
Pagi ini Kanza sedang menikmati sinar matahari pagi.Pagi ini udaranya begitu terlihat cerah.
Begitu Daniel berangkat ke kantor, Kanza langsung menuju taman belakang. Kanza duduk di kursi yang tidak terhalang pepohonan untuk mendapatkan sinar matahari pagi.Kanza ingin mendapatkan vitamin D untuk kesehatan tubuhnya dan untuk pertumbuhan bayi yang ada di perutnya.
Kanza berjemur sambil menikmati indahnya pemandangan yang di suguhkan oleh bunga-bunga yang sedang bermekaran di taman belakang itu.
Aroma dari bunga-bunga yang sedang bermekaran dan kupu-kupu yang berwarna warni beterbangan kesana kemari, membuat Kanza semakin betah berlama-lama di taman itu.
Kanza sedang memoerhatikan kupu-kupu yang beterbangan kesana kemari mengisap madu pada pucuk bunga yang sedang mekar. Tiba-tiba sebuah notif pesan masuk ke dalam handphone nya.
Karena Kanza mengira itu pesan dari Daniel, Kanza pun segera meraih handphonenya yang dia letakkan di atas meja taman itu.
Kanza mengerutkan keningnya setelah mendapati bahwa pesan tersebut bukanlah dari suaminya, tetapi dari sebuah nomor kontak yang dia tidak kenal.
Kanza merasa penasaran dengan isi dari pesan yang dikirimkan oleh orang tersebut, Kanza pun membukanya.
Kanza begitu terkejut melihat isi video yang di kirimkan orang tersebut kepadanya. Isi video itu memperlihatkan Daniel sedang menembak seseorang di tepi laut. Ketika peluru mengenai kepala si korban, Si korban langsung terjatuh ke dalam laut.Dengan segera Daniel pergi meninggalkan tempat itu.
Jiwa Kanza serasa terguncang melihat video tersebut.Dia tidak mengira isi dari video itu menunjukkan perbuatan suaminya yang sedang membunuh orang. Kanza terlihat syok setelah melihat video tersebut.
Tetapi Kanza seolah mengenal orang yang di tembak mati oleh suaminya itu. Sehingga Kanza memutar video itu berulang ulang sambil berusaha mengingat ingat siapa korban tersebut.Tetapi Kanza tidak bisa mengingatnya.
Tiba-tiba sebuah notif kembali masuk ke dalam handphone Kanza.
Kanza segera membuka pesan yang baru masuk tersebut.
"Masih ingat kejadian ini? yang di tembak suamimu ini adalah Simon Perez anak dari Reynold Perez. sampai di sini, paham kan? "
Begitu isi dari pesan yang baru masuk ke handphone Kanza.
Seketika Kanza mengingat siapa orang tersebut.
Ya, Dia adalah Simon Perez, Anak dari Reynold Perez yang terbunuh dengan misterius sepuluh tahun yang lalu. Kabarnya sempat menghebohkan jagad raya saat itu. Waktu itu Reynold Perez masih menjabat sebagai Walikota di negri ini.
__ADS_1
Polisi sibuk melakukan peyelidikan untuk mengungkap siapa dalang dari pembunuhan tersebut. Dan seorang pria yang bernama Julianus di tetapkan sebagai tersangka saat itu.
Tetapi video yang Kanza terima membuka kenyataan bahwa suaminyalah yang membunuh Simon Perez sebenarnya.
Tubuh Kanza bergetar. Bayang-bayang kekejaman suaminya bergerilya di dalam otak Kanza.
"Entah sudah berapa orang yang telah di bunuhnya, " tanya Kanza dalam hati.
Tetapi mengingat janji yang di ucapkan Daniel sebelum pernikahan mereka, membuat Kanza berusaha untuk tidak membenci Daniel.
"Semua orang pasti memiliki masa lalu, " batin Kanza.
Kanza percaya dengan janji yang di ucapkan oleh suaminya itu. Bahwa suaminya itu tidak akan pernah lagi menghilangkan nyawa seseorang.
Yang membuat Kanza merasa terguncang adalah, bayang-bayang Daniel yang mendekam di jeruji penjara. Pasalnya, Reynold yang dulu menjabat sebagai Walikota, kini telah menjadi seorang Mentri di negeri ini.
