
2 hari kemudian
Karangan bunga bela sungkawa memenuhi halaman kediaman Aileen tak hanya itu beberapa spanduk bahkan papan ucapan tampak memenuhi halaman itu.
Langit yg agak mendung dengan beberapa orang berpakaian hitam membuat kesan duka sangat terasa dikediaman itu.
Beberapa mobil hitam sudah melaju kearah pemakaman khusus bagi keluarga bangsawan.
Tak hanya di kediaman Aileen di area pemakaman pun karangan bunga dan papan ucapan bela sungkawa tampak memenuhi jalan.
Kehadiran seseorang diantara mereka membuat mereka semua menunduk hormat.
" Ma..Ai dateng buat jenguk Mama."
Tentu kalian tau siapa gadis itu, Ya Sofia gadis itu adalah Sofia.
" Maaf jika Ai sempat melupakan Mama."
Perkataan Sofia sukses membuat orang orang yg melihat hal itu meneteskan air mata.
" Boleh Ai curhat sama Mama? " Hembusan angin yg menerpa wajahnya cantiknya seakan menjadi jawaban akan pertanyaannya.
" Ai sakit Ma... sakit banget." ucap Sofia memulai curhatnya. Ia tak peduli jika semua orang mendengarnya bahkan menganggap dirinya lebay atau apapun itu.
" Ai rasanya udah gak sanggup , jadi tolong kuatkan bahu Ai ya Ma agar Ai bisa kuat sampai tugas Ai selesai disini."
Tubuh Sofia bergetar tanda bahwa ia sedang menangis. Tangisan pilu dari Sofia membuat semua orang juga ikut meneteskan air mata mereka.
" Mama harus selalu bantu Ai ya Ma dari atas sana. Ai sayang banget sama Mama ." ucapnya lalu mencium lama nisan Mamanya seakan ia sedang mencium Mamanya.
Sofia berdiri dan mengusap air matanya dan melangkah pergi meninggalkan area pemakaman.
Semilir angin yg tenang ditengah pemakaman membuat seorang pria paruh baya dan seorang pemuda menunduk dalam disamping sebuah makam.
" Maafin aku Qis. Aku gagal jadi seorang suami yg baik buat kamu dan sekarang aku juga gagal jadi sosok ayah untuk putri kita." sesal Haris.
" Beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua. Jangan jemput Sofia ya Qis, aku mohon , kami masih membutuhkan kehadirannya disini."
" Ma..." suara Sky tertahan karena air matanya yg terus keluar membuatnya tak sanggup untuk bersuara. " Maafin Sky karena gak nolongin Mama waktu itu. Sofia benci sama Sky Ma."
" Kamu adalah wanita hebat bagi kami. Maaf untuk semuanya, kamu akan tetap menjadi ratu disini." ucap Haris.
" Maafin Sky Ma. Tolong buat Sofia gak benci lagi sama Sky."
__ADS_1
Tak jauh dari sana tepatnya disebuah pohon, Sofia bersandar seraya mengemut permen dimulutnya.
Setelah kepergian Haris dan Sky barulah Sofia mendekat kearah makam Mamanya yg dipenuhi dengan karangan bunga . Ia tak benar benar pergi ia hanya menunggu orang orang selesai berdoa untuk Mamanya dan meninggalkan area pemakaman.
Sofia berjongkok tepat disamping makan Mamanya seraya berdoa.
" Mama tau , Ai udah nikah sekarang meskipun caranya gak baik tapi Ai seneng bisa nikah sama Varo."
" Kenapa kisah cinta Ai sama kayak Mama? Hubungan Mama ada orang ketiga, Kakek juga, sekarang Ai juga sama Ma."
" Tapi Ai yakin kalo Varo cintanya tetep sama Ai. Buktinya Varo masih suka meluk Ai." ucap Sofia tersenyum.
" Ai janji Ai akan hukum mereka yg gagal jagain Mama. Terutama dia , Ai sendiri yg akan mengirimnya ke Mama supaya dia minta maaf sama Mama disana."
...****...
Orang orang yg berada di tengah tengah lapangan menunduk takut ketika suara dingin seorang gadis menembus gendang telinga mereka.
