Mengapa Harus Saya?

Mengapa Harus Saya?
Bab 16.Mulai Dekat


__ADS_3

Semenjak turun dari panggung,rasa gelisah menyelimuti hati Kanza.Bayangan ketika dia memaki Daniel sang pemilik Kampus tak bisa hilang dari ingatannya.


"Apa kalian tau sob? pak Daniel permana pemilik kampus ini adalah orang yang dulu pernah bertubrukan dengan saya.Dan saya memakinya waktu itu," curhat Kanza pada Reni dan Yuni ketika mereka berjalan sepulang kuliah menuju gerbang kampus.


"Masa iya?gimana ceritanya?" tanya Reni pada Kanza.


Kanza pun menceritakan kejadiannya waktu bertubrukan dengan Daniel dan mengakibatkan terjadinya utang antara Kanza kepada Daniel.


"Aduhhh..tengsin gak sih?" tanya Kanza.


"Yah,mau gimana lagi?yang penting kamu sudah minta maaf waktu itu dan bersedia mengganti handphone yang kau rusak," jawab Yuni.


"Saya rasa,beliau tidak memperhitungkannya dalam hati,"ucap Reni.


Setibanya di gerbang,sebuah mobil mewah menghalangi jalan Kanza dengan kedua sahabatnya tersebut.Dengan gerakan siap,Yuni dan Reni berusaha melindungi Kanza.Seketika Sebuah bunyi notif pesan terdengar dari handphone Reni.Reni pun memberikan syarat kepada Yuni yang tidak dimengerti oleh Kanza.Yang jelas sikap awas Reni dan Yuni tidak terlihat lagi.


"Hallo Kanza,sudi menemaniku minum kopi?" tanya Daniel setelah kaca mobil itu terbuka.


Seketika jantung Kanza berpacu kencang.Kanza bingung antara menerima dengan menolak.Ingin mengiyakan.Tapi merasa malu mengingat makiannya dahulu.Ingin menolak.Tapi tidak sopan mengingat pria ini adalah pemilik kampus ini.


"Ayo,pergi saja,tidak akan terjadi apa-apa," pinta Yuni.


Dengan ragu Kanza memandang kearah Reni untuk meminta pendapat Reni.Reni menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan Yuni.


Akhirnya dengan gerakan ragu-ragu,Kanza melangkah memasuki mobil Daniel tersebut.


"Gimana kabarnya Kanza?" tanya Daniel berbasa basi,setelah Kanza memasuki mobil.


"Ehhm..aku...aku sehat Pak," jawab Kanza yang merasa canggung berhadapan dengan Daniel.Seketika Daniel tertawa mendengar jawaban Kanza.


"Mas Daniel,bukan Pak," ucap Daniel pada Kanza yang merasa keberatan atas panggilan Kanza tersebut kepadanya.


"Maaf Pak! itu karena dulu saya belum tahu kalau bapak pemilik kampus tempat saya kuliah," ucap Kanza merasa bersalah.


"Tapi saya lebih senang panggilan mu ketika kamu belum mengetahuinya,boleh tidak,kalau kamu tetap memanggil saya dengan Mas Daniel?" pinta Daniel dengan wajah yang memang menginginkan hal tersebut.


Kanza bingung menanggapi permintaan Daniel tersebut.Dia pun diam beberapa saat.Tapi Daniel terus memandangi Kanza yang ingin mendengar jawaban dari Kanza.Akhirnya Kanza menganggukkan kepalanya.


"Nah,gitu dong,Mas Daniel," ucap Daniel dengan senyum diwajah.

__ADS_1


"Kamu mau minum kopinya di mana Kanza?minta rekomendasinya dong,saya kurang faham dengan cafe cafe disini." pinta Daniel yang ingin mengikuti selera Kanza.


"Kalau Mas Daniel tidak keberatan,kita boleh ngopi ke toko kue yang saya kelola," pinta Kanza.


Mendengar hal itu,hati Daniel bergemuruh"Kanza mengajakku minum kopi di tokonya,suatu kehormatan besar buatku,"ucap hati Daniel.


"Dengan senang hati Kanza," ucap Daniel pada Kanza.


Kanza pun mengarahkan sopir menuju ke toko kue miliknya,yang sebenarnya Daniel sangat paham lokasi toko tersebut.


Kanza membawa Daniel ke Lantai dua toko tersebut,dimana ruang tersebut diperuntukkan untuk menjamu sahabat-sahabat terdekat Kanza saja.


"Ini kopinya Mas Dani.mohon maaf,kalau tidak sesuai dengan selera mas Daniel," ucap Kanza yang memang mengerti dengan kelas kehidupan seorang Daniel permana.


"Saya cicip dulu ya,nanti saya koreksi kalau ada kekurangan," ucap Daniel pura-pura.Padahal sebetulnya,setiap hari Daniel selalu minum kopi dan kue buatan Kanza yang dipesannya serentak dengan snack para karyawannya.


