
Varo masih senantiasa memeluk tubuh istrinya yg sedari tadi tak mau lepas. Jangankan lepas Varo bergerak sedikit saja Sofia sudah menangis.
Varo dibuat pusing dengan tingkah aneh istrinya. Kenapa istrinya bisa tiba tiba begitu manja padanya. Padahal dulu jangankan dipeluk lama, dipeluk sebentar aja udah ngamuk kayak singa.
Jangankan Varo, Sofia saja bingung dengan dirinya. Tapi yang pasti saat ini ia hanya ingin dekat dengan suaminya tanpa mau melepas sedetik pun pelukannya. Sofia sempat berpikir, apakah ia hamil? Tapi tak mungkin karena dirinya belum telat datang bulan setahu dirinya.
" Lepas dulu ya, Aku mau ke toilet." Ucap Varo lembut takut istrinya nanti menangis lagi.
" Ikut." Ucap Sofia cepat seraya mengeratkan pelukannya.
" Aku mau cuci muka, aja. Tunggu sebentar ya!" Sofia menggeleng keras tanda tak mau berpisah dari suaminya.
" Sebentar aja kok. Kamu gak kasian liat aku yg udah kucel kayak, gini?" Sofia memperhatikan penampilan suaminya tak ada kucel kucel nya sama sekali yg ada malahan pria itu bertambah tampan.
" Gak mau, Varooo Iiih." Rengek Sofia dengan mata yg sudah berair.
" Aku kebelet, Loh." Bujuk Varo lagi namun malah membuat istri kecilnya menangis.
" Eh! Kok nangis sih. Ok aku gak kemana kemana." Pasrah Varo menenangkan istrinya.
" Udah ya!"
" Hiks kamu jahat mau ninggalin aku sendiri, hiks." Ucap Sofia disela tangisnya.
" Siapa?"
" Kamu lah!! Hiks aku gak kau ditinggal, Varooo."
" Gak ada yg mau ninggalin kamu, Kok. Aku cuman mau ke toilet aja." Jelas Varo.
" Hiks pokoknya gak mau ditinggal sendiri, hiks. Aku takut kamu pergi sama wanita kegatelan itu."
" Siapa?" Tanya Varo bingung. Bukankah dirinya tidak dekat dengan siapapun.
" Hiks banyak, aku gak sanggup hitungnya."
__ADS_1
Seberapa banyak wanitanya sampai istri kecilnya ini tidak bisa menghitungnya. Bukankah dirinya hanya dekat dengan satu wanita dan itu adalah istrinya.
" Udah ya. Sekarang tidur ini udah malem banget." Sofia mengangguk dan membenamkan wajahnya di dada bidang Varo.
" Jangan pergi!" Varo mencium pucuk kepala istrinya menandakan jika ia tak akan pergi.
10 menit kemudian. Varo yg merasa tak ada lagi pergerakan dari istrinya melihat istrinya yg ternyata sudah tertidur pulas didalam dekapannya. Dengan hati hati Varo melepas pelukannya dan menyelimuti tubuh istrinya.
" Sutt. Tidur lagi ya!" Varo menepuk lembut punggung istrinya ketika Sofia merasa terganggu dalam tidurnya.
Varo meregangkan kedua otot tangannya yg terasa pegal karena terlalu lama memangku kepala istrinya. Tapi tak apa demi istrinya semua akan ia lakukan.
Melihat wajah damai istrinya, Varo tertawa kecil mengingat dulu dirinya sempat menolak di jodohkan dengan wanita didepannya saat ini.
Bukankah ia adalah pria yg paling rugi jika menolak wanita secantik dan sebaik Sofia. Meskipun niat awalnya hanya bermain main dengan Sofia, namun setelah bertemu dan melewati satu hari pernikahan dengan wanita didepannya ini membuat Varo sadar, Jika Sofia adalah wanita yg ia cari selama ini.
Gadis cantik dan baik yg mampu menggetarkan hatinya di pertemuan pertama. Meskipun banyak misteri yg disembunyikan namun Varo yakin jika Sofia adalah wanita baik.
Disaat dirinya sedang mengagumi ciptaan tuhan didepannya, suara telepon membuat fokusnya hilang.
" Kami sudah mendapatkan informasi 3 tahun lalu, Tuan Muda. Dan Nyonya memang ada hubungannya dalam kejadian itu." Varo tersenyum miring mendengar penjelasan bawahannya.
Sudah ia duga, ledakan 3 tahun lalu di sebuah acara lelang kelas atas ada kaitannya dengan sang istri.
" Kami mendapatkan bukti jika Nyonya meledakkan gedung lelang setelah mengambil sebuah kalung berlian yg akan menjadi barang lelang utama pada malam itu."
" Simpan semuanya! Jangan biarkan ada orang lain yg mencoba mencari bukti dari kejadian itu. Musnahkan semua bukti! Saya tidak mau keselamatan istri Saya dalam bahaya!!"
" Baik Tuan Muda. Kami juga menemukan jika ada orang lain yg memang berusaha mencari penyebab ledakan malam itu."
" Musnahkan!!"
Varo mencium singkat wajah istrinya dan beranjak membersihkan tubuhnya yg sudah terasa lengket.
.....
__ADS_1
Pagi pagi sekali Varo sudah dibuat panik setengah mati ketika tak mendapati keberadaan istrinya.
" SOFIA!! AII!!."
Suara Varo menggelegar didalam apartemen hingga membuat Amber yg sedang tidur nyenyak terkejut dan refleks berdiri diatas kasurnya dengan tangan yg hendak baku hantam.
" JANGAN TERIAK KAYAK ORANG HUTAN. INI MASIH PAGI!!"
Varo tak mengindahkan teriakan Amber. Ia mencari istrinya di setiap sudut ruangan seraya memanggil namanya istrinya.
" Ai kamu dimana? Jangan buat aku khawatir!" Varo menjambak kesal rambutnya karena tak kunjung menemukan istrinya.
Ceklek
Varo menoleh kearah pintu apartemen yg baru dibuka dan menampilkan sosok wanita cantik dengan wajah polosnya.
" Aii." Varo langsung menghambur memeluk tubuh istrinya.
" Eh? Kamu kenapa?" Ucap Sofia seraya menurunkan belanjaan di tangannya.
" Kamu kemana aja? Aku udah nyariin kamu dari tadi." Sofia menggeleng dan menepuk punggung suaminya.
Sofia heran kenapa modelan kayak Varo bisa jadi penguasa Mafia. Lihat sekarang dirinya seperti anak kecil yg memeluk ibunya. Tubuh kekar dengan wajah sangarnya tak cocok sama sekali dengan tingkahnya saat ini.
" Aku ke supermarket beli bahan makanan."
" Kenapa gak ajak, aku?"
" Gak tega bangunin, kamu." Sofia mengeluarkan daru persatu barang belanjaannya .
" Lain kali, kalo kamu keluar biar aku temenin. Aku khawatir."
Sofia tersenyum mengusap rahang tegas suaminya.
" Iya, Maaf ya udah bikin kamu khawatir."
__ADS_1
Bukankah sudah Varo katakan jika istrinya adalah wanita baik sekaligus wanita cantik yg pernah ia temui. Entah bagaimana jadinya jika istrinya pergi meninggalkan dirinya.