
" Lihat kelakuan istri mu Haris." ucap Sean dingin .
Saat ini Sean sedang menghakimi putra bodohnya diruang kerja Haris. Kenapa ia harus mempunyai seorang putra bodoh seperti Hari. Tidak bisa membedakan mana yg benar dan mana yg benar benar salah. Ingin sekali dirinya memukul Haris hingga babak belur dan tak dapat bangun lagi. Sungguh menjengkelkan.
" Ini akibat dari kau yg terlalu memanjakan mereka." Haris hanya bisa menunduk mendengar semua perkataan pedas ayahnya sendiri.
" Dua wanita ular itu dengan beraninya menyentuh cucu kesayangan ku. Mereka tak akan hidup dengan tenang sampai kapan pun."
" Dan kau sebagai seorang kepala keluarga harusnya bisa membedakan mana yg ular mana yg berlian. Kau dan putra mu itu sama sama bodoh."
" Maaf." sesal Haris. Hanya kalimat itu yg bisa ia ucapkan. Setelah melihat semua bukti dimana selama ini Lea dan Nilam berpura pura lemah didepannya membuat darahnya mendidih. Ia menyesal karena telah menduakan mendiang istrinya dan juga menyakiti putrinya.
" Kalimat itu tidak berguna sekarang." decih Sean.
" Setelah ini hidup mu juga tak akan tenang. Si tuan Joan itu pasti akan membalas dendam atas apa yg telah kau lakukan kepada Putri dan cucu kesayangannya."
" Benar benar bodoh." desis Sean dan pergi meninggalkan Haris.
Air mata yg sedari tadi ia tahan seketika luruh membasahi pipinya. Lelaki paruh baya itu hanya bisa menyesali segala perbuatannya selama ini. Kilasan memory tentang penyiksaan dan tuduhan tak berdasar yg ia beri kepada putrinya seakan menjadi belati untuknya.
Joan menatap datar Haris yg baru saja datang setelah dibawa si tua bangka Sean pergi untuk bicara empat mata. Rahangnya mengeras dan satu pukulan ia layangkan tepat diwajah Haris.
" Lelaki bodoh." maki Joan.
" Kenapa putriku mempunyai suami bodoh seperti mu. " Joan mengangkat kerah baju Haris dan kembali memukulnya.
" Ini belum seberapa dengan apa yg kau berikan kepada Putri dan cucuku selama ini."
__ADS_1
" Ajari putramu pak tua agar lebih pintar dari seekor keledai."
Sean yg merasa namanya disebut menatap malas Joan. Kenapa tua bangka itu harus membawa namanya. Ia saja tak sudi mengakui jika Haris adalah putranya. Karena ia tak merasa mempunyai putra brengsek seperti Haris.
" Jangan bawa nama ku pak tua ." sungut Sean .
" Dia putra mu jadi kau harus mengajarinya."
" Kenapa aku harus mengajarinya? aku rasa didikan ku selama ini tidak pernah kurang."
" Mungkin saja karena merasa sudah begitu pintar hingga ia ingin menjadi orang bodoh."
Lihat lah kelakukan ayah satu ini. Bukan membela anaknya malah ikut memojokkan anaknya.
Zaki dan Arga hanya menatap datar Haris. Dapat mereka lihat jika lelaki itu menyesal bahkan sangat sangat menyesal.
Tak tak tak
Suara langkah kaki seseorang dari arah tangga membuat mereka mengalihkan pokus mereka.
" Mau kau bawa kemana putri ku?" Arga menatap tajam Varo yg sedang menggendong Sofia.
" Pulang." jawab Varo singkat.
" Tidak. Sofia akan tinggal bersama kami mulai sekarang." tegas Arga.
" Saya tak peduli." ucap Varo acuh dan melangkah pergi tanpa melihat semua orang.
__ADS_1
Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara seorang bocah yg tak lain adalah Asa. " Paman mau kemana?" tanya Asa.
" Paman mau bawa Kakak pulang untuk istirahat." ucap Varo lembut sambil tersenyum
" Asa boleh ikut?"
" Asa." panggil Aulia lembut dan tersenyum canggung.
" Nanti Asa ajak Kak Abi, buat main kerumah Paman." Asa yg mendengar itu mengangguk antusias. Varo tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya. Sofia? ia kembali tertidur di gendongan Varo.
Dilain sisi, Petugas kepolisian mendatangi rumah sakit yg merawat Nilam. Orang orang yg melihat hal itu bertanya. Kenapa ada banyak polisi? apakah ada kriminal yg dirawat dirumah sakit ini?.
Tok tok
" Selamat sore. Maaf sebelumnya kami ditugaskan untuk menangkap Nyonya Lea Arummi dan juga Nilam Dirgantara atas kasus penggelapan dana perusahaan dan uji coba pembunuhan." ucap salah satu petugas.
Lea yg mendengar hal itu terkejut. Apakah secepat ini. Sedangkan Nilam berteriak histeris kenapa nasibnya harus seperi ini. Ia harus kehilangan kakinya dan sekarang ia harus mendekam dipenjara. Kenapa nasibnya sungguh sial.
Lea yg kewalahan menenangkan Nilam langsung memanggil dokter. Nilam mulai tenang kembali setelah disuntik obat penenang oleh dokter.
" Mari ikut kami, nyonya." ucap petugas itu berusaha sopan.
" Tapi saya harus menjaga putri saya. Lihat kondisinya." tangis Lea pecah memenuhi ruangan yg dominan akan warna putih itu.
Petugas polisi yg merasa kasihan memberi sedikit kelonggaran. " Baiklah anda kami beri waktu sampai besok pagi. Dan setelahnya kalian akan kami bawa kekantor."
Setelah kepergian para petugas polisi Lea menangis dalam diam meratapi nasib dirinya dan putrinya. Ia menyesali perbuatannya selama ini yg tanpa ia sadari dipenuhi oleh napsu.
__ADS_1