
Sofia dan Varo kini berada di kediaman Rayder . Alanda sedari tadi terus tersenyum kearah Sofia yg membuat Sofia duduk dengan kaku karena ditatap begitu intens oleh mertuanya.
" Ma. Papa mana? " Alanda mengalihkan sebentar pandangannya dan kembali menatap menantunya.
" Ruang kerja " Varo mengangguk dan pergi untuk menemui Papanya.
Selepas kepergian Varo yg hanya meninggalkannya berdua dengan sang Mama mertua membuatnya semakin gugup.
"Ekhm...Mama kenapa ? " Alanda semakin tersenyum lebar kala mendengar pertanyaan menantunya.
" Emangnya Mama kenapa ?" Tanya Alanda balik.
" Mama natap aku kayak mau makan aku aja " Ceplos Sofia yg membuat Alanda menggelengkan kepalanya.
" Hehe maaf Ma " Sofia tertawa pelan kala melihat Mamanya melotot kepadanya.
" Haih. Gimana semalem? udah buat adonan ?" tanya Alanda semangat.
Sofia menatap bingung Mamanya " Aku gak lagi buat kue Ma " jawaban Sofia membuat Alanda harus ekstra bersabar kepada menantunya ini.
" Bukan adonan kue Sofia adonan debay "
Sofia seketika menegang ditempatnya kala mendengar ucapan frontal dari Mamanya. Bayangan mimpinya semalam kembali berputar dikepalanya. Pipinya lagi lagi bersemu merah kala mengingat mimpi itu.
" Jadi kalian udah bikin adonannya !! sebentar lagi Mama bakal gendong cucu " ucap Alanda bersemangat kala melihat pipi menantunya memerah itu artinya mereka sudah melakukannya semalam.
" Mama mau cucu......"
" Vian jadi ke supermarket kan? " Sofia dengan cepat memotong ucapan Mamanya kala melihat Vian yg baru saja menuruni anak tangga.
Dengan cepat Sofia berdiri dan menarik tangan Vian . " Maaf ya Ma Sofia mau nemenin Vian belanja dulu . Dia takut diculik janda depan kompleks kalo sendiri. Bay Ma "
Alanda menatap bingung anak dan menantunya yg mulai menjauh. Tidak biasanya Vian pergi ke supermarket .
Alanda menghela napas kecewa karna tidak bisa melanjutkan pembicaraannya dengan Sofia.
Sedangkan dihalaman rumah Vian masih menatap bingung kakak iparnya ini. Bukankah dirinya tidak pernah minta ditemani ke supermarket .
" Kak gue kan gak pernah ngajak lo ke supermarket ?" Langkah Sofia terhenti kala mendengar suara Vian. Sofia melepas tarikan tangannya pada Vian dan tersenyum kuda kearahnya.
" Hehe sorry gue ngasal aja tadi "
__ADS_1
" Ngasal? lo gila ya mana bawa bawa janda depan kompleks lagi " Ucap Vian tak habis pikir pada Kakak iparnya ini.
" Lo mau menghindari Mamakan? ngaku gak lo !! " Sofia hanya tertawa mendengar tuduhan Adik iparnya ini.
" Kalo iya kenapa? ngebantu orang kan bisa bikin pahala lo nambah "
" Makasih udah bantuin gue. Oh ya bilang sama Kakak lo gue pergi sebentar gak usah dicari . Bay . " Sofia berlari keluar area kediaman Rayder dengan Vian yg masih menatapnya cengo tak berkedip sungguh wanita yg ajaib pikir Vian.
...***...
Sofia menatap dingin rumah didepannya rumah dengan kesan mewah yg sudah terlihat dari luar pagar yg membuat siapa saja tau siapa pemilik dari rumah tersebut.
Sofia melangkah memasuki area kawasan rumah dan langsung menemui Papanya.
" Saya sudah menuruti keinginan Anda sekarang giliran Anda!" ujar Sofia langsung dengan dingin.
Haris yg mendapati kehadiran putrinya secara tiba tiba sontak terkejut dan mengusap pelan dadanya. Ia lalu beralih kelaci meja kerjanya dan mengambil sebuah kalung yg sempat ia ambil dari Sofia.
Sofia mengambil kalung ditangan Papanya dan berlalu pergi dari ruang kerja Papanya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Haris hanya bisa menghembuskan napas ketika melihat sifat putrinya.
" Bawa semua barang saya dan letakkan kedalam mobil didepan " Perintah Sofia kepada para pelayan . Mereka yg mendapat perintah dari Nona mereka segera mengangguk dan menjalankannya.
