Mengapa Harus Saya?

Mengapa Harus Saya?
Bab 44


__ADS_3

"Mas ingin menikah denganmu,b-e-s-o-k! " ucap Daniel sambil menekan kata besok,setelah Daniel berhasil meredakan tangisannya Kanza.


Kanza mengerutkan keningnya mendengar permintaan Daniel.


"Gimana bisa besok? penikahan itu apa tidak butuh persiapan? " tanya Kanza protes.


"Asal kamu bersedia, Mas bisa mempersiapkannya dengan baik, Kamu mau pernikahan yang seperti apa? Mas bisa kabulkan, " tutur Daniel.


Kanza terhenyak mengingat kepada siapa dia sedang bertanya.


"Tapi saya mau pernikahan sederhana yang di lakukan di kampung babakan ini saja, " ucap Kanza yang memang menginginkan pernikahannya di lakukan dikampungnya dan mengundang seluruh penduduk kampung.


Daniel nampak mencerna perkataan Kanza.


"Mas setuju, yang penting kamu bahagia, " ucap Daniel.


"Mas bahagia tidak? " tanya Kanza memikirkan kebahagiaan Daniel.


"Melihatmu bahagia, Mas sangat bahagia." ucap Daniel.


"Tapi jangan besok, sebaiknya kita bicarakan dulu dengan Ibu, " pinta Kanza.


Daniel pun setuju dengan ucapan Kanza. Daniel mengungkapkan niatnya tersebut kepada Ibu Ningsih pada malam harinya.


"Kenapa mendadak begitu Nak? " tanya Ibu Ningsih merasa heran tiba-tiba Daniel ingin melangsungkan pernikahannya dengan putrinya besok.


"Perusahaan membutuhkan saya Bu, saya harus segera balik ke Jakarta,saya tidak akan merepotkan Ibu, saya akan mempersiapkannya untuk Ibu. Ibu tinggal bilang saja apa yang Ibu inginkan atau perlukan" tutur Daniel.


"Sebaiknya lusa saja, Ibu harus mengundang seluruh penduduk Desa besok, " pinta Ibu Ningsih.


"Baik Bu, terimakasih Bu telah mengijinkan aku menikahi putri Ibu, " ucap Daniel sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Apa Kamu mempunyai keinginan tentang pernikahanmu? tanya Daniel sungguh-sungguh kepada Kanza" Aku tidak ingin kamu menyesal nantinya, "lanjut Daniel sebelum mereka memasuki kamar tidur masing-masing.


Kanza terdiam memikirkan ucapan Daniel padanya.


" Saya ingin, Mas Daniel menjiarahi kubur Mas Lukman dan meminta maaf padanya sebelum pernikahan kita, "ucap Kanza dengan wajah pias.


Daniel terdiam mendengar permintaan Kanza. Seumur hidupnya, hanya pada Kanza dan Ibu Ningsih serta kedua orangtuanyalah Daniel pernah meminta maaf.


Daniel menganggukkan kepalanya dengan berat hati.


" Asal kamu menemani Mas kesana, "ucap Daniel.


Pernikahan Kanza pun di lakukan dengan sederhana di Desa Babakan. Seluruh penghuni Desa merasa bergembira dengan kemewahan pernikahan Kanza yang mereka hadiri. Berbeda dengan Daniel. Ini adalah pernikahan yang begitu sederhana bahkan melarat yang pernah di ikutinya. Dan ini adalah pernikahannya sendiri.


Walau demikian, Daniel menghargai setiap senyum ucapan selamat kepadanya dan juga Kanza. Sepanjang resepsi pernikahan, Daniel selalu menyungginggkan senyum melihat senyum yang tidak habis dari wajah Kanza.Daniel bahagia melihat Kanza bahagia.


Selesai acara resepsi. Para orang tua desa nenggiring kedua mempelai memasuki kamar pengantin yang sudah di hias sedemikian rupa.


Dengan lembut Daniel membukan semua aksesoris yang menempel di tubuh Kanza.Wajah dan tubuh Kanza kini menegang.


"Relax saja, jangan tegang begitu, " canda Daniel sambil mencolek hidung Kanza.


Kanza pun segera memalingkan wajahnya dari Daniel karena merasa malu ditangkap basah oleh Daniel. Kanza pun sadar tidak ada lagi alasan untuknya menolak Daniel malam ini.


Daniel mencium bibir Kanza dengan lembut, memeluknya dan menghirup pucuk kepala Kanza.


"Terimakasih telah bersedia menjadi istriku, " ucap Daniel di telinga Kanza. Seketika bulu kuduk Kanza berdiri begitu mendapat bisikan dari Daniel.


