
Kirana didorong paksa oleh para nyonya besar itu. Sebenarnya Kirana sangat malas mencoba baju super cewek itu, mana ada renda-rendanya, bukan style dia banget. Pasti dirinya jika tak memakai baju yang sudah di pilih para nyonya besar itu, akan diceramahin sampai tujuh turunan sama tuh nyonya Fernando.
Jadi demi kedamaian dan kemaslahatan kedua belah pihak keluarga ia akan setengah hati memakainya. Kirana pun memasuki ruang ganti pakaian dengan raut wajah dibuat seakan bahagia, padalah males minta ampun. Adrian yang melihat Zaidan melangkah semakin mendekat kepada dirinya. Zaidan tersenyum lembut dan dibalas tersenyum juga dong sama Adrian.
"Hallo Adrian" sapa Zaidan yang sudah duduk disamping Adrian
"Hallo juga kakak ipar" ucap Adrian
"Dimana Mama dan Bunda Carissa?" tanya Zaidan
"Biasa para wanita rempong sedang memilih gaun buat tunangan dan nikahan, mungkin sama baju buat kalian kawin juga kali" ujar Adrian santai
Zaidan hanya menganggukan kepalanya saja, mata Zaidan mencari calon istrinya yang sepertinya tidak ada dibutik ini. Adrian yang melihat calon kakak iparnya melihat sekitar. Ia sangat tahu kalo calon kakak iparnya itu mencari kakaknya yang genit dan bar-bar itu.
"Kakak ipar, bini elu bentar lagi keluar dari tirai itu" kata Adrian yang membuat Zaidan menatap tirai yang disebut calon adik iparnya tersebut
Zaidan menatap Kirana yang mengenakan gaun pengantin putih panjang dan banyak renda-renda bunga. Adrian menatap kakaknya dari atas sampai bawah, sumpah tak ada cantiknya, menurutnya sangat norak. Zaidan pun menatap Adrian untuk meminta pertolongan tentang respon apa yang harus ia keluarkan. Adrian yang mengerti pun, segera bertepuk tangan sambil terseyum dan Zaidan pun mengikuti apa yang dilakukan calon adik iparnya itu.
"Bilang cantik banget gitu sama macan itu" bisik Adrian dengan tangan yang masih bertepuk tangan
"Kamu cantik banget Kirana pakai gaun itu" ujar Zaidan dengan raut wajah terpaksa tersenyum
Kirana dengan sorot mata menyelidik, ia sangat tak yakin dibilang cantik saat mengenakan gaun putih ini. Sebelum ia ingin bertanya kepada kedua pria didepannya itu. Ia sudah ditarik paksa lagi untuk mengenakan gaun yang lain lagi. Sungguh Kirana ingin mengamuk, karena dirinya sangat tak suka melakukan hal ini. Tapi Kirana hanya bisa menurut demi keberlangsungan mobil balap miliknya.
"Tadi aku mau bilang Kirana jelek pakai gaun itu" kata Zaidan
"Kakak ipar, kita sebagai pria demi mempertahankan nyawa sebaiknya, iya in saja deh walupun itu jelek di mata kita" ujar Adrian seraya menatap calon kakak iparnya itu
"Oh kalo ngadepin cewek begitu ya" timpal Zaidan
"Iya, apalagi kalo ngadepin macam betina kaya bini elu harus banyak makan sabar deh" ucap Adrian
Zaidan mengangguk kepalanya, sepertinya ia harus banyak belajar tentang Kirana dari calon adik iparnya ini. Sepertinya Adrian sangat paham dengan calon istrinya itu yang sifatnya sering berubah-ubah.
__ADS_1
"Lama, mending main game yuk" kata Zaidan yang membuat Adrian tersenyum bahagia mendengar kata game
"Gak nolak Adrian mah, yuk kita buka handphone" ucap Adrian antusias
Darah Kirana rasanya ingin mendidih melihat kedua pria itu sedang asik bermain game, sedangkan dirinya kepanasan dan keberatan mengunakan gaun putih ini.
Prang....
Dengan sangat kejam Kirana membanting gadget mereka dengan sangat keras, hingga membuat gadget berlogo apple digigit itu hancur lebur.