" Ini belum seberapa Sofia setelah ini semua milik lo akan gue rebut termasuk suami lo ". ucap Nilam angkuh.
" Gue tunggu dan saat itu terjadi lo beserta keluarga bangsat lo akan bersujud dikaki gue" ucap Sofia dingin dengan seringainya.
Disinilah Sofia berada di ruang keluarga yg sudah terdapat Abang, Mama, Papa, dan Nilam tentunya.
" Semoga kamu selalu bahagia ya nak " Ucap Lea tersenyum lembut. Lea hendak memeluk Sofia namun Sofia dengan cepat menjauhkan tubuhnya.
" Kenapa nak ?" tanya Lea sedih.
" Anda tidak ada hak untuk menyentuh saya " ucap Sofia menusuk.
" Tuan Haris Dirgantara " suara tegas Sofia terdengar jelan digendang telinga Haris.
" Sepandai pandainya Anda menyembunyikan sebuah bangkai pasti akan tercium juga"
" Jangan pikir Saya keluar dari sini kalian bisa menguasai semuanya ingat apa yg jadi milik saya selamanya akan tetap menjadi milik saya". Tekan Sofia pada setiap ucapannya.
__ADS_1
" Dan jangan pernah berpikir sedikit pun untuk menggantikan posisi Nyonya dirumah ini ". Ucap Sofia menatap dingin Lea.
" Akan Saya balas satu persatu perbuatan kalian. Bergembiralah sebelum waktunya habis " Peringat Sofia.
Haris yg merasa putrinya sudah mengingat sesuatu seketika menjadi gugup begitu juga dengan Lea yg tak kalah gugup dari suaminya.
Setelah kepergiannya dari kediaman Dirgantara . Pikirannya kembali dibuat kacau.
" Pak kejalan Anggrek II " ucap Sofia. Sang sopir mengangguk dan melajukan Kuda besi beroda empat itu ketempat yg disebut Nonanya.
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit akhirnya Sofia sampai didepan sebuah rumah yg terbilang mewah dengan keadaan yg sangat terawat meskipun sangat jarang disinggahi.
Satpam yg melihat kehadiran seseorang didepan gerbang sontak langsung membuka pagar besi yg menjulang tinggi sembari membungkuk lama.
Sofia melangkah memasuki pekarangan rumah dengan sorot mata dingin tanpa memperdulikan beberapa sapaan pelayan bahkan Sofia tidak memperdulikan mereka yg membungkuk lama karena kedatangannya kerumah itu setelah sekian lama.
...****...
" Selamat datang Tuan Deka" ucap salah satu pelayan.
" Siang " balas Deka ramah. Deka melangkah memasuki area ruang tamu namun langkahnya terhenti dan tubuhnya membeku ketika melihat orang yg sangat dikenalinya duduk disofa singel dengan tatapan menusuknya.
" Selamat datang Tuan Deka " Ucap Sofia tersenyum.
" Nona " Deka membungkuk lama lalu kembali menegakkan tubuhnya.
" Saya tidak suka basa basi! ceritakan kejadian 12 tahun lalu dan kenapa saya tidak mengingat semua kejadian itu dan kenapa semua orang seolah menutup mata ?" pertanyaan beruntun Sofia membuat lidah Deka kelu untuk menjawabnya.
Deka menunduk pertanda belum siap menceritakannya.
" Apakah sebegitu menyeramkannya kejadian 12 tahun lalu hingga Anda saja tidak mau menceritakannya ?" Sofia terkekeh ketika mendapati Deka yg menunduk.
Sofia berdiri dari duduknya " Sepertinya kedatangan Saya kesini tidak membuahkan hasil apapun " ucap Sofia datar. Sofia melangkah mendekati Deka dengan santai.
" Saya sudah mengingat sebagian kecil dari kejadian itu namun....." Sofia menatap dingin Deka yg semakin menunduk dalam.
" Lepaskan semua kewajiban Anda dan silahkan pergi! Saya pastikan siapa saja yg terlibat dan siapa yg gagal menjalankan tugasnya akan mendapatkan hukuman yg setimpal dari Saya" tekan Sofia dan hal itu membuat Deka mendongak menatap Nonanya.
" Maaf Nona Muda " Sesal Deka karena ia benar benar belum siapa untuk menceritakannya.
" Darah akan dibalas darah " Ucap Sofia penuh dendam . Sofia keluar dari pekarangan rumah dan melesat bersama sopirnya pulang.
__ADS_1
" Permainan darah akan segera dimulai " ucap Deka pelan. " Dia telah kembali ratu yg sesungguhnya telah kembali ".