
" Mari kita langsung keintinya . " Sofia mendekat kearah dua wanita berbeda usia yg berdiri tak jauh darinya. Yang lain? mereka hanya menonton layaknya menonton sebuah drama.
Sangat kreatif bahkan Arga sudah menyuruh seorang pelayan untuk membawa popcorn untuk mereka agar lebih menyenangkan menonton drama yg sebentar lagi akan dimulai.
***
" Jangan bertindak seolah anda adalah nyonya dirumah ini. Ingat posisi anda nyonya Marsha " tekan Sofia.
" Lo . Jangan pernah nyentuh Asa jika tak ingin tangan lo lepas dari tempatnya."
Dapat Sofia lihat dengan jelas wajah keduanya yg memerah menahan amarah karena ucapannya. Sofia tak peduli karena memang itu adalah tujuannya.
" Bocah ingusan " cibir Clara pelan agar tak terdengar oleh Ayahnya, namun tidak dengan Sofia ia bisa mendengar jelas ucapan Clara.
" Wanita sialan " balas Sofia sinis.
" Gak usah sok deh . Lo itu cuman anak yg gak pernah dianggap oleh orang tua lo sendiri". Clara tak peduli jika setelah ini Ayahnya akan memarahi bahkan memukulnya . Ia sudah kepalang kesal dengan Sofia.
" Kurang ajar " Ujar Arga dingin dan bersiap untuk berdiri dari duduknya.
" Duduk " tekan Sarah pada suaminya itu. Arga dengan ogah ogahan menuruti ucapan istrinya.
" Buta ? atau katarak ?" tanya Sofia tenang. Tak ada sedikitpun dalam ekspresinya bahwa ia merasa tersinggung dengan ucapan Clara.
" Orang sebanyak ini aja gak bisa lo liat " tenangnya.
" Bukannya tak dianggap bahkan gue lebih di anggap dan dihormati dari seorang ratu . Tua bangka itu hanya orang tua buta yg tidak bisa membedakan berlian dan batu kali."
" Kenapa?" tanya Sofia kala melihat Clara menatapnya dengan amarah yg sudah mencapai ubun ubun.
" Sialan lo Sofia. Seharusnya lo gak pernah kembali dari pengasingan itu." Teriaknya menggebu gebu.
Lagi lagi Sofia membalasnya dengan tenang.
" Tempat dengan fasilitas lengkap seperti itu lo sebut pengasingan? gak salah ?."
" Cukup Clara " cegah Marsha kala Clara hendak mengangkat tangannya.
" Harusnya kau lebih sopan dengan yg lebih tua Sofia " ucap Marsha datar.
" Untuk apa bersikap sopan pada kalian ? Apa kalian pernah bersikap sopan kepada pemilik rumah ini ?"
__ADS_1
" Pemilik rumah ini adalah suami saya " tekan Marsha .
" Orang yg anda sebut suami itu adalah Kakek saya " tekan Sofia tak mau kalah.
" Jangan lupa bagaimana anda bisa menikah dengan Kakek saya nyonya Marsha . Tetap ingat itu didalam otak kecil anda "
Plak
Ketiga orang yg tadinya duduk tenang disofa menikmati drama seketika berdiri kala sang pemeran utama ditampar oleh seorang pemeran pembantu.
" KURANG AJAR KAU MARSHA " Teriak Joan tak terima cucu kesayangannya ditampar oleh orang rendahan seperti Marsha.
Sofia mengangkat sebelah tangannya kala Ketiga orang itu hendak mendekat kearahnya.
Sofia menatap Neneknya itu dengan tatapan mematikan tak lupa senyum manis yg terukir indah diwajahnya.
Dengan perlahan Sofia mendekat dengan tawanya yg menyeramkan.
"Akh " Sofia mencekik leher Marsha hingga membuatnya berteriak.
" Le...lepas " ucapnya terbata bata.
" Lepas? anda saja berani menampar saya lantas kenapa saya harus melepasnya " Kini tatapannya berubah menjadi lebih dingin . Sofia menghempas tubuh Marsha kelantai setelah dirasa Marsha yg hampir kehabisan napas.
