
Hari ini cuaca tampak mendukung dengan sinar matahari yg tak terlalu menyengat kulit dan juga semilir angin yg tak terlalu kencang menambah kesan sedikit sejuk hari ini.
Tapi berbeda keadaan dengan kantor Varo. Dirinya dibuat menghela napas berkali kali oleh tingkah istrinya yg membuatnya mengusap dada.
Lihatlah wanita itu bahkan tertidur dikursi kerjanya dengan komputer yg masih menyala dan jangan lupakan posisinya yg membuat Varo memijit keningnya. Kaki diangkat keatas kursi dan kepala yg dibaringkan dengan beralaskan tangannya.
Dengan hati hati Varo memindahkan tubuh Istrinya ke kamar pribadi di dalam ruangannya. Dibaringkan nya tubuhnya itu pelan pelan agar sang Tuan tak terusik.
" Istirahatlh Dear. " Varo mengecup sayang kening istrinya sebelum keluar dan melanjutkan pekerjaannya.
" Tuan, Saya sudah menyelidiki orang Tuan maksud. Dari yg Saya dapatkan Tuan Kairo sepertinya sedang menjalankan sebuah rencana dan itu melibatkan Nyonya didalamnya. " Rahang Varo seketika mengeras dengan buku tangan mengepal erat. Sudah ia duga jika bajingan itu mempunyai motif.
Sebenarnya ia sudah lama memata matai Kairo. Ia juga tau jika Pria itu datang ke negaranya hanya saja ia memilih acuh. Namun karena ia merasa kejanggalan saat mendengar obrolan istrinya dengan Amber tempo hari ia memilih untuk menyelidiki Rio lebih dalam dan menemukan jika bajingan tua itu berhubungan dengan si keparat Kairo.
" Perketat pengawasan Istriku. Dan juga awasi gerak gerik dua bajingan itu. Jangan biarkan mereka menyentuh wilayah ku. " Titah Varo segera diangguki oleh Rafa.
Varo menatap nyalang dinding kaca di ruangannya. Akan ia bunuh Kairo jika berani menyentuh istrinya.
....
Sofia perlahan membuka kelopak matanya. Dapat ia pastikan jika sekarang ia berada dikamar pribadi milik suaminya.
"Shh." Sofia mendesis kala merasakan kepalanya berdenyut.
Dengan tertatih ia berjalan keluar kamar. Varo yg sedang menerima telepon tersentak kala mendengar sebuah suara menyapanya.
" Varo." Dengan cepat Varo menghampiri istrinya yg nampak kesakitan memegangi kepalanya.
" Kamu kenapa? Apa yg sakit? Kita kerumah sakit sekarang. " Sofia menahan lengan suaminya seraya menggeleng.
" Kamu kesakitan Ai. Patuh ok kita kerumah sakit. " Bujuk Varo namun Sofia tetap menggeleng.
" Aku mau ketemu Papa. " Varo menatap heran istrinya. Bukankah Sofia sudah tidak mau bertemu dengan keluarganya lagi.
__ADS_1
" Kita kerumah sakit dulu, ok. " Sofia lagi lagi menggeleng dan tiba tiba menangis.
" Mau ketemu Papa, Varo. " Rengek Sofia di iringi dengan derai air mata.
" Kok nangis sih. Ok kita ketemu Papa sekarang. " Varo akhirnya mengalah dari pada melihat istrinya menangis. Dan seketika itu juga tangis Sofia berhenti.
" Ayo. "
Disinilah mereka berada sekarang. Rumah mewah dengan sejuta misteri bagi orang orang yg memasukinya. Tak ada yg akan selamat bagi yg keluar dari rumah itu. Kebanyakan dari mereka akan mati bunuh diri atau bahkan mati dibunuh.
Sofia melangkahkan kakinya memasuki peraltaran rumah mewah itu. Pemandangan yg ia dapatkan saat pertama kali membuka pintu adalah seorang pria yg duduk melamun dengan tatapan mata kosongnya.
" Papa. " Pria yg dipanggil Papa itu dengan cepat menoleh. Dapat Sofia lihat jika wajah Pria itu sangat tirus dengan sorot mata sendu menatapnya.
" So.. Sofia. " Gumam Haris yg berdiri dari duduknya tanpa berani mendekat.
Tanpa diduga sama sekali Sofia berlari dan memeluknya dengan erat. Air mata tak dapat lagi ia tahan. Sofia menangis dipelukan Papanya seraya menggumamkan kata maaf.
" Maaf. Maaf. " Haris mendekap erat putrinya seolah putrinya akan segera pergi.
