
Kanza menuju kamar Daniel dengan gontai.Kanza berusaha menekan gejolak yang ada di hatinya.
"Hanya untuk dia sembuh saja," bisik Kanza menenangkan hatinya
"Ceklek!" suara handle pintu yang dia tekan.
Kanza mendorong pelan daun pintu itu dan mendongakkan kepalanya ke dalam berusaha mengintip ke dalam kamar.
Kanza menangkap sosok pria yang duduk di atas ranjang.Pria itu memeluk kedua lututnya sambil memandangi sebuah bingkai photo yang di letakkan di atas kasur persis di depan kaki nya.
Setelah mengamati sosok tersebut,Kanza pun menyadari bahwa sosok itu adalah Daniel.Tubuhnya kini terlihat kurus,tulang-tulang di tangannya terlihat menonjol,rambutnya sedikit panjang,dan tidak tertata seperti Rambut Daniel biasanya.
Kanza pun perlahan mendorong pintu dan melangkagkan kakinya masuk ke dalam kamar.
"Sudah berapa kali saya bilang? saya tidak mau minum obat,keluar!" teriak Daniel tanpa melihat siapa yang memasuki kamarnya.
Kanza tetkejut mendengar teriakan Daniel.Jantungnya pun berdebar kencang.kakinya yang mulai melangkah kini di tahannya.
"Tidak apa Nona,dia tidak akan berteriak kalau mengetahui kalau yang masuk adalah Nona," ucap Rendy yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu.
Kanza pun perlahan melanjutkan langkahnya.
"Apa kamu tu...," Daniel menggantung kalimatnya setelah dia mengangkat kepalanya.
Daniel mengerutkan keningnya tidak percaya dengan penglihatannya.Setelah memastikan bahwa itu benar benar Kanza.Daniel berdiri secepat kilat dan segera masuk ke dalam kamar mandi
"Rendy!Rendy!" teriaknya dari dalam kamar mandi
Kanza hanya bisa menontonnya dengan wajah yang kebingungan.
Rendy segera berlari menyusul Daniel ke dalam kamar mandi
"Kenapa kamu tidak memberitahuku,kalau Kanza ku datang ke villa ini,hah?" umpat Daniel dengan suara yang di tahan biar tidak terdengar oleh Kanza.
"Maafkan saya,Bos" ucap Rendy.
"Bagaimana kalau dia tadi melihatku dengan penampilan yang lusuh begini?" tanya nya lagi.
Rendy pun terdiam karena merasa bersalah tidak memikirkan hal itu.
"Bantu aku membersihkan diriku,kamu bilang lukaku tidak boleh basah kan?" pinta Daniel.
__ADS_1
Dengan senang hati,Rendy membantu Daniel untuk menemukan penampilannya yang hilang dua bulan terakhir ini.Senyum Rendy tidak bisa di tahan melihat Daniel menemukan semangat hidupnya.
"Hallo,Kanza!" sapa Daniel begitu dia keluar dari kamar mandi.Dia berusaha menegakkan tubuhnya biar terlihat gagah di mata Kanza.Walau rasa sakit terasa dari luka di punggung nya.
"Ha_halo Mas," jawab Kanza gugup.
"Apa kamu datang untuk melihat kondisi Mas mu ini?" tanya Daniel dengan wajah sumringah.
"Iya,sekalian untuk merawat Mas Daniel," ucap Kanza memaksakan diri.
"Iya,kah?" tanya Daniel merasa takjub dengan apa yang dia dengar.
"Kalau begitu,suruh pelayan membawakan makananku sekarang,saya lapar,"perintah Daniel pada Rendy sambil mengedipkan matanya.
Rendy pun segera melaksanakan perintah Daniel.
Kanza meraih nampan yang berisi makanan dari tangan pelayan yang membawakan makanan.Kanza pun menata makanan itu dan menyerahkan nya pada Daniel.
" Saya rasa Mas Daniel bisa kan,makan sendiri?"ucap Kanza yang merasa enggan menyuapi Daniel.
"Aduh,tapi luka Mas terasa sakit kalau tangan Mas di gerakin," ucap Daniel manja pada Kanza
Dengan terpaksa Kanza menyendokkan nasi ke mulut Daniel dengan porsi yang memenuhi seluruh sendok makan yang di pegangngya.Kanza ingin Daniel cepat-cepat menghabiskan makannya.
Hingga suapan terakhir,Kanza tidak mengeluarkan sepatah kata pun.Kanza menyuapi Daniel dengan rasa yang tidak iklas.
"Ini obatnya,silahkan diminum," ucap Kanza sambil memberikan obat ke telapak tangan Daniel.Daniel pun memasukkan obat ke dalan mulutnya dengan patuh,dan meraih gelas yang berisi air putih yang di sodorkan Kanza kepadanya.
