Mengejar Cinta Istriku Kirana

Mengejar Cinta Istriku Kirana
Bertemu


__ADS_3

Kirana baru melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil. Namun ia mengurungkan niatnya karena melihat Amel datang.


Kirana langsung menghampiri Amel dan bertanya dimana Zaidan.


"Assalamualaikum dokter Amel, dimana Zaidan?" tanya Kirana langsung to the point.


Amel yang melihat kehadiran Kirana secara tiba-tiba terhenyak kaget.


"Waalaikumussalam warahmatullah. Lo bukannya Zaidan sudah sampai basecamp? Tadi saya sendiri yang mengantarnya pulang" ucap Amel bingung karena Kirana bertanya dengan nada khawatir.


"Zaidan tidak ada di basecamp, tadi saya sudah masuk ke dalam dan tidak menemukannya" ucap Kirana membuat Amel heran karena dia sendiri lah yang mengantarkan Zaidan. Walaupun tidak sampai di depan basecamp karena ada pasien urgent tadi.


"Mungkin Zaidan sedang jalan-jalan disekitar sini, mari masuk dulu" ucap Amel dengan tenang walaupun hatinya khawatir memikirkan dimana Zaidan berada.


"Saya akan mencari Zaidan di tempat kegiatan kalian" seru Kirana menolak ajakan Amel.


"Zaidan gak ada disana, karena saya orang terakhir yang berada disana. Setelah mengobati pasien, saya kembali ke sekolah untuk mengambil peralatan saya yang tertinggal" lanjut Amel menjelaskan kondisi terakhir di tempat kegiatan.


"Terus suami saya dimana?" tanya Kirana menatap Amel dengan tatapan mengintimidasi.


"Sebaiknya kamu tunggu Zaidan di dalam saja, mungkin dokter Zaidan lagi ada keperluan mendadak" ucap Amel mengajak Kirana untuk masuk ke dalam basecamp. Awalnya Kirana menolak, tapi karena paksaan dari Amel, akhirnya ia menurut.


Saat ini Adrian tengah mencari Zaidan di tempat kegiatan dan sekitarnya. Semua bawahannya dikerahkan untuk mencari suami dari kakaknya itu.


"Dapet titik terang?" tanya Adrian pada bawahannya dan dibalas gelengan cepat oleh mereka.


Adrian mendengus kesal. Bawahannya sama sekali tidak bisa diandalkan. Ia tau betul jika Zaidan tidak ditemukan sampai sore ini, maka Kirana akan mengamuk padanya.


Basecamp, pukul 17.00


Kirana terus melirik jam tangannya yang terus berputar. Sesekali ia menelpon Adrian untuk bertanya apakah ada kabar tentang suaminya. Namun, ia tak mendapatkan kabar apapun.


Kirana hendak turun tangan dan mencari keberadaan Zaidan. Namun langkahnya terhenti saat melihat dokter muda tampan yang tak lain adalah Zaidan.


Zaidan berjalan lunglai. Tubuhnya sangat lemas. Namun ia masih menguatkan diri untuk terus berjalan sampai akhirnya tubuhnya luruh ketika sampai di depan basecamp.


Kirana yang melihat hal itu langsung berlari dan menangkap tubuh Zaidan.


"By, kamu kenapa?" tanya Kirana khawatir sambil menepuk pelan pipi Zaidan.


Rekan sejawat Zaidan langsung menghampiri mereka berdua, terutama Amel dan juga Calvin.


"Bawa masuk ke basecamp dulu, dek" ucap Calvin dan langsung dituruti oleh Kirana.


Kirana menggendong Zaidan dan membawanya ke kamar di dalam basecamp.


Calvin langsung mengambil stetoskopnya dan memeriksa keadaan Zaidan. Ia juga mengecek suhu tubuh Zaidan yang sangat tinggi.


"Suhu tubuhnya 38,5 derajat" ucap Calvin setelah melihat termometer yang ia letakkan di mulut Zaidan,


"Zaidan mengalami dehidrasi dan membuat suhu tubuhnya naik" ucap Calvin pada Kirana yang sedari tadi menunggu hasil pemeriksaan Zaidan.


"Apakah mas Zaidan baik-baik aja, kak?" tanya Kirana menggenggam tangan Zaidan dengan lembut.