Para pemilik handphone sangat terkejut dengan tindakan Kirana. Sebelum ingin memprotes mereka berdua pun sudah ditampar lumayan keras oleh Kirana.
"Kalian kenapa pipinya merah gitu?" tanya Carissa yang datang bersama Naura
"Oh, mereka habis main game yang kalah tampar" sahut Kirana yang menatap mereka dengan sorot mata tajam.
Zaidan dan Adrian hanya mengangguk kepalanya saja, ia benar sangat takut dengan kemarahan macan betina itu.
"Aku ingin gaun putih ini saja bunda dan mama, sederhana tapi elegan" kata Kirana tanpa lepas dari menatap kedua pria itu yang tertunduk
Kirana melangkah ingin menganti gaun yang sedang dipakainya.
"Cukup kasihan gue sama elu nikah sama macan betina" sahut Adrian yang merasa iba akan nasib pria disampingnya
"Padahal Kirana dulu imut saat pertemuan pertama" ujar Zaidan yang masih sangat terkejut dengan sikap Kirana
"Ya itulah hidup, deritanya tiada akhirnya" sahut Adrian yang membuat Zaidan mengerutkan keningnya bingung akan ucapan calon adik iparnya tersebut.
Lepas dari butik, mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Tapi entah mengapa ia dipaksa oleh para nyonya besar itu untuk pulang bersama si Zaidan.
Adrian benar-benar merasa kasihan karena calon kakak iparnya yang sangat baik hati itu, harus semobil sama macan betina yang sedang mode siap menerkam.
Zaidan pun mengendarai dengan hati-hati dan tenang. Tapi cara menyupir Zaidan lah, yang mulai mebangkitkan lagi rasa amarah dalam dirinya ini.
__ADS_1
"Turun" ucap Kirana tegas
"Kok gitu" sahut Zaidan yang bingung
"Aku yang ngendarain" timpal Kirana
"Tapikan aku cowok, jadi aku yang ngendarain" jawab Zaidan
"Udahlah Zaidan sayang turutin saja" ucap Kirana dengan sorot mata yang tajam
Zaidan yang takut pun, menuruti perintah Kirana. Ia turun lalu bertukar posisi dengan calon istrinya itu.
"Calon suamiku sayang, siap-siap ya" kata Kirana dengan antusias sebelum Zaidan menjawab, Kirana sudah membawa mobil dengan kecepatan tinggi, untung saja jalanan lumayan sepi. Zaidan seperti serangan jantung, saat calon istinya itu membawa mobil yang menurutnya sangat cepat. Zaidan hanya bisa memegang pinggiran jok mobil dengan sangat kencang. Calon istrinya sepertinya ingin membunuh dirinya ini.
Kirana mengendarai mobil dengan sangat gila-gilaan. Rasa rindu ia sama balapan mobil sedikit terobati. Kirana sungguh sangat puas karena bisa mengendarai mobil lagi dengan kecepatan lumayan tinggi. Kirana pun menatap Zaidan yang sangat aneh dengan posisinya sekarang.
"Udah sampai Zaidan" kata Kirana
"Kamu tuh kalo gak suka sama aku bilang saja, gak usah bunuh aku dengan cara begini!" kata Zaidan dengan nada yang sedikit marah
Kirana menatap Zaidan dengan sedikit terkejut, karena ia dimarahi oleh calon suaminya itu.
"Siapa yang mau bunuh kamu" sahut Kirana
"Itu apa tadi, bawah mobil kaya orang kesurupan" ujar Zaidan seraya menormalkan kembali degup jantungnya
"Kalo gak suka bilang aja, nanti aku sampain sama papa dan mama!" kesal Zaidan
Kirana yang mengerti karena Zaidan belum terbiasa dirinya membawa mobil dengan kecepatan seperti ini. Ia pun mengambil lengan Zaidan dan mengusapnya agar menenangkan calon lakinya itu yang masih shock karena dirinya ini.
"Maaf ya" kata Kirana seraya menatap penuh lembut mata calon suaminya itu
"Aku maafin tapi cium" kata Zaidan yang membuat Kirana cukup terkejut dengan permintaan calon lakinya itu
__ADS_1
' Nolak tapi ketagihan juga tuh si cowok polos ' batin Kirana