Mengapa Harus Dia !?

Mengapa Harus Dia !?
Episode 39


__ADS_3

Sofia meringis saat kapas dingin itu menyentuh permukaan kulitnya yg terluka.


" Bilang orang lain lemah diri sendiri malah lengah." cibir Amber sambil mengobati luka goresan di pipi Sofia.


" Gak sengaja." elak Sofia.


" Heleh. Kalo kepala lo lepas artinya musuh juga gak sengaja, ha."


Sofia menatap malas Amber yg sudah menceramahi dirinya.


" Berisik , Am."


" Kuping gue sakit denger ocehan lo."


" Makanya kalo dibilangin itu nurut, Bocah." Ucap Amber memplester luka Sofia agar tidak kemasukan debu yg bisa menyebabkan infeksi.


Sofia menatap ke luar jendela mobil dan berkata. " Berhenti." perintahnya kepada sang sopir.


" Mau kemana lo? " tanya Amber kala Sofia hendak keluar dari mobil.


" Gue kebelet."


" Jalankan mobilnya. Antar Nona Amber dengan selamat." ucap Sofia cepat dan segera berlari.


" SOFIA AWAS LO." Teriak Amber kala mobil yg mereka tumpangi melaju kencang dan meninggalkan Sofia.


Sofia tertawa pelan mendengar teriakan Amber. Ia menatap keadaan sekitar dan masuk ke area hutan.


Ia terus menulusuri hutan tersebut hingga 10 menit lamanya. Hingga langkahnya terhenti kala melihat sebuah bangunan tua besar yg diduga sebagai markas dari mafia Devil. Mafia yg telah berani mengusik anak buahnya.


Sofia mengamati sekitar dan melesat dengan cepat menghindari Cctv. Ia meletakkan bom berukuran kecil yg ia bawa di beberapa titik yg bisa meruntuhkan bangunan tua itu hanya dengan sekali ledakan.


Setelah dirasa cukup, Sofia berjalan agak jauh dari area gedung. Ia tersenyum miring dengan sebuah remot kontrol ditangannya.


" Saya akan membantu tugas malaikat maut untuk menjemput kalian."


" Selamat tinggal." Ucapnya dan seketika.


Duar


Suara ledakan yg begitu keras terdengar hingga membuat gedung tua itu terbakar dan roboh hingga menewaskan orang orang didalamnya.


...*****...


" Capek." ucap Sofia membanting tubuhnya keatas Sofa.


" Lo yg ledakin markas Devil?" tanya Amber. Dibalas anggukan oleh Sofia. " Siapa suruh ikut campur."

__ADS_1


Amber menghela napas lelah melihat kelakuan sahabat sekaligus adiknya ini. Untung sayang pikirnya.


" Heh, suami lo mana? gak ada nanya keadaan lo gitu?" tanya Amber mengalihkan topik dan duduk disamping Sofia.


" Gak tau gue. Lagi jalan kali sama selingkuhannya." ucap Sofia santai.


" Mana berani suami lo. Liat lo marah dikit aja langsung ketar ketir."


" Gak peduli gue." balas Sofia.


" Bilang gak peduli padahal peduli banget."


" Sampai kontaknya aja dikasih nama ' Suami sayang'. Jijik gue." ucap Amber berekspresi geli.


Sofia yg mendengar ucapan Amber langsung menegakkan tubuhnya dan menatap tajam Amber. " Lo ngintip hp gue, ya ?"


Amber terkekeh. " Bucin banget sih lo, Ai." ejeknya.


" Biarin. Dari pada lo jomblo."


" Jomblo gini banyak yg suka tau."


" Palingan setan yg suka sama lo."


" Berarti abang sepupu lo setan, dong? kan dia suka gue." ucap Amber percaya diri.


" Mungkin." Amber melotot mendengar jawaban Sofia. "Gue aduin lo ya?" ucap Amber.


" Ha...." ucapan Amber terpotong kala ponsel Sofia berbunyi.


" Hallo." ucap Sofia saat teleponnya tersambung.


" Kamu gak papa kan? ada yg luka? kamu dimana?" tanya Varo beruntun dengan khawatir.


" Maaf siapa ya?"


" Jangan bercanda sayang aku serius." balas Varo greget dengan kelakuan istrinya ini.


Sofia tertawa mendengar jawaban Suaminya.


" Haha. Iya aku gak papa."


" Ada yg luka?"


" Ke gores dikit." jawab Sofia santai. Varo yg mendengar jika istri kecilnya terluka menjadi marah.


" Aku bunuh mereka." desis nya tak terima.

__ADS_1


" Ngapain bunuh mereka?" tanya Sofia polos.


" Buat bantuin tugas malaikat maut."


Sofia lagi lagi tertawa mendengar ucapan Suaminya. Sedangkan Amber hanya bisa menjadi penonton senyuman bahagia Sofia.


" Nasib jomblo." lirihnya.


Ini yg tidak ia suka jika melihat orang lain berbahagia dengan pasangan mereka. Kenapa? karena dirinya tak memiliki pasangan jangankan pasangan kekasih aja gak ada.


" Bucin teros." sindirnya seraya berdiri dari duduknya.


" Kenapa lo?" tanya Sofia bingung saat sambungan teleponnya terputus.


" Gak papa sumpah gue gak papa." sewot Amber .


" Lo iri ya? makanya cari pacar." ejek Sofia.


Bugh


****


Umpat Sofia kala bantal sofa mendarat sempurna diwajahnya. Sedangkan Amber malah tertawa .


" Makanya jangan suka ngejek orang. Dapat karma kan." ujar Amber mengejek.


" Udah kelamaan jomblo buat lo gak waras deh, Am." ucap Sofia menatap ngeri Amber yg malah tertawa sendiri.


" Lo bilang gue gila, gitu?" kesalnya.


" Lagian lo ketawa sendiri kayak orang gila "


" Gue ngetawain lo bego. Susah emang ngomong sama orang pinter."


Sofia menatap Amber heran. " Perasaan gak ada yg lucu deh dari gue." ucapnya.


" Kayaknya lo emang gila sih." sambungnya dan langsung berlari kearah kamar agak tidak mendapat amukan dari singa betina.


" SOFIA KAMPRET."


" CUCI DULU KAKI LO, WOY. NANTI KASUR GUE KOTOR." Teriak Amber ketika melihat Sofia meloncat keatas kasurnya dengan kaki kotor.


" JOROK.CUCI KAKI LO!!"


" GAK USAH TERIAK JUGA . GUE GAK BUDEK."


" MAKANYA NURUT BOCAH."

__ADS_1


" GUE BUKAN BOCAH YA." Sungut Sofia.


Dan terjadilah aksi cekcok yg tak mau mengalah. Suara perdebatan mereka bahkan sampai kekamar apartemen sebelah. Tapi mereka sudah tidak heran karena mengingat pemilik kamar itu adalah titisan Dajjal.


__ADS_2