"Zaidan akan baik-baik saja dek, dia cuman dehidrasi dan belum ada asupan makanan yang masuk ke dalam perutnya. Enggak ada yang perlu di khawatirkan" ucap Calvin tersenyum ramah.


"Nanti setelah Zaidan bangun, kami akan mengantarkan makanan kesini dan ini obat penurun panas Zaidan serta vitaminnya, saya permisi dulu" lanjut Calvin membiarkan sepasang kekasih itu sendirian.


Kirana mengangguk lalu mengucapkan terimakasih. Ia juga menelpon Adrian dan memberitahu bahwa Zaidan sudah ketemu.


"By, kamu udah janji sama aku untuk gak sakit. Sekarang kenapa kamu sakit?" ucap Kirana dengan suara serak. Ia menyesal telah lalai dalam menjaga Zaidan.


Selang beberapa menit, Zaidan terbangun. Ia mengernyitkan dahinya dan membuka matanya lebih lebar. Ia kaget saat Kirana muncul di depannya.


"By, apa yang kamu rasakan? Minum dulu ya" ucap Kirana langsung mengambil segelas air minum yang telah disediakan.


"Ada yang sakit? Kenapa kamu gak makan By?" tanya Kirana.


Zaidan sedang malas menjawab pertanyaan dari siapapun yang ia butuhkan saat ini hanyalah istirahat.


"Makan dulu yuk" lanjut Kirana membantu Zaidan untuk duduk di tepi ranjang.


Zaidan menggelengkan kepalanya. Ia sedang tidak ingin makan apapun.


"Kalau gak makan gimana mau minum obat By? Kita pulang ke Jakarta ya" seru Kirana membujuk Zaidan untuk makan. Namun, Zaidan bersikeras untuk tidak makan.


"Aku lemas" ucap Zaidan memejamkan matanya. Suhu tubuhnya yang tinggi membuat mata Zaidan panas dan ingin sekali terpejam.


"Kita ke resort ya, disana lebih nyaman dari pada disini dan setelah kamu pulih kita akan pulang ke Jakarta" ucap Kirana masih memegang piring di tangannya.


Zaidan masih menggeleng pelan. Saat ini ia tidak ingin pergi kemana pun.


Kirana menghela napas kasar. Ia berpikir sikap Zaidan terlalu kekanak-kanakan.


"Makan dulu by, kalau kamu gak makan gimana mau sembuh heum?" bujuk Kirana mengelus puncak kepala Zaidan.


Zaidan tetap menggelengkan kepalanya membuat Kirana frustasi. Ia bingung dengan cara apalagi ia harus membujuk Zaidan.


"Kalau kamu gak mau makan, gak ada lagi ikut kegiatan sukarelawan!" putus Kirana dengan nada ketus membuat Zaidan mendengus kesal dan akhirnya mau makan.


"Iya aku makan" ucap Zaidan lemas.


Kirana tersenyum lalu mulai menyuapi suaminya dengan perlahan. Sampai disuapan ketiga Zaidan merasa mual dan ia tidak ingin melanjutkan makannya.


"Udah, aku mual" rengek Zaidan seperti anak kecil.


Kirana meletakkan piring diatas nakas kemudian ia mengambil obat penurun panas untuk diminumkan ke Zaidan.


"Minum obat dulu by" ucap Kirana menyerahkan satu tablet paracetamol pada Zaidan.


"Aku gak bisa minum obat itu" ucap Zaidan menolak untuk minum obat.


"Kenapa?" tanya Kirana menatap intens manik hazel Zaidan.


"Itu tablet, aku gak bisa nelen nya kecuali di gerus." jelas Zaidan. Ia memang tidak bisa meminum tablet utuh karena pasti obat tersebut akan tersangkut di tenggorokannya.


Kirana terkejut mendengar penjelasan Zaidan. Ia terkekeh dan meledek suaminya.


"Ternyata dokter lulusan terbaik universitas terkenal di US tidak bisa menelan tablet" ledek Kirana menahan tawanya.


"Gak ada hubungannya!" ucap Zaidan ketus. Kirana hanya tersenyum melihat Zaidan kesal.


