Mengapa Harus Saya?

Mengapa Harus Saya?
Bab 40


__ADS_3

Selama makan malam berlangsung, Daniel selalu mencuri pandang kepada Kanza.Kanza pun sering kikuk di buatnya.


"Mas Daniel ini, Bos nya Mbak Kanza ya? "tanya Wisnu kepada Kanza.


"Bukan, Mas ini temannya Mbak mu, bukan Bos nya, "sahut Daniel.


" Hebat juga Mbak Kanza bisa punya teman setajir dan secakep Mas Daniel, "puji Wisnu sambil memandang ke arah Kanza.


Kanza pun memelototi Wisnu sambil menendang kaki adiknya tersebut di bawah meja.Karena menurut Kanza, adiknya tersebut terlalu banyak bicara.


Daniel tersenyum melihat aksi Kanza.


"Bagaimana sekolahmu? setelah lulus,ingin melanjutkan sekolah ke mana? " tanya Daniel ingin melerai pertikaian antara kakak beradik itu.


"Pengennya sih mau masuk kedokteran, tapi mana ada uang Ibu membiayai kuliah ku nanti, " ucap Wisnu dengan wajah sedih.


"Sudah tahu Ibu tidak sanggup,kenapa tidak ganti cita-cita? " celetuk Kanza


Daniel memandang tajam kearah Kanza. Ucapan Kanza barusan seakan berusaha menantang Daniel. "Kenapa dia susah sekali untuk menganggapku ada? " batin Daniel.


Mendapat tatapan tajam dari Daniel, Kanza kembali menundukkan kepalanya.


"Kalau Ibu mungkin tidak sanggup, tapi Mbak mu sanggup, " celetuk Daniel kepada Wisnu.


Seketika Kanza mengangkat kepalanya dan menatap tajam kearah Daniel.


"Jangan memberi harapan palsu kepadanya, posisiku sekarang saja tidak bekerja, bagaimana bisa mengumpulkan uang kuliahnya dalam waktu delapan bulan? " serang Kanza


"Kamu bisa bekerja di perusahaanku dan bisa mengambil pinjaman dari sana," tutur Daniel datar berusaha mengikat Kanza di sisinya.


"Apa betul bisa Mas? " tanya Wisnu dengan girang.


"Semua tergantung Mbak mu, " ucap Daniel


Kanza yang merasa di sudutkan memandang tajam Daniel.Ingin rasanya Kanza menolak mentah-mentah.Tapi melihat wajah berseri adiknya Kanza pun berkata"Akan Mbak usahakan, "


Setelah makan malam, Kanza bingung mau menempatkan di mana Daniel dan Rendy tidur malam ini.Di rumahnya hanya ada tiga kamar, kamar Ibu, kamar Wisnu dan kamarnya. Itu pun ruangannya hanya tiga kali tiga meter, kecuali kamar ibu berukuran empat kali empat meter.

__ADS_1


Akhirnya Kanza pun tidur di kamar Ibu, Daniel pun menempati kamar Kanza. Sementara Rendy menompang di kamar Wisnu.


Daniel begitu bahagia bisa tidur di kamar Kanza. Dengan senyum yang mengembang,Daniel memasuki kamar Kanza. Uap dari tubuh Kanza seperti udara segar bagi Daniel.Daniel memandangi semua photo-photo Kanza yang menempel di dinding kamarnya. Senyum Daniel terus mengembang setiap melihat photo Kanza yang menurutnya begitu menggemaskan.


"Bakar kan anti nyamuk untuk Nak Daniel, mungkin dia tidak terbiasa dengan adanya nyamuk, " ucap Ningsih kepada Kanza.


"Dia juga tidak terbiasa dengan anti nyamuk, Bu, " jawab Kanza.


"Setidaknya sudah lebih nyaman bila harus tidur dengan nyamuk, " ucap Ningsih kembali


Kanza pun terpasksa bangun dari tidurnya dan membakar selingkar anti nyamuk untuk Daniel.


"Tok, tok, tok, " Kanza mengetuk pintu kamar yang di tempati Daniel.


"Saya mau meletakkan anti nyamuk bakar di dalam kamar Mas Dani, " ucap Kanza memberitahu maksud kedatangannya.


"Masuk saja," ucap Daniel dari dalam kamar.


Perlahan Kanza mendorong pintu dan mengintip Daniel yang tertidur di atas kasurnya. Jantung Kanza berdetak kencang begitu kakinya melangkah masuk ke dalam kamar.