"sempurna!" ucap Daniel setelah menenggak kopinya.Daniel memuji kopi Kanza,karena memang layak di puji.


"Terimakasih Mas,"balas kanza.


"Tidak salah pemilik toko ini,menyerahkan tokonya kepada kamu.toko ini ditangan orang yang tepat," puji Daniel.


Daniel mengamati seluruh sudut toko,Daniel juga selalu mencuri pandang ketika Kanza tidak melihatnya.Hasratnya kepada Gadis itu dia tekan sebisa mungkin.Untung gadis itu memakai baju yang agak longgar,sehingga tidak mencetak bentuk tubuhnya.


"Sepertinya ruangan ini,spesial untuk sahabat dan pacar sepertinya," cecar Daniel.


"Sahabat saja Mas,itu pun Mas yang pertama untuk sahabat laki-laki," ucap Kanza polos.


"Tak ada sahabat laki-laki selain diriku?" tanya Daniel menegaskan


"Tidak ada Mas,Mas sahabat laki-laki yang pertama,dulu ada,tetapi sudah meninggal beberapa bulan yang lalu." tutur Kanza pada Daniel.


Hati Daniel terasa adem mendengar jawaban Kanza.


"Mas Daniel ini,sepertinya orang sukses,ya? masih muda,sudah jadi pemilik universitas ternama dan pasti banyak bisnis yang lain.Soalnya selama tiga tahun aku kuliah di kampus itu,baru hari ini melihat mas Daniel datang ke kampus." tutur Kanza yang memang merasa kagum atas prestasi yang diperoleh Daniel tersebut.


"Ada sih beberapa usaha yang lain.Apa Kanza betulan mau tau usaha apa saja yang sedang Mas gelutin?" tanya Daniel pada Kanza.


"Emang usaha Mas banyak gitu ya?" tanya Kanza sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Lebih dari yang kamu bayangkan.bukan cuman didalam negeri,diluar negeri pun banyak," ucap Daniel berusaha terbuka kepada Kanza.


"Wow,kenapa Mas Daniel mau berteman dengan Kanza?,saya tidak selevel loh dengan Mas." ucap Kanza mengingatkan.


"Khusus untuk kamu ada pengecualian," jawab Daniel.


Kanza mengerutkan keningnya mendengar jawaban Daniel.


"Sudah ya,tak usah di bahas,apa kanza keberatan bersahabat dengan saya?" tanya Daniel pada Kanza.Seketika Kanza menggelengkan kepalanya.


"iya tidaklah Mas,mana ada orang yang keberatan bersahabat dengan orang seperti mas Daniel.Udah orang nya sangat,sangat,sangat tampan.Tajir melintir,dan baik hati pula," puji Kanza dengan polos.


Mendengar pujian Kanza,hati Daniel terasa bersemangat dan berbunga-bunga.


"Kanza janji ya mau jadi sahabatnya Mas," ucap Daniel berharap.


Mendengar itu Kanza tertawa dan berkata.


"Apa gak Mas lihat tadi di kampus?seluruh aula kampus penuh dengan mahasiswa mahasiswa perempuan,awalnya kukira untuk menyaksikan saya menerima piagam.Ehhh,ternyata hanya ingin melihat Mas Daniel.Padahal aku sudah sempat besar kepala," tutur Kanza.


"Jangan samakan kamu dengan mereka," pinta Daniel yang tidak terima kalau Kanza menyamakan dirinya dengan wanita-wanita diluar sana.


"Memang saya gak sama dengan mereka.Kalau saya tahu tadi bahwa pemilik kampus itu adalah Mas,saya tidak akan hadir di kampus," ucap Kanza.


Daniel mengerutkan keningnya mendengar pernyataan Kanza.


"Kenapa?" tanya Daniel merasa gelisah dengan perkataan Kanza.


"Saya malu berhadapan langsung sama Mas,sebagai pemilik kampus.Soalnya saya pernah memaki Mas Daniel," jawab Kanza polos.


"Ohhh...kirain karena tidak suka melihat saya," ucap Daniel merasa lega dengan jawaban Kanza.


"Justru Karena Makianmu itu yang selalu mengingatkanku kepadamu,"tutur Daniel.


"Hahaha,tapi Mas gak dendam kan sama Kanza?" tanya Kanza


"iya nggak lah,saya justru ingin lebih dekat denganmu sebagai sahabat." ucap Daniel mengontrol bicaranya.


"Terimakasih lah ya Mas.,Mas sudah mau bersahabat dengan ku yang jelas-jelas tidak sederajat dengan Mas," ucap Kanza.

__ADS_1


"Tapi mungkin berlaku hanya untukmu saja,bukan dengan orang lain.Saya harap kamu bisa maklum,kalau saya tidak bisa bersahabat ataupun sekedar ber ramah tamah dengan sembarang orang," tutur Daniel.Kanza pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti bahwa Dunia orang penting itu juga harus pilih-pilih sahabat yang sesuai.


__ADS_2