Kirana keluar untuk mengambil mortar dan stamper, alat yang digunakan untuk menggerus obat. Selang beberapa menit, ia kembali dengan membawa alat tersebut dan langsung menggerus satu tablet paracetamol.


"Ini by, udah aku gerus" ucap Kirana menepuk pelan pipi Zaidan yang tertidur.


Dengan berat, Zaidan membuka matanya. Kirana membantu Zaidan untuk duduk dengan perlahan dan memberikan obat yang sudah ia gerus agar diminum oleh Zaidan.


"Pahit" ucap Zaidan cemberut sambil menyenderkan kepalanya di dada bidang Kirana.


"Kalau mau manis ya gula by" celetuk Kirana mengelus pelan kepala Zaidan dengan lembut.


"Kita ke resort aja ya by, kalau disini aku gak bisa peluk kamu" lanjut Kirana dan tidak mendapat jawaban dari Zaidan.

__ADS_1


Kirana melirik sekilas ke arah Zaidan, ternyata suaminya sedang tertidur pulas.


"Kamu sebenarnya habis darimana by? Kamu tau gak, kamu udah bikin aku panik" ucap Kirana mengelus pelan kepala Zaidan, lalu ia meletakkan kepala Zaidan secara perlahan. Ia tidak ingin menganggu tidur suaminya.


Kirana Keluar dari kamar dan meninggalkan Zaidan yang tertidur pulas sendirian.


Kirana menghela napas lega dan mengucapkan syukur, karena telah bertemu dengan sang suami.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah" ucap Kirana memejamkan matanya sejenak.


Lalu ia merogoh sakunya dan menelpon Adrian untuk menyiapkan resort dan menemuinya. Ia ingin mengajak Zaidan untuk tinggal di resort, walaupun disini banyak dokter. Tapi, tetap saja Kirana tidak percaya dengan mereka. Ia merasa Zaidan akan merasa aman jika tetap berada dalam pantauannya.


Setelah menghubungi Adrian. Kirana berjalan untuk menemui dokter Amel dan meminta izin untuk membawa Zaidan ke resort. Walaupun ia istrinya tapi tetap saja di acara kegiatan ini, Calvin lah ketuanya tetapi Calvin tidak bisa diganggu saat ini jadi Dokter Amel lah yang menggantikan posisi dokter Calvin.


"Assalamualaikum dokter Amel. Bisa bicara sebentar?" tanya Kirana datar.


"Waalaikumsalam, bisa-bisa" jawab Amel tersenyum ramah. Mereka berdua berbicara agak ke tepi di dekat dinding.


"Saya ingin membawa Zaidan ke resort dan setelah pulih, saya akan membawa Zaidan ke Jakarta" ucap Kirana serius membuat Amel bimbang.


Amel bingung harus mengizinkan Zaidan dibawa oleh Kirana atau tidak. Di satu sisi ia tidak bisa mencegah Kirana untuk membawa suaminya dan disisi lain mereka membutuhkan Zaidan untuk keberlangsungan kegiatan tersebut. Karena sifat Zaidan yang penyayang anak-anak membuat Amel bimbang harus mengizinkan Zaidan untuk pulang ke Jakarta atau tidak.


Amel menghela napas pelan. Begini, jika ke resort saya tidak akan mencegah anda untuk membawa Zaidan. Tapi, jika pulang ke Jakarta, saya rasa berat karena kami akan sangat membutuhkan Zaidan untuk program vaksin massal anak-anak" yang Jelas Amel bimbang.


"Saya tidak bisa membiarkan Zaidan untuk tinggal di tempat seperti ini. Lihatlah akibatnya, dia sakit dan kalian juga tidak bisa menjaganya dengan benar!" lanjut Kirana menatap intens manik mata Amel.


Amel kembali menghela napasnya. Ia akui ucapan Kirana ada benarnya karena ia lalai dalam mengawasi apakah Zaidan sudah makan atau belum.


"Bagaimana ya, kalau gak seperti ini aja. Silahkan anda bawa Zaidan ke resort, setelah pulih Zaidan akan tetap tinggal di resort dan saya akan memastikan bahwa Zaidan akan baik-baik aja" lanjut Amel dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan.


"Saya akan pertimbangkan. Jika keadaan Zaidan semakin parah, maka saya akan tetap membawanya pulang ke Jakarta. Saya permisi dulu" pamit Kirana yang mengambil keputusan sepihak.


