Mengapa Harus Saya?

Mengapa Harus Saya?
Bab 28.Merawat Daniel


__ADS_3

Setelah bangun,Kanza merasa jantungnya sudah berdetak dengan Normal.Tenaganya kini sudah kembali.Kanza sudah bisa melangkahkan kaki nya ke kamar mandi.


Begitu Kanza memasuki ruang rawat tengah malam tadi,Perawat segera memasang selang infus ke tangan Kanza.Dengan arahan Dokter,perawat menyuntikkan cairan ke dalam botol infus Kanza.


Tidak berselang lama,Kanza memejamkan matanya.Cairan yang mengalir ke tubuh Kanza memaksa Kanza untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Kanza duduk di tepi tempat tidur,badan nya kini sudah mulai terasa segar.Tidak ada orang yang menungguinya di dalam kamar.


Kanza melangkah Keluar dengan membawa botol infus serta.Kanza ingin mengetahui keadaan dari Daniel.Kanza pun berjalan kearah meja perawat yang tidak jauh dari ruangannya.


"Kenapa Mbak keluar? ayo saya bantu!"ucap perawat yang menyadari kehadiran Kanza.


" Saya mau melihat keadaan Mas Daniel,"ucap Kanza


"Mbak habiskan infusnya dulu ya,baru boleh jalan-jalan," ucap perawat tersebut.


Melihat Kanza yang merasa keberatan dengan ucapannya,perawat itu pun berkata"Tidak sampai satu jam,infusnya pasti habis,baru nanti Mbak Kanza saya temanin melihat Pak Daniel,"


Akhirnya Kanza pun mengalah,dia kembali ke kamarnya dengan tuntunan Suster tersebut.


"Kalau membutuhkan sesuatu,Mbak Kanza cukup menekan bell yang diatas ranjang." tutur perawat sambil menunjukkan letak bell tersebut,sebelum meninggalkan ruangan Kanza.


Dengan kesabaran Kanza yang kian menipis,akhirnya botol infus itu pun meneteskan cairan terakhirnya.Segera Kanza menekan bell yang ditunjukka perawat tadi.Tidak sampai hitungan ke sepuluh,perawat sudah memasuki ruangan Kanza.


"Baik Mbak Kanza,karena kondisi Mbak Kanza sudah membaik,Mbak Kanza di perbolehkan untuk mengunjungi Pak Daniel." ucap perawat tersebut,setelah melepas jarum infus yang tertancap di tangan Kanza.


Kanza pun segera turun dari ranjang.


"Mas Daniel di tempatkan di ruang mana?" tanya Kaza pada perawat.


"Di ruang VVIP, saya akan mengantar Mbak Kanza kesana," ujar perawat itu yang langsung menuntun Kanza keluar dari ruang rawat inap Kanza.


"Beliau baru dipindahkan ke ruang rawat pagi ini,beliau sempat kritis di meja operasi tadi malam," tutur perawat ditengah tengah perjalanan mereka ke ruang rawat tuan Daniel, yang ternyata tidak jauh dari ruangan Kanza.


Kanza menutup mulutnya yang terbuka lebar mendengar penuturan perawat tersebut.Bulu kuduk Kanza pun berdiri dengan sendirinya.


"Apa sekarang keadaan nya sudah baik-baik saja?" tanya Kanza dengan nada yang penuh dengan ke kawatiran.

__ADS_1


"Belum sepenuhnya aman,masih menunggu sampai beliau mendapatkan kesadarannya," jawab sang perawat.


Begitu pintu terbuka,Kanza melihat Daniel yang terbaring lemah dengan selang yang menempel di sana sini.


"Mas Danieeelll.."Spontan Kanza menjerit memanggil nama Daniel.


Kanza tidak tahan melihat kondisi Daniel.Hatinya terasa sesak,bahkan jantungnya kembali tidak beraturan.Sekilas kejadian yang membuat Daniel tergelepar seperti ini melintas di benak Kanza.Tubuh Kanza kembali bergetar hebat.Melihat itu,perawat yang menemani Kanza langsung memegangi Kanza.


" Kalau tidak kuat,kita kembali saja dulu ke kamar ya?"bujuk perawat itu.


Kanza menggelengkan kepalanya


"Aku mau disini,aku mau menemani Mas Daniel," rengeknya.


"Kalau begitu,Mbak Kanza harus berusaha menenangkan diri.Biar Mbak Kanza kuat menemani Pak Daniel di sini." ucap perawat tersebut.


Kanza pun berusaha menenangkan hatinya.Perawat mendudukkan Kanza di Kursi yang sudah di tariknya hingga ke sisi ranjang Tuan Daniel.


"Huufffff!" Kanza menghembuskan nafasnya kasar,Kanza berusaha mengurai rasa sesak yang menggerogoti hatinya.


Tidak berapa lama,perawat yang menemani Kanza keluar untuk mengambilkan Kanza sarapan pagi.


Kanza pun menurut walau sebetulnya dia tidak berselera untuk menyantap hidangan yang di bawakan oleh perawat itu.Tapi demi untuk bisa menjaga Daniel,Kanza berusaha menghabiskan sarapannya.