"Di rumah kami banyak nyamuknya, Mas tahan sendiri saja bila tergigit oleh nyamuk, " ucap Kanza sambil meletakkan anti nyamuk di tempat pembakaran anti nyamuk yang tersedia di kamar Kanza.


Dengan gerakan yang super cepat, Daniel segera menindih tubuh Kanza.Daniel mendekap tubuh Kanza dengan kuat.Segera Daniel ******* bibir Kanza yang sangat dekat dengan bibirnya. Seakan kehilangan kendali, Daniel melumati bibir itu dengan rakus.


Daniel menyadari Kanza kehabisan nafas, Daniel pun segera menghentikan aksinya tersebut.


"Lepaskan aku!" bentak Kanza sambil menahan sebagian suaranya.


Seakan tersadar, Daniel pun segera melepaskan Kanza dari kungkungannya.Secepat kilat Kanza berdiri dan berlari ke arah pintu. Tapi belum sempat Kanza keluar dari pintu. Tangannya kembali di tarik oleh Daniel.Dengan terpaksa Kanza menghentikan kembali langkahnya.


"Maaf kan aku, aku terlalu rindu kepadamu, " ucap Daniel merasa bersalah.


Kanza hanya diam tidak menjawab. Jantungnya yang memacu kencang membuatnya susah untuk berbicara.


"Maaf kan aku, ya? " ucap Daniel kembali sambil berlutut di depan Kanza yang berdiri.


Kanza terkejut melihat aksi Daniel. Kanza pun segera menarik tangan Daniel supaya berdiri.

__ADS_1


"Janji dulu akan memaafkan Mas mu ini, " pinta Daniel memberi syarat kepada Kanza.


Dengan terpaksa Kanza menganggukkan kepalanya dan segera berlalu dari dalam kamar.


Sepanjang malam Kanza tidak terlelapap. Bayangan bibir Daniel yang menyapu semua sudut bibirnya, selalu terbayang di otak Kanza. Ada getaran yang tidak bisa di jabarkan Kanza setiap kali membayangkan Daniel yang berada di atas tubuhnya dan memagut bibirnya dengan rakus.


Akhirnya Kanza pun bangun kesiangan. Sudah berapa kali Ibu Ningsih berusaha membangunkan Kanza, namun Kanza tidak mampu membuka matanya.


"Biarin saja, Bu! mungkin dia masih mengantuk, " ucap Daniel yang bisa meraba penyebab Kanza bangun kesiangan.


"Apa dia tidak malu kepada teman-temannya? gadis ko, jadi pemalas, " ucap Ibu Ningsih merepet yang di tujukan kepada Kanza.


Kanza keluar dari kamarnya ketika jarum jam menunjukkan angka sembilan.


"Bagaimana Nak Daniel mengijinkanmu bekerja di perusahaannya,kalau sudah mengetahui kamu itu orangnya pemalas, " sungut Ibu Ningsih kepada Kanza.


"Biarin saja, banyak perusahaan yang mau menampung Kanza Bu, " ucap Kanza asal sambil berlalu memasuki kamar mandi.


Setelah membersihkan dirinya, Kanza pun segera duduk di meja makan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.Sosok Daniel tidak terlihat olehnya.


"Apakah dia sudah kembali ke Jakarta? " batin Kanza yang lalu menyibak gorden jendela untuk melihat mobil Daniel yang terparkir di halaman rumahnya.Betul saja, mobil itu kini tidak terlihat lagi berada di halaman rumahnya.


"Kenapa dia tidak menungguiku? " batin Kanza yang merasakan ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.


"Apa karena merasa bersalah kepadaku atas tindakannya tadi malam? "lanjut Kanza bertanya dalam hati.


Kanza pun berusaha menenangkan pikirannya dan berusaha menghabiskan sarapannya.


" Tuan putri ternyata sudah bangun? " tanya Daniel yang tiba-tiba muncul dari pintu samping rumahnya.


Kanza kembali menyingkap gorden jendela untuk memastikan keberadaan mobil Daniel yang tidak terlihat olehnya tadi.


"Rendy sudah kembali ke Jakarta, ada proyek besar yang harus di urusnya, " ucap Daniel memberitahu keberadaan mobil tersebut.


"Kenapa Mas Dani tidak ikut kembali ke Jakarta? " tanya Kanza heran.


"Saya akan kembali ke Jakarta apabila kamu bersedia ikut dengan saya ke Jakarta, " ucap Daniel sungguh-sungguh

__ADS_1


"Bagaimana kalau saya tidak berniat kembali ke Jakarta? " tantang Kanza.


"Saya akan berada di tempat kamu berada, " jawab Daniel mantap.


__ADS_2