Lanjut." ucap Sofia dingin dan kembali menekan remot kontrol ditangannya. Kali ini Vidio yg ditayangkan membuat tubuh mereka menegang ditempat.


" Vidio kejadian yg membuat Mama saya harus meregang nyawa." ucap Sofia dingin.


Kejadian demi kejadian di tayangkan sampai dimana seorang wanita dengan seragam perawat masuk kedalam ruangan dimana operasi sedang berlangsung dan menyuntikkan sesuatu ke pada pasien tanpa pengetahuan siapapun.


Dan tepat setelah itu, layar proyektor detak jantung pasien menampilkan garis lurus yg artinya operasi mereka gagal.

__ADS_1


Semua orang menangis melihat vidio itu. Melihat seorang wanita cantik sedang dioperasi dan harus meregang nyawa di meja operasi. Dan kejadian itu menjadi hari terakhir wanita itu didunia meninggalkan permata indahnya untuk selama lamanya.


Namun mereka kembali marah ketika vidio cctv rumah sakit menangkap sosok wanita yg diduga menyamar sebagai perawat di ruangan operasi.


" BEDEBAH." teriak Arga dan menampar keras wajah Lea.


Tentu kalian bisa tau siapa wanita yg menyamar sebagai perawat itu. Ya, dia Lea. Wanita yg sudah membunuh permata berharga Keluarga Aileen.


" Kau wanita gila." bentak Arga.


*Plak


Plak*


Wajah Lea kembali ditampar, tapi bukan oleh Arga namun Sofia. Ia menatap penuh kebencian kepada Lea .


" Mengerti kenapa saya selalu menyebut anda sebagai pembunuh, hm?." suara terlampau dingin Sofia membuat semua orang merinding.


" Saya awalnya tidak akan menganggu anda karena saya pikir anda tidak terlibat dalam kejadian itu."


" Tapi sekarang.. Saya tidak masalah anda mau merebut Ayah saya. Kenapa? karena saya tidak lagi menganggapnya sebagai seorang Ayah."


Deg


Ucapan Sofia menusuk dada Haris. Ia merasa tertohok akan ucapan putrinya.


*Dugh


Bugh*


Sofia menendak Lea hingga terjatuh kelantai dan kembali menendang dadanya hingga batuk darah.


" Anda adalah seorang wanita yg baik awalnya . Namun karena harta anda dibutakan dan dengan kejamnya membunuh Mama saya."


" Jangan sentuh Mama gue."


" Saya tidak perduli. Ibu mu sudah berani menyentuh Mama saya. Maka terima saja akibat nya."


" Gue gak perduli." teriak Nilam.


"Kenapa lo harus kembali, Sofia."


" Seharusnya lo gak usah kembali. Agar hidup gue dan Mama gue tenang." teriaknya penuh kebencian.


Sofia hanya menatapnya datar. Bukankah wanita itu sudah gila. Seharusnya dirinya yg pergi dan tak harus hadir dalam kehidupan mereka. Lalu kenapa dia malah menyalahkan orang lain.


Plak


Wajah Nilam Tertoleh dan menatap tak percaya pada orang yg menamparnya.


" Seharusnya lo yg gak harus hadir. Sialan." bentak Sky penuh amarah.


" Gara gara lo dan ibu lo, Gue harus kehilangan Mama gue. "


" Kenapa kalian bisa sejahat itu." ucap Sly pelan. " Gue rela meninggalkan Mama gue saat itu demi kalian. Dan apa balasannya." sambungnya menahan tangis.


" ARGH. BRENGSEK." Amuk Sky menendang tubuh Nilam.


" Mundur." ucap Sofia dingin.


" Gak bisa Dek. Mereka harus diberi pelajaran." ucap Sky yg sudah dikuasi oleh amarah.


" SAYA BILANG MUNDUR." bentak Sofia keras.

__ADS_1


" Maaf. " ucap Lea seraya menangis menahan rasa sakit disekejur tubuhnya.


" Apa maaf mu bisa mengembalikan Mama saya?" Lea yg ditanya hanya diam . Tentu dirinya tak bisa menghidupkan orang yg sudah mati.


" Tidak bisa bukan?" sarkas Sofia tertawa menyeramkan.


" Anda adalah wanita yg tak tau diri. Hanya karena kesalahan satu malam anda dengan pria brengsek itu. " Sofia menjeda ucapannya sambil menunjuk kerah Ayahnya.


" Anda bertindak murahan." sambungnya pedas.


" Memang tidak salah jika anda meminta pertanggung jawaban atas perbuatan bejat kalian. Namun cara anda bertindak terlalu murahan dan menjijikan."


Lea yg mendengar perkataan pedas Sofia hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan apapun.


Namun tiba tiba dari arah samping Nilam menyerang Sofia menggunakan pisau lipat ditangannya. Semua orang yg melihat hal itu lantas berdiri dari duduk mereka dan berlari kearah Sofia untuk menyelamatkan wanita itu.


" SOFIA."


" AI."


Teriak mereka bersamaan. Suasana mendadak hening dengan tetesan darah yg menetes diantara kedua wanita itu. Mereka tidak bisa melihat siapa yg terluka karena kedua wanita itu membelakangi mereka.


Brak


" SOFIA."


" KAKAK."


Teriak Amber dan Abian yg baru saja masuk kedalam ruangan. Tubuh mereka juga ikut menegang melihat tetesan darah diantara wanita didepan mereka.


" ****." umpat Sofia.


Nilam terdiam kaku dengan tangan yg bergetar hingga pisau ditangannya terjatuh.


Dugh


Sofia menyundul kepala Nilam dengan lututnya hingga membuatnya tersungkur kebelakang.


" NILAM." Teriak Lea khawatir bercampur takut.


Amber segera mendekati Sofia dan melilit tangan Sofia menggunakan sapu tangan Abian. Tangannya terluka karena menahan tusukan Nilam agar tidak mengenai perutnya.


" Jangan melihat." tegas Amber.


Ia tahu jika Sofia tidak bisa melihat terlalu banyak darah. Jika hal itu terjadi dirinya akan pingsan dan akan membuat situasi semakin runyam.


Nilam yg melihat mereka tengah lengah karena melihat Sofia terluka. Dengan cepat melarikan diri menggunakan mobilnya.


" KEJAR." Teriak Sofia ketika melihat Nilam sudah keluar dari ruangan. Abian seakan tersadar dan langsung mengejar Nilam.


Degh


Tubuh Sofia tiba tiba limbung ketika tak sengaja melihat darah ditangannya. Penglihatannya mulai buram sebelum kegelapan menjemputnya.


" SOFIA " Teriak Amber khawatir.


" Panggil dokter cepat." ucap Arga dan segera menggendong tubuh Sofia kearah kamar.


Disisi lain, sedang terjadi aksi kejar kejaran antara Abian dan juga Nilam. Abian mengejar Nilam menggunakan motornya. Ia harus memberi wanita itu pelajaran karena sudah berani melukai Kakaknya.


*Bugh


Duar*

__ADS_1


__ADS_2