
Hari beranjak malam, ketiga sahabat suaminya juga sudah pulang. Sofia yg sedang membaca buku di atas kasur merasa terganggu dengan bunyi deringan ponsel suaminya yg sudah beberapa kali berbunyi.
Sofia melirik kearah kamar mandi dan mendengar suara gemericik air dari dalam.
Karena sudah jengah mendengarnya. Sofia mengangkat panggilan itu. Belum sempat ia berbicara seorang dari seberang sana sudah lebih dulu bersuara.
" Kamu kok lama ngangkat telepon aku, sayang." Suara seorang wanita terdengar dari seberang telepon. Sofia mengernyit bingung.
" Gimana kalo kita lunch, bareng?"
" Sayang. Ihh kok kamu gak jawab sih." Suara manja wanita itu membuat Sofia ingin muntah mendengarnya.
" Halo kamu masih disana kan, sayang?"
" Halo, say..." Sofia menutup panggilan itu dan memegangi perutnya berlagak mual.
" Ihh. Najis suaranya." Sofia bergidik geli menedengarnya.
" Kamu kenapa?" Sofia terpaku ditempatnya kala melihat suaminya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sepinggang.
Sofia memukul wajahnya berusaha menyadarkan pikirannya.
" Kamu selingkuh, ya?" Sofia berdiri dan menatap tajam suaminya. Varo mengernyit bingung kenapa istri kecilnya bertanya seperti itu.
" Ihh jawaab." desak Sofia kesal sendiri ditempatnya.
" Kamu kenapa sih?" tanya Varo lagi karena masih belum mengerti maksud istrinya.
" Tadi ada perempuan nelpon kamu. Terus manggil sayang ." adunya dengan mata berair.
"Kamu duain aku lagi?" Sofia hampir mengeluarkan air matanya jika Varo tak segera memeluknya.
" Hey. Dengerin aku" Varo menatap kedua mata istrinya yg berair.
"Aku gak pernah duain kamu."
" Terus tadi?"
" Mungkin cuman orang iseng. Udah ya jangan nangis." Varo kembali memeluk erat istrinya.
" Ih jauh sana." Sofia melepas pelukan Varo darinya secara paksa.
" Kamu bau." Sofia menutup hidungnya.
" Aku baru selesai mandi, loh."
" Kamu jangan tidur deket deket aku malam ini. " Sofia menutup hidungnya dan kembali berjalan kearah kasur.
" Kamu kenapa sih?" Bingung Varo.
Karena tak mau membuat masalah Varo kembali kekamar mandi untuk mandi yg kedua kalinya.
Saat ia keluar, Sofia malah sudah tertidur diatas kasur dengan selimut yg menyelimuti dirinya. Varo memakai pakaian tidurnya dan ikut bergabung dengan istrinya.
Varo mencium kening istrinya dan membalikkan tubuh Sofia agar menghadap dirinya. Dan tanpa diduga Sofia malah memeluknya duluan dan mendusel wajahnya di dada Varo.
"Wangi." Ucap Sofia dalam tidurnya dan mengeratkan pelukannya.
Varo tertawa pelan. Bukankah tadi dirinya dikatai bau? sungguh aneh. Varo membalas pelukan Sofia dan ikut menyusul Sofia ke alam mimpi.
__ADS_1
Keesokan harinya, Sofia yg bangun lebih awal menyempatkan diri untuk membuat sarapan. Setelah selesai ia kembali kekamar untuk membangunkan suami tampannya.
" Bangun udah pagi." Suara lembut Sofia terdengar indah di telinga Varo. Namun Varo masih enggan membuka matanya.
Sofia menepuk pelan wajah Varo namun masih tak ada respon. " Sayaang, bangun."
Dan yap berhasil. Varo membuka matanya dengan sempurna dan mendapati istrinya yg tersenyum lembut menatapnya.
" Pagi." Ucap Varo dengan suara seraknya.
" Mandi terus sarapan." ucap Sofia dan diangguki Varo.
Varo menuruni anak tangga dan menghampiri istrinya yg sudah duduk dimeja makan.
" Kamu hari ini kerja?" tanya Sofia disela makannya.
" Iya, ada meeting dengan klien." jawab Varo.
" Oh."
Setelah selesai sarapan Varo langsung pergi menuju kantornya.
Cup
" Aku berangkat, ya." Varo mencium kening istrinya dengan sayang.
" Hati hati. Nanti siang aku mampir sekalian bawain kamu makan siang."
" Gak kekantor?" tanya Varo.
" Gak. "
" Tapi kan CEO nya aku."
