
Terhitung sudah hampir 1 minggu dari kepindahan mereka. Yg mana artinya usia pernikahan mereka juga sudah hampir 1 minggu.
1 minggu tinggal satu atap dengan seorang Kaivaro Rayder membuat Sofia sedikit demi sedikit bisa menebak sifat suaminya itu. Mulai dari tiba tiba dingin kepadanya hingga bisa selembut kapas kepadanya.
Cinta? entah lah dirinya juga tak yakin apakah dirinya memang sudah mulai mencintai Varo atau hanya sekedar rasa nyaman saja. Yg ia tahu bahwa dirinya merasa aman dan nyaman jika berada didekat Varo Suaminya.
Sofia saat ini sedang duduk diruang tamu dengan stoples camilan ditangannya. Sofia melirik sekilas Varo yg baru saja keluar dari ruang kerjanya dengan diikuti oleh asisten setianya siapa lagi jika bukan Rafa Abraham. Laki laki yg akan melakukan apa saja untuk Tuannya sungguh menjengkelkan pikir Sofia.
" Apa semuanya sudah siap? " tanya Varo kepada Rafa. Sofia yg pada dasarnya memang sedikit kepo pun memasang telinganya namun tetap pada pokusnya yg pertama.
" Sudah Tuan . Kita hanya perlu berangkat saja " jawab Rafa sopan. Varo mengangguk dan hendak melanjutkan langkahnya namun.
" Mau kemana ?" tanya Sofia penasaran. Varo menghentikan langkahnya sebentar dan menatap datar istrinya.
" Tidak ada urusannya denganmu kemana saya akan pergi " tekan Varo. Sofia mencengkram erat toples ditangannya dan menatap nyalang Varo.
" Jangan jadi cowok plin plan Kaivaro Rayder !! " ucapnya tak kalah datar.
Sofia berjalan mendekati Varo dengan tatapan menusuknya . " Jangan memberi perintah kepada seseorang jika kamu saja tidak bisa menepatinya ." Varo menatap datar Sofia tanpa berniat untuk membalas perkataannya.
" Jangan memberi sebuah harapan kepada seseorang jika pada akhirnya kamu saja tidak bisa mewujudkan harapan itu."
" Aku istrimu yg artinya aku berhak tau kemana saja kamu pergi " tekan Sofia pada setiap kalimatnya.
" Istri? tepatnya kau hanyalah sebuah titipan " bisiknya pelan.
Plak
Rafa menahan napasnya kala sang Nyonya muda dengan beraninya menampar wajah sang Tuan muda. Para pelayan yg melihat itu juga hanya bisa menahan napas mereka dan berdoa untuk keselamatan Nyonya mereka.
" Kau .." tunjuk Sofia tepat didepan wajah Varo.
__ADS_1
" Adalah laki laki brengsek kedua yg pernah ada " Marahnya.
" **** " umpat Varo kala rasa panas menjalar diwajahnya akibat tamparan keras yg dilayangkan oleh Sofia.
" Kenapa ? kau memang pantas mendapatkan itu " Sofia membalas tatapan tajam Varo dengan tak kalah tajamnya. " Jangan pernah menyesal Kaivaro " tekannya lalu pergi meninggalkan Varo yg diam diam mengepalkan tangannya.
Tanpa sepatah kata pun Varo pergi dengan diikuti oleh Rafa yg selalu ada di manapun ia berada .
Seperti yg kalian lihat hubungan keduanya seperti perahu ditengah tengah lautan. Terkadang hangat namun juga dingin.
Varo dengan sifatnya yg selalu berubah ubah membuat Sofia terkadang lelah menghadapinya. Hampir 1 minggu ini komunikasi diantara mereka bisa dihitung dengan jari. Meskipun tidur satu kamar namun keduanya sangat jarang berbicara. Varo yg tiap hari selalu pulang larut dan Sofia yg sudah tertidur kala suaminya pulang.
Jujur ia lelah dengan ini semua namun sialnya kenapa ia malah merasa aman kala bersama si brengsek Varo .
" Brengsek kau Varo "ucapnya pelan. Tanpa terasa satu buliran air matanya jatuh membasahi pipi cubhinya. Hatinya terasa sedikit sakit kala Varo menganggapnya hanya sekedar titipan.
