
Tak tak tak
Hah hah huh
" Apa yg terjadi?" tanya Sofia dengan nafas memburu.
Deka yg melihat Nona mudanya datang dengan terengah engah berusaha untuk beranjak dari ranjang yg ia tempati.
" Apa yg Anda lakukan? tetap ditempat Anda Paman." Deka menurut dan kembali berbaring di ranjang rumah sakit.
" Seberapa parah luka nya?" Sofia bertanya pada dokter yg kebetulan berada disana untuk mengecek kondisi Deka.
" Tuan Deka mengalami patah tulang pada punggung dan lengan kirinya Nona Mudanya." Jelas dokter tersebut.
" Bagaimana dengan yg lain?" Dokter itu kembali menjelaskan keadaan anggota lain yg juga ikut terlibat dalam penyerangan mendadak yg dilakukan oleh Rio sialan.
Yap setelah mendapat kabar dari Amber. Mereka langsung menuju ke Rs dimana para anggotanya dirawat. Varo? ia menunggu di luar ruangan sembari berbicara dengan Rafa lewat telepon.
" Beberapa diantara mereka luka parah dan beberapa juga hanya luka ringan, Nona muda."
" Parah?" Ulang Sofia.
" Ia Nona Muda. Dua orang dalam keadaan kritis dan 3 lainnya masih belum sadarkan diri."
Sofia mengepal erat genggaman tangannya. Begitu juga Amber yg merasa geram akan ulah bedebah Rio yg sudah menyebabkan anggotanya terluka parah.
" Saya permisi, Nona Muda." Sofia mengangguk namun sebelum itu ia sudah mengucapkan terima kasih.
" Kita harus bergerak secepatnya." ucap Amber serius.
" Siapkan pasukan Z untuk menyerang markas mereka. " Amber mengangguk menyetujui ucapan Sofia.
" Jangan beritahu Abian tentang penyerangan besok. Lo tau sendiri itu akan sangat berbahaya. " Sofia lebih dulu menjelaskan supaya nanti Amber tak bertanya kenapa ia melarang Abian untuk ikut.
" Kita bergerak tepat pukul 00.00." Amber mengerti dan langsung meninggalkan ruangan untuk menyiapkan pasukan mereka.
Sofia menatap Deka yg berbaring tak berdaya di ranjang ruangan itu. Ia merasa gagal menjadi pemimpin ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri para anggota nya terluka akibat dirinya. Ia merasa tak becus sebagai pemimpin.
Deka yg paham akan apa yg Nona Muda nya rasakan lantas tersenyum hangat ditempatnya.
__ADS_1
" Ini sudah tugas kami untuk melindungi Anda Nona Muda. Apapun akan kami pertaruhkan agar Anda selamat. Karena janji kami kepada Nyonya adalah siap mempertaruhkan apapun demi Anda."
Sofia berusaha mati matian untuk menahan air matanya agar tidak tumpah dihadapan tangan kanan almarhum Mamanya itu. Ia tidak mau terlihat lemah dihadapan siapapun kecuali Amber dan Suaminya.
" Ya. Istirahatlah sampai kondisi anda membaik. Saya yg akan ambil alih semuanya mulai sekarang sampai anda sehat kembali. " Deka merasa keberatan dengan ucapan Nona Mudanya namun ia urung berbicara kala Nona Mudanya kembali berbicara.
" Saya adalah pemimpin. Jadi apapun yg terjadi saya yg akan maju paling depan bukan kalian. Tugas saya sama seperti kalian. Jika kalian menjaga saya maka saya juga akan menjaga keselamatan kalian. " Tegas Sofia.
Sofia menatap punggung suaminya yg duduk dikursi tunggu didepan ruangan Deka. Sofia merasa beruntung mempunyai Suami seperti Varo meskipun terkadang ia masih ragu. Namun perlahan lahan ia mulai yakin jika Varo memang yg ditakdirkan untuknya.
Namun masalah yg akan mereka hadapi kedepannya tidak akan mudah mengingat jika suaminya sedang berusaha mengambil sesuatu di pulau milik Mamanya. Sofia tidak tau apa yg sebenarnya mereka inginkan dari pulau itu.
" Ayo." Varo seketika mendongak melihat istri kecilnya yg sudah berdiri didepannya dengan senyuman lembutnya.
" Udah selesai?"
" Udah. Besok aku akan pergi dengan Amber."
Varo mencium pucuk kepala istrinya dan membawa tubuh kecil istrinya kedalam pelukan.
