Mengapa Harus Dia !?

Mengapa Harus Dia !?
Episode 43


__ADS_3

Disisi lain, sedang terjadi aksi kejar kejaran antara Abian dan juga Nilam. Abian mengejar Nilam menggunakan motornya. Ia harus memberi wanita itu pelajaran karena sudah berani melukai Kakaknya.


Bugh


Duar


......


Abian berhenti mendadak ketika mobil yg dia kejar ditabrak oleh mobil lain hingga terbalik.


Mobil yg dikendarai Nilam terseret jauh hingga terbalik.


Abian segera turun dari motornya dan berlari kearah mobil Nilam. Abian membuka paksa pintu kemudi dan mengeluarkan Nilam dengan susah payah karena kaki Nilam terjepit.


Sedangkan tak jauh dari sana. Anggun berdiri dan menatap datar kejadian didepannya.


" Sial. " Umpat Abian kala melihat mobil Nilam hampir meledak. Dengan sekuat tenaga Abian mengeluarkan Nilam yg sudah tak sadarkan diri dan menggendongnya menjauh dari area kecelakaan.


Duar


Suara ledakan dari Mobil Nilam terdengar jelas dan memekakkan telinga. Abian menurunkan Nilam dan hendak menelpon anak buahnya. Namun kegiatannya terhenti ketika melihat seorang wanita berdiri tegak didepannya.


" Pakai mobil gue." ucap Wanita itu dengan dingin. Dan langsung menuju mobilnya.


Abian dengan cepat membawa tubuh Nilam kedalam mobil. Abian terdiam sesaat ketika melihat mobil wanita itu.


" Cepat !! lo mau dia mati?" ucapan wanita itu menyadarkan Abian.


" Lo yg nabrak mobil tadi?" tanya Abian saat mereka dalam perjalanan kerumah sakit.


" Hm." jawab Anggun santai.


Abian seakan tertohok. kenapa wanita ini sangat jujur kepadanya. Apakah ia tidak takut akan segala konsekuensi yg telah ia perbuat.


" Gue hanya memberi wanita itu sedikit pelajaran." ucap Anggun seakan tau apa yg dipikirkan oleh Abian.


...****...


Lea berlari tergesa gesa dengan wajah khawatir yg sangat kentara. Ia langsung menuju keruangan ICU dimana putrinya berada .


Dari mana ia tau? tentu Abian yg memberitahunya.


" Argh. "


Lea menangis melihat keadaan putrinya. Sedangkan Nilam terus berteriak seraya menangis ketika tau jika salah satu kakinya harus diamputasi dan kaki satunya dinyatakan lumpuh permanen.


" Bergerak sialan." teriaknya memukul kakinya.

__ADS_1


" Udah..Udah sayang." ucap Lea lembut memeluk erat putrinya.


" Hiks...Nilam gak mau kayak gini, Ma."


" Nilam gak bisa jalan lagi sekarang." ucap Nilam.


Sedangkan diluar ruangan, Abian menatap frustasi kearah Anggun yg malah duduk santai dikursi tunggu.


Kenapa wanita ini tidak ada takut takutnya. Jika ditanya kenapa maka Anggun akan menjawab. " Gue hanya mewujudkan ucapannya selama ini. Bukankah dia selalu berpura pura sakit ."


Abian hanya bisa menghela napas lelah ketika kembali mengingat perkataan Anggun.


Kita beralih ke kediaman Dirgantara. Dimana Sofia masih belum sadarkan diri. Sofia saat ini ditemani oleh Aulia dan juga Asa.


" Kakak kapan bangunnya Bunda?" tanya Asa sedih.


Aulia tersenyum kearah putranya. " Kakak sekarang lagi istirahat, sebentar lagi kakak bangun."


" Asa kangen peluk Kakak."


" Apa Asa boleh peluk Kakak Bunda." tanyanya polos.


" Boleh sayang."


Asa langsung memeluk tubuh Sofia. Ia rindu dengan Kakaknya ini. Asa memeluk erat Kakaknya seakan Kakaknya akan pergi jauh.


Ckelk


" Biar saya yg menjaganya." ucapnya.


" Baiklah. Kebetulan Bunda juga mau ambil bubur dibawah."


Setelah kepergian Aulia dan hanya menyisakan Varo dan Asa.


" Paman siapa nya Kakak?" tanyanya penasaran.


Varo menatap bocah laki laki itu dan tersenyum. " Paman suaminya Kakak kamu." ucap Varo lembut.


Asa mengangguk mengerti. "Jangan buat Kakak Asa nangis ya, Paman."


" Asa sayaang banget sama Kakak. Kalo udah besar nanti Asa mau jadi jagoan yg bisa lindungi Kakak dari orang jahat."


Varo tersenyum mendengar ucapan bocah itu. Varo mengusap lembut rambut Asa dan membawa bocah itu keatas pangkuannya.


" Kalo gitu Asa harus cepet besar. Biar bisa jaga Kakak dari orang jahat."


" Enghh."

__ADS_1


" Kakak" teriak Asa kegeringan kala melihat Sofia membuka matanya.


Sofia tersenyum melihat pemandangan didepannya. Dimana Varo yg sedang memangku Asa, terlihat seperti seorang ayah yg sedang memangku putranya.


" Kakak udah bangun?"


Sofia mengangguk dan mengusap lembut rambut Adik kesayangannya.


" Mau minum?" tanya Varo lembut dan diangguki oleh Sofia.


" Makasih." ucap Sofia ketika selesai minum.


" Eh udah sadar." ucap Aulia yg datang dengan semangkok bubur ditangannya.


" Iya bunda."


" Makan dulu." ucap Aulia hendak menyuapi Sofia.


" Biar Saya saja." ucap Varo mengambil alih mangkok bubur dari tangan Aulia ketika mendapat persetujuan.


Dengan telaten Varo menyuapi Sofia dengan Asa yg tetap di pangkuannya. Sungguh sudah seperti sebuah keluarga yg harmonis.


Setelah selesai menyuapi Sofia. Varo membantu Sofia untuk membersihkan dirinya .


" Makasih." Ucap Sofia tulus dan tersenyum lembut.


" Sama sama , Baby. Maaf tadi pagi aku pergi tanpa pamit."


" Gak papa."


" Varo.". Varo yg merasa dirinya dipanggil menghentikan aktivitasnya yg sedang membalut luka istrinya.


" Aku harap kita terus kayak gini, ya."


Varo tersenyum manis. " Aku akan selalu jaga kamu dan aku akan selalu mencintai kamu."


Ucapan Cinta dari Varo membuat hatinya menghangat dan seakan ada kupu kupu yg terbang menggelitik perutnya.


" Kalo nanti aku pergi..." ucapannya terhenti ketika jari telunjuk Varo berada di bibirnya.


" Shh. Kamu gak akan pergi kemanapun . Karena aku gak akan membiarkan itu terjadi."


Sofia tersenyum mendengar ucapan Varo.


" Tetap disamping ku dan menjadi orang yg terus mendukungku."


" I Love You." ucap Sofia.

__ADS_1


Tubuh Varo seketika kaku mendengar ungkapan cinta dari istri kecilnya. Senyuman lebar menghiasi wajahnya dan segera memeluk erat tubuh istrinya.


" I love you too. Baby."


__ADS_2