Amel hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah istri dari cinta pertamanya yang sangat menyayangi Zaidan.


'Kalau keputusanmu sepihak untuk apa bertanya padaku?' gumam Amel sendu.


Kirana kembali masuk ke dalam kamar dan mengangkat tubuh Zaidan dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin Zaidan terjaga dari tidurnya.


Zaidan menggeliat. Namun karena suhu tubuhnya tinggi, membuat Zaidan tetap terpejam.


Kirana memasukkan Zaidan ke dalam mobil mewah miliknya setelah berpamitan dengan seluruh rekan kerja Zaidan. Para rekan kerja Zaidan ingin sekali mencegah adik kesayangan mereka dibawa pergi oleh istrinya.


Kirana menunduk sambil tersenyum tipis. Lalu ia masuk dan duduk di sebelah Zaidan dengan kepala Zaidan yang menyandar di dada bidangnya.


Mobil hitam mewah tersebut melaju dengan kecepatan tinggi menuju resort yang sudah disiapkan oleh Adrian. Kirana juga meminta pada Adrian untuk mencari dokter pria yang siap sedia jika dipanggil karena Kirana tidak ingin suaminya disentuh oleh wanita lain selain dirinya.


Adrian mengangguk dan menyarankan Calvin yang menjadi dokter pribadi untuk Zaidan dan langsung disetujui oleh Kirana. Ia juga meminta untuk mencari tau kemana suaminya pergi.


Mobil Kirana tiba di resort mewah bintang 5. Kirana langsung turun dan menggendong Zaidan menuju kamar mereka.


Mereka berdua disambut oleh staff resort dengan membungkukkan badannya selama 5 menit. Diantara staff resort tersebut, ada yang berbisik mengenai Kirana dan langsung ditatap sinis oleh Kirana.


Akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar. Kirana memerintahkan pengawalnya untuk tetap berjaga diluar pintu dan tidak ada boleh masuk sebelum diperiksa.


Kirana merebahkan Zaidan secara perlahan. Zaidan sesekali menggeliat membuat Kirana menghentikan napasnya sejenak. Ia tidak ingin mengganggu tidur suaminya itu.


"My Angel" ucap Kirana mengecup puncak kepala Zaidan lalu ia keluar kamar dan mencari tau Zaidan Aisyah pergi.


Kirana menemui Adrian diruangan khusus dan ia juga memeriksa untuk memastikan tidak ada alat penyadap seperti tempo hari.


"Ada info kemana perginya suami saya?" tanya Kirana duduk dengan tenang sambil melihat rekaman cctv yang menampilkan Zaidan tertidur dengan tenang. Kirana sengaja memasang cctv dikamar resort secara diam-diam. Bukan tanpa alasan, Kirana tidak ingin terjadi sesuatu pada suaminya.


"Kata orang suruhan gue, mereka hanya menemukan pita kuning ini" ucap Adrian menunjukkan pita berwarna kuning yang diyakini milik Zaidan.


"Ini punya Zaidan. Dimana kamu menemukannya?" tanya Kirana menatap Adrian dengan serius.


"Di jalan buntu tak jauh dari basecamp mereka. Tapi apa lo yakin itu punya Zaidan kak?" tanya Adrian memastikan bahwa pita tersebut memanglah milik suami kakaknya.


"Iya ini milik Zaidan, karena ada inisialnya di pita ini" ucap Kirana mengangguk pasti dan menunjukkan inisial di pita tersebut.


"Tapi, itu huruf 'KA' sedangkan Zaidan berinisial 'Z'" lanjut Adrian masih tidak yakin dengan ucapan Kirana.


"Itu pita milik saya tapi saya kasih Zaidan. K untuk Kirana dan A untuk Adrian" jelas Kirana datar.


"Oh" ucap Adrian singkat. Ia berkomunikasi dengan bawahannya lewat layar Ipad untuk mencari tau mengapa Zaidan bisa nyasar sampai ke jalan buntu tersebut.


Kirana masih mengamati Zaidan yang tertidur dengan sangat pulas. Perlahan lengkung bibir Kirana tertarik dan menampakkan senyum manis miliknya.