" Lakukan apapun yg kamu inginkan. Tapi ingat jangan sampai terluka." Sofia memeluk erat tubuh suaminya kala mendengar ucapan dengan nada lembut memasuki gendang telinganya.
" Makasih." Senyum lembut Sofia membuat hati Varo terasa hangat. Sungguh senyuman yg sangat indah.
" Ayo pulang. Hari sudah larut."
.....
Keesokan harinya. Sofia dan Amber sudah berada di sebuah gedung yg mana di tengah tengah gedung tersebut terdapat sebuah lapangan luas yg dijadikan Sofia sebagai tempat berkumpul.
" Persiapkan diri kalian. Malam ini kita akan memulai penyerangan untuk membalaskan dendam anggota kita yg terluka. "
" NYAWA DI BALAS NYAWA."
" PANTANG MUNDUR SEBELUM MISI BERHASIL."
Sofia tersenyum menyeramkan memikirkan misi yg akan mereka jalankan malam ini. Begitu juga Amber yg sudah tidak sabar. Tangannya sudah terasa gatal ingin menonjok wajah mereka satu persatu.
Sekarang ini Sofia dan Amber berada disebuah ruangan yg ada di gedung itu. Mereka terlibat pembicaraan serius saat ini.
__ADS_1
Terbukti dengan keduanya yg memasang ekspresi serius nan tegas diwajah masing masing.
" Gimana menurut, lo?" tanya Amber sembari memperlihatkan sebuah vidio dan poto yg dia dapatkan dari Cctv di tempat kejadian.
" Kurang ajar." geram Sofia. Bagaimana tidak mereka menyerang anggota nya secara mendadak hingga membuat anggotanya tidak memiliki persiapan.
" Dia sudah memulai aksinya untuk mancing lo , keluar. Gue yakin mereka udah menebak jika kita akan menyerang malam ini." tukas Amber.
" Lo bener. Mengingat jika bedebah Rio adalah Mafia Spanyol bukan tak mungkin jika ia sudah menebaknya. "
" Apa kita akan menambah pasukan?" Sofia tersenyum miring mendengar ucapan Amber.
"Mereka tidak sebanyak itu hingga kita harus menambah pasukan."
" Gue tebak mereka tak lebih banyak dari kita." Ucap Amber memastikan.
" Meskipun mereka lebih banyak. Tapi kita bisa menggunakan cara licik. "
Kedua Perempuan itu tersenyum misterius setelah pembahasan mereka selesai. Bisa keduanya pastikan jika misi mereka akan berjalan mulus meskipun tidak membunuh pemimpinnya. Membumi hanguskan markas dan membantai habis anggotanya lalu mengirim semua jasadnya kehadapan pemimpinnya adalah rencana yg menyenangkan.
Sedangkan disisi lain Tira juga sudah siap dengan misinya untuk mendapatkan seorang Kaivaro Rayder. Ia berjalan pongah memasuki pintu loby perusahaan. Para karyawan menatap remeh kearahnya setelah kejadian kemarin dan hal itu membuat dirinya kesal setengah mati. Berani beraninya mereka menatap seorang Yudistira Maharani dengan tatapan seperti itu.
Tira berhenti di tengah loby perusahaan dan membuka kasar kaca mata yg dikenakannya. Ia menatap tajam seorang wanita yg berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Wanita itu tersenyum remeh melihat kehadiran Tira yg tak jauh berdiri dihadapannya. Apakah wanita itu ingin berebut juga dengan dirinya. Ck! namun akan ia pastikan jika dirinya lah pemenangnya.
" Wah lihat siapa yg datang. Wanita masa lalu yg kembali ingin menempati posisinya yg sudah dilengserkan." Selly menatap pongah Tira sambil bersedekap dada.
" Sepertinya ada yg tak sadar diri." ucap Tira remeh.
" Selly, selly. Wanita murahan kayak lo gak pantes bersaing sama gue."
" Oh ya? Bangun Tira jangan kebanyakan mimpi. Ingat lo hanya lah wanita masa lalu Varo yg sudah ia lupakan . Ah! atau bahkan tak pernah dianggap ada sama sekali."
" Gue saranin lo pulang dan cuci muka supaya sadar dari mimpi lo itu." Selly menepuk pelan bahu Tira dan melenggang pergi keluar area perusahaan.
" Kurang ajar." desisnya.
" Bereskan dia." Tira menghubungi bawahannya yg selalu mengikutinya dalam kegelapan. Akan ia pastikan wanita itu menyesal karena sudah berani menghina dirinya.
__ADS_1