" Sialan kau Sofia " kini giliran Clara yg hendak menamparnya namun dengan cepat semua itu berbalik.
Bukan dirinya tapi Clara yg sudah menoleh kesamping kala pipinya ditampar keras oleh Sofia.
" Urusan kita belum selesai. " Sofia menarik rambut Clara kuat hingga wajahnya mendongak keatas.
Sofia lalu menghempaskan Clara tepat disamping Marsha .
" Tangan ini yg dengan beraninya menyentuh jagoanku " Sofia mengeluarkan pisau kecil dibalik bajunya dan menyayat tangan Clara.
" Akhh.. brengsek kau Sofia " Clara mengerang kesakitan kala ujung tajam pisau itu menggores kulitnya.
" Cantik " ucap Sofia kala melihat ukirannya ditangan Clara.
" Berhenti Sofia " teriak Marsha tak sanggup melihat putrinya diperlakukan seperti ini .
" Anda dengan beraninya masuk kedalam keluarga ini tanpa memikirkan segala resikonya ."
__ADS_1
" Seharunya Anda berpikir dua kali sebelum melempar tubuh anda dengan suka rela keranjang Kakek saya " tekan Sofia.
Sofia berbalik menatap ketiga orang dibelakangnya yg duduk tenang menyaksikan segala perbuatannya.
" Seharusnya anda sudah bisa menceraikan dia . Karena anak yg pernah dikandungnya bukanlah anak anda " Ucapnya dengan menyerahkan sebuah berkas .
Joan mengambil berkas itu dan membacanya. Tangannya terkepal erat dengan mimik wajah yg mematikan bisa bisanya ia tertipu selama ini pikirnya.
Suara tepuk tangan dari Arga membuat semua orang menatapnya.
" Hebat sangat hebat . Keturunan keluarga Aileen tak pernah mengecewakan " ucapnya.
Sofia menatapnya sinis sebelum pergi dari ruangan itu. " Membatalkan pernikahan aja gak bisa . Gak ada yg hebat dari keluarga Aileen " Arga terdiam kala mendengar ucapan putrinya itu.
Skakmat, Arga tak bisa berkata kata lagi untuk membalas ucapan putrinya.
" Mau kemana? gak mau liat drama dari Kakek ?" tanya Sarah yg melihat Sofia mulai menjauh.
" Gak minat. Sofia mau samperin Bunda sama Asa " ucapnya dan dibalas anggukan oleh Sarah.
...****...
Disinilah Sofia berada, setelah memberi pelajaran untuk Clara karena telah berani menyentuh Jagoan kecilnya .
Ia duduk berdampingan dengan Bundanya melihat Asa yg bermain tak jauh dari mereka.
" Gimana pernikahanmu ? baik baik aja kan ?"
Sofia tak menjawab pertanyaan Bundanya. Apa yg harus ia jawab? mengatakan jika semuanya baik baik saja sedangkan semuanya sedang tidak baik baik saja untuknya.
Aulia yg mengerti memeluk erat putri dari mendiang adik iparnya yg sudah ia anggap anak sendiri.
" Semuanya akan baik baik saja " ucapan Aulia membuat tangis Sofia pecah. Tangisan yg sudah ia tahan sedari tadi sekarang sudah tak bisa ia tahan.
" Sakit Bunda. Kenapa Kalian gak menentang pernikahan itu hiks " ucapnya.
" Sofia sakit Bunda.... hiks " Hati Aulia terasa sakit kala melihat putri kesayangannya menangis seperti ini.
" Hey . Anak Bunda kan kuat! Bunda yakin kamu bisa melewati ini semua " tenang Aulia.
" Kami mempunyai alasan kenapa tidak menolak pernikahan itu . Kamu akan mengerti nantinya. " Aulia kembali memeluknya erat.
__ADS_1
Asa yg melihat Bunda dan Kakaknya berpelukan tanpa ada dirinya langsung berlari bergabung menubruk tubuh kedua wanita itu.
Sofia tertawa melihat tingkah adik kecilnya itu. Anak laki laki yg sangat tampan persis seperti mendiang Ayahnya.