
"Mas, ingin berterus terang ke pada Kanza, Mas tidak ingin lagi melewatkan hal yang begitu berharga bagi Mas, " ucap Ridwan akhirnya setelah terdiam beberapa saat untuk menenangkan hatinya sepeninggal Frida.
Kanza pun mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ridwan.
"Kalau Mas boleh jujur, sudah dari dulu Mas jatuh hati kepada Kanza, " ucapnya hati-hati.
Kanza terhenyak mendengar pengakuan Ridwan.Kanza tidak menyangka Ridwan akan berkata seperti itu kepadanya.
"Mas takut mengungkapkan perasaan Mas terhadap Kanza. Mas melihat, Kanza sepertinya tidak begitu tertarik kepada Mas, apalagi ada Lukman yang selalu di sisi Kanza, " lanjut Ridwan.
Jantung Kanza semakin berdebar kencang.Cinta yang dulu begitu di harapkannya, kini hadir menyapanya,walaupun hatinya tidak sepenuhnya lagi menginginkan cinta itu lagi.
"Saya tidak mau lagi melewatkanmu, sudah terlalu lama aku di lingkupi bayang-bayangmu, Mas ingin Kanza mau menerima cinta Mas dan menjadi Ibu dari anak-anakku kelak, " pinta Ridwan dengan sungguh-sungguh dan berterus terang.
Kanza hanya bisa diam mendengar ucapan dari Ridwan.Kanza tidak tahu harus menjawab apa kepada Ridwan.
"Apakah hati Kanza sudah ada yang punya? "tanya Ridwan sedih melihat Kanza yang tidak menunjukkan reaksi apapun.
" Bukan Mas, tapi aku perlu memikirkannya dulu, aku tidak bisa menjawab Mas sekarang, "ucap Kanza berterus terang.
"Baiklah, Mas akan menunggu, tapi Mas harap, Kanza bisa memberi jawaban kepada Mas, sebelum Mas balik ke semarang tiga hari lagi, " pinta Ridwan kepada Kanza.
Kanza pun menganggukkan kepalanya.
Menjelang gelap, Mereka bertiga pun kembali pulang kerumah setelah sebelumnya berenang di danau yang begitu jernih dengan riang bersama dengan penduduk desa lainnya.
Ridwan mengantarkan Kanza hingga kerumah Kanza.
Begitu mendekati rumahnya, Kanza mendapati adanya mobil Daniel yang terparkir di halaman rumahnya. Jantung Kanza seketika bergetar bergetar dengan hebat. Kanza mengucek matanya beberapa kali karena tidak percaya dengan penglihatannya.
Dengan perlahan Kanza dan Ridwan mendekati rumah Kanza.
"Sepertinya ada tamu, " ucap Ridwan kepada Kanza.
"Sepertinya, " jawab Kanza
"Ini dia anaknya sudah pulang," ucap Ibu Ningsih yang berdiri di pintu menunggui Kanza sepertinya.
Bagai maling ketangkap basah, Kanza tidak dapat berkutik hanya untuk berlari masuk ke dalam rumah lewat pintu samping.
"Apa kabar Bi, " sapa Ridwan kepada Ningsih.
"Eh, Nak Ridwan kapan datang? "tanya Ningsih karena belum mendengar kedatangan Ridwan.
__ADS_1
" Kemarin malam Bu, "jawabnya.
" Tadi habis main dengan Kanza dan Frida ke danau, makanya basah-basah begini,"tuturnya
"Sudah pada besar, tapi masih kayak anak kecil kalian ini, " ucap Ibu Ningsih menanggapi ucapan Ridwan.
"Kalau begitu masuk dulu, biar Ibu buatkan teh hangat untuk kalian, " pinta Ningsih kepada Ridwan. Karena dimata Ningsih Ridwan adalah pemuda yang baik.
"Tidak usah Bu, saya pamit dulu. Mau ganti baju, " ucapnya yang lalu berlalu setelah berpamitan kepada Kanza.
Dengan wajah tertunduk merasa malu, Kanza berlalu masuk kedalam rumah tanpa menyapa maupun menoleh ke arah Daniel.
Kanza cepat-cepat mandi dan segera memakai bajunya dengan rapi.
"Kenapa Mas Daniel menyusul Kanza kemari? " tanya Kanza setelah kembali ke ruang tamu rumahnya dan duduk di kursi depan Daniel.
Rendy segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Tidak ingin mendengar pembicaraan Tuannya tersebut.
Ibu Ningsih juga segera pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan malam untuk mereka.
Daniel diam tidak menjawab Kanza. Pandangannya yang tajam di tujukan kepada Kanza.
Bulu kuduk Kanza merinding melihat tatapan mata Daniel yang begitu tajam terhadapnya.
