Mengapa Harus Saya?

Mengapa Harus Saya?
Bab 57.


__ADS_3

Setelah Daniel dan Kanza melakukan rutinitasnya, yaitu menurunkan tegangan tinggi yang menyengat jiwa Daniel. Kanza pun meminta Daniel untuk memanggilkan Rendy dan Lily keruangan Daniel.


"Ada yang mau aku tunjukkan pada mereka, " ucap Kanza ketika Daniel protes dengan permintaan Kanza tersebut.


"Kehadiran mereka diruangan ini akan mengganggu kita sayang, " ucap Daniel.


"Mas mau panggil mereka? atau aku yang pergi keruangan mereka? " serang Kanza.


"Iya, iya saya panggilin. Kamu itu istri ku, istri pemilik Perusahaan ini, kamu tidak boleh menurunkan harga dirimu, " repet Daniel.


"Betul! makanya saya menyuruh Mas Daniel untuk memanggilkan mereka kemari, " jawab Kanza tidak mau disalahkan.


Akhirnya Daniel pun mengangkat interkom dan menyuruh Daniel dan Lily datang keruangannya.


Kanza menunjukkan hasil rancangannya kepada semua orang, ketika Rendy dan Lily sudah berada di ruangan Daniel.


"Spektakuker! saya sangat suka Nyonya Bos, " puji Lily melihat hasil rancangan Kanza. Lily merasa kagum dengan ide yang dituangkan Kanza di dalamnya,


"Kalau Mas Rendy suka tidak? " tanya Kanza kepada Rendy yang hanya tersenyum tanpa memberikan komentar apa-apa.


"Saya mana berani bilang tidak suka, wong Lilynya sudah terpesona gitu, " jawabnya.


"Tapi memang konsepmu ini sangat bagus sayang, kenapa pernikahan kita kemarin tidak seperti ini? " celetuk Daniel.


"Karena pernikahan impian saya, ya seperti itu Mas.Salah sendiri, kenapa Mas Dani menyanggupinya, " serang Kanza.


"Hmmm, apa sih yang nggak buat kamu? " canda Daniel.


Tiba-tiba kepala Kanza terasa pusing. Kanza mencoba untuk duduk. "Mungkin karena kesibukan ku selama seminggu ini, " batin Kanza. "Tapi,masa aku selemah itu? " lanjutnya lagi bertanya dalam hati.


Semakin Kanza berusaha menenangkan diri, semakin kepalanya terass berputar. Ada kekawatiran yang besar di hati Kanza. "Daniel akan menghukum mereka berdua, kalau sampai mengetahui aku mengalami pusing kepala seperti itu, " ucapnya dalam hati.


Jadi sebisa mungkin Kanza bersikap biasa. Tidak memperlihatkan rasa pusing yang datang menderanya.


Samar-samar Daniel berkata, "Kalau begitu, kita sudah bisa keluar untuk makan siang, perutku sudah terasa lapar, " ucapnya.


Kanza pun mencoba untuk menganggukkan kepalanya. Kanza pun berusaha untuk berdiri. Namun kepalanya terasa berputar,dan Kanza pun tidak sanggup untuk mempertahankan tubuhnya untuk tetap berdiri. Selanjutnya Kanza tidak tahu apa-apa lagi.


Mendapati Kanza terjatuh kelantai, spontan Daniel melompat untuk menolong Kanza.


"Kanzaaa...!" teriaknya spontan.

__ADS_1


Danielpun segera mengangkat tubuh Daniel dari lantai. Dengan wajah yang terlihat panik, Daniel berlari membawa Kanza dalam gendongannya menuju lift.


"Telepon Dokter Perusahaan, supaya dia bersiap Bego! " teriak Daniel kepada Rendy yang hanya berlari mengikutinya dari belakang.


Rendy terlihat panik hingga tidak tahu harus berbuat apa. Rendy pun segera menelepon ke bagian klinik yang berada di lantai tiga, supaya mempersiapkan segala sesuatunya.


"Kamu dan Lily akan menerima akibat nya, " teriak Daniel kepada Rendy ketika mereka berada di dalam lift.


Rendy sudah mengetahui bahwa mereka pasti akan mendapat hukuman yang betat dari Bosnya tersebut.


Sehingga Rendy melarang Lily untuk ikut turun membaea Kanza ke Klinik Perusahaan. Rendy tidak ingin Lily mendengar dan melihat semua amarah Tuan Daniel.


Daniel segera berlari menuju klinik rumah sakit begitu lift terbuka.


Semua orang yang berada di lantai tiga terlihat heran menyaksikan aksi Bos perusahaan tersebut.


"Cepat periksa, " Teriak Daniel kepada Dokter yang bertugas. Daniel segera meletakkan tubuh Kanza di atas tempat tidur dengan hati-hati.


