
Selama di perjalanan menuju kampung halamannya,suara isak tangis Daniel terus terngiang di telingan Kanza.Pelukan Daniel yang begitu hangat seakan masih melekat di tubuhnya.Tanpa sadar, Kanza menitikka air matanya entah karena hal apa.Hati Kanza serasa ikut perih bila mengingat isak tangis Daniel ketika memeluknya dengan erat.
Rasa galau terus menghinggapi hati Kanza.Mana yang harus dia percaya kini. Isak tangis Daniel seakan mematahkan kepercayaannya terhadap omongan Friska.Bagaimana seorang Daniel yang menjadikannya hanya sebuah pelarian,bisa sampai menitikkan air mata untuknya?.
"Huuufff! "Kanza membuang nafas dengan kasar. Rasa bimbang yang melandanya membuat otaknya tidak bisa menentukan yang mana yang harus dia percaya.
Sepanjang perjalanan menuju kampung halamannya, Kanza tidak sedikitpun bisa menikmati pemandangan. Hamparan sawah di pinggir jalan dan perbukitan yang terlihat berjejer rapi tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Daniel.
Ibu Ningsih telah berdiri di ambang pintu menunggui kedatangan Kanza.Sedari pagi Ibu Ningsih telah repot memasak makanan kesukaan putrinya tersebut.
Senyum pun mengembang di wajahnya begitu melihat sosok Kanza turun dari bus yang membawa putrinya tersebut.
"Bagaimana keadaan mu,nak? " tanyanya sambil memeluk erat Kanza.
"Baik, Bu! apa ibu dan Wisnu baik-baik? " tanya balik Kanza.
"Baik, itu Wisnu lagi mengerjakan tugas sekolahnya di meja belajarnya, " jawab Ibu Ningsih.
Ibu Ningsih segera mengarahkan Kanza masuk ke rumah.
Sepanjang malam Ibu Ningsih dan Kanza bercerita panjang lebar.Kanza pun menceritakan apa yang di laluinya bersama Daniel. Tapi Kanza menutupi Fakta kematian Lukman. Kanza harus berfikir dua kali untuk memberitahu kebenaran tentang kematian Lukman.Karena akan membuat kegaduhan di kampung halamannya,yang hanya akan meninggalkan pilu di hati Bibi Melda, Ibunya Lukman.
"Sepertinya Daniel itu benar-benar jatuh hati kepadamu, " Begitu tanggapan Ibu Ningsih mendengar cerita Kanza tentang Daniel.
Tiga hari kini Kanza berada di kampung halamannya. Otaknya kini berkurang memikirkan Daniel. Sahabat masa kecilnya yang silih berganti menyambangi rumahnya membuat Kanza melupakan Daniel. Kanza pun asyik bermain dengan sahabat-sahabat nya seperti dulu.
Seperti hari ini, Kanza berangkat pagi-pagi buta untuk mengantarkan snack untuk orang yang bekerja di ladang Frida, sahabatnya.Kemarin Kanza telah berjanji akan membuatkan snack untuk para Ibu-ibu kampung yang bekerja di sawah Frida untuk mendapatkan upah.
Dengan menenteng kue yang di buatnya sedari subuh, Kanza menyusuri pematang sawah yang harus di lewati untuk mencapai sawah keluarga Frida.
"Kanza kapan datangnya? " sapa Ridwan. Pemuda yang dulu di taksir Kanza sedari kecil.
__ADS_1
Kanza terkejut mendengar suara yang begitu tidak asing di telinganya ketika melewati gubuk yang ada di persawahan keluarga Ridwan.
"Eh, Mas Ridwan kapan datang? " tanya Kanza balik berusaha menenangkan debar jantungnya.
Seakan terhipnotis Kanza memandangi semua bagian tubuh Ridwan.Tubuh Ridwan kini semakin kekar dan berotot, wajahnya pun semakin berkarisma dan semakin tampan saja.
"Aiihh, di tanya, malah nanya, " jawab Ridwan tersenyum.
"Mas, tiba tadi malam. kalau Kanza? " lanjutnya
"Sudah tiga hari Mas, " jawab Kanza dengan malu-malu.
Dari kecil Kanza mengagumi sosok Ridwan.Ketampanan wajah Ridwan dan kepribadian Ridwan yang baik hati,yang selalu ringan tangan membantu para penduduk, membuat Kanza selalu melirik Ridwan diam-diam.Namun sepertinya Ridwan tidaklah memperhatikan Kanza.
Ridwan selalu memperlakukan setiap gadis di desanya dengan sama rata.Banyak gadis desa yang berusaha mencari perhatian Ridwan. Salah satunya ialah Novi. Gadis tercantik dan anak juragan Mang Un di desa Kanza.Kanza pun berusaha menekan perasaannya kepada Ridwan.Kanza merasa tidak bakal bisa bersaing dengan Novi.Kanza pun berusaha menghindari Ridwan.
