Mengapa Harus Saya?

Mengapa Harus Saya?
Bab 30.


__ADS_3

Seminggu sudah Kanza hidup di Kota Medan.Seminggu itu pula Kanza sibuk mengurus berkas-berkas yang di pergunakan untuk melamar pekerjaan.


Santi sahabatnya tidak bisa menemaninya karena harus bekerja.Santi bekerja di sebuah Bank swasta di kota itu.Santi hanya memberi petunjuk letak-letak Instansi tempat mengurus berkas-berkasnya tersebut.


Kanza pun mengurus surat-suratnya dengan semangat.Dia ingin segera mendapatkan sebuah pekerjaan di kota itu.


Setelah dua minggu,Kanza melihat garis dua biru pada pesannya yang dikirimkan kepada Daniel dua minggu lalu.Yang artinya pesannya telah di baca seseorang.


Jantung Kanza berdetak dengan kencang.Bayang-bayang wajah Daniel kini menari di pelupuk matanya.


"Apa artinya si keparat itu sudah sadarkan diri?" tanya kanza pada dirinya.


Tiba-tiba handphone Kanza berdering.Kanza terkejut melihat nama yang tertera di layar handphonenya.Secepat mungkin Kanza menekan tolak pada layar handphonenya.Kanza segera memblokir kontak Daniel di Handphone tersebut.


"Huuufffff!" lenguh Kanza menghempaskan nafasnya yang terasa sesak seketika.


Rasa cemas menggelayuti hati Kanza.Kanza segera mengeluarkan kartu Sim dari dalam Handphone nya.Dia tidak ingin Daniel bisa melacaknya.


Dengan hati yang diliputi kecemasan,akhirnya mata Kanza terlelap juga pada malam itu.


Sementara Daniel meronta turun dari atas ranjang.Para suster berusaha menahannya.Kondisi Daniel yang masih menghawatirkan membuat Dokter tidak memdengarkan perintah Daniel.


"Apa kamu ingin saya pecat? hah!" teriak Daniel pada Dokter yang menanganinya.


"Maafkan saya pak,tapi Bapak betul-betul belum di perbolehkan turun dari ranjang.Mengingat Bapak baru saja siuman," ucap Dokter tersebut dengan tubuh yang gemetar.


Dokter terpaksa menginstruksikan kepada perawat untuk mengikat kedua kaki dan kedua tangan Daniel ke ranjang.


"Keparat kau Farhan,tunggu saja hukuman dariku nanti,kepalamu akan ku pisahkan dari tubuhmu," teriak histeris Daniel.


"Hubungi Rendy! suruh dia ke sini segera," bentak Daniel kepada Dokter itu.


Dokter Farhan pun segera melakukannya.Diapun menghubungi Rendy dengan tangan yang masih gemetar.


Rendy menerima penggilan telepon dari Dokter Farhan dengan cepat.Dia menghawatirkan kabar apa yang akan disampaikan oleh Dokter Farhan kepadanya.


Begitu dia menerima panggilan itu,suara teriakan Daniel terdengar di telinganya.Rendy segera berlari dan mematikan sambungan telepon Dokter Farhan tanpa mendengar lebih dulu apa yang ingin di sampaikan kepadanya.


Rendy menginjak gas penuh pada mobilnya hingga tiba di Rumah sakit.


"Kembalikan Kanza ku sekarang juga!"teriak Daniel kepada Rendy begitu Rendy memasuki ruangan Daniel.


Rendy melihat Bos nya itu terikat pada ranjang.Dia mengerutkan keningnya lalu menatap tajam ke arah Dokter Farhan.


Kaki Farhan terlihat gemetar,dia ketakutan.

__ADS_1


" Sabar_dulu_pak Rendy,saya_bisa_menjelaskannya,"ucapnya terbata.


Rendy bergerak maju dan mencengkeram leher Dokter Farhan dengan kuat.


Para perawat yang menyaksikan hal itu merasa ketakutan,dengan wajah yang memucat.


"Beraninya kamu memperlakukan Bos Daniel seperti ini!!"ucap Rendy sambil mengeratkan kedua rahangnya,hingga suara giginya yang bersentuhan kuat terdengar oleh Dokter Farhan.


" Maafkan saya pak,ini demi keselamatan Pak Daniel,"tutur Dokter Farhan


"Saya bilang,Kembalikan Kanzaku segera!!" teriak Daniel kembali kepada Rendy.


"Apa yang kamu perbuat hingga Kanza ku mengetahui saya dalang dari semuanya?" teriak Daniel kepada Rendy dengan emosi yang meluap-luap.


Rendy pun segera melepas cengkeramannya dari leher Farhan.


"Maafkan saya Bos,Nona Kanza menguping pembicaraan saya kepada Bos tempo hari"ucap Rendy yang lalu berlutut kepada Daniel


" Maafkan saya,Bos!"ucap Rendy lirih.


"Keparat kamu Rendy,dasar kamu manusia tidak berguna,mati saja kaaauuu," teriak histeris Daniel kepada Rendy.


Melihat itu,Dokter Farhan segera menyuntikkan penenang ke tubuh Daniel.Emosi yang meluap dan gerakan yang berlebihan bisa membuat luka operasi Daniel berdarah kembali.


