Mengapa Harus Saya?

Mengapa Harus Saya?
Bab 41.


__ADS_3

Daniel mendaratkan tubuhnya di kursi yang terletak di samping Kanza. Daniel segera menyerobot sendok makan yang ada di tangan Kanza dan merebut makanan dari piring Kanza.Kanza memelototi Daniel. Seakan tidak terpengaruh, Daniel melanjutkan makan nya dari piring Kanza.


"Kalau lapar ngomong dong, biar ku buatin untuk Mas Dani, "sungut Kanza.


" Tadi Ibu telah membuatkan aku sarapan, saya masih kenyang, "jawab Daniel


" Masih kenyang, ko, serobot makanan orang? "celetuk Kanza kesal.


" Hanya ingin makan sepiring dengan mu, "ucap Daniel enteng


" Ihh! apa Mas tidak malu kalau dilihat oleh Ibu? "tanya Kanza kesal


" Ibu baru pergi ke sawah, sedangkan Wisnu lagi belajar di sekolah, "tutur Daniel.


Kanza menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa canggung berhadapan dengan Daniel seperti ini.


Daniel memandangi wajah Kanza, hingga membuat wajah itu berubah merah.


" Bagaimana kalau kita menyusul Ibu kesawah? "usul Daniel untuk mengalihkan situasi yang mulai menjurus kedalam kecanggungan.


Kanza mengerutkan keningnya mendengar ucapan Daniel barusan.


" Apa Mas Daniel pernah menginjak sawah? "tanya Kanza


" Belum,maka itu, Mas pingin.Mau,yah? "bujuk Daniel.


Sebenarnya Daniel hanya ingin menunjukkan dirinya terhadap warga sekitar. Supaya tidak ada lagi yang berani mendekati Kanza seperti pria tadi malam.


" Nanti Mas gatal-gatal, "ujar Kanza.


" Tak mengapa, nanti bisa di obati, "kilah Daniel.


Akhirnya Kanza mengalah, dia menyetujui usul Daniel tersebut. Walaupun dalam hati Kanza merasa merasa tidak percaya seorang Daniel permana menginjakkan kakinya di sawah.


" Kalau begitu, Mas Daniel pakai baju lengan panjang saja, jangan kaos seperti ini, saya akan mengambilkan topi untuk Mas Daniel, "ucap Kanza yang lalu pergi kedalam kamarnya mengambilkan topi untuk Daniel.


" Tok, tok, tok, "suara ketukan di pintu.


Kanza segera berlari ke arah pintu depan dan mendapati Daniel telah membukakan pintu untuk tamu yang datang berkunjung.


" Kenapa tidak di suruh masuk mas? "tanya Kanza yang merasa heran Daniel tidak mempersilahkan orang yang mengetuk pintu tersebut masuk ke dalam rumah. Bahkan terkesan menghalangi langkah orang tersebut masuk ke dalam rumah.


" Tidak perlu, "jawab Daniel dengan suara datarnya yang membuat Kanza penasaran siapa orang yang datang bertamu ke rumahnya.


Kanza pun menyingkap gorden jendela,dan mendapati Ridwan sedang bersitatap dengan Daniel.


Suasana tegang begitu terasa di antara ke duanya.


Segera Kanza mendorong tubuh Daniel yang menghalangi jalannya Ridwan.


"Silahkan masuk, Mas! " ucap Kanza kepada Ridwan.

__ADS_1


Ridwan pun segera melangkahkan kakinya masuk ke rumah Kanza.


"Mas, mau minum apa? " tawar Kanza kepada Ridwan, setelah Ridwan mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu Kanza


"Terserah Kanza saja, " jawab Ridwan lembut


Wajah Daniel memerah menahan emosi dan api cemburu di dalam hatinya.Daniel mengikuti langkah Kanza ke dapur.


Daniel menarik tangan Kanza di dapur hingga Kanza menghadap Daniel.


"Mas mohon, jangan membuat Mas cemburu seperti ini, Mas takut tidak dapat mengendalikan emosi Mas terhadap pria itu,seperti kepada Lukman dulu" pinta Daniel dengan wajah yang memelas kepada Kanza.


Kanza terhenyak mendengar ucapan Daniel. Kanza tidak ingin Daniel berbuat kejahatan lagi. Apalagi dengan alasan dirinya.


"Kanza, Mas mau mengungkapkan perasaan Mas yang sebenarnya ke pada kamu, Mas begitu dalam mencintaimu, Mas tidak tahan melihat ada pria lain mendekatimu. Mas tidak memintamu mencintai Mas, hanya bisa melihatmu saja tanpa ada pria lain di sisimu itu sudah cukup bagi Mas," ucap Daniel.


Kanza terdiam mendengar ungkapan cinta Daniel kepada dirinya.Hati Kanza berdesir di buatnya.


"Tapi dia hanya sahabat ku Mas, bukan pacarku, " ucap Kanza membela dirinya.


"Tapi pria di ruang tamu itu tidak berfikir demikian, " sanggah Daniel.