"Mas, dengar Kanza mengelola toko kue di Jakarta? apa masih sempat pulang kampung seperti ini? " tanya Ridwan.
"Sudah tidak lagi Mas, sekarang lagi pengangguran, tidak ada kerja, " balas Kanza
"Karena Mas mendapat kabar kalau kamu lagi pulang kampung, " beber Ridwan yang memang mendapat kabar dari adiknya ketika Ridwan menelepon Orang tuanya untuk memberi kabar ke pulangannya minggu depan.Tapi Rena yang giliran berbicara kepadanya memberitahu kepulangan Kanza kepadanya.
"Sama dong dengan kakaknya Mas Wisnu, pulang kampung juga, " celotehnya kepada Ridwan.
"Maksudmu, Mbak Kanza ya? " tanya Ridwan semangat.
"Iya, sudah dua hari di sini, " jawabnya.
Ridwan pun langsung mengubah jadwal kepulangannya.Hari itu juga, Ridwan bergerak ke stasiun kereta untuk segera berangkat menuju desa Babakan.
Wajah Kanza bersemu merah, jantungnya kini berdetak semakin tidak terkontrol.
__ADS_1
"Mas Ridwan ada-ada saja, " jawab Kanza malu-malu
"Saya sengaja menungguimu disini, Mas ingin melihat kamu, Mas Rindu." ucap Ridwan terus terang.
Begitu tiba di rumah, setelah berbasa basi dengan kedua orangtuanya dan adiknya, Ridwan keluar dari rumah bermaksud ingin menemui Kanza kerumahnya.Tapi pertemuannya dengan Frida mengurungkan niatnya untuk melanjutkan langkahnya.
"Kanza sudah tidur tuh, besok pagi-pagi buta dia akan membuat kue untuk snack Ibu-ibu yang bekerja di sawah kami,sawah yang tetanggaan dengan sawahmu, " tutur Frida setelah berbasa basi saling bertanya kabar.
"Mas Ridwan mau di bagi kue nya, ya? makanya menunggu Kanza di sini? " tanya Kanza berusaha tenang.
"Boleh, kue buatanmu sudah pasti enak, " jawab Ridwan
Kanza pun segera membuka bungkusan kue nya dan membaginya kepada Ridwan.
Sedangkan Ridwan tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari wajah Kanza.Hingga membuat Kanza jadi salah tingkah.
Sebenarnya,Sudah lama Ridwan jatuh hati kepada Kanza, tapi Ridwan tidak berani mengungkapkannya, melihat tingkah Kanza yang seolah tidak tertarik terhadap dirinya. Apalagi ada Lukman yang selalu menempel kepada Kanza.
Hingga pertemuannya yang terakhir dengan Frida setahun yang lalu.Frida mengungkapkan bahwa Kanza begitu mengidolakan dirinya dan menaruh hati kepadanya sejak dulu.
Sebenarnya saat itu juga, Ridwan ingin segera menyambangi Kanza ke Jakarta. Namun pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan. Usaha yang baru dirintisnya di semarang butuh penanganan yang intensif.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya mas,kasihan Ibu-ibu sudah pada menunggu, " ucap Kanza.
"Kalau Kanza mengijinkan, Mas mau mengajak Kanza ke danau sore ini, " pinta Ridwan.
Jantung Kanza berdetak dengan kencang. Tiba-tiba wajah Daniel menari di kepala nya. Namun akhirnya Kanza menyetujui ajakan Ridwan tersebut. Dengan syarat, Frida harus turut serta.
Kanza pun melanjutkan langkahnya menuju sawah Frida. Ibu-ibu begitu senang bisa memakan kue buatan Kanza yang begitu enak.
Sore hari, Kanza dan Frida berjalan menuju Danau yang ada di desa babakan tersebut. Danau itu memiliki pemandangan yang begitu indah. Air nya juga begitu jernih. Sehingga danau itu tidak pernah sepi dari pengunjung. Warga desa tetangga silih berganti mengunjungi danau itu dan berenang di sana.
__ADS_1
Ridwan telah lebih dulu menunggui mereka disana dengan membawa makanan dan minuman ringan.Ridwan duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon rindang yang tumbuh di pinggir danau.
Dengan hati gemuruh Kanza mendekat kearah Ridwan.Ridwan segera mempersilahkan Kanza dan Frida untuk duduk. Tapi Frida melangkah menjauh setelah berbasa-basi sebentar dengan merekan. Frida pun berenang untuk mengisi waktunya selama menunggui kedua insan tersebut saling menuntaskan isi hati dan perasaan masing-masing.