
Aksa menatap jijik sepupunya yg bermanja dengan istrinya yg parahnya didepan matanya langsung. Sungguh perut Aksa merasa mual ketika melihat manusia sedingin es didepannya malah menjadi anak kucing didepan istrinya.
Sedangkan Sofia menatap malas suaminya yg terus menempel padanya dan tak segan segan menciumnya didepan orang lain.
" Kamu bisa duduk diem gak sih !! Aku capek liat kamu kayak cacing kepanasan." Ucapan pedas istrinya berhasil membuat Varo diam namun bukannya menyudahi ia malah berbaring dengan paha Sofia sebagai bantalannya.
" Jijik Gue liat nya." Lirih Aksa.
" Makanya cari istri jangan jomblo terus." Varo yg mempunyai telinga tajam mendengar lirihan Aksa lalu menatap Aksa dengan tatapan mengejek.
" Dulu aja bilang gak bakal jatuh cinta Sekarang? Udah kayak siput nempel mulu." Sindir Aksa namun tak dihiraukan oleh Varo.
" Oh ya gue denger kemarin Lo nyerang markas tua bangka Rio. Keren sih." Ucap Aksa seraya bertepuk tangan.
" Bukan hal besar." Ucap Sofia seraya mengusap rambut suaminya.
" Apa rencana Lo kedepannya?" Aksa yakin wanita seperti Sofia tidak akan membiarkan musuhnya begitu saja meskipun sudah membuat musuhnya hampir sekarat.
Mengingat ketika Sofia yg mendengar pulau miliknya di usik habis habisan dan langsung datang kemarkasnya dengan tangan kosong. Ia yakin wanita itu bukan diam namun hanya menunggu waktu yg tepat untuk membuat semua musuhnya bertekuk lutut. Sungguh wanita yg mematikan.
" Gue rasa kita gak sedekat itu sampai gue harus kasih tau rencana, gue." Ucap Sofia tersenyum manis.
Aksa menggaruk tengkuknya yg tak gatal. Memang benar yg dikatakan Vian jika mulut istri Varo ini sangat pedas. Bahkan ia yg baru bertemu saja sudah terkena mental.
Sofia menatap sekeliling ruangan dan mengusap rambut Varo seraya tersenyum remeh.
" Markas kamu sangat, K.U.N.O." Ucap Sofia menekan kata kuno diakhir kalimatnya.
Hati Aksa seketika tersentil dengan ucapan Sofia. Meskipun Sofia tidak menatapnya tapi ia tau jika sindiran itu ditujukan untuknya.
" Apalagi para anggotanya sekali pukul langsung tepar." Sindiran Sofia terus berlanjut.
" Mending kamu jadi tukang kebun aja dari pada jadi ketua mafia aneh ini." Sofia masih mengusap rambut suaminya namun mulutnya tak berhenti menyindir.
" Gimana gak langsung tepar orang kamu yg pukul mereka." Batin Varo tanpa berani berucap langsung.
" Var !! Mulut Istri Lo, kayak cabe 1 kg." Sindir Aksa.
__ADS_1
" Kamu denger gak? Kayak ada yg ngomong tapi gak ada wujudnya."
" Bangsat." Umpat Aksa. Dikira dia makhluk halus apa sampai gak ada wujud segala. Orang segede gaban gini gak liat emang udah gak waras. Jika disatukan dengan Vian rasanya Akan menjadi perpaduan yg akan menghancurkan dunia.
" Nyerah gue ngomong sama mulut cabe kayak, Lo."
" Yg ngomong sama Lo siapa?"
Jleb.
Jika di buat seperti komik mulut Aksa sudah mengeluarkan darah dengan pisau di dadanya. Sungguh berbicara dengan Sofia membuat darahnya menjadi naik.
" Yg nyuruh Lo kesini siapa?" Ok Aksa kali ini tidak mau kalah. Ia akan menjawab setiap ucapan yg dilontarkan oleh Sofia.
" Insting."
" Insting mbah mu lima!! Anak buah gue pada cidera gara gara Lo pukul."
" Mereka nya aja yg lemah. Pukul dikit aja langsung jatuh. Makannya jelly apa nasi?"
" Bener bener ya, Lo!!" Tunjuk Aksa kesal dan mengacak frustasi rambutnya.
Cukup
Cukup sudah kesabaran Aksa diuji saat ini. Ia menatap kesal Sofia yg dengan santai mengusap rambut sepupu laknatnya.
" ARGHH. Sialan emang."
Sofia dan Varo saling pandang dan melihat Aksa yg berteriak seperti orang gila.
" Sepupu kamu udah gila kayaknya."
" Be..." Ucapan Varo terpotong kala Aksa lebih dulu berkata.
" Iya gue udah gila. Gila bicara sama mulut cabe kayak, Lo." Dengan perasaan kesal Aksa menutup pintu ruangannya dengan keras hingga membuat Sofia dan Varo sedikit terlonjak.
" Bos!" Panggi Asistennya. Namun bukannya jawaban ia malah mendapat amukan.
__ADS_1
" Apa ha!! Lo mau bikin gue kesel juga kayak mulut cabe itu, Ha?"
" Sa..."
" Arghh sialan emang. Gue bales Lo."
" Saya mau me...."
" Ngomong yg bener!! Jangan gagap. Kayaknya gue perlu kasih latihan yg lebih keras lagi biar kalian gak kalah sama si mulut cabe." Aksa mengangguk menyetujui ucapan dirinya barusan.
" Katakan kepada semua anggota jika latihan akan ditambah selama 8 jam perhari."
" Ta.."
" Gak ada tapi tapi." Sudahlah Gian sang Asisten hanya bisa tersenyum tertekan. Padahal niatnya hanya ingin menyampaikan info tentang anggota yg terluka tapi dirinya malah mendapat perintah untuk menambah jam latihan para anggota. Nasib !!!
" Dimana gadisku berada?" Tanya seorang pria dengan suara beratnya.
" Saya tidak bisa melacak lokasi Nona saat ini." Jawab Leo sembari memantau lewat iPad ditangannya.
" Apa keahlian mu sudah melemah, Leo?" Suara berat pria itu seperti mengintimidasi Leo.
" Maaf Tuan Muda. Dugaan awal saya Nona sepertinya sudah mulai curiga jika dirinya sedang diawasi." Jelas Leo.
" Insting yg sangat kuat." Pria itu tersenyum miring sembari mengusap poto ditangannya.
" Putrimu memiliki insting yg sama kuatnya dengan dirimu. Sangat disayangkan jika harus dimiliki oleh lelaki lemah. Balqis."
" Senyum yg seperi nikotin hingga membuat candu. " Ucap Pria itu membayangkan senyuman manis Balqis di kepalanya.
" Tuan Muda Kairo. Tuan Rio mengirimkan pesan." Ucap Leo.
" Tua bangka menyusahkan." Desis Kairo.
Yap orang itu adalah Kairo. Orang yg sudah membunuh Balqis dan dalang dibalik penyerangan Sofia tadi malam.
Rencana ia susun sangat mulus hingga siapapun tak menyadari jika Rio hanya diperalat olehnya. Yang orang tau Rio adalah mafia kejam yg tak kenal ampun namun sangat lemah jika dihadapan putri kesayangannya. Mereka tidak tau jika semua itu hanyalah pengalihan agar orang orang tidak terlalu memperhatikan dirinya.
__ADS_1
Sungguh rencana yg sangat bagus !!!!