Begitu mengetahui siapa pasien yang hendak ditanganinya, dengan sedikit gemetar Dokter itu pun memulai pemeriksaannya.


Hampir sepuluh menit Dokter itu memeriksa keadaan Kanza. Keadaan suhu dan tensi Kanza yang normal membuat Dokter itu mengulangi pemeriksaannya.


"Bagaimana? kamu mampu tidak? apa kita kerumah sakit saja? saya tidak mau terjadi sesuatu dengan istriku! " serang Daniel tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan Dokter tersebut.


"Apa? hamil? " ucap Daniel dengan nada meninggi.


Danielpun mendekat kearah Kanza. Seketika Daniel menyesap wajah Kanza begitu dalam. Hatinya kini di penuhi beribu kebahagiaan. Ingin rasanya Daniel memeluk erat tubuh Kanza, bila Kanza tidak pingsan seperti ini. Akhirnya Daniel melompat - lompat kegirangan untuk mengekpresikan kegirangannya.


Sedangkan Rendy merasa begitu lega mendengar diagnosa Dokter tersebut. Sebuah beban yang tadi tiba-tiba menghinggapi pundaknya, tiba-tiba juga menguap entah kemana.


Dokter mengusapkan minyak ke hidung Kanza. Dan itu membuat Kanza mendapatkan kesadarannya kembali.


Kanza mencoba mencerna di mana dia berada saat ini, setelah dia membuka matanya. Dia mengedarkan pandangan nya keliling. Hatinya merasa lega ketika matanya menangkap sosok Rendy ada di sana dan terlihat baik-baik saja.


"Dokter dia sudah sadar! " teriak Daniel Kala mendapati Kanza sudah membuka matanya.


"Baiklah, Nyonya Kanza minum dulu ya, " ucap Dokter tersebut sambil menyodorkan botol air mineral.


"Apa Nyonya masih merasa pusing? "


"Sedikit Dok, saya kenapa ya Dok? "

__ADS_1


"Untuk memastikan, kita harus melakukan pemeriksaan kerumah sakit dulu ya, tapi Nyonya tidak usah cemas, keadaan Nyonya baik-baik saja, " tutur Dokter itu.


"Baik-baik, kenapa mesti kerumah sakit Dok? " tanya Kanza merasa heran.


"Hush! tidak usah banyak protes, lakukan saja perintah Dokter, " ucap Daniel sambil tersenyum.


Kanza semakin heran melihat senyum di wajah Daniel.


Tidak ingin terus berdebat, Kanza pun mengikuti petintah Dokter tersebut.


"Mau saya gendong? atau naik kursi roda? " tanya Daniel kepada Kanza.


Kanza semakin bingung mendengar pertanyaan Daniel tersebut.


"Apa aku terkena penyakit parah sehingga harus naik kursi roda? " tanya Kanza.


"Kalau begitu saya gendong saja ya, " tawar Daniel.


"Saya bisa jalan sendiri Mas, " protes Kanza.


"Pilihannya ada dua, di gendong atau naik kursi roda? " ucap Daniel menegaskan.


Kanza bingung memilih yang mana.


"Di gendong, malu dilihatin semua karyawan. Kursi roda,sepertinya saya sudah kena penyakit yang parah, " ucap Kanza.


"Suruh semua karyawan menundukkan kepala, jangan ada yang berani melihat, " perintah Daniel kepada Rendy.


Daniel pun langsung membawa tubuh Kanza dalam gendongannya.


Dengan cepat Rendy berlari untuk menginstrusikan hal itu ke semua karyawan yang mereka lewati sampai keparkiran.


Setelah tiba di Rumah Sakit, Dokter pun langsung memeriksa Kanza. Tidak menunggu lama Dokter yang melakukan pemeriksaan UGD terhadap Kanza pun terlihat tersenyum.


"Selamat ya Tuan Daniel, Nyonya Kanza sedang hamil, " ucap Dokter tersebut.


Seketika Kanza membelalakkan matanya mendengar penuturan Dokter tersebut.


"Saya hamil? "tanya Kanza kepada Dokter tersebut untuk memastikan pendengarannya.


" Iya, selamat ya Nyonya, kehamilan anda telah memasuki minggu ke tiga, "ucap Dokter tersebut.

__ADS_1


Seketika Daniel memeluk tubuh Kanza dengan begitu erat. Sekuat tenaga Daniel menahan air matanya supaya tidak terjatuh, ternyata lolos juga dari pelupuk matanya.


Daniel menyembunyikan wajahnya di punggung Kanza supaya tidak terlihat oleh orang lain. Namun guncangan pada bahunya memberitahu kepada orang lain bahwa dia sedang menangis.


__ADS_2