Kanza kembali terdiam mendengar kenyataan yang di ungkap Daniel.


"Jadi saya harus bagaimana sekarang? " tanya Kanza bingung bagaimana caranya untuk meladeni Ridwan yang berada di ruang tamu rumahnya.


Daniel menangkup wajah Kanza dengan kedua tangannya. Dia mengecup kedua pipi Kanza.


Kanza pun duduk di meja makan.Kanza tidak ingin membuat hati Daniel murka akibat tingkahnya yang berakibat fatal kepada orang lain. Atau mungkin karena cintanya kepada Ridwan yang telah terkikis oleh Daniel.


Tidak menunggu lama, Daniel sudah kembali ke dapur.


"Sudah pergi? " tanya Kanza merasa heran.


Daniel menganggukkan kepalanya.


"Mas, bilang apa padanya? " tanya Kanza penasaran.


"Rahasia pria, " jawab Daniel dengan singkat.


Kanza memajukan bibirnya merasa kesal dengan jawaban Daniel.


Ingin rasanya Daniel ******* bibir Kanza yang di majukannya tersebut.


"Kita sudah bisa berangkat menyusul Ibu, kan? " tanya Daniel untuk mengalihkan suasana.


Kanza pun segera berdiri dan melangkah keluar rumah pergi ke sawah,Kanza pun memimpin jalan ke sawah mereka.


"Perkenalkan aku sebagai pacarmu, ya? aku tidak ingin gadis-gadis desa ini jatuh hati kepadaku, " ucap Daniel kepada Kanza mengucapkan kebalikan dari yang di pikirkannya.


setelah terdiam lama, Kanza pun menganggukkan kepalanya. "Apa yang di ucapkan Daniel ada betulnya juga, " batin Kanza.

__ADS_1


Sepanjang jalan, tidak sedikit warga desa yang menyapa mereka dan bertanya siapa Daniel. Kanza dengan malu-malu menjawab bahwa Daniel adalah pacarnya.


Tiba-tiba Frida menarik Kanza ke pinggir jalan


"Siapa tuh? " tanyanya bersemangat kepada Kanza.


"Saya pacar Kanza, " jawab Daniel mencela omongan Frida.


Frida pun menutup mulutnya yang menganga lebar. Dia berusaha meminta penjelasan dari Kanza.


Dengan terpaksa Kanza menganggukkan kepalanya.Yang sebenarnya Kanza tidak ingin berbohong kepada sahabatnya itu.


Frida pun merasa kecewa dengan anggukan Kanza. Wajah Daniel dan tubuhnya yang atletis begitu menarik perhatian Frida.Bukan hanya Frida, bahkan Ibu-ibu juga menggunjingkan ketampanan Daniel.


"Terimakasih telah menyelamatkanku, " ucap Daniel ketika mereka tiba di sawah Kanza.


Ibu Ningsih terkejut melihat kedatangan Kanza membawa serta Daniel.


"Kenapa membawanya kemari? " tanya Ningsih


"Tanya Mas nya saja Bu,Mas nya yang ngotot kemari, " jawab Kanza.


"Saya yang ingin melihat persawahan Bu, " sela Daniel.


"Apakah tadi terjatuh? " tanya Ningsih melihat celana dan baju Daniel berlumur lumpur.


"Tadi hanya kurang hati-hati saja Bu, " jawab Daniel.


"Bukan tidak hati-hati, tapi tidak tau cara berjalan di pematang sawah, " cibir Kanza.


"Yakinlah, besok Mas tidak akan terjatuh lagi, " kilah Daniel.


"Emang masih ada besok? " tanya Kanza heran dengan jawaban Daniel.


"Selama kamu disini, Mas juga akan di sini," bisik Daniel ke telinga Kanza ketika Ibu Ningsih mengalihkan pandangannya dari mereka.


"Ibu lagi kerja apa? " tanya Daniel kepada Ibu Ningsih.


"Lagi mencabut rumput yang tumbuh di antara padi, " jawab Bu Ningsih.


Daniel memperhatikan sawah yang di tumbuhi padi tersebut tapi tidak menemukan adanya rumput liar di sana.


"Bisa Ibu mengajari saya membedakan rumput dengan padi? biar saya bisa membantu Ibu, " pinta Daniel.


Seketika Ningsih dan Kanza mengerutkan keningnya merasa heran.


"Tidak usah, Nak Daniel tidak pantas turun ke sawah, itu akan menyulitkan Nak Daniel, " tolak Ningsih.


"Tidak apa Bu, aku ingin mencobanya, " bujuk Daniel


Dengan terpaksa Ningsih mengajari Daniel untuk membedakan antara rumput dengan padi,yang kadang terlihat sama.

__ADS_1


Daniel pun dengan sungguh-sungguh mengikuti setiap Instruksi Ibu Ningsih. Daniel pun ikut membersihkan padi di sawah Ibu Ningsih, hingga siang hari. Walau terkadang, Daniel salah dan mencabut rumput


__ADS_2