Mengapa Harus Dia !?

Mengapa Harus Dia !?
Episode 51


__ADS_3

****


Selly menatap kanan dan kirinya. Dapat ia lihat jika dua buah mobil berusaha menyerempet mobilnya dari sisi kanan dan kiri. Selly berusaha mengendalikan mobilnya agar hal yg tidak ia inginkan terjadi.


Selly menambah kecepatan mobilnya kala kedua mobil yg menyerempetnya memberi jarak. Aksi kejar kejaran pun tak terelakkan dijalan raya yg agak lenggang itu.


Selly berkali kali memukul stir mobilnya ketika kedua mobil tadi masih mengejarnya.


" Sial. Siapa yg berani main main sama, gue."


Ketika sampai ditempat sepi kedua mobil tadi langsung menabrak belakang mobilnya hingga membuatnya sedikit lengah. Namun Selly masih tetap bisa mengendalikan mobilnya.


Ketika sampai di tikungan. Selly langsung membanting stir mobilnya agar tidak masuk kedalam jurang tepat disampingnya karena bagian belakang mobilnya kembali ditabrak.


Selly membanting stir mobilnya hingga menabrak tiang listrik tak jauh dari sana.


Sapat Selly lihat jika kedua mobil tadi sudah pergi ketika melihat bagian depan mobilnya hancur. Darah segar mengalir dari kepalanya dan seketika kegelapan menghampirinya.


....


Jam tepat menunjukkan pukul 00.00. Semua pasukan sudah siap pada posisinya masing masing. Dengan earphone ditelinganya Sofia memberi aba aba agar semua pasukannya bersiap untuk menyerang.


" Arah barat dan timur bersiap." ucapnya sembari memperhatikan keadaan.


" Kami siap Nona." ucap pasukan yg bertugas menyerang arah barat dan timur.


" Hitungan ketiga. Mulai penyerangan. Yang lain perhatikan sekitar dan segera menyerang jika keadaan sudah mendesak."


" Baik Nona."


" Hati hati." ucap Amber yg berada disampingnya. Sofia mengangguk sebelum akhirnya bersiap untuk menyerang.


" Satu."


" Dua."

__ADS_1


" Tiga."


Dor


Srek


Bugh


Pasukan barat dan timur langsung menyerang setelah mendapat aba aba dari Sofia. Pihak musuh yg mendapat serangan tiba tiba nampak kelimpungan. Namun karena jumlah mereka ditambah kemampuan mereka yg tidak bisa diragukan membuat mereka dengan cepat mengatasi semuanya.


Suara tembakan dan pukulan terdengar dimana mana. Sofia berdiri agak jauh dan memperhatikan sekitar. Setelah mendapat apa yg ia cari. Sofia langsung mengangkat senjatanya dan menembaki orang itu.


Akh


Sofia berlari cepat dan menyerang pria paruh baya itu dengan membabi buta. Amarahnya seakan memuncak ketika mengingat anggotanya terluka parah karena bajingan tua ini. Ia tak terima jika anggotanya terluka. Ia tak terima anggotanya terluka. Ia tak terima anggotanya diserang secara mendadak.


" Bedebah."


" Bajingan sialan. Jika tidak membawa kepalamu hari ini aku tidak akan puas." Sofia menatap tajam pria itu yg tak lain adalah, Rio.


" Uhuk." Sofia memuntahkan darah dari mulutnya kala pukulan Rio mengenai dadanya.


Rio tersenyum miring melihat itu. Melihat kondisi yg sudah tak kondusif. Amber segera memberi aba aba pada pasukan yg tersisa untuk balik menyerang. Tepat setelahnya semua pasukan yang dipimpin oleh Amber keluar dari persembunyian mereka dan membantu rekan mereka yg sudah banyak tumbang.


Rio mengumpat kala melihat pasukannya kala jumlah. Dengan cepat ia menembaki Sofia namun dengan cepat pula Sofia menghindari hingga timah panas itu tak mengenai dirinya.


" Anak kecil menyusahkan." umpat Rio.


" Siapa yg anda panggil anak kecil. Pak tua." Sofia memukul rahang Rio keras hingga pria paruh baya itu tersungkur ke tanah.


" Hari ini saya akan membalas apa yg sudah anda lakukan kepada anggota saya." desisnya dingin.


Sofia menahan dada Rio dengan kakinya dan menekannya kuat. Karena tenaga yg terkuras habis Rio nampak pasrah dibawah kakinya.


Sofia mengangkat pistolnya dan mengarahkan nya tepat di kening Rio. Namun sebelum ia berhasil menekan pelatuknya teriakan Amber membuatnya mengurungkan niatnya.

__ADS_1


" SOFIA MUNDUR. PASUKAN LAIN DATANG."


" KITA TIDAK BISA BERTAHAN. "


Sofia menekan kuat kakinya pada dada Rio. Lalu memberinya satu pukulan terakhir sebagai salam perpisahan sebelum nantinya bertemu kembali.


" AMANKAN ANGGOTA YG TERLUKA."


" BAIK NONA."


Akhirnya sebelum bala bantuan datang pasukan Sofia sudah mundur dan pergi dari area markas bajingan tua Rio.


Namun sebelum benar benar pergi. Sofia tersenyum miring lalu menekan remot kontrol ditangannya. Dan kemudian..


BOOM


Suara ledakan terdengar jelas ditelinga mereka. Dapat Sofia pastikan jika markas bajingan tua itu hancur meskipun tidak semuanya.


Rio berusaha bangkit dengan sisa tenaga yg ada. Ia menatap nanar markasnya yg hancur sebagian akibat ledakan sialan yg di berikan oleh bedebah kecil Sofia.


Ia menahan amarahnya yg sudah mencapai puncak tertinggi dalam dirinya. Jika bukan karena pria brengsek itu ia tidak perlu berurusan dengan wanita mematikan seperti Sofia. Jika bukan karena keselamatan putrinya ia tak akan mau melakukan ini semua.


Ia mengumpat kesal. Ia bahkan belum memberi pelajaran pada orang yg sudah dengan berani mencelakai putri kesayangannya.


....


" Markas Rio diserang oleh, Nona. Tuan."


Pria yg dipanggil tuan itu menyeringai mendengar informasi yg diberikan asistennya.


" Apakah dia terluka?" tanya Pria itu dingin.


" Nona mengalami luka diwajah dan lengannya. Dan sempat muntah darah akibat pukulan Rio ."


Pria itu mengangguk. " Siapkan semuanya dengan matang, Leo. Kita akan bermain sebentar lagi." ucap Pria itu tersenyum miring.

__ADS_1


__ADS_2