"Mas tidak akan melakukannya malam ini, Mas malu bila sampai terdengar oleh Ibu, Sebaiknya persiapkan dirimu untuk ku gempur ketika kita tiba di Jakarta, " tutur Daniel menggoda Kanza.


"Huufff! " lenguh Kanza menghembuskan nafas lega nya. Ketegangan yang dirasanya kini berangsur pulih kembali.

__ADS_1


Ke esokan harinya,Rendy tiba untuk menjemput mereka kembali ke jakarta beserta anak buah Rendy sebanyak sepuluh orang. Ada misi yang harus mereka kerjakan di desa babakan. Orang-orang handal di turunkan Rendy untuk membangun fasilitas dan irigasi yang baik serta segala sesuatu yang dibutuhkan Desa Babakan.


Tak lupa Daniel memberi sumbangan kepada para janda dan anak Yatim di Desa itu. Ter spesialis buat keluarga Lukman, Daniel memberikan modal usaha yang tidak sedikit kepada Ibu nya Lukman.


Warga Desa babakan sangat berterimakasih kepada Daniel.Tidak henti-hentinya mereka memuji menantu Ibu Ningsih tersebut. Tapi ada sebagian juga yang merasa iri di hati mereka. Terlebih gadis-gadis desa Babakan yang terhipnotis dengan ketampanan dan tubuh atletis Daniel.Ditambah lagi dengan ketajiran Daniel membuat para gadis-gadis itu susah untuk memejamkan matanya di malam hari.


Dalam hati, Kanza memuji ketulusan Daniel memperlakukan warga Desanya selama dia berada di Desa Babakan.Tidak terlihat sedikitpun keangkuhan seorang Daniel Permana yang terkenal seantero Jakarta.


"Bagaimana kalau Ibu dan Wisnu ikut kami ke Jakarta? " usul Daniel pada Ibu Ningsih ke esokan harinya.


"Ibu disini saja, Ibu lebih betah disini dari pada di Jakarta, Jakarta itu bising, " jawab Ibu Ningsih.


"Takutnya Nanti Kanza merindukan Ibu, " desak Daniel.


"Kalau rindu, rajin-rajinlah menelepon Ibu, " jawab Ibu Ningsih sambil mengalihkan pandangannya kearah Kanza untuk meminta tanggapannya.


"Tentu Bu, saya akan rajin menelepon Ibu, Tapi Ibu harus janji tidak lagi bekerja keras seperti dulu, Cukup untuk kegiatan Ibu saja sehari-hari, Ibu tidak perlu lagi merisaukan biaya pendidikan Wisnu. Kini Mas Daniel yang akan menanggungnya, " ucap Kanza sambil mengalihkan pandangannya kearah Daniel untuk meminta tanggapannya.


"Betul Bu, saya akan mengirimkan uang kepada Ibu setiap minggu,kalau ada masalah, jangan sungkan untuk memberitahu kepada kami, " ucap Daniel merasa senang, kini Kanza telah memperhitungkannya dalam hidupnya.


Mobil yang membawa Daniel dan Kanza kini sudah melaju.Seorang sopir di tugaskan Rendy untuk mengantarkan Bos nya kembali ke Jakarta. Sedangkan Rendy harus menginap sehari di Desa Babakan untuk mengatur semua pembangunan di Desa Babakan tersebut.


Tangan Daniel tidak pernah lepas dari pinggang Kanza semenjak mereka memasuki mobil itu. Seakan tidak bisa diam mulut Daniel selalu mengendus rambut maupun pipi Kanza. Bahkan tak jarang Daniel ******* bibir Kanza bila Kanza sedang menghadap wajahnya ketika berbicara.


"Apa Mas Dani tidak malu dilihat pak sopir? " protes Kanza.


"Jangan coba-coba melirik kebelakang! kalau tidak ingin kepalamu melayang dari badanmu, " sarkas Daniel kepada sopir yang membawa mereka kembali ke Jakarta.


"Aihhh, selalu saja kamu menunjukkan kekuasaanmu, aku tidak suka, " ucap Kanza dengan wajah yang terlihat kesal.


"Untukmu tidak berlaku, "jawab Daniel singkat.Yang lalu memagut bibir Kanza dengan cepat supaya tidak melanjutkan omelannya.

__ADS_1


Kanza pun memukul tubuh Daniel dengan kuat. Tapi Daniel tidak menghiraukan hal tersebut. Daniel semakin tenggelam dengan aksinya hingga tidak menyadari mobil tersebut telah berhenti di pekarangan rumahnya.


__ADS_2