" Kamu gak akan kekurangan apapun, baby. Biarkan Tuan Deka yg mengurusnya dan aku tidak menerima bantahan." tegas Varo dan dengan pasrah Sofia menyetujuinya.
" Ya udah aku berangkat." Varo kembali mencium istrinya namun kali ini bukan di kening namun di bibir. Sofia mendadak salting ditempatnya setelah kepergian Varo.
" Udah dibilang sayang, dicium lagi. Nikmat mana yg engkau dustakan." ucapnya senyum senyum sendiri.
....
Tepat seperti perkataannya tadi pagi. Sofia kini sudah berada di perusahaan suaminya. Dan ia tersenyum kala melihat suami tampan dan dinginnya sudah menunggu dirinya di pintu masuk perusahaan.
Para karyawan dan petugas keamanan tidak heran lagi dengan hal itu. Karena mereka sudah tau jika wanita itu adalah istri sang CEO.
" Hai." Sapa Sofia tersenyum lebar.
Cup
" Ayo masuk." Varo mencium kening istrinya dan memeluk posesif pinggang ramping istrinya.
Orang orang yg melihat itu berteriak histeris.
Aaaa romantis banget.
CEO yg dingin aja bisa sweet kayak gitu.
Gue kapan Tuhan.
__ADS_1
Pengen kayak gitu juga tapi gak punya ayang.
Begitulah kira kira teriakan mereka.
Disaat mereka berjalan beriringan menuju lift khusus CEO. Tiba tiba seorang wanita berteriak memanggil Varo dan mereka sontak menghentikan langkah mereka dan karyawan yg melihat itu menatap terkejut kearah wanita itu. Bukan terkejut karena wanita itu cantik tapi terkejut ketika wanita itu memanggil sang CEK dengan panggilan sayang.
" Varo Sayang." teriaknya.
Sofia mengernyit bingung dan menatap datar wanita itu kala ia dengan lancang memeluk lengan suaminya.
" Aww. " Pekik Tira kala tangannya dihempas kasar .
" Jangan sentuh Suami Saya." tekan Sofia tajam dan memeluk posesif lengan Varo.
Tira terdiam ditempatnya kala mendengar ucapan menekankan dari Sofia.
" Oh ini istrinya Varo?" Tira meneliti penampilan Sofia dari atas hingga bawah.
Ia menatap rendah Sofia. " Gue tebak pasti lo yg goda Varo hingga dia mau nikahin wanita kayak, lo." Sofia yg geram mendengar ucapan merendahkan dari Tira tanpa sadar mengeratkan pelukannya pada lengan Varo.
Varo yg paham lantas mengusap pelan tangan istrinya. " Lalu apa hubungannya dengan Anda? saya menikahinya itu artinya saya memilihnya untuk mendampingi saya." Ucap Varo dingin.
Tira menatap tak percaya pada apa yg baru saja ia dengar. " Kamu lupa? Kamu udah janji buat nikahin aku." ucapnya tanpa malu.
" Kapan saya berjanji? kenal dengan Anda saja saya tidak." Ucap Varo pedas.
Lagi lagi Tira menggeleng tak percaya.
" Kamu bercanda kan? aku Tira pacar kamu."
" Saya rasa anda salah orang." tekan Varo.
Tira lantas mengalihkan tatapannya menatap Sofia yg hanya diam sedari tadi.
" Lo.Pasti lo kan yg mempengaruhi Varo." tuduhnya menunjuk Sofia.
" Untuk apa saya mempengaruhi Suami saya, jika dirinya saja hanya mencintai saya."
" Wanita sialan." batin Tira kesal.
" Say..."
" Sayang aku lelah. " Sofia dengan cepat memotong ucapan Tira dan mengadu manja kepada suaminya.
Varo mengangguk dan menggendong Sofia ala bridal style dan membawanya memasuki Lift.
Tira mengeram marah melihat senyuman mengejek Sofia. Wanita sialan batinnya tak terima. Akan ia balas wanita itu ia tak terima jika miliknya harus dimiliki orang lain.
Suara ejekan dan hinaan terdengar ditelinganya.
*Siapa wanita itu? berani sekali dia memanggil CEO dengan panggilan sayang.
Tak tau diri
Benar, sudah tau CEO punya istri , lah dia malah hina istri CEO. Ia kalo cantik lah ini kayak remahan rengginang.
Kasian nyonya Sofia kelelahan karena berdiri terlalu lama.
Wanita sialan, beraninya dia membuat nyonya Sofia kelelahan*.
__ADS_1