Mengapa Harus Dia !?

Mengapa Harus Dia !?
Episode 35


__ADS_3

**Breaking News!!


Berita menggemparkan, pewaris sekaligus keturunan terakhir keluarga Clayde muncul kehadapan publik setelah sekian lama. Dan siapa sangka dia adalah seorang wanita yg merupakan cucu terakhir dari keluarga Aileen**.


Berita menggemparkan itu sudah sampai ke telinga keluarga Aileen, Rayder, dan Dirgantara tentunya. Ekspresi mereka sama yaitu terkejut akan aksi nekat Sofia. Dengan beredarnya berita ini ditambah beberapa bukti membuat para musuh yg sudah lama bersembunyi akan mulai memunculkan taring mereka.


Begitu juga dengan laki laki satu ini. Varo juga sama terkejutnya ketika mendengar berita itu. Dirinya yg baru sampai di kantor setelah sarapan dengan istrinya tadi pagi langsung disuguhi berita mengejutkan sekaligus membahayakan.


" Apa yg kamu pikirkan Sofia." batinnya.


Ia harus memberi pengawalan ketat untuk Sofia. Karena bahaya ada didepan mata. Akan ia bunuh siapa saja yg berani menyentuh istri kecilnya.


" Varo." panggil seorang pria tampan dengan wajah tegasnya.


Varo menoleh ke asal suara dengan wajah dingin kala tau siapa pemilik suara berat itu.


Varo mengangkat sebelah alisnya bertanya ada apa.


" Apa kau yg menyuruh bajingan itu untuk menarik pasukannya?" Tanya pria itu yg tak lain adalah Aksa Kevan Rayder , sepupu Varo dari pihak Ayahnya yg juga adalah pemimpin dari Mafia Cruel Darkness.


Mafia itu dulunya adalah milik Ayahnya. Namun karena kedua putranya tak ada yg mau mewarisi Mafia itu jadi Mafia itu diwarisi kepada Aksa anak dari adik Ayahnya. Tapi jangan salah meskipun Aksa adalah pemimpin Mafia itu, pemegang kuasa sepenuhnya akan Mafia itu tetap adalah Kaivaro Rayder.


Varo mengangguk mengiyakan perkataan Aksa. Aksa menarik napas panjang dengan kelakuan Varo.


" Kau tau? karena perbuatan mu kami harus berjaga sepanjang malam takut jika para bajingan itu datang menyerang tiba tiba. Dan kau malah menyuruhnya untuk menarik pasukan tanpa memberi tahu gue dulu." protes Aksa.


Varo menatap malas Aksa. " Harusnya lo berterima kasih sama gue. Karena gue gak buat muka lo bonyok." Aksa tertawa pelan mendengar ucapan Varo.


Jangan salah, meskipun Aksa adalah pemimpin Mafia sikapnya tak mencerminkan seorang pemimpin Mafia sama sekali. Jika pemimpin Mafia yg lain akan berwajah dingin dan cuek dengan sekitar namun Aksa tidak ia malah selalu tersenyum dan sangat kepo.


Entah kenapa Ayahnya dulu menyuruh Aksa memimpin Mafianya.


" Gue denger istri lo udah buka identitasnya." ucap Aksa duduk disofa ruangan Varo dan memakan cemilan yg ada diatas meja didepannya.


" Ngapain lo kesini?" tanya Varo kesal.

__ADS_1


" Mau melepas rindu sama lo."


" Gue sibuk." balas Varo mendatarkan wajahnya.


" Sok sibuk lo." ucap Aksa melempari kulit kacang kearah Varo.


" Istri lo cantik ya Var keturunan darah biru lagi." ujar Aksa dengan wajah menjengkelkan.


" Gak usah bayangin istri gue ." ketus Varo dingin.


Aksa terkekeh melihat ekspresi Varo.


" Heran gue, kenapa Sofia mau sama modelan tembok kayak lo?" ucapnya lagi. Aksa tak menyadari ekspresi suram dari Varo karena dirinya malah membahas istrinya. Jujur Varo benci jika ada yg membicarakan istrinya terutama laki laki, meskipun ia adalah keluarganya sendiri.


Aksa menelan kasar ludahnya ketika melihat ekspresi menyeramkan sepupu temboknya.


" Peach Var." ucapnya dengan dua jari telunjuk dan tengahnya.


" Ok kali ini serius." ucap Aksa serius.


Varo mengangkat sebelah alisnya. " Lalu?"


" Tapi gue gak bisa menyelidiki lebih jauh."


Varo tersenyum remeh kearah Aksa yg membuat Aksa mengeram kesal.


" Katanya ketua Mafia masak gitu aja gak bisa." ucap Varo pedes.


" Yang megang kuasa kan lo. Coba deh lo yg selidikin jangan tau hasilnya doang." balas Aksa tak kalah pedas.


" Ngapain gue harus turun tangan? kalo punya anak buah." ujar Varo malas.


" Back to topik. Gue rasa pulau itu ada pemiliknya."


Varo yg tadinya menatap komputer didepannya langsung mengalihkan tatapannya kearah Aksa.

__ADS_1


" Soalnya gue pernah mengitari pulau itu menggunakan helikopter dan dari yg gue lihat pulau itu dijaga ketat di beberapa titik. Dan para pengawal yg turun ke pulau itu langsung mati ditempat." jelas Aksa.


" Kita harus mendapatkan barang yg ada dipulau itu apapun yg terjadi." Tegas Varo.


" Laboratorium disana sangat berguna bahkan tersimpan beberapa racun dan ramuan yg sangat langka." lanjut Varo.


Aksa mengangguk dan mereka melanjutkan obralan mereka sampai suara deringan ponsel Aksa membuat obralan mereka terhenti.


" Hm" kata Aksa kala panggilan itu tersambung.


" Gawat bos!! sistem markas di hack seseorang." ucap anak buahnya.


Varo bisa mendengar percakapan Aksa dengan jelas karena Aksa yg men speaker panggilannya. Kedua pria itu langsung memasang wajah dingin mereka kala mendengar laporan dari anak buah mereka.


" Bagaimana bisa?" tanya Aksa emosi.


" Kami juga kurang tau bos. Karena kami sama sekali tidak bisa melacak siapa orang itu."


Aksa memutuskan sambungan telepon itu dan menatap serius Varo.


" Gue rasa dia ada hubungannya dengan pulau itu." ungkap Aksa dan diangguki oleh Varo.


Disaat Aksa dan Varo pusing memikirkan siapa yg dengan berani meretas sistem markas mereka. Sofia dan Amber malah tersenyum penuh kemenangan setelah aksi nekat mereka berhasil.


" Aksa Kevan Rayder." ucap Amber membaca identitas seseorang dilayar komputernya.


" Rayder? jangan bilang mafia itu milik keluarga Rayder?" Heboh Amber.


Sofia masih mencerna semuanya.


" Gue rasa ia."


" Kenapa pemimpinnya bukan Varo atau Vian bukankah mereka adalah putra dari Om Dave?" tanya Amber setelah membaca keseluruhan identitas Aksa.


Sofia mengangkat bahunya dan berkata. " Gue gak peduli siapa pemimpin nya yg pasti gak akan gue biarin mereka menginjak pulau itu."

__ADS_1


Apa yang akan terjadi? apakah Varo akan berhasil mengambil barang yg ia mau di pulau itu disaat pulau itu adalah milik istrinya sendiri. Ataukah Sofia akan dengan suka rela memberinya? atau malah merata habiskan Mafia Cruel Darkness.


__ADS_2