Kanza pun akhirnya diam dan menundukkan kepalanya merasa takut.Kanza tahu bahwa Ridwan lah penyebab kemarahan Daniel.
"Siapa pria itu tadi? " tanya Daniel tajam kepada Kanza.
Kanza tidak segera menjawab. Dia memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan Daniel.
"Apa Mas Daniel ingin membunuhnya juga? " jawab Kanza balik bertanya sambil menahan sebagian suaranya,biar tidak terdengar oleh orang lain.
Daniel menelan ludahnya mendengar pertanyaan Kanza.
Bayangan bentuk tubuh Kanza ketika memakai bajunya yang basah,membuat Daniel semakin gila. Ingin rasanya Daniel segera membunuh pria yang memandangi tubuh wanita pujaannya ini, Dengan bentuk tubuh yang tercetak nyata seperti tadi.
"Saya hanya tidak mau ada pria lain yang memandang tubuhmu dalam balutan baju yang basah seperti tadi, " ucap Daniel sambil kembali menelan ludahnya kasar.
"Huuff! " Daniel membuang nafasnya kasar, kepalan di tangannya masih terbentuk dengan kokoh.
Mendengar jawaban dan melihat wajah Daniel yang memancarkan amarah yang begitu besar, ingin rasanya Kanza menghamburkan dirinya kedalam pelukan Daniel untuk menenangkan pria tersebut.
Tapi Kanza menahan dorongan keinginannya yang begitu kuat tersebut.
__ADS_1
"apa dasar Aku melakukannya? " batin Kanza.
"Bagaimana luka Mas Dani? " tanya Kanza berusaha mendinginkan emosi Daniel.
Daniel diam dan tetap memandang wajah Kanza dengan lekat.Hingga Kanza salah tingkah dan mengalihkan pandangannya ke samping.
"Ijinkan Mas memelukmu sebentar saja, " pinta Daniel lirih
Tidak ingin membuat Daniel semakin emosi, Kanza pun pindah dan duduk di samping Daniel.
Merasa mendapat ijin, Danielpun memeluk Kanza dengan begitu erat.Daniel menghirup dalam aroma tubuh Kanza yang membuatnya gila akhir-akhir ini. Seakan tidak puas, Daniel terus memeluk erat Kanza hingga Kanza kesulitan bernafas.
Kanza pun berusaha keluar pelukan Daniel yang menghimpitnya.
Seakan tersadar sudah menekan Kanza dalam pelukannya yang begitu kuat, Daniel pun merenggangkan pelukannnya yang kemudian memandangi wajah Kanza dengan sendu.
"Apa kamu baik-baik saja? " tanya Daniel begitu perhatian kepada Kanza.
"Saya baik-baik saja, tapi Mas Dani lepasin Kanza dulu, tidak enak kalau dilihat oleh Ibu, " pinta Kanza.
Daniel pun segera melepaskan tangannya dari tubuh Kanza.
"Harusnya saya yang nanya Mas Dani, apakah baik-baik saja, " cetus Kanza.
"Mas baik, luka Mas sudah berul-betul sembuh, Mas sudah kembali bekerja, " jawab Daniel.
"Bekerja, tetapi kenapa datang ke desa Kanza? " tanya Kanza heran.
"Kenapa tidak memberitahu Mas, kalau Friska datang ke Rumah Sakit? "serang Daniel.
" Dia yang menginginkan begitu,dia tidak ingin mengganggu pemulihan Mas Dani, "jawab Kanza.
" Saya hanya ingin bilang kepadamu, tidak ada lagi hubungan apa pun antara aku dengannya. Semua sudah berakhir enam tahun yang lalu, "tutur Daniel.
"Mengapa mengatakan itu kepadaku? apa Mas Dani jauh-jauh datang ke sini hanya untuk mengatakan hal itu? " tanya Kanza ingin mengetahui tujuan Daniel datang menyusulnya ke sini.
Daniel terdiam memandangi wajah Kanza dalam. Daniel sudah mengerti kenapa sikap Kanza berubah kepadanya ketika di Rumah Sakit.
"Mas mempunyai keinginan yang begitu besar kepada Kanza.Yang Mas pikirkan, apakah Kanza sudah siap kalau Mas mengungkapkan Keinginan Mas kepada Kanza? "ucap Daniel.
Kanza merinding mendengar ucapan Daniel. Kanza membayangkan keinginan Daniel adalah untuk segera mendapatkan tubuhnya. Kanza sering mendapati Daniel memandangi tubuhnya dengan pandangan penuh gairah.
"Sebaiknya kita makan malam dulu, " ucap Kanza mengalihkan topik pembicaraan,lalu berdiri menyusul Ibu Ningsih ke dapur untuk membantu Ibu Ningsih mempersiapkan makan malam.
__ADS_1