Tidak sampai dua menit,Daniel pun tertidur.


Rendy pun terdiam,Dia bangkit dari posisi berlututnya dan segera duduk di kursi disamping ranjang Daniel.Rasa bersalah yang mendalam menyelimuti hatinya.Dia tahu persis betapa Daniel mencintai Kanza.


ke esokan harinya,Daniel memaksa keluar dari Rumah sakit.Tidak ada yang bisa menahannya.Dokter pun meresepkan obat terbaik kepada Daniel yang di serahkan kepada Rendy.


Begitu Daniel masuk kedalam kamarnya,dia segera mengambil bingkai foto Kanza yang terletak di meja samping tempat tidurnya.Daniel mengelus wajah Kanza.air mata kini menetes dari matanya.


"Jangan meninggalkanku,jangan meninggalkanku," ucapnya berulang kali.


"Maafkan Mas mu ini,aku tidak bermaksud menyakitimu," ucapnya kembali setelah beberapa saat terdiam merenung.


Daniel kembali memeluk bingkai photo Kanza.Dia mengulangi tindakan dan perkataannya sampai larut malam.


Rendy tidak tahan melihat Bos nya seperti itu.Ketika dulu Friska meninggalkan Daniel,Daniel tidak sampai menitikkan air mata seperti ini.


Pelayan yang di perintahkan Rendy untuk mengantarkan makanan ke kamar Rendy kini sudah muncul di ambang pintu.Segera Rendy berdiri dan mengambil makanan tersebut dari tangan pelayan itu.


"Bos makan dulu,biar bisa minum obat," ucap Rendy pelan kepada Daniel.


Daniel memandang tajam ke arah Rendy,

__ADS_1


"Saya tidak ingin melihatmu ada disini,kamu telah menyebabkan Kanza ku pergi," ucap Daniel tajam.


"Saya akan pergi setelah Bos meminum obat," ucap Rendy.


Seketika Daniel menghempaskan makanan dan obat-obatan yang ada di atas nampan tangan Rendy.


"Saya bilang keluar,ya keluar!" teriak Daniel kepadanya


Rendy pun segera keluar,tidak ingin membuat Bos nya semakin marah.


Rendy menghubungi Dokter Farhan untuk segera datang ke villa Daniel.


Dengan gerakan cepat,Dokter Farhan menyuntikkan cairan penenang kepada Daniel,begitu Dokter Rarhan mempunyai kesempatan.Dan Dokter Farhan melanjutkan pemasangan infus berupa obat,vitamin dan makanan kepada Daniel ketika Daniel sudah tertidur.


"Cairan infusnya akan habis sebelum Pak Daniel terbangun,usahakan mencabut jarum infus sebelum Pak Daniel menyadarinya." perintah Dokter Farhan kepada perawat yang di bawanya untuk merawat Daniel.


Ke esokan harinya,sepulang menghadiri rapat penting di kantor,Rendy segera menuju ke villa Daniel.Tapi Rendy tidak menemukan Daniel di villa itu.Seluruh ruangan di sambangi Rendy namun tidak menemukannya.Perawat yang baru keluar dari dalam kamar mandi segera di interogasi Rendy.


"Tadi Pak Daniel memaksa ke luar pak,saya tidak bisa menghalanginya," tuturnya.


Segera Rendy menekan nomor telepon Daniel pada handphonenya.


"Nomor yang anda tuju tidak aktif,"pesan suara operator jaringan telepon tersebut.


" Akkhh!"teriak Rendy merasa putus asa.


"Kamu kemana Bos dengan kondisi seperti yang itu?"gerutu Rendy


Hari sudah mulai gelap,Rendy memacu mobilnya ketempat-tempat yang biasa di datangi Daniel.


Di tempat ke lima,akhirnya Rendy melihat sosok Daniel duduk bersama dengan beberapa wanita penghibur,Botol minuman berserak di mejanya.Beberapa botol telah terbuka dan beberapa masih tersegel.


Setengah berlari Rendy mendekati meja Daniel.Rendy segera menarik gelas dari genggaman Daniel yang diangkatnya ingin meneguk minuman betalkohol yang ada di dalamnya.


"Saya mohon Bos,hentikan!" pinta Rendy


Daniel memandang Rendy nanar.


"Saya tidak ingin melihat mu di sini,enyahlah!" sahut Daniel sambil menepis tangan Rendy yang hendak menyentuhnya.


"Saya siap menerima hukuman apapun,tapi mohon pulihkan dulu kesehatan tubuh mu," ucap Rendy.


"Kamu tidak perlu mengurusi ku lagi,aku membebaskan mu.Maka,pergilah!" ucap Daniel


Rendy terdiam mendengar ucapan Bos yang sekaligus sahabatnya itu.Tidak pernah Bos nya itu menyuruhnya pergi dari sisinya,walau dalam kesalahannya yang begitu besar selama ini.

__ADS_1


Hatinya perih mendengar perkataan Daniel sebenarnya,Tapi Rendy berusaha memahami kondisi Daniel saat ini.


Rendy kembali merampas gelas yang di angkat Daniel dan menuangkan isi gelas itu ke lantai.


__ADS_2