Sedangkan Varo hanya menatap keduanya tanpa niat untuk bergabung. Ia hanya menemani istrinya saja tidak untuk yg lain.
" A.. Adek? " Tubuh Sofia menegang ketika mendengar suara itu. Suara yg sangat ia kenali. Sofia menatap sendu Kakaknya.
" Abang. " Sky menubruk tubuh Sofia dan memeluknya erat. Tubuh yg selama ini ia rindukan untuk dipeluk akhirnya hari ini bisa ia peluk dengan erat.
" Maafin Adek. " Sky menggeleng bukan Sofia yg harus meminta maaf tapi dirinya. Dirinya yg salah disini bukan Adiknya.
" Seharusnya Abang yg minta maaf. Maafin Abang ya. " Sofia lagi lagi hanya mengangguk.
Sofia melepas pelukan mereka dan menatap dua orang yg sangat berarti baginya. Meskipun keduanya membuat kesalahan besar tapi jauh dilubuk hati Sofia ia sangat menyayangi keduanya.
" Maafin Sofia udah buat kalian menderita disini. Maaf udah bikin Papa sama Abang ngerasain semua ini. "
__ADS_1
Lihatlah yg salah disini bukan dirinya tapi ia malah meminta maaf. Haris dan Sky kompak menggeleng jika ini bukan kesalahan Sofia. Mereka pantas mendapatkan semua ini atas segala yg telah mereka perbuat.
" Mulai hari ini kalian gak perlu lagi tinggal disini. Hukuman Papa sama Abang selesai. " Dengan pipi basah karena air mata Sofia tersenyum.
" Kalian gak perlu ngerasain ketakutan dan tekanan lagi. Sofia mutusin buat maafin dan bebasin kalian. "
Haris lagi lagi mendekap erat tubuh putrinya. Kenapa Tuhan begitu baik kepada orang sepertinya. Kenapa Tuhan bisa memberikan seorang putri dengan hati baik seperti Sofia. Ia bersyukur sangat bersyukur.
" Tapi kami pantas mendapatkan ini Nak. Kami akan menjalani hukuman sesuai aturan." Sofia dengan cepat menggeleng.
" Enggak. Papa sama Abang gak pantes ada disini. Jadi mulai hari ini kalian bebas. "
" Tapi Dek.. " Sofia lagi lagi menggeleng.
" Tempat ini akan Sofia tutup dan renov. Jadi tidak akan ada lagi yg namanya rumah hukuman bangsawan Clayde. Karena mulai hari ini Sofia akan menutup semuanya."
" Bagaimana dengan... " Sky seketika menunduk ketika menyadari ucapannya salah.
Sofia yg mengerti lantas tersenyum. " Begitu juga dengan mereka. Bukankah mereka juga sudah merasakan hukuman seperti kalian disini. " Sky dan Haris menatap tak percaya pada perkataan Sofia.
" Tapi bukannya mereka belum bebas? " Tanya Sky.
" Mereka ada disini bersama kalian. Hanya saja tempatnya berbeda. Polisi memberi keringanan untuk menjalankan hukuman bangsawan Clayde terlebih dahulu baru setelah itu mereka akan mendekam di penjara."
" Hiks kenapa kamu begitu baik seperti Mamamu. Papa merasa sangat bersalah untuk kalian. Papa adalah orang paling bodoh didunia. Papa sudah menelantarkan putri Papa sendiri Papa adalah pria bodoh. Maafin Papa Sofia. " Tubuh Haris luruh bersamaan dengan air matanya yg juga ikut luruh.
" Sofia udah maafin kalian. Sofia akan merawat Papa mulai sekarang. Mari berdamai dengan masa lalu dan memulai dari awal. "
Varo tersenyum melihat Istrinya yg sudah bisa sedikit berdamai dengan masa lalunya. Ini adalah awal yg baik.
" Dengarkan ucapan Wanitaku. Mulai sekarang kalian bebas. Jangan membuat hal yg nantinya akan membuat kalian menyesal kembali. " Varo memeluk posesif pinggang istrinya.
Haris dan Sky mengangguk. " Pasti. Kami pasti tidak akan mengulangi kesalahan yg sama. " Ucap Sky serius.
__ADS_1
" Saya pegang ucapan kalian." Hsris dan Sky mengangguk. Mereka berjanji mulai sekarang akan lebih menghargai apa yg mereka miliki. Mereka tak ingin kembali terjerumus dalam hal yg sama. Mereka berdua berjanji akan menjaga Sofia walau nyawa harus mereka pertaruhkan.