"Saya mau memeriksa luka Mas Daniel.Kalau bisa,Mas Daniel berbalik dulu," perintah Kanza.
Daniel pun segera berbalik arah membelakangi Kanza.
Kanza menyibak baju yang di gunakan Daniel ke atas dengan hati-hati.
Kanza terkejut melihat luka tembak Daniel.Luka itu masih begitu bengkak dan memerah.Rasa perih kini di rasakan Kanza di ulu hatinya melihat luka di punggung Daniel.
"Bagaimana dia masih bisa tersenyum?" tanya Kanza pada dirinya.
"Kenapa lama sekali kering Luka di tubuh Mas Daniel ini?" tanya Kanza akhirnya.
"Mungkin dia nungguin kamu," balas Daniel dengan riang.
__ADS_1
Kanza pun sengaja menarik perban dengan kasar.Dia muak mendengar ucapan Daniel.
Seketika darah mengalir dari sudut jahitan luka itu.
Kanza membelalakkan matanya.Dia tidak menyangka tindakannya akan membuat luka Daniel berdarah.
Kanza merasakan sakit di hatinya melihat darah yang mengalir.Apalagi melihat Daniel tidak mengeluh sama sekali.Hanya gerakan tubuh Daniel terlihat terkejut ketika Kanza menarik perban di punggungnya.
"Maaf, Mas!" ucap Kanza sambil mengambil kapas dan menyeka darah yang mengalir di punggung Daniel.
"Kenapa harus minta maaf,saya tidak memberimu hak untuk minta maaf kepadaku," ucap Daniel tanpa melihat kearah Kanza.
Kanza tidak menghiraukan ucapan Daniel barusan.Kanza mulai membersihkan luka Daniel dengan sangat hati-hati,sesuai petunjuk dari Dokter Farhan.
Hati Kanza ikut perih melihat luka Daniel yang masih bengkak dan merah.Kanza menekankan dalam hatinya untuk mengurus Daniel sampai lukanya sembuh.Karena luka ini tercipta untuk menyelamatkan nyawanya.
Selama proses pembersihan luka pada tubuh Daniel,tidak sedikitpun Daniel mengeluarkan suara.Dia menikmati seluruh rasa sakit akibat sentuhan tangan Kanza pada lukanya.
"Sudah selesai Mas,Mas Dani bisa beristirahat sekarang." ucap Kanza.
Daniel segera membalikkan badannya dan menatap lurus pada Kanza.
"Mas mohon,jangan pergi dari rumah ini kalau aku lagi tertidur seperti ketika aku di Rumah sakit,ya?"pinta Daniel dengan suara memohon.
Kanza pun menganggukka kepalanya tanda setuju.
Daniel segera merebahkan tubuhnya.Tempat tidurnya telah di setting sedemikian rupa,sehingga tidak mengenai luka Daniel.Daniel pun dengan patuh memejamkan matanya dan tidak begitu lama memang sudah terlelap.Mungkin karena pengaruh obat yang diminumnya barusan.
Setelah Daniel terlelap,Kanza mulai mengedarkan pandangannya. Kanza terkejut melihat photonya berukuran besar tertempel di dinding kamar Daniel.
Kanza terlihat sangat cantik di dalam photo itu.
"Ini,ketika aku magang di perusahaan CIPTA," gumamnya yang mengenal baju yang di pakainya serta ruangan tempat dia berada di dalam photo itu.
Kanza pun melayangkan ingatannya ketika bekerja di Perusahaan CIPTA.Kejadian-demi kejadian mulai bisa di sambungkan Kanza satu persatu.
Kanza mulai merasa kecil hati.Tidak ada lagi kebanggaan yang tersisa atas dirinya.Semua yang bisa di raihnya dalam dua tahun terakhir ini,ternyata hanyalah settingan dari pria yang ada di depannya.
"Saya kira,saya buaya.Ternyata,cuma cicak," ucap Kanza pada dirinya sambil tersenyum sinis.
"Huffff!" lenguh Kanza menghempaskan nafasnya yang terasa sesak.Dalam hati Kanza menyesali pertemuannya dengan Daniel.Banyak hari-hari yang sudah di lewatkannya, yang seharusnya bisa di laluinya bersama teman teman miskin nya dulu,Sebelum Daniel menggiringnya hanya bersabahabat kepada ke empat sahabat palsunya itu.Toko kue juga di pergunakan Daniel untuk menyita waktu Kanza supaya tidak berkeliaran kesana kemari seperti sebelum dia bertemu Daniel.
__ADS_1
Kanza memandangi wajah Daniel dengan rasa marah.Ingin rasanya Kanza menampar habis-habisan wajah pria ini.