Adrian yang melihat Kirana tersenyum langsung meledeknya. Kapan lagi bisa meledek pemimpin sekaligus pemilik perusahaan Fernanda Group.


"Tiati kesambet. Gue pernah denger mitos kalau orang kebanyakan senyum tanpa sebab, bisa jadi orang tersebut terkena penyakit gangguan jiwa" ucap Adrian bercanda dan tertawa kecil membuat Kirana menatapnya dengan tajam.


"Awas lo jadi istri takut suami" ledek Adrian membuat Kirana melemparkan pena yang ada di saku jasnya.


"Santai kak. Gue cuman bercanda. Kayaknya gue bener-bener bakal kehilangan Kirana si gunung es. Karena saat ini yang berada di depan gue adalah Kirana yang sangat amat bucin pada suaminya" Adrian masih terus meledek Kirana. Ia sengaja mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang.


Setelah puas meledek kakaknya, ia kembali fokus pada tugasnya untuk mencari tau mengapa Zaidan pergi ke jalan buntu.


'Apa kakak ipar tersasar? Tapi jarak dari tempatnya berada dan basecamp sudah sangat dekat' pikir Adrian bingung.


Adrian terus mengamati setiap pergerakan anak buahnya dan pandangannya tertuju pada sebuah jam rolex berwarna hitam.


'Ternyata benar dugaan gue' batin Adrian.


Adrian memperlihatkan rekaman tentang jam rolex yang barusan ia lihat pada Kirana.


Kirana dan Adrian saling tatap. Mereka tau milik siapa jam tersebut.


"Bagaimana bisa ada disana?" tanya Kirana serius.


"Gue juga gak tau kak. Ini gue sama bawahan gue lagi cari tau kenapa jam limited edition itu ada disana" jawab Adrian masih terus mengamati pergerakan anak buahnya.


Tiba- tiba mereka berdua dapat menyambungkan video dari Elsa.


"Siapa? Bukannya jadwal hari ini di re-schedule semua?" tanya Kirana datar.


"Elsa. Mau gue sambungkan?" tanya Adrian balik.


Kirana menganggukkan kepalanya. Sambungan video tersambung saat ini, karena jaringan internet disini buruk, Kirana sudah memasang wifi dengan kecepatan tinggi.


"Halo Kirana! Sudah lama kita gak bertemu" ucap Elsa dengan wajah tengilnya membuat Kirana menatapnya tajam.


"Ada apa?" tanya Kirana yang tidak ingin basa-basi dengan Elsa.


"Buru-buru amat bro. Santai!" lanjutnya dengan ekspresi meledek.


"Cepatlah saya banyak urusan!" ucap Kirana dingin. Ia paling tidak suka basa-basi.


"Termasuk mengurus suamimu yang tampan dan hot?" tanya Elsa sengaja memancing emosi Kirana.


"Aargh. Suamimu sangat tampan, ingin sekali aku merasakan, ah sudahlah" lanjut Elaa membuat Kirana emosi.


"Jaga ucapan mu! Lagian anda tidak mengenal siapa suami saya sebenarnya!" ucap Kirana meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Gue tau siapa suami lo! Bahkan tadi siang gue bertemu dengannya, tapi gara-gara pria tua itu, gue gagal untuk merasakan suami lo" ucap Elsa tersenyum iblis.


Kirana mengepalkan kedua tangannya. Mungkin jika Elsa berada di depannya saat ini, gadis itu sudah babak belur dipukul oleh Kirana.


"Sekali lagi lo ganggu suami saya, kita bertemu one by one!" pekik Kirana geram.


"Sikap lo gak pernah berubah kalau menyangkut keluarga, haha" ucap Elsa tertawa iblis.


"Kirana, Kirana... gue belum puas kalau gue belum membalaskan dendam gue ke lo dan suami lo sasaran yang tepat untuk itu" lanjutnya dengan smirk.


"Jangan pernah mendekati suami saya! Atau perusahaan mu akan hancur! Jangan lupakan bahwa saya bisa dengan mudah menghancurkan sebuah perusahaan!" celetuk Kirana menggertakkan giginya.


"Kirana, Kirana... bukan gue yang dekati suami lo! Tapi suami lo yang dekati gue" pekik Elsa menatap tajam ke kamera.