Tidak sedetik pun Kanza meninggalkan tempat duduknya kecuali untuk mandi dan buang air.Kanza selalu memperhatikan detak jantung Daniel.Kanza takut kalau kalau jantung Daniel berhenti berdetak.


Hingga pada malam hari,perawat menegur Kanza kembali.Entah untuk yang ke berapa kali perawat itu mengingatkan Kanza untuk mengistirahatkan tubuhnya.Tapi Kanza tidak mengindahkan teguran perawat itu.


"Mbak Kanza,kalau masih mau menemani Pak Daniel disini,Mbak Kanza harus beristirahat dulu,kalau tidak,besok Mbak Kanza mungkin akan jatuh sakit dan akan di rawat di ruangan Mbak Kanza," tutur perawat tersebut memberi keterangan kepada Kanza.


Dengan berat hati Kanza beranjak dari kursi di sisi ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya di ranjang yang disediakan untuk orang yang menunggui pasien di ruangan ini.


Walaupun susah untuk memejamkan matanya,tapi karena rasa lelah di tubuh Kanza,akhirnya dia terlelap juga.


Samar samar Kanza mendengar suara di ruangan ini.Kanza menajamkan pendengarannya untuk memahami pembicaraan tersebut,karena Kanza belum sepenuhnya mendapatkan kesadarannya.


"Maaf kan saya bos,saya tidak bisa melindungimu dengan baik,"isi dari suara itu di barengi dengan isak tangis.

__ADS_1


Akhirnya Kanza memaksakan untuk membuka matanya.


Kanza melihat seorang pria menghadap kepada Daniel,punggungnya terlihat berguncang yang diakibatkan oleh tangisan pria itu.


" Kamu harus bertahan bos,kamu harus sembuh!"lanjut pria itu.


Kanza memperhatikan pria tersebut,"Mungkin anak buah Mas Daniel,"ucap Kanza dalam hati.


Kanza tidak ingin mengganngu mereka,Kanza tetap pada pisisi semula,Kanza tetap berbaring,Kanza tidak ingin menimbulkan suara yang akan mengganggu mereka.Kanza hanya mendengar setiap ucapan dari pria itu.Hati Kanza terenyuh oleh tangis dan kesedihan pria tersebut.


Tak begitu lama,Pria itu pun berdiri hendak pergi dari ruangan Mas Daniel di rawat.


Betapa terkejutnya Kanza melihat wajah dari pria yang barusan menangis sesunggukan itu.


"Rendy??"ucap Kanza tanpa sadar.


Kanza mengucek ngucek matanya serasa kurang percaya dengan penglihatannya.Ketika Kanza melepas tangannya,pria itu sudah tidak ada lagi di ruangan itu.Secepat mungkin kanza bangkit berdiri dan mengejar pria itu keluar ruangan.Tapi Kanza tidak melihat seorang pun pria di sana,selain dari perawat piket yang bertugas malam ini duduk di balik meja piket tidak jauh dari ruangan Daniel.


"Apa Mbak melihat pria yang barusan keluar dari ruangan Mas Daniel?" tanya Kanza kepada petugas piket begitu Kanza mendekati meja piket tersebut.


"Oh,Pria yang barusan keluar ya?"tanya perawat itu ingin memastikan maksud dari Kanza.


" iya!"ucap Kanza cepat.


"Barusan pergi,kearah sana,mungkin mau pulang." tutur perawat itu sambil menunjuk kearah perginya Rendy.


Kanza pun berlari secepat mungkin.Hingga Kanza mencapai parkiran Rumah sakit,Kanza tidak melihat sosok Rendy.


Kanza menghentikan larinya di parkiran.Berusaha menarik nafas dengan dalam,suara nafas yang ngos ngosan terdengar dari paru-paru Kanza.


Lama Kanza mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru parkir,tetap tidak menemukan sosok Rendy.Akhirnya Kanza menyerah dan kembali ke kamar rawat Daniel.


__________________________


Sebelum keluar dari Rumah sakit,Rendy ke toilet untuk buang air kecil yang ditahannya semenjak dari perjalanan dari bandara ke Rumah sakit.Begitu menginjakkan kaki di Rumah sakit,Rendy lupa akan hal itu di karenakan rasa kawatirnya kepada Daniel.Setelah keluar dari ruang rawat,rasa sesak itu muncul kembali.


Begitu Rendy keluar dari Toilet,Rendy melihat Kanza yang sedang berlari ke arah luar Rumah sakit.Rendy yakin bahwa Kanza melihat kehadirannya di ruang rawat Daniel.sedingga Kanza mengejarnya hingga ke luar.

__ADS_1


Dengan sigap Rendy masuk ruang apotik Rumah sakit tersebut dan berpura pura menanyakan suatu jenis obat,hingga memastikan Kanza menyerah untuk mencarinya.


Sebenarnya Rendy mengetahui kalau Kanza berada di ruang rawat Daniel dari kamera ruang rawat yang dihubungkan dengan handphone nya.Tapi melihat Kanza tidur dengan lelap,maka Rendy menyempatkan masuk ke dalam ruang rawat Daniel untuk melihat keadaan Daniel.


__ADS_2