" Jangan menangis bodoh " makinya pada dirinya sendiri. "Jangan sia siakan air matamu untuk laki laki yg tidak bisa menghargai mu Sofia . Kau bisa berdiri diatas kaki mu sendiri tanpa harus ada seorang laki laki " . Itulah prinsipnya namun entah kenapa belakangan ini ia hampir melupakan prinsipnya itu.
" Shh sialan pergi...pergii " Sofia menjambak rambutnya kala kilasan kilasan memori seakan berputar bak kaset film dikepalanya.
" Aaaaa hiks kumohon berhenti " ucapnya semakin gencar menjambak rambutnya sendiri.
" Hikss Mama... " lirihnya. setelahnya Sofia tak sadarkan diri dibalkon kamarnya dengan air mata yg membasahi wajahnya.
Brak
Seorang laki laki dewasa mendobrak kasar pintu kamar Sofia dan langsung membopong tubuh mungil Sofia menuju mobil dan langsung melesat kerumah sakit.
" **** " umpatnya. " Kenapa lambat sekali !! Percepat mobilnya!! " Sarkas laki laki itu kasar dan sangar dingin.
" Maaf " lirih laki laki itu seraya mencium kening gadis di pangkuannya saat ini.
__ADS_1
Terhitung sudah 10 menit namun dokter tak kunjung keluar dari ruangan bercat putih didepannya saat ini.
" Tuan kita harus segera berangkat " ucap Rafa. Ya laki laki yg mendobrak pintu dan membawa Sofia ke RS adalah Varo suaminya. Bagaimana Varo bisa tau jika Sofia pingsan? jawabannya karena Varo selalu memantau istrinya dari Cctv di mansionnya. Bahkan hampir di setiap sudut ruangan terdapat Cctv yg membuat Varo bisa dengan leluasa memantau apa saja yg dilakukan istri kecilnya itu.
" Undur semuanya " ucap Varo sangat sangat dingin. Bagaimana ia bisa pergi sedangkan istrinya saat ini sedang sakit, sialnya dokter yg menangani istrinya juga tak kunjung keluar. Ia bersumpah jika terjadi sesuatu dengan istrinya ia akan meratakan RS ini dan menghabisi dokter dan perawat yg tidak becus menangani istrinya.
Ceklek
" Bagaimana ?" tanya Varo terlampau dingin.
Dokter yg ditanyai oleh sang penguasa dunia bisnis itu menelan ludahnya kasar.
" No...Nona mu..muda hanya kelelahan terlebih beberapa ingatan memaksa Nona untuk mengingat kejadian yg sudah lama ia lupakan " jelas dokter itu gugup setengah mati. Satu kali saja ia salah dalam menyampai informasi maka sudah dipastikan jika nyawa akan melayang.
" Hm "
" Nona muda hanya perlu beristirahat agar cepat pulih . Jika tak ada hal yg lain saya permisi Tuan muda " ucap dokter itu dan langsung pergi setelah urusannya selesai.
" Beli beberapa makanan untuk orang sakit ! "
Perintah Varo dan langsung diangguki oleh Rafa.
Disinilah Varo berada didalam ruangan yg di dominasi oleh warna putih dengan ranjang ditengah tengah ruangan itu.
" Maaf tidak bisa menjagamu " suara lembut Varo mengalun indah ditelinga siapapun yg mendengarnya . Ia mengenggam erat tangan Sofia dan mengecupnya lama.
Perasaan bersalah karena tidak bisa menjaga sang istri membuat dadanya terasa sesak. Ia seakan menjadi orang bodoh saat ini.
" Jika bukan karena orang itu ...... Akan kuhabisi dia dengan tanganku sendiri."
Penting : Maaf ya semuanya untuk ketidak nyamannya ketika membaca cerita saya. Saat ini cerita MENGAPA HARU DIA !? sedang dalam tahap revisi jadi kemungkinan akan ada cerita yg tidak nyambung karena belum selesai saya revisi. Kemungkinan juga akan banyak perubahan pada beberapa capter. Jadi mohon maaf atas ketidaknyamannya.
__ADS_1