Mengapa Harus Dia !?

Mengapa Harus Dia !?
Episode 61


__ADS_3

Tangan Sofia terkepal erat ketika lagi lagi ia mendapat surat teror misterius. Tapi kali ini peneror itu mengirim sebuah pesan suara didalam kotak hitam.


Matanya seketika memanas ketika mendengar suara bahkan jeritan suara yang sangat ia kenal.


" Mama. " Lirih Sofia meremas kuat pena ditangannya. Ya orang itu mengirim pesan suara dalam bentuk pena. Hanya saja bukan pena untuk menulis namun sebuah alat perekam.


Dret Dret Dret


Deringan suara ponsel membuat atensinya teralihkan. Setelah mengetahui siapa yg menelponnya, dengan cepat Sofia mengangkatnya. Tangannya kembali terkepal erat dengan kuku yg menancap di telak tangannya.


" Siapkan pasukan! Amankan keluarga Aileen." Kata Sofia dingin.


" Ok. Bagaimana dengan Abian? " Tanya Amber.


" Jangan biarkan Abian ikut, tahan dia bagaimanapun caranya. "


Setelah memutuskan sambungan teleponnya. Sofia bergerak cepat. Menyambar jaket kulit hitamnya dan mengikat ekor kuda rambutnya sambil berjalan kearah motornya.


Tujuannya saat ini adalah keluarganya. Tak akan ia biarkan orang itu menyentuh keluarnya. Amber baru saja menghubunginya dan mengatakan jika peneror itu adalah si brengsek Rio.


.....


Sedangkan di sisi lain, disaat bersamaan Varo juga mendapatkan telepon dari Asistennya.


" Rio kembali berulah Tuan Muda. Kali ini saya mendapatkan jika dia yg sudah meneror Nyonya akhir akhir ini. Dan bisa dipastikan pertumpahan darah tak dapat dihindari kali ini. " Rafa melaporkan apa yg ia dapatkan kepada Tuannya.

__ADS_1


Dapat ia pastikan jika saat ini wajah Tuannya akan sangat mengerikan. Sungguh soal nasib Rio karena harus berurusan dengan Tuannya yg berdarah dingin.


" Perketat penjagaan Istriku dan awasi setiap langkahnya. Juga siapkan anggota yg siap siaga ketika pertumpahan itu terjadi. Saya rasa ini semua tak semudah itu. " Papar Varo.


" Baik Tuan Muda. "


Brengsek!! Tua bangka itu sepertinya ingin menghantarkan nyawanya sendiri. Tak akan Ia biarkan Tua bangka itu berhasil dengan rencananya. Tah kenapa hatinya terasa sedikit kosong seperti sesuatu akan segera hilang dari genggamannya.


Varo menyambar jasnya dan mengendarai mobilnya dengan cepat. Tangannya terus menggulir layar Handphone nya. Beberapa kali Ia berusaha menghubungi Istrinya namun tak diangkat sama sekali.


Sofia sudah berada di kediaman Keluarganya. Dimana Papa dan Abangnya yg kini ikut tinggal sementara di kediaman Aileen.


" Perketat penjagaan mansion dan jangan berkeliaran keluar saat ini. " Joan menatap bingung cucunya. Kenapa harus memperketat penjagaan mansion?


" Dia kembali. " Sorot dalam mata Sofia menatap manik mata coklat milik Kakeknya.


Tubuh Joan seketika menegang ketika tau siapa yg dimaksud cucunya. Rahangnya mengeras dengan urat leher yg juga ikut menonjol.


" Kapan? " Suara Joan terdengar berat menahan amarahnya.


Sofia menggeleng. " Dia meneror ku akhir akhir ini, dan hari ini..... " Ucapan Sofia terhenti.


" Dan hari ini ia mengirimkan rekaman suara Mama. " Ucap Sofia dengan lirih.


" Bedebah sialan. " Umpat Joan. Berani sekali orang itu meneror cucunya.

__ADS_1


Arga saat ini tidak ada di mansion kerena memang belum waktunya pulang kantor. Keheningan sesaat melanda keduanya. Dan untuk Papa dan Abangnya mereka sedang di kamar masing masing. Mereka tidak tau akan kedatangan Sofia saat ini.


" Aku akan menghadapinya kali ini." Joan menatap tak percaya pada cucunya. Apa katanya? Ingin menghadapinya sendiri.


" Enggak!! Kakek tidak akan mengijinkan hal itu. " Tolaknya keras.


" Tapi Sofia harus Kek. Sofia harus balesin dendam Mama. " Kekeh Sofia.


" Jangan bodoh Sofia. Kakek gak mau Kamu berakhir kayak Mama kamu. "


" Terserah Kakek setuju atau enggak. Aku akan tetap maju sendiri. " Tegas Sofia tak terbantahkan.


Joan menghela napas, Ia merasa lelah menghadapi sifat keras kepala cucunya yg satu ini.


" Biarkan Kakek berdiskusi dengan Ayah, Papa dan Juga suami mu, dulu. Kami akan memikirkan solusi terbaik tanpa harus melibatkan mu. " Putus Joan akhirnya.


Sofia memilih mengalah untuk saat ini. Ia mengangguk menyetujui keputusan Kakeknya.


" Sofia pergi. "


Degg


Dada Joan tiba tiba sesak mendengar ucapan terkahir cucunya sebelum tubuh itu menghilang dari pandangannya.


Joan berusaha menekan perasaan itu. Tidak! itu tak akan terjadi. Cucunya akan baik baik saja. Sudah cukup ia kehilangan putra dan putri kesayangannya dan kali ini Ia tak akan kehilangan untuk ketiga kalinya.

__ADS_1


__ADS_2