" Kalian tau apa kesalahan kalian?" tanya Sofia penuh penekanan. Mereka yg ditanya hanya diam tak berani menjawab.
" APA KALIAN SEMUA BISU. KALIAN TAU APA KESALAHAN KALIAN?"
" SIAP, TAU NONA MUDA." jawab mereka serempak.
" KAMI GAGAL MENJAGA NYONYA ." Jawab mereka lagi.
Sofia mengangguk dan dengan langkah pasti mendekati mereka satu persatu dengan cambuk ditangannya.
Ctas ctas
*Akh
Shh*
Suara cambukan terdengar jelas ketika benda itu menyentuh kulit mereka.
Semua pengawal bahkan bawahan sekalipun berkumpul untuk mendapatkan hukuman mereka tanpa terkecuali.
Sofia berdiri tepat didepan Deka,tangan kanan Mamanya.
" Anda adalah seorang tangan kanan namun anda gagal melindunginya."
Ctas ctas
__ADS_1
5 total cambukan mendarat mulus dipunggung Deka. Pria paruh baya itu tidak meringis sedikitpun seperti yg lainnya , ia tetap dengan posisi yaitu berlutut didepan Sofia.
Sofia menatap datar pria itu. " Lawan saya diatas ring. " Deka menatap tak percaya Nona mudanya. " kenapa? takut jika saya bisa mengalahkan anda?" Deka menggeleng. Tentu bukan itu, ia hanya takut jika nanti dirinya melukai Nona mudanya itu.
" UNTUK KALIAN KELILINGI LAPANGAN INI SEBANYAK 30 PUTARAN TANPA BERHENTI."
Mereka menelan kasar ludah mereka, Lapangan yg luasnya bahkan 3 kali lipat dari lapangan bola dan mereka harus mengelilingi nya tanpa berhenti ? oh tuhan semoga saja mereka tidak akan pingsan ditengah hukuman mereka.
...****...
" Jangan tahan tenaga anda !! anggap saya sebagai musuh anda !!" perintah Sofia kepada Deka .
Mereka berdua saat ini sudah berada diatas ring tinju dengan ditonton oleh para pengawal dan bawahan yg sudah selesai dengan hukuman mereka.
" Tapi Nona muda..."
Sofia mengangkat alisnya dan tanpa aba aba langsung menyerang Deka hingga pria itu tersungkur kebelakang akibat tak siap.
" Seorang musuh tidak akan menunggu anda siap terlebih dahulu untuk menyerang." ujar Sofia dingin.
" Serang saya !!" perintah Sofia.
Deka menarik napasnya dan dengan yakin menyerang Nonanya tanpa menahan tenaganya sama sekali.
Para bawahan dan pengawal yg melihat perkelahian itu menatap takjub pada Nona muda mereka. Seorang seperti Tuan Deka saja tampak kewalahan menghadapi Nonanya bagaimana dengan mereka?.
Kemampuan bertarung Deka memang tak diragukan lagi , bahkan ia adalah salah satu pengawal terbaik yg dimiliki oleh Mamanya.
Bugh , bugh
Perkelahian itu berhenti kala Deka jatuh tersungkur dengan mengangkat sebelah tangannya pertanda bahwa ia kalah. Wajah yg awal mulanya mulus tanpa jejak kini sudah dipenuhi oleh lebam dan darah disudut bibirnya. Deka memegangi perutnya yg terasa nyeri akibat tendangan keras dari Nona mudanya.
" Obati dia !!" perintah Sofia pada salah satu bawahannya.
Sofia turun dari ring dengan mengelap keringat yg membanjiri wajahnya. Wajah Sofia? tentu wajahnya masih sama seperi pertama kali perkelahian dimulai, tak ada jejak apapun di lukanya bahkan lebam sedikitpun.
Sofia berjalan meninggalkan area itu dengan sesekali memainkan ponselnya.
" let's start the game, Amber ."ucap Sofia kala sambungan teleponnya tersambung.
" Finally, the exciting game will begin " balas Amber.
Kedua gadis berbeda tempat itu tersenyum miring. Mereka sudah tidak sabar akan permainan mereka yg akan dipenuhi oleh pesta darah.
__ADS_1