"Gue punya tontonan hangat untuk dinikmati di sore hari seperti ini" lanjut Elsa menunjukkan video dimana ia dan Zaidan berjalan bersamaan.


"No! Suami saya tidak seperti itu!" ucap Kirana geram. Kilat matanya berapi-api, napasnya memburu dan rahangnya mengeras.


Elsa mengedikkan bahunya, lalu mematikan sambungan video secara sepihak.


Kirana menggebrak meja dengan kasar. Ia tidak percaya begitu saja dengan Elaa, karena Kirana tau pasti itu hanya jebakan.


"Hubungi semua pihak yang terlibat, saya ingin membicarakan sesuatu dengan mereka" ucap Kirana pada Adrian, lalu ia pergi menemui Zaidan.


Sesampainya di kamar, Kirana memeriksa keadaan Zaidan. Suhu tubuhnya masih sangat tinggi.


"Cepat sembuh by, aku butuh penjelasan dari kamu" ucap Kirana sendu sambil mengecup dahi Zaidan yang sangat panas.


"Kenapa suhu tubuhnya belum turun juga?" gumam Kirana meletakkan punggung tangannya di dahi serta leher Zaidan.


Zaidan menggigil kedinginan, dengan segera Kirana naik ke atas kasur dan memeluk erat tubuh Zaidan.


"Zaiyang, kamu kenapa?" tanya Kirana terus memeluk dengan erat sang suami.


Kirana mengambil remot control untuk menyalakan penghangat ruangan. Ia sudah kepanasan, sementara Zaidan masih terus menggigil.


Kirana mengusap kepala Zaidan dengan lembut, ia sangat khawatir dengan keadaan Kirana yang tak kunjung membaik. Padahal sudah minum obat penurun panas.


"By" racau Zaidan dengan mata terpejam.


"Iya by, aku disini" ucap Kirana mengenggam tangan Zaidan.


"Ini bukan tangan mas Calvin" ucap Zaidan menyingkirkan tangan Kirana.


Kirana melirik ke arah Zaidan. Ia pikir Kirana sudah bangun, ternyata pria itu sedang mengigau.


"Ini aku Kirana by, istri kamu" ucap Kirana.


Kirana menepuk pelan pipi Zaidan agar terbangun, karena sudah hampir maghrib.


"By, bangun dulu yuk. Bentar lagi maghrib" ucap Kirana menepuk pelan pipi Zaidan.


Tak kaget, Zaidan malah memeluk Kirana dengan erat. Kirana tersenyum sambil terus membangunkan suaminya.


"By, bangun yuk" ucap Kirana mengelus pelan pipi Zaidan.


Zaidan membuka matanya secara perlahan. Pandangannya buram dan kepalanya masih terasa berat.


"Aku mandiin ya" ucap Kirana dan dibalas gelengan cepat oleh Zaidan.


"By" ucap Zaidan lirih.


"Kenapa by?" tanya Kirana menatap intens manik hazel Zaidan.


"Dingin" lirih Zaidan menarik selimut tebalnya.


"Sini aku peluk" ucap Kirana menarik tubuh Zaidan yang setengah duduk ke dalam pelukannya.


Kirana membelai kepala Zaidan dengan lembut. Ia masih merasakan panas di dahi Zaidan.


"By kenapa balik kesini lagi?" tanya Zaidan lirih.


"Aku khawatir sama kamu by. Kamu habis dari mana aja?" tanya Kirana balik.


"Tadi siang, ada seorang gadis yang minta bantuan ke aku. Katanya adiknya sakit, terus aku bilang kalau aku gak bawa peralatan kecuali stetoskop dan dia maksa, katanya adiknya demam tinggi. Yaudah, aku ikuti dia terus tiba-tiba aku sadar kalau udah jalan terlalu jauh masuk ke dalam hutan, jadi aku tanya dimana rumahnya dan dia jawab sebentar lagi sampai. Tapi gelagatnya mencurigakan, terus aku bilang kalau aku harus ke basecamp dulu" ucap Zaidan lirih sambil menyandar pada dada bidang Kirana


"Terus dia kayak maksa gitu, nyuruh aku tetap ikutin dia. Aku gak mau dong dan aku mau putar balik eh dianya narik tanganku. Qadarullah ada bapak-bapak yang kebetulan lewat sana, beliau baru pulang dari kebun, terus aku ditarik beliau masuk ke semak-semak dan diantar sampai depan basecamp" jelas Zaidan sambil sesekali memejamkan matanya yang panas.


