
Daniel dan Kanza hidup berbahagia tanpa ada yang mengganngu dalam beberapa bulan ini. Yang membuat Kanza kesal hanya sikap Daniel yang selalu over protektif terhadap dirinya.
Dokter mengakatan, bahwa Kanza akan melahirkan dalam minggu-minggu ini. Sehingga Daniel selalu waspada setiap saat, dan selalu memperhatikan Kanza dari kamera pengintai, yang di pasangkan Daniel ketika kehamilan Kanza berumur lima bulan, waktu itu.
Kanza pun selalu di ikuti seorang Maid kemanapun ia melangkah. Ini adalah perintah Daniel.
Tepat seminggu kemudian.Pada pagi hari, Kanza merasakan mulas pada perutnya. Dengan panik Daniel melarikannya ke Rumah sakit. Daniel tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Kanza dan bayi nya.
Dokter segera memeriksa kandungan Kanza, begitu tiba di Rumah sakit.
"Ini, sudah harinya. Saya harap Nyonya Kanza berjalan-jalan dulu untuk mempercepat pembukaan jalan pada bayi, " pinta Dokter kandungan tersebut kepada Kanza.
"Apa Dokter tidak melihat istri saya sering-sering kesakitan seperti ini? kenapa Dokter malah suruh jalan lagi? " protes Tuan Daniel.
"Itu akan membantu Nyonya untuk lebih cepat melahirkan bayinya Tuan,Kalau mau melahirkan dengan normal, kita harus semangat melakukan pergerakan, " tutur si Dokter
"Kalau begitu, operasi saja. Biar istriku tidak kesakitan seperti ini, " serang Daniel karena kasihan mrlihat Kanza yang begitu kesakitan sejak tadi.
Mendengar perkataan Daniel, Kanza menggelengkan kepalanya tidak setuju.Walaupun dia sedang merasakan sakit akibat kontraksi yang terjadi di perutnya.
Hampir tiga jam Kanza berjuang menahan sakit untuk melahirkan bayinya.
Tahap demi tahap Kanza nikmati untuk menjadi seorang Ibu yang seutuhnya. Kanza tidak ingin melakukan proses operasi untuk melahirkan anaknya. Kanza ingin sepenuhnya mengalami perjuangan seorang Ibu untuk melahirkan buah hatinya.
Sejujurnya, teriakan Dan bentakan Daniel kepada semua petugas medis yang membuat Kanza kurang nyaman. Setiap kali perut Kanza mengalami kontraksi yang menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, Daniel akan berteriak dan memaki Dokter dan perawat yang menanganinya.
Walau demikian, para petugas medis tersebut, tidak bisa berbuat apa. Daniel adalah pemilik Rumah Sakit ini.
__ADS_1
Akhirnya, Kanza pun melahirkan seorang anak laki-laki. Tangis Daniel pecah ketika Kanza berhasil melahirkan bayinya. Sejujurnya, tubuh Daniel selalu bergetar ketakutan ketika Kanza berteriak menahan sakit akibat kontraksi yang melanda perutnya. Daniel begitu takut terjadi sesuatu terhadap Kanza.
"Terimakasih ya, kamu sudah bertahan untuk ku, " ucap Daniel sambil mengecup kening Kanza berkali-kali.
"Mana bayi kita? " tanya Kanza merasa penasaran dengan bayi yang di lahirkannya.
"Tunggu sebentar, perawat masih membersihkan bayi kita, " jawab Daniel.
Tidak begitu lama, Perawat pun menyerahkan Baby boy kepada Kanza. Kanza memandangi wajah Putra yang baru di lahirkannya.
"Tampan.Seperti Ayahnya, " batin Kanza. Tanpa sadar, Kanzapun menitikkan air mata bahagianya.
Begitu, Tuan besar dan Nyonya Permana mendapat kabar tentang kelahiran Cucu pertama mereka. Jam itu juga, mereka berangkat menuju Indonesia. Ada rasa bahagia yang begitu meluap di hati keduanya. Terlebih Nyonya besar Permana. Cucu yang sudah lama di nantinya, akhirnya datang terwujud juga.
Demikian juga dengan Ibu Ningsih. Daniel segera memerintahkan supir untuk menjemput Ibu Ningsih ke kampung Babakan.
Seyum yang tercipta di setiap individu keluarganya, menambah kebahagiaan bagi Kanza.
"Cucu ku..., " teriak Nyonya besar Permana ketika pintu mobil di buka. Dengan sigap Nyonya besar Permana mengambil bayi tersebut dari gendongan perawat yang ikut bersama mereka.
Serentak ketiga orang yang merasa mempunyai cucu, membawa bayi tersebut ke dalam rumah. Seolah tidak memperdulikan lagi keberadaan Kanza yang ada di gendongan Daniel.Mereka asik meneliti wajah Baby boy, mirip dengan siapa?
"Apa tidak ada yang menyelamatiku? " ucap Kanza ketika melewati para orangtua tersebut.
Serentak orang tua tersebut mengalihkan perhatiannya kepada Kanza.
Daniel pun mendaratkan tubuh Kanza pada sofa dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Aduh, sampai lupa. Selamat ya sayang. Kamu perempuan hebat. Mami bangga padamu, " ucap Nyonya besar Permana sambil mengecup pipi kiri dan kanan Kanza dengan gemas.
"Selamat ya untuk mu menantu ku. Kehadiran mu di keluarga besar Permana membawa kebahagiaan yang begitu besar, " puji Tuan Permana.
"Kanza mau hadiah apa dari Papi? "
"Tidak ada Pi, kasih sayang Mami, Papi sudah lebih dari cukup, " jawab Kanza.
Tidak lupa, Ibu Ningsih pun mengucapkan selamat kepada putrinya tersebut sambil memeluknya erat.Air mata Ibu Ningsih membasahi wajah Kanza ketika Ibu Ningsih mencium wajah Kanza.
"Ibu jangan nangis, ah! nanti Kanza ikut nangis lagi, " ucap Daniel
"Ibu merasa bahagia nak, " jawab Ibu Ningsih.
"Mas Dani juga tadi nangis, " celetuk Kanza.
"Kalau menantuku Kanza tidak menginginkan hadiah dari Papi, berarti hadiah nya Papi alihkan kepada Ibu Ningsih, " ucap Tuan Permana.
Ucapan Tuan Permana membuat semua orang mengerutkan kening.
"Sebuah rumah tidak jauh dari sini, telah saya sediakan sebagai hadiah untuk Kanza. Saya harap Ibu bersedia menerimanya dan tinggal di sana bersama Wisnu. Supaya Ibu Ningsih bisa sering-sering menjenguk cucu kesayangan kita ini, " pinta Tuan Permana.
Sebenarnya, Ibu Ningsih enggan untuk menerima hadiah yang begitu besar dari Tuan Permana. Tetapi atas desakan Nyonya Permana dan menantunya Daniel, akhirnya Ibu Ningsih pun bersedia menerima rumah tersebut dan bersedia tinggal di sana.
Seminggu sudah Tuan dan Nyonya Permana tinggal di rumah Daniel. Demikian juga dengan Ibu Ningsih. Keakraban dan kekeluargaan begitu terlihat di antara mereka. Kehadiran Baby boy telah menjalin kekeluargaan diantara kedua belah pihak. KELUARGA MEREKA PUN HIDUP BERBAHAGIA.
TAMAT
__ADS_1
Jangan lupa,like dan komennya ya!