
Kanza memeluk tubuh Daniel yang menangis walau tidak mengeluarkan suara. Kanza mengelus-elus punggung Daniel dengan lembut.
Setelah berhasil menenangkan hatinya,Daniel pun kembali duduk menghadap ke meja Dokter.
"Baik Tuan, saya akan memberi beberapa saran, Nyonya Kanza tidak di perbolehkan untuk bersktifitas yang berat-berat, Nyonya harus banyak beristirahat. Perbanyak minum air putih dan makan makanan yang bergizi. Nyonya juga sudah harus meminum susu untuk Ibu hamil, supaya janinnya terbentuk sempurna, "tutur Dokter tersebut.
Daniel dan Kanza mendengar semua penuturan Dokter dengan seksama.
" Ada satu lagi, untuk trimester pertama ini, Tuan dan Nyonya harus mengurangi aktifitas ranjang, supaya tidak menimbulkan guncangan yang berlebihan, "kata Dokter tersebut nelanjutkan anjurannya.
" Kalau ini, susah Dok, junior saya selalu terbangun bila berdekatan dengan istri saya ini, "tolak Daniel merasa keberatan dengan anjuran Dokter tersebut.
Mendengar perkataan Daniel, tangan Kanza langsung mencubit pinggang Daniel. Wajahnya kini telah berubah jadi merah.
" Dasar pria cabul, "umpat Kanza dalam hati.
" Mau tidak mau, Tuan harus mengurangi aktifitas itu. Dan apabila terpaksa, Tuan harus melakukannya dengan lembut, supaya tidak terlalu mengguncang bayi Tuan, "ucap Dokter tersebut.
"Kata Dokter B-O-L-E-H, " ucap Daniel kepada Kanza.
Kanza hanya diam tidak ingin meladeni pembicaraan suaminya itu.
Setelah tiba di rumah, Daniel segera membagi kabar baik tersebut kepada Nyonya besar Permana. Bukan kepalang kebahagiaan Nyonya permana saat mendengar kabar baik dari Daniel.
Ke esokan harinya,Tuan dan Nyonya Permana langsung bertolak dari Luar Negeri ke Indonesia. Mereka ingin memberi dukungan kepada Kanza.Dan merayakan kebahagiaan bersama anak menantunya tersebut.
Nyonya Permana membawa begitu banyak oleh-oleh untuk Kanza.
"Masa, untuk Kanza semua? untuk saya mana? " protes Daniel kala Nyonya Permana memberikan oleh-oleh yang di bawa nya kepada Kanza.
"Emang kamu hamil? yang hamil yang dapat hadiah, " ucap Nyonya Permana.
"Tapi kan aku yang membuatnya hamil Mi..., " protes Daniel.
Kanza merasa malu mendengar perkataan Daniel barusan.
"Ini orang, tidak ada tata kramanya, " umpat Kanza dalam hati
Tuan Permana hanya tersenyum mendengar pembicaraan diantara Ibu dan anak itu.
__ADS_1
Kedatangan kedua orang tua Daniel menambah keriuhan di rumah Daniel. Tetapi juga menambah mata yang mengawasi pergerakan Kanza.
Bukan senang, Kanza malah risih diperlakukan bagai bayi besar. Apa-apa tidak boleh. Ini itu tidak boleh.
"Tidak usah turun, kamu mau apa? biar Mami ambilin, " ucap Mami ketika Kanza hendak menuruni tangga untuk mengisi air minum di kamarnya yang sudah kosong.
"Biar Papi yang kupasin, " ucap Tuan Permana ketika Kanza memegang pisau hendak mengupas buah apel yang ada di atas meja.
"Tidak usah di kerjakan lagi, biar Maid saja, " ucap Daniel ketika Kanza mengutak-atik lemari untuk memilihkan stelan jas yang mau di pakai Daniel ke Kantor.
"Kenapa? Mas takut bayinya kecapean juga? " tanya Kanza kesal.
"Iya sayang, aku tidak mau kamu terlalu capek, itu akan mempengaruhi bayi kita, " tutur Daniel.
"Kalau hanya memilihkan pakaian untuk Mas, Mas bilang capek, mulai sekarang Mas harus puasa setiap malam dari aktifitas ranjang, karena guncangan Mas jauh lebih dahsyat dari guncanganku yang sekedar berjalan memilih pakaian untuk mu. Titik! " serang Kanza.
Mendengar penuturan Kanza, Daniel spontan memeluk tubuh Kanza.
"Kalau itu beda sayang, dedek bayi pasti senang kalau Papanya sering-sering mengunjunginya di dalam sana, " ucapnya sambil mengelus perut Kanza yang masih datar.