Sebuah notif pesan kembali masuk ke dalam handphone nya. Dengan tangan yang gemetar, Kanza membuka pesan tersebut.
Isi pesan ke tiga.
Kepala Kanza semakin berdenyut setelah membaca isi dari pesan ke tiga. Tubuh Kanza terasa lemas, dan keringat dingin mendera tubuhnya.
Kanza bingung harus bagaimana. Kanza tidak mungkin memberitahukan Daniel. Kanza tidak ingin membahayakan suaminya tersebut.
Anjuran dari orang tersebut, yang menyuruhnya meninggalkan Daniel secara diam-diam mengisyaratkan bahwa masalah ini tidak boleh di ceritakannya kepada Daniel.
Lama Kanza termenung di kursi taman itu. Dia diam bagaikan patung yang tidak bergerak. Hingga seorang Maid menggoyangkan badannya, baru Kanza menoleh kearah Maid tersebut.
"Nyonya kenapa? " tanya Maid tersebut dengan panik. Wajah Kanza terlihat pucat dan di penuhi dengan keringat.
Kanza pun menggelengkan kepalanya lemah.Dia tidak mungkin menceritakannya kepada Maid itu.
"Tidak apa-apa, tolong papah saya masuk, " pinta Kanza kepada Maid tersebut.
__ADS_1
Maid tersebut dengan sigap memapah Kanza masuk, hingga membaringkan Kanza ke atas tempat tidur.
"Apa tidak sebaiknya saya menelepon Dokter untuk memeriksa keadaan Nyonya? " usul Maid tersebut.
"Tidak usah, saya hanya butuh istirahat saja, " ucap Kanza.
"Tapi wajah Nyonya terlihat pucat, saya takut terjadi apa-apa dengan Nyonya, " ucap Maid tersebut berusaha untuk membujuk Kanza. Karena memang, Maid tersebut kawatir melihat keadaan Kanza.
"Tidak perlu, saya jamin saya tidak akan kenapa napa, kamu tidak usah kawatir. Kamu tidak perlu menelepon Dokter, maupun memberitahu Tuan Daniel, " pinta Kanza.
"Baiklah Non, saya keluar dulu, biar Nyonya bisa beristitahat, "
"Ingat, supaya tidak memberitahu Tuan Daniel, " ucap Kanza berusaha mengingatkan Maid tersebut.
Kanza bingung untuk menentukan tindakan apa yang harus dia ambil. Kanza tidak rela kalau harus meninggalkan Daniel. Apalagi Kanza dalam keadaan hamil seperti ini. Tetapi, Kanza juga tidak mau melihat suaminya berada di balik jeruji besi.
Kanza pun segera menghapus semua pesan yang dikirimkan orang yang dia tidak kenal tadi kepadanya. Kanza takut Daniel melihat video tersebut.
Sore harinya, Kanza berusaha menegarkan dirinya dan juga tubuhnya. Kanza tidak ingin Daniel mencurigainya menggagap dia sedang sakit yang akan menimbulkan kehebohan.
Seperti biasa, Kanza menyambut kedatangan Daniel di teras rumahnya. Kanza berusaha mengembangkan senyumnya semanis mungkin.
Sebenarnya, ketika dia melihat Daniel, air matanya sudah berada di pelupuk matanya. Tetapi Kanza berusaha menahannya supaya tidak terjatuh. Walau demikian, Daniel tetap menyadari ada sesuatu yang berbeda pada Kanza.
"Apa kamu lagi tidak enak badan, " tanya Daniel sambil memperhatikan wajah Kanza.
Dengan cepat, Kanza mengalihkan pandangannya dari Daniel.
"Saya baik-baik saja Mas, " jawab Kanza setenang mungkin.
"Tapi matamu terlihat sayu, apa betul kamu baik-baik saja? " ucap Daniel berusaha memastikan keadaan Kanza.
"Iya, Mas, saya baik-baik saja, Mas tidak usah kawatir" jawab Kanza sambil menyeret tangan Daniel masuk ke dalam rumah untuk mengalihkan perhatian Daniel.
__ADS_1