"Kamu kenal sama gadis itu?" tanya Kirana. Ternyata benar dugaannya, Elsa mulai berani memanipulasi Zaidan.


Zaidan menggeleng pelan. "Jujur, aku takut. Terus badanku juga lemas, gak bisa terlalu banyak melawan dia" ucap Zaidan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kirana.


"Kamu jangan takut ya by, ada aku disini. Aku gak akan biarin sesuatu terjadi sama kamu, itu janji aku" ucap Kirana meyakinkan Zaidan. Baru kali ini Kirana berani mengambil janji. Seumur hidupnya baru sekaranglah Kirana berani berjanji dan itupun di hadapan suaminya.


"Kita pulang ke Jakarta ya" seru Kirana. Ia sudah tidak percaya pada pengawalan apapun, Elsa bukanlah orang sembarangan.


"Gak bisa by, aku harus menyelesaikan tugasku dulu" ucap Zaidan menatap sendu Kirana.


Kirana menghela napas panjang. Ia sudah tau apa jawaban Zaidan.


Zaidan mengangkat kepalanya dari dada bidang Kirana. Saya ingin melangkah ke kamar mandi. Namun, kakinya tidak bisa menopang tubuhnya membuat Zaidan hampir terjatuh, beruntung dengan sigap Kirana menangkapnya.


"Mau ngapain by?" tanya Kirana mendudukkan Zaidan di tepi ranjang.


"Mandi, sebentar lagi maghrib" jawab Zaidan lirih.


"Aku bantuin ya?" tanya Kirana lagi.


Zaidan menggeleng. Ia malu jika harus di mandiin Kirana.


Kirana berjongkok untuk menyeimbangkan tinggi mereka. "Kenapa? Malu?"


Zaidan mengangguk pelan. Pipinya merah merona ditambah suhu tubuhnya yang tinggi menambah merah wajah Zaidan.


Kirana terkekeh melihat bidadarinya yang masih malu. " Kenapa harus malu by? Aku kan istri kamu, bukan orang lain. Bahkan aku udah melihat semuanya" ucap Kirana mencium tangan Zaidan.


"Aku gak mau kamu kenapa-napa by, yaudah gini aja kalau kamu malu. Aku lihatin aja tanpa menyentuh kamu, gimana?" putus Kirana tetap bersikeras tidak membiarkan Zaidan masuk ke dalam kamar mandi sendirian.


Zaidan berpikir. Mau gimana lagi, jika ia tidak menuruti Kirana maka dirinya tidak bisa mandi.


Zaidan mengangguk pelan. Kirana langsung menyiapkan air hangat di bathup lalu menggendong Zaidan menuju kamar mandi.


Perlahan Zaidan membuka kemejanya, sementara Kirana hanya diam menatap sang suami yang tengah berendam. Setiap pergerakan Zaidan tidak luput dari pandangan Kirana.


"Udah by?" tanya Kirana setelah melirik jam tangannya. Zaidan mengangguk sebagai balasan pertanyaan Kirana.


Kirana berjalan ke arah Zaidan dengan membawa handuk. Ingin sekali ia mencium bibir Zaidan, tapi ia sadar kalau Zaidan sedang sakit.


Kirana membantu Zaidan untuk mengeringkan tubuhnya. menahan ia memejamkan matanya agar tidak tergoda.


'Suami lagi sakit Kirana! Tahan!' batin Kirana menguatkan imannya.


Kirana juga membantu Zaidan untuk memakai piyama lengan panjang yang sudah ia siapkan. Setelah selesai berganti pakaian, Kirana kembali menggendong Zaidan menuju ranjang dan mendudukkan Zaidan dengan posisi setengah berbaring. Ia tau bagaimana keadaan Zaidan saat ini, pasti tubuhnya sakit semua.

__ADS_1


"Jangan tidur ya by, udah mau maghrib. Aku mau mandi dulu ya, kalau ada apa-apa panggil aku" ucap Kirana mengecup puncak kepala Zaidan, lalu ia berlalu menuju kamar mandi.


__ADS_2