"Dasar Mas mau menang sendiri, " rengek Kanza.
"Tapi Mas..., Mas kan sudah janji kalau aku bisa ikut memantau pengerjaannya, " rengek Kanza.
"Itu sebelum aku tahu kamu hamil, " jawab Daniel datar.
"Aku janji tidak akan capek Mas, " rengek Kanza berusaha merayu Daniel.
"Mas bilang tidak! ya tidak! " ucap Daniel berusaha membuat wajahnya terlihat garang di depan Kanza walaupun gagal. Karena pancaran matanya tidak sejalan dengan ucapannya.
Semenjak kehamilannya, Kanza malah merasa dirinya terkungkung. Semua aktifitas yang dia suka dilarang untuk di kerjakan.Termasuk untuk membuat kue kegemarannya.
Apalagi dengan kehadiran kedua mertuanya tersebut. Kanza tidak lagi bisa bahkan hanya untuk berjalan-jalan di taman.
"Kehamilan trimester pertama ini, begitu rapuh, tunggu saja kemahilanmu berumur tiga bulan dulu ya, " ucap Nyonya besar Permana ketika aku hendak berjalan-jalan ke taman belakang.
"Huffff" lenguh Kanza membuang nafasnya dengan kasar.
Untung saja besok mereka sudah kembali ke Luar Negeri. Jadi sebisa mungkin, Kanza menuruti semua ucapan ke dua mertuanya dan selalu memperlihatkan senyum terbaiknya.
__ADS_1
Malam harinya, ketika mereka sedang berada di meja makan, Nyonya besar Permana menasehati Daniel dan Kanza.
"Kamu itu, harus lebih memperhatikan Kanza, kamu harus memastikan dia baik-baik saja, " ucapnya Kepada Daniel.
"Ya Tuhan, perhatian yang bagaimana lagi, bukankan selama ini dia terlalu memperhatikanku? " umpat Kanza dalam hati.
"Dia juga harus makan makanan bergizi, minum vitamin dan minum susu untuk Ibu hamil, " lanjut Nyonya besar Permana.
"Apa wanita ini, ingin membuat tubuhku berukuran big size? " umpat Kanza lagi.
"Dan itu, tu. Masalah perkawinan Rendy, kamu tidak usah lagi mengurusinya, " ucap Nyonya besar Permana kepada Kanza.
"Dasar biang kerok, ternyata Mami yang selalu menyuntik Daniel untuk melarangku mengurusi pesta pernikahan Rendy, " umpat Kanza lagi.
Sebenarnya, Kanza sangat hormat terhadap orang tua, tapi mungkin karena jiwanya yang terlalu jenuh, dan juga perubahan hormon pada tubuhnya, membuat emosinya naik dengan cepat .
"Dan satu lagi, kamu jangan dulu menjamah Kanza, " ucap lanjut Nyonya besar Permana kepada Daniel.
"Miii..., kalau ini sih gak bisa, mau ku taruh di mana junior ku yang selalu bangun melihat dia, " ucapnya sambil menunjuk ke arah Kanza.
Kanza segera menundukkan kepalanya merasa malu,
"Ada ayah mertua juga, orang berdua ini tidak ada malunya, "batin Kanza
Kaki Kanza langsung mencari-cari letak kaki Daniel di bawah meja. Setelah merasakan ada kaki yang mengganjal, Kanza langsung menendang kaki tersebut.
Ternyata Kanza salah kaki. Yang di tendang malah kaki Papi mertua. Terbukti,Papi terlihat terkejut dan memandang ke arah Kanza. Sedangkan Daniel masa bodo dan terus melanjutkan makannya.
Menyadari hal itu, Kanza semakin menundukkan kepalanya merasa malu.
Ke esokan harinya, Kanza mengantarkan keberangkatan kedua mertuanya hingga kedepan pintu saja, jangankan kebandara, kedepan gerbangpun tidak di perbolehkan.
Sebelum naik ke mobil, Nyonya besar Permana menanggalkan kalung berlian yang melingkar di lehernya dan memasangkannya di leher Kanza.
"Ini adalah kalung turun temurun dari keluarga Permana. Sekarang saya serahkan kepadamu. Mami harap kamu bisa menjaganya dengan baik. Kamu juga harus menjaga keutuhan rumah tangga kalian, " ucapnya.
Air mata Kanza menetes di pipinya. Kanza terharu menerima kepercayaan dari keluarga terpandang itu.
Akhirnya kedua mertua Kanza pun pergi